
SATU PINTU TERTUTUP DAN PINTU LAIN TERBUKA
Sekitar satu jam aku hanya termenung di kursi kafe itu. Latte yang tadi kupesan juga sudah habis. Kulirik jam menunjukkan pukul 19.20, masih terlalu sore untuk pulang. Toh besok aku juga masih memiliki jatah cuti.
Kali ini aku merasa kalah, entah karena tidak bisa memahami maksud Zaky selama ini atau justru merasa tidak siap dengan kenyataan yang ada di depan mataku. Penjelasan yang diberikan Bunda Fatma tadi, adalah sebuah kenyataan. Pahit. Tapi bukankan aku harus bersyukur, ternyata Zaky telah memperjuangkanku. Bahkan dia rela membarter restunya hanya untuk mendapatkan restu untuk hubungan kami berdua.
Tapi benarkah aku harus bahagia? Aku masih mengingat dengan jelas ucapan Bunda Fatma yang memintaku untuk kembali memikirkan matang-matang hubungan kami. Beliau yang sudah terlebih dulu menjalani, melawan takdir dengan nekat menikah meski tanpa restu orang tua. Memang bisa mereka menikah, namun harus berantakan di tengah jalan. Meninggalkan luka di hati dan juga hati anak-anaknya.
Rasanya kali ini aku tidak lagi mampu melawan tangan-tangan takdir. Tuhan mempertemukanku dengan orang-orang yang singgah dihatiku. Disaat aku merasa menemukan kebahagiaan, takdir merebutnya kembali. Entahlah, aku gamang dengan pikiranku saat ini. Aku tersadar dari lamunan panjangku, begitu secangkir cokelat panas terhidang di depanku. Rey, kakaknya Deby datang membawakan secangkir cokelat panas dan kentang oven.
“Makasih,” ucapku sambil memaksakan memasang senyum.
Rey Rahardian, kakak kandung Deby. Usianya terpaut dua tahun diatasku. Saat ini usahanya berwiraswasta, mulai dari jualan online sampai dengan join kafe dengan teman-temannya. Seperti kafe yang akun kunjungi saat ini. Pribadi yang cuek, namun tepat ramah dan menyenangkan. Selama aku berteman dengan Deby, dia memperlakukanku dengan baik. Sama seperti memperlakukan Deby.
Aku terdiam tak bereaksi melihat kedatangannya. Diapun hanya terdiam sambil menatap jauh keluar jendela. Kafe ini didesain senyaman mungkin agar pengunjungnya bisa mendapatkan keindahan pemandangan malam melalui jendela kaca yang terbentang luas sepanjang mata memandang. Sampai pada akhirnya, aku yang membuka percakapan.
“Bang Rey, pilih orang tua apa istri?”, tanyaku
“Orang tua,” jawabnya singkat
Bagiku jawaban itu terdengar cukup sadis, mengingat keadaanku saat ini. Bisa jadi di luar sana itulah yang saat ini dipikirkan Zaky. Sehingga dia berhenti berjuang mendapatkanku. Padahal aku sangat ingin mendapatkan perlakuan istimewa itu, diperjuangkan.
“Kamu gak akan berjuang untuk cintamu?”, tanyaku lagi
__ADS_1
“Bagiku, restu itu penting. Restu kedua orang tua tentunya. Mungkin aku gak begitu paham dengan pengetahuan agama. Setahuku itu syarat mutlak sebuah ketenangan berumah tangga,” Bang Rey menjawab dengan lugas.
“Menurutmu, aku harus mundur?”, tanyaku meminta pendapat Bang Rey
“Memangnya kamu sudah maju sampai mana?”, Bang Rey memberikan pertanyaan balik. Telak. Aku tidak bisa menjawab. Sejauh ini, selama 3 tahun bersama, statusku dengan Zaky memang hanya sebatas pacaran. Apa yang bisa aku banggakan???
Bang Rey tersenyum tulus, kemudian mempersilahkan aku meminum minuman cokelat buatannya. Aku menurut. Ternyata minuman ini cukup memberikan sedikit efek menenangkan. Atau hanya sugesti saja. Ini yang paling aku sukai jika bertemu Bang Rey, sikap santai dan solutif yang ia miliki.
“Tanpa bermaksud mengabaikan perasaan dan hubunganmu saat ini dengan dia, tapi aku rasa hal itu tidak akan sebanding jika ditukar dengan hari-hari bahagiamu kedepan. Relakan yang sudah terjadi saat ini. Bisa jadi Tuhan memang mempertemukanmu dengan orang yang salah untuk memberikan pengalaman berharga, bukan untuk menjadi jodoh kamu. Kita semua ini masih belum mampu membalas kebaikan orang tua kita, sepertinya sangat tidak etis ketika sudah dewasa, kita justru sibuk dengan kebahagiaan kita dan mengabaikan mereka,” Bang Rey memberikan nasehat panjang lebar.
Bang Rey benar, aku terlalu egois. Saat ini yang kupikirkan hanya diriku dan Zaky. Sedangkan orang tuaku atau bahkan orang tua Zaky, kami mengabaikannya.
Aku terdiam, memilih fokus untuk menghabiskan hidangan di depan mejaku. Diam-diam aku mengagumi cara berfikir Bang Rey yang dewasa. Terima kasih Tuhan, telah menghadirkan orang-orang yang baik di sekitarku. Sekalipun berkali-kali luka menghujam hatiku, kau tetap menguatkanku. Aku mulai menyukai takdirku ini.
Sesampainya dirumah, Deby dan Bang Rey langsung berpamitan untuk pulang. Aku menuju ruang tengah untuk menemui kedua orang tuaku. Ayah dan Ibuku sedang menonton acara TV. Kuberikan bungkusan martabak yang tadi kubeli diperjalanan. Ibuku sedikit keheranan, karena memang aku hampir tidak pernah membeli oleh-oleh jika bepergian. Sebuah senyum manis mengembang di bibir ibuku, aku bahagia melihatnya.
“Tadi Zaky kesini, tapi Cuma sebentar. Ibuk minta nunggu, dia gak mau, katanya ada keperluan lain,” ibuku berkata sambil membuka bungkusan martabak.
Kusembunyikan raut wajah kagetku, karena aku tidak mau ibu mengetahui pertengkaran kami.
“Dia pesan sesuatu buk?”, tanyaku dengan memasang wajah datar.
“Besok pagi mau jemput kamu, katanya hp kamu mati ya?”, ibuku bertanya dengan heran.
__ADS_1
“Oh, i..iya buk. Kemarin di service, mungkin dia telepon pas lagi di service. Jadinya gak nyambung”, aku terpaksa berbohong.
Aku segera menuju kamar, kubuka blokir kontak Zaky. Demikian juga sosmed yang sudah sebulan ini aku blokir. Kuamati satu persatu postingan yang ada di sosmednya. Satu bulan ini dia ternyata tidak mencoba menghubungiku. Kulihat dari kotak spam juga kosong. Ternyata aku hanya GR. Kukira dia berusaha menghubungiku, ternyata nihil.
Aku segera membersihkan diri dan bersiap untuk tidur. Begitu selesai, kurebahkan badanku di kasur. Lelah. Sedih. Marah. Pasrah. Karena pada akhirnya takdir membawaku pada titik ini lagi. Merelakan perpisahan sebagai akhir perjalananku. Beberapa menit kemudian, sebuah pesan masuk. Nomor yang tak kukenal.
“Besok aku jemput dikantor, sepulang kerja”, Zaky
Deg!!!!
Kenapa Zaky menghubungiku dengan nomor lain. Aku tidak yakin untuk membalas pesan itu. Kuamati sedari tadi, sampai akhirnya panggilan masuk dari nomor itu. Ragu-ragu, lalu kuangkat teleponku
“HP ku jatuh beberapa waktu lalu. Aku gak bisa hubungin kamu, Ini nomor baruku. Besok aku jemput kamu di kantor sepulang kerja,” suara Zaky terdengar jelas. Kaku dan seolah menyimpan amarah.
“Aku besok gak ke kantor,” jawabku
“Kamu sakit?”, tanya Zaky
“Gak, cuti,” aku menjawab singkat
“Aku jemput jam 10 pagi, ada banyak hal yang harus kita bicarakan. Selamat malam dan istirahat yang baik, ” Zaky memberikan perintah.
Aku menutup teleponku. Seketika terasa kosong. Apalagi ini. Setelah ini, apa yang diinginkan takdirku. Apapun itu aku harus siap. Karena takdir berjalan bukan dengan kesiapan penerima takdir, melainkan pembuat takdir.
__ADS_1
Aku terlelap.