
LUKA,WAKTU, DAN HARAPAN BARU
Aku kembali pada ritme kerjaku yang dulu. Mungkin lebih tepatnya ritme kerja pada saat-saat aku mencoba melupakan Zaky. Bekerja adalah cara terbaik untuk melupakan, bagiku. Aku juga mungkin perlu bersyukur, ditengah keterpurukanku dalam masalah pribadi, aku tidak tersandung masalah ekonomi.
Siang ini aku berkesempatan untuk makan siang bersama seluruh tim kerjaku. Aku merasa senang. Mungkin benar, berkumpul dengan banyak orang akan membuat awet muda. Salah satunya mungkin ini, melihat sendau gurau dari seluruh timku yang seolah lupa dengan target bulan ini yang masih tercapai 70%. Bisa jadi ini juga cara mereka mendapatkan ide-ide baru.
Ada yang bilang, waktu adalah obat terbaik untuk menyembuhkan sebuah luka. Namun bagi sebagian luka, waktu justru akan semakin memperparahnya. Aku tidak tahu, Lukaku berada pada sisi yang mana. Sembh karena waktu, atau justru akan meradang ditelan waktu. Aku mencoba menikmati kebersamaan ini, kejadian langka semenjak aku menduduki posisi ini.
Nadya menghampiriku dengan menyerahkan sekuntum bunga mawar. Cantik dan harum.
“apa ini?”, tanyaku
“penghargaan untuk seseorang yang sudah berusaha untuk tegar”, jawab Nadya disambut tepuk tangan dari seluruh tim yang hadir. Aku merasa terharu. Lalu memeluknya. Terima kasih.
“terima kasih semuaaaa. Saya bangga menjadi bagian dari tim ini”, ucapku. Makan siang yang berkesan. Aku patut bersyukur, sekali lagi bersyukur. Keadaan ini menyadarkannku, bahwa takdir tidak sepenuhnya bersikap tidak adil adaku. Disaat terpuruk karena kekecewaan, disisi lain aku masih dikuatkan oleh orang-orang yang memperhatikanku.
Sepulang kerja aku memiliki janji dengan salah satu marketing sebuah leasing mobil. Aku berniat untuk mengambil mobil baru dengan sistem menyewa, kurasa ini akan menajdi penyemangatku untuk bekerja. Penghasilan yang kuperoleh pada posisi ini, sudah cukup jika kugunakan untuk membayar cicilan mobil setiap bulannya. Selama ini sesekali aku masih menggunakan mobil ayahku, tentunya aku juga ingin memilikinya sendiri dari hasil jerih payahku.
Waktu dan tempat yang disepakati telah tiba. Aku bertemu dengan marketing itu di sebuah tempat ngopi. Pertemuan awal ini, aku masih ingin terlebih dulu mengetahui persyaratan dan juga aturan main kredit ini. Sosok rapi dan berwibawa ini duduk di hadapanku sekarang.
Marketing : “Sore Bu Dea, saya Effendi yang beberapa hari ini menghubungi ibu untuk kepentingan rencana pengambilan unit di perusahaan kami.”
Dea :”Sore. Kita bisa langsung ke penjelasan dan persyaratannya?”
Marketing itupun dengan sangat cekatan dan terampil menjelaskan secara terperinci hal-hal yang nantinya akan menggiringku untuk mencapai kata sepakat. Tentu saja, marketing memang sudah terlatih untuk hal itu. Namun selain kepiawaiannya dalam menjelaskan detil produk, pri dihadapanku ini memang memiliki kecapakan yang luar baisa dalam berkomunikasi.
__ADS_1
Finally! Aku memutuskan untuk bekerja sama dengan leasing ini dan mengambil satu unit city car yang sudah kusesuaikan angsurannya dengan kemampuanku. Mengenai proses survey dan lain sebagianya memakan waktu sampai dengan satu minggu kedepan. Aku segera menyelesaikan pertemuanku dan bersiap untuk pulang.
Pada saat di perjalanan, aku teringat kembali dengan rencanaku yang sempat tertunda untuk mengunjungi orang tua Hafiz. Mungkin kali ini harus aku realisasikan. Hari juga masih belum gelap. Aku putuskan untuk mampir ke salah satu toko kue sebagai oleh-oleh. Segera setelah itu aku meluncur menuju kediaman rumah orang tua Hafiz.
Sesampainya dirumah Hafiz, aku disambut dengan pelukan oleh Ibunda Hafiz. Kurasakan dekapan hangatnya. Ketulusan inilah yang menjadikan aku merasa dekat dengan beliau. Kulihat sekelililng ruang tamu, terpampang jelas foto keluarga besar Hafiz, pada saat acara lamaranku beberapa waktu silam. Sungguh manis kenangan itu. Beberapa saat kemudian Lala beserta keluarga yang lain juga menemuiku. Ternyata mereka semua merindukanku.
Bahagia rasanya, berada diantara orang-orang yang menyayangi diri kita. Sekitar satu jam aku berada disana. Aku berusaha melogikakan bahwa, sekalipun saat ini Hafiz telah tiada, keberadaan keluarganya akan tetap berarti untukku. Hafiz memang telah tiada, tapi kasih sayangnya tetap diteruskan oleh keluarga besarnya untuk diriku. Akhirnya aku berpamitan untuk pulang.
Perjalanan dari rumah Hafiz menuju rumahku malam ini terasa lebih ringan. Seolah beban yang selama ini berada dipundakku, perlahan mulai berkurang. Aku sudah mulai menumbuhkan kesadaran pada diriku, bahwa setiap sebuah kebersamaan yang akan berujung pada perpisahan. Kemudian akan muncul kembali sebuha pertemuan dan terjalin kembali sebuah hubungan yang baru, demikianlah hidup akan terus berjalan.
Saat ini aku juga harus memiliki prioritas utama, yaitu menata masa depanku. Tentunya setiap kegagalan yang harus kualami dalam kehidupan, tentunya menyimpan beragam hikmah. Mungkin aku hanya perlu meminta agar Tuhan menguatkanku.
Sampai dengan perjalanan ini, akhirnya aku menyadari kenapa Tuhan memisahkanku dengan cinta pertamaku. Kalau saja aku memaksakan untuk bersamanya, pasti rumah tanggaku juga akan berakhir di tengah jalan karena pengkhianatan yang dilakukan olehnya.
Sedangkan dengan Hafiz, mungkin aku yang belum sepenuhnya paham, Tuhan mengambilnya bahkan sebelum sempat kami bersama. Mungkin ini juga cara Tuhan menyayangiku. Seandainya aku menjadi istrinya, pasti saat ini statusku menjadi janda.
Terkadang mungkin benar, Tuhan akan mematahkan hati seorang hamba berkali-kali, hanya untuk menyelamatkan dari sebuah kesedihan yang sesungguhnya dan untuk mempertemukan dengan orang yang tepat.
Muncul keinginanku untuk membeli es krim. Sepertinya akan efektif untuk memperbaiki suasana hati. Kalau ditambah sebatang coklat pastinya akan lebih mantab. Tanpa pikir panjang, aku mengarahkan mobilku menuju sebuah minimarket. Setelah kuparkirkan dengan benar kendaraanku, aku bergegas masuk.
Saat aku sedang memilih es krim, aku dikagetkan seseorang yang menarik pakaianku dari samping. Aku menoleh, seorang balita perempuan kira-kira berusia empat tahun bergelayut padaku. Aku menoleh sekitar, anak siapa kah ini? Tapi aku tidak melihat seorang pun selain gadis kecil yang imut ini.
Aku berjongkok dan menyapanya. Anak manis ini siapa Namanya?
“Bunda…..” jawabnya
__ADS_1
Eh…rupanya si kecil ini mengira aku ibunya. Aku kembali memberikan pertanyaan yang sama padanya. Kali ini dia tidak menjawab, namun justru menunjuk pada eskrim ditanganku. Akupun memberikan padanya. Si kecil ini tersenyum kegirangan.
“Telima kasih…” ucapnya
“Gadis pintar, bunda dimana nak? Mari tante antarkan”, ucapku
Di luar dugaan si kecil ini malah menggandeng tanganku, meminta aku menggendongnya. Aku meraih dan menggendongnya. Aku melihat ke sekeliling, masih belum menemukan tanda-tanda keberadaan orang tua si Kecil ini.
Sampai akhirnya, Si Kecil menunjuk-nunjuk kepada seseorang dan berteriak…. PAAA.PAAA……., orang itu menoleh dan sedikit berlari ke arahku.
“Jasmine….., sayang. Papa sampai panik mencarimu nak”, ucap seseorang itu dan meraih Si Kecil dari gendonganku.
Aku sedikit ragu menyerahkannya, khawatir kalau aku menyerahkan pada orang yang salah. Nampaknya ekspresiku ini disadari oleh seseorang itu. Kemudian dengan ramah dia mengulurkan tangan.
“Saya Farhan, Papanya Jasmine. Maaf, anak saya merepotkan Anda”, ucapnya
“Saya Dea, nda kok Si kecil ini sangat lucu”, aku mengelus lembut pipi merah Jasmine. Sekilas kulihat pria tampan di depanku ini, tentunya sudah menjadi milik orang lain. Jasmine sebagai buktinya. Badannya yang tegap dan pesona matanya yang memikat, sungguh magnet yang luar biasa. Sangat beruntung yang telah memilikinya. Aku segera kembali kepada kesadaranku dan berpamit untuk menuju kasir.
“Kalau begitu saya permisi”, aku pamit
“Bunda…..”Jasmine merengek manja menunjuk kepadaku. Tentu saja aku kaget. Bocah kecil ini masih menganggapku ibunya.
“Tantenya mau pulang nak. Jasmine anak baik kan ya…” ucap Farhan mencoba menahan anaknya agar tidak ikut denganku. Kemudian dia memanggil seseorang dan meminta untuk menenangkan Jasmine. Aku masih sedikit bingung, bagaimana bisa seorang anak mengenali orang lain sebagai ibunya?
Kebingunganku terjawab lunas. Farhan menjelaskan bahwa Jasmine ditinggalkan ibunya pada saat setelah dilahirkan. Aku menjadi iba dan sedikit terbawa suasana olehnya. Namun segera aku kembali pada kesadaranku dan kamipun berpisah menuju arah rumah masing-masing.
__ADS_1