
DITUNDA
Pesta pernikahan Lala telah selesai di gelar. Hari ini tepat sepekan dari hari pernihakan itu, Hafiz sesuai janjinya akan melamar secara resmi kepada orang tuaku. Sesuai kesepakatan, acara dilaksanakan besok malam. Aku sudah menyampaikan kabar gembira ini pada kakak-kakakku. Tentunya Mb Bella yang sedikit kecewa, karena berharap aku bisa bersama-sama dengan Gio, bukannya Hafiz.
Pagi ini aku sedang disibukkan dengan acara audit dari pihak eksternal. Seluruh tim bekerja dengan cermat, kami tidak ingin mengecewakan perusahaan. Sekitar pukul 5 sore, acara audit baru selesai. Melelahkan, namun cukup lega karena kami bisa melewatinya dengan baik.
Aku baru sempat membuka ponselku. Berderet panggilan masuk dari Hafiz ada disana. Ternyata Deby juga menghubungiku. Segera aku menggeser pangilan keluar untuk Hafiz. Telepon berdering 3x, namun belum juga diangkat. Mungkin dia sedang perjalanan pulang. Kulanjutkan dengan menghubungi Deby, terdengar suara manisnya di seberang.
“Sorry ya, barusan kelar acara auditnya,”ucapku.
“Syukurlah…., aku juga belum pulang mbk. Barusan kelar persiapan audit buat besok. Oh ya, bentar lagi Tama jemput. Mau sekalian pulang bareng?”, ujar Deby.
“Makasih banyak buat tawarannya. Tapi ini masih ada yang harus aku siapin juga buat closing temuan auditnya. Kalian duluan aja deh,” aku mencoba mengelak.
“OK deh. Katanya mbak Dea mau ngomomg sesuatu yang penting sama aku. Sekarang aja deh. Takutnya besok sampe sore baru kelar auditnya…………” ujar Deby
“em….gimana ya? Sebenernya enak langusng sih. Tapi iya juga, besok kamu pasti super sibuk juga”, aku menjawab.
“apaan sih mba?? Jadi kepow akunyaaaaaaa”, Deby mulai penasaran.
“BESOK MALAM, HAFIZ AKAN MELAMARKU SECARA RESMI KE RUMAH”…………………..aku mengeja kalimatku, agar Deby dapat mendengar dengan jelas.
Sudah bisa ditebak, shock Deby mendengar kabar itu. Kali ini aku berhasil memberikan kejutan. Meskipun sebenarnya aku jauh lebih terkejut dengan pernyataannya beberapa lalu tentang Tama.
Selesai aku menutup telepon, aku sudah melihat Hafiz muncul di depanku. Cukup membuatku kaget. Rupanya dia sudah beberapa waktu yang lalu datang dan menyimak perbincanganku dengan Deby. Kami memutuskan segera pulang, aku juga khawatir jika harus bertemu Tama. Rasa tidak nyaman itu yang aku khawatirkan.
__ADS_1
Kami tidak langsung menuju rumah, Hafiz mengajak mampir ke sebuah rumah makan. Sambil menunggu pesanan, Hafiz mengeluarkan sebuah amplop berwarna coklat. Raut wajahnya terlihat datar saat menyerahkan kepadaku. Ternyata itu sebuah kontrak kerja, lebih tepatnya kenaikan jabatan. Hafiz memperoleh kesempatan promosi untuk ditempatkan di bagian Manajer Holding.
Namun ada yang berbeda, sepertinya dia tidak sepenuhnya bahagia. Hafiz menunjukkan sebuah poin di salah satu pasal kontrak itu. Terdapat sebuah komitmen, dimana selama satu tahun sejak pengangkatan, tidak diperkenankan untukk menikah. Seketika aku yang kali ini menjadi shock.
“SATU TAHUN??”, tanyaku
“Kalau kamu keberatan, aku bisa mundur. Kontrak itu belum aku tandatangani”, jawab Hafiz dengan wajah sendu.
Aku kembali gamang. Pernikaha sudah di depan mata. Harus tertunda karena calon suami yang mendapat kesempatan kerja. Cobaan apa lagi ini. Lama aku terdiam. Sampai ahirnya makanan datang. Kami menghabiskan makanan, tanpa berkata sepatah katapun. Hening, hanya sesekali suara sendok yang bertabrakan di piring menjadi irama yang terdengar.
“Malam ini aku tetap akan datang melamarmu, bersama dengan keluargaku. Adik-adikku juga sekalian ikut,” Hafiz kembali membuka percakapan.
“Sebaiknya kita segera pulang,” jawabku lirih
“Ayolah…., dengan memberikan kontrak ini, aku butuh pertimbangan dari kamu. Kalau kamu keberatan, aku bisa melepaskan kontrak ini. Atau…………….” Ucapan Hafiz terputus, karena aku memberikan kode dengan memegang tangannya.
Hafiz berterima kasih kepadaku, atas keputusan itu. Entah mengapa,setelah mengucapkan kalimat itu, aku seolah menyesal. Namun sebuah hal yang mustahil menarik kembali ucapan itu. Kami segera pulang , mempersiapkan diri masing-masing untuk acara nanti malam.
Acara lamaran berlangsung lancar. Ternyata Ibunda Hafiz juga mempersiapkan satu set perhiasan untuk melamarku. Dalam acara ini juga diputuskan bahwa, pertunangan kami ini akan diakhiri dengan pernikahan tepat satu tahun kedepan. Artinya setelah kontrak kerja Hafiz mengijinkan. Aku pasrah, selama ini toh aku juga sudah menunggu sekian lama.
Setidaknya, saat ini ada sebuah kepastian. Satu tahun menunggu. Masih level aman, karena berada pada angka 29 tahun, bukan 30. Aku tetap mensyukuri hal ini. Mulai saat ini aku juga bisa menangkis segala serangan mengenai pertanyaan “KAPAN KAWIN” terutama saat menghadiri arisan keluarga.
Aku bisa tidur dengan nyenyak. Aku tak lupa berdoa, aga 12 bulan kedepan berlalu dengan cepat. Hingga bisa jadi, saat aku terbangun nanti sudah merupakan hari pernikahanku. Mimpi yang indah. Aku terlelap dengan untaian mimpi yang indah tentang pernikahan.
“Pagi, nyonya Hafiz…”
__ADS_1
Sebuah pesan manis mendarat di ponselku. Ah rupanya rasanya seperti ini memiliki tunangan. Bahkan Mentari pagi kalah hangat dengan sapaan ini.
Aku membalas dengan emoticon menguap, karena memang aku baru bangun tidur.
“Pastikan kamu menyebut nama calon suamimu, di sujudmu subuh ini”, Hafiz mengingatkan kewajiban sholat dengan cara yang manis.
Kulihat jam 5 pagi, o la la…bagiku ini pagi, Bagi Hafiz mungkin ini sholat subuh yang kesiangan. Aku segera bangkit, dan menunaikan sholat. Sesuai pesanan, aku mendoakan juga calon suamiku ini.
Selesai sholat, aku menyempatkan diri untuk membalas pesan Hafiz. Mungkin ini akan menjadi sebuah kebiasaan baru bagi hubungan kami. Saling menyapa dipagi hari, meskipun beberapa menit lagi dia juga akan menemuiku. Menjemput untuk berangkat kerja bersama-sama.
Pada saat siang hari, kami meminimalkan untuk makan siang bersama. Tentunya menghindari kehebohan dari netizen. Kami memutuskan untuk merahasiakan pertunangan kami. Alasan kenyamanan dan profesionalitas. Hanya Deby yang aku beri tahu. Konsekuensinya, predikat “PERAWAN TUA” sesekali juga masih tetap dilayangkan padaku. Aku memilih cuek.
Bersama Hafiz, aku menjadi lebih terarah dalam hal ibadah. Saat ini au sedang berproses untuk kewajiban 5 waktu yang selama ini, sangat minim. Dukungan dari keluarga besar Hafizpun mengalir. Setiap akhir pekan, jadwal pengajian tetap menjadi agenda wajib bagiku. Kali ini, ada tambahan lagi, kursus memasak langsung dari Ibunda Hafiz. Semuanya terasa menyenangkan.
SATU TAHUN KEMUDIAN
Malam ini kami merayakan sesuatu yang spesial, satu tahun penandatanganan kontrak kerja Hafiz. Tentunya yang utama bukan itu, tapi kami sangat antusias untuk pernikahan kami. Akhirnya…hari bahagia ini menghampiriku juga.
Aku tidak menyangka, bahwa pada akhirnya aku berjodoh dengan Hafiz. Seseorang yang memang tidak pernah jauh dariku. Lebih tepatnya berada paling depan dalam mengobati dukaku selama ini.
Kami sepakat untuk kembali menyelenggarakan pertemuan keluarga minggu depan. Tentunya ada banyak hal yang harus kembali dibicarakan. Kenapa minggu depan, karena Hafiz besok harus ke Bandung selama 4 hari untuk menjalani pelatihan. Malam ini kami sekaligus juga mempersiapkan hal-hal yang diperlukan selama di Bandung.
“Nanti kalau kangen, jangan nyusul lho ya…”goda Hafiz
Sebelum aku menjawab, sepertinya ada yang aneh dengan kalimat itu. Sepersekian detik aku sempat memiliki firasat, entah apa. Aku memilih mengabaikannya. Kubalas dengan senyuman.
__ADS_1
Akhirnya segala persiapan telah rampung. Kami memutuskan untuk pulang. Besok pagi, pesawat Hafiz dijadwalkan pada pemberangkatan pertama. Aku ingin mengantarkannya sampai bandara. Firasat itu kembali muncul, aku berusaha mengabaikannya. Mungkin, ini pertama kalinya aku harus berjauhan dengan Hafiz. Benih rindu mungkin, pikirku.