
HAI….INI AKU YANG SEKARANG
Pukul 5 sore, Zaky menjemputku. Tampilannya sungguh memukau. Kali ini seolah aku melihat dia dengan dimensi yang lain. Akupun tidak mau kalah, nampaknya tampilanku kali ini juga cukup memukau Zaky. Terlihat ekspresinya yang lekat dan tak mau pergi dariku. Setelah berpamitan dengan orang tuaku, kamipun berangkat.
Begitu sampai di halaman rumah, aku celingukan mencari mobil Zaky. Aku tidak melihat ada mobil Zaky terparkir disana, melainkan mobil lain yang aku belum pernah melihatnya. Belum hilang rasa heranku, Zaky menggandeng tanganku, serta membuka pintu mobilnya untukku. Demi apa cobaa…., totalitas ini namanya. Tak tanggung-tanggung, mobil sport keluaran terbaru yang dia bawa kali ini. Oke lah….terima kasih sudah memanjakanku hari ini.
“Ini gak berlebihan , Zaky?”, tanyaku
“Kalau mau bikin orang habis, gak usah setengah-setengah sayaaaanggg”, jawabnya dengan santai
Aku tersenyum tipis, semoga ini benar-benar menjadi kemenanganku. Inilah yang aku suka dari Zaky, penuh kejutan. Selain sifat-sifat lainnya yang juga tidak jarang menjengkelkan. Kamipun berangkat.
__ADS_1
Pesta pernikahan ini diselenggarakan dirumah, sepertinya kediaman mempelai perempuan. Karena setahuku, Pram bukan orang Surabaya. Begitu kami turun, semua mata tertuju pada kami. Aku pura-pura fokus dengan ekor gaunnku, sementara Zaky berjalan mendekatiku dna menggandeng tanganku. Kami sukses merebut perhatian para tamu undangan. Seolah kami mempelainya.
Kulihat halaman rumah ini cukup luas, demikian juga dengan rumahnya. Pesta dibuat sedemikian rupa, terlihat jika penyelenggaranya bukan orang biasa. Gelaran pesta dibuat meriah dengan iringan band local yang rupaya sengaja disewa untuk memeriahkan acara. Rupaya Pram mendapatkan calon yang sesuai dengan impiannya. Terbesit keraguan adalam diriku, jangan-jangan aku kalah keren nih….
Kusingkirkan jauh-jauh perasaan raguku dan aku melangkah masuk dengan menggandeng Zaky. Dari kejauhan aku bisa melihat dengan jelas, siapa yang berada di pelaminan. Zaky melangkah mantap menuju pelaminan, demikian juga aku. Keberanian inilah yang kadang tidak dimiliki setiap orang saat menghadiri pernikahan mantan. Bisa jadi, kalian juga. He..he
Pram, berdiri menyalami kami. Jelas Nampak diwajahnya, gugup, marah dan bercampur tatapan sinis. Aku dan Zaky dengan penuh percaya diri, merasa menang. Tanpa perlu mengucapkan sepatah katapun. Kami rasa, ini sudah cukup. Namun ada yang aneh dengan mempelai perempuan, dia tidak berdiri menyalami kami. Raut wajah Pram merah padam. Jujur aku tidak paham dengan yang terjadi didepan mataku.
“Oh ya kenalin, ini calonku Zaky,” senyum kemenangan mengembang di bibir Zaky sambil berjabat tangan dengan Pram.
Aku pemenangnya kali ini Pram, batinku.
__ADS_1
Setelah beberapa menit, datang seseorang yang membantu mempelai wanita berdiri. Astaga, ternyata ada kekurangan pada istri Pram, kakinya menggunakan alat bantu. Setelah berhasil berdiri, dia tersenyum menyalamiku dengan ramah. Rupanya dia belum tau kalau aku mantan suaminya.
“Maaf ya mbak, saya gak bisa berdiri lama. Silahkan menikmati pestanya”, mempelai wanita begitu ramah. Berbeda dengan Pram, wajahnya beku sedingin salju. Aku puas melihatnya, sekalipun ada perasaan bersalah terhadap mempelai wanita.
Akhirnya kami pulang. Pada saat jamuan makan di pesta tadi aku sempat mendengar gunjingan para tamu undangan. Memang menjadi bagian pokok saat menghadiri hajatan, khususnya para perempuan moment paling penitng adalah membuka aib tuan rumah. Sedangkan aku mendapat informasi gratis disana.
Gendis, mempelai wanita merupakan anak tunggak dari pengusaha property di daerah itu. Kabarnya ayahnya cukup kaya raya di daerah itu. Namun beberapa waktu yang lalu, Gendis mengalami musibah kecelakaan yang meninggalkan luka permanen pada kaki kirinya. Singkat cerita Gendis dijodohkan dengan Pram. Sudah kuduga, ada yang tidak beres memang. Ternyata sudah santer kabar miring tentang Pram yang bersdia menikahi Gendis, tujuannya semata hanya untuk harta warisan orang tua Gendis. Tragis
Kami pulang, diperjalanan kami tidak membahas apapun. Dalam hati aku sangat bersyukur pada tuhan. Jika awalnya aku pernah meratapi takdirku, yang memisahkanku dari Pram yang dulu pernah sangat kucintai dan meninggalkan bekas luka yang cukup dalam. Ternyata itu cara Tuhan menyelamatkan hatiku dari orang yang salah.
Terima kasih takdirku.
__ADS_1