
MENDUNG
Hari ini, hari terakhir cutiku. Semua memang tidak ada yang kebetulan, kali ini aku percaya itu. Aku terbangun dengan mata sembab, tentunya jika aku harus masuk kerja aku tidak sanggup. Belum lagi jika aku harus menyelesaikan tugas-tugas kantor, pasti konsentrasiku buyar. Untungnya hari ini aku cuti, jadi aku bisa menenangkan diri dirumah.
Ibuku mengetuk pintu kamar, memanggilku untuk sarapan. Kulihat, jam menunjukkan angka 09.15. Pantas saja, tapi aku masih belum berselera. Aku juga tidak ingin ibuku melihat keadaanku saat ini. Aku beralasan sedang ingin malas-malasan menikmati sisa cutiku. Akhirnya ibuku mengurungkan niatnya untuk mengajakku sarapan.
Kupaksakan diriku untuk bangun. Rasanya sakit semua, padahal yang benar-benar sakit adalah hatiku tapi tenyata cukup berefek pada badanku. Rasanya seperti hasbi kerja bakti 2 hari 2 malam tidak berhenti. Kulihat di cermin, wajahku kusut dan lengkap dengan mata panda yang sangat menyedihkan. Kuraih handuk, dan aku memaksakan diri untuk mandi.
Selesai mandi, kunyalakan kembali ponselku. Ternyata gagal. Lowbat. Segera kuisi daya ponselku, karena aku mengkhawatirkan jika ada kabar penting dari tempat kerjaku yang membutuhkan respon cepat.
Bayangan mengenai kejadian semalam kembali melintas. Seketika kepalaku terasa sakit, mual dan nafas terasa sesak. Kali ini badanku benar-benar tidak bisa berkompromi. Tiba-tiba mataku juga berkunag-kunang, aku menggeser tempat dudukku. Kuarahkan badanku untuk rebah pada Kasur, seolah setengah tak sadar. Aku kembali menangis, meratapi perpisahan semalam.
Kubiarkan diriku menangis, semoga ini akan menjadi obat terbaik. Tapi aku harus bertahan. Iya, untuk diriku, orang tuaku dan orang-orang yang menyayangiku. Kakak-kakakku dan juga teman-temanku. Aku harus tetap hidup. Sementara akan kunikmati luka ini. Semoga ini menguatkanku kedepan.
Menangis memang menjadi jalan efektif bagiku. Dengan menangis, energiku akan habis terkuras. Lalu aku akan tertidur. Dengan begitu, aku tidak akan merugikan atau merepotkan siapapun. Aku kembali menangis dan terlelap.
****************************************************************************************
Ketukan pintu kamar, kembali membangunkanku. Ibuku kembali membangunkanku, kulihat jam menunjukkan pukul 14.30. Ternyata aku ketiduran selama itu. Kusempatkan mencuci muka, lalu kubuka pintu kamar. Ibuku membawa bungkusan makanan. Sepertinya delivery. Aku heran, merasa tidak memesan.
Ibuku tidak menyadari mataku yang sembab, karena mengira akibat terlalu lama tidur. Baguslah. Kuterima bungkusan makanan itu dan kubawa ke kamar. Aku pamit kepada ibuku untuk memakannya di kamar. Mager menjadi alasanku. Untungnya ibuku memahami.
Kali ini giliran aku yang penasaran, siapa yang memgirim makanan untukku. Seolah sangat memahami, bahwa aku seharian ini memang belum makan.
Zaky ?
Ah..ini bukan gayanya. Lagi pula kami sudah sepakat untuk tidak saling menghubungi dalam bentuk apapun.
Deby?
Bisa jadi, dia yang paling memungkinkan untuk mengetahui keadaanku saat ini. Meskipun peristiwa semalam dia masih belum tau.
Aatau…
Jangan-jangan Hafiz…
Makhluk super baik yang dikirim tuhan padaku.
__ADS_1
Aatauuu
Jangan-jangan benar-benar Zaky
Aku menjadi ragu untuk memakannya. Terlihat menggiurkan, namun aku belum tahu pengirimnya. Kuputuskan untuk menaruh kembali sepaket salad buah lengkap dengan jus mangga itu dimejaku. Kulihat juga ada sebungkus coklat disana. Kalau dari model makananya, orang yang mengirimkan ini sangat memahami kebiasaan makanku.
Hemmmmm…tapi siapa ya???
Ponselku berbunyi, kulihat nama yang tertera di sana. Ternyata Hafiz….Aku berharap yang lain. Karena Hafiz pasti akan meneleponku untuk membicarakan persiapan even besok. Tapi sudah terlanjut kuangkat teleponku.
“Makan yang banyak. Biar kuat menghadapi kenyataan”, suara Hafiz dari seberang terlihat begitu riang.
“Oh ternyata kamu yang kirim. Thanks ya”, jawabku
“Memangnya Kamu berharap siapa yang kirim?”, tanya Hafiz
“Lagi males becandaaaaa”, jawabku dengan malas-malasan.
“Gak. Makasih. Aku besok mau bawa motor, sekalian mau service, “jawabku
“Oke. Selamat menikmati sarapanmu yaa….,” Hafiz menutup teleponnya
Aku heran, anak ini sudah seperti dukun saja. Dia bahkan tau bahwa aku belum sarapan. Benar-benar aneh.
Aku segera meraih kembali bungkusan yang tadi kuletakkan di meja. Sudah saatnya aku makan, bisa jadi aku tadi merasa pusing karena perutku yang masih kosong. Untungnya yang dikirim bukan nasi dan sejenisnya, karena ini cukup membantuku membangkitkan selera makan. Buah dan coklat. Terima kasih Hafiz, sekali lagi kamu yang terbaik.
Aku meminum jus terlebih dahulu. Sembari kunyalakan radio, semoga ini bisa membangun moodku. Sebuah lagu terdengar merdu di telingaku…..
Sulit 'ku melangkah pergi
Bila kau masih di sini
Gagal diriku melupa
Tiap engkau menyapa
Aku masih menyayangimu
__ADS_1
Aku masih cinta padamu
Bila masih saja kita bertemu
Semakin susah hati ini untuk
Melupakanmu
Telah kuhapus fotomu
Dari bingkai di kamarku
Tapi masih ada wajahmu
Singgahi mimpi-mimpi
Aku masih menyayangimu
Dan aku masih cinta padamu
Bila masih saja kita bertemu
Semakin susah hati ini untuk
'Tuk melupakanmu
Selalu
Kau buatku
Luluh dengan kata-katamu
Semakin kuhindari
Semakin aku ingin bertemu
Aku masih menyayangimu…
Sempurna. Lagu patah hati memang menjadi pelengkap yang sempurna untuk membuat sebuah suasana hati yang sedang galau menjadi semakin mellow.
Sebenarnya aku lebih ingin mendengar celotehan penyiar radio, yang terkadang cukup menghiburku. Namun kucari-cari dari tadi tidak menemukan saluran yang cocok. Berhenti pada lagu milik Rossa, menggambarkan keadaanku saat ini dengan sangat sempurna. Tragis. Bahkan radiopun seakan ikut berpihak pada takdir.
__ADS_1