
Banyak pendapat mengenai masa-masa berpacaran.
Pertama adalah pacaran itu, indah.
Kedua adalah pacaran itu, bisa bikin kita bahagia.
Ketiga adalah pacaran itu, dipenuhi dengan lika-liku.
Keempat adalah pacaran itu, merupakan tahap awal menuju ke pernikahan.
Terakhir adalah pacaran itu adalah masa-masa, di mana pasangan, mengalami yang namanya memanjakan dan dimanjakan, mencintai dan dicintai.
Tapi, apakah semua pendapat itu benar?
Lalu, bagaimana cara kita bisa merasakan semua itu, kalau orang yang kita cintai saja, sulit untuk mengakui perasaannya karena egonya yang terlalu besar?
Inilah yang sedang dirasakan oleh diriku, yaitu Hammy Okubo.
Perasaan bahagia dan sedihku yang sedang bercampur aduk.
Dimulai dari alasan, aku bisa merasakan bahagia.
Pertama adalah tentu saja, aku merasa bahagia karena usahaku untuk mendapatkan Lucky, tercapai.
Kedua, aku merasa bahagia karena posisiku yang sekarang adalah bukan sebagai pacar keduanya Lucky, tapi sebagai pacar pertama, sekaligus pacar satu-satunya Lucky, yang tentunya, setelah berhasil membuat dirinya putus dari Tsukasa.
Ketiga adalah aku merasa bahagia, di saat, kami berhasil menjalani hubungan kami selama beberapa bulan, yang berarti, ini merupakan rekor terlama dibandingkan saat kami berpacaran karena taruhan.
Keempat, aku merasa bahagia, saat aku mendapati Lucky yang sempat merasa cemburu, ketika aku akan mendekati pria lain.
Terakhir adalah aku merasa sangat bahagia, ketika aku merasakan, kalau mimpiku hampir mencapai kenyataan.
Itulah masa-masa yang paling membahagiakan bagiku.
Tapi, apakah itu semua cukup?
Tentu tidak!
Seperti kataku, tidak selamanya aku merasakan bahagia, saat aku berhasil berpacaran dengan Lucky.
Tentu saja, ada pula, rasa sedih yang menghinggap di dalam hatiku.
Inilah bukti dari mengapa, aku juga merasakan sedih, di saat yang bersamaan dengan rasa bahagiaku!
Pertama, aku merasa sedih, di saat Lucky, belum mau disentuh olehku.
Tiap aku ingin menyentuhnya, dia selalu memberikan tatapan yang dingin dan tajam hingga menusuk hatiku.
Kedua, memang benar, posisiku, kini menjadi kekasih pertamanya, tapi bukan berarti, sifat playboynya sudah hilang.
Dia masih saja terus berusaha untuk mencari penggantiku, di saat aku lengah sedikit saja.
Ketiga adalah aku merasa sedih, karena Lucky tidak pernah sekalipun, mengajakku untuk berkencan.
__ADS_1
Akulah yang selalu berinisiatif mengajaknya dan itu pun harus sedikit kupaksa.
Jadi, mau gak mau, hari-hari biasa kami selama di kampus selalu kujadikan alasan agar kami bisa berkencan, tentunya dengan alasan pergi dan pulang bareng.
Sementara, khusus di Hari Sabtu dan Minggu, dia pasti akan selalu menolak ajakkanku, dengan alasan, kalau dia ingin bersantai di rumah saat akhir pekan.
Aku tau, kalau dia itu bohong makanya aku pun memakai alasan, kalau di akhir pekan, akulah yang akan main ke rumahnya supaya dia gak bisa pergi dengan cewek lain manapun.
Keempat, bagiku, Lucky terkadang, terlihat tidak suka, di saat aku berdekatan dengan cowok lain, tapi setiap kutanya, apakah dia cemburu?Dia selalu menjawab, "gak, kok! Itu cuma perasaanmu saja, aku melakukan itu karena aku gak mau, kamu salah bergaul!"
Mendengar alasan itu, aku merasa jengah. Bagiku, itu alasan yang tidak masuk akal sama sekali.
Segitu besarkah rasa egomu, hingga sulit untuk mengatakan kata cinta atau hanya sekedar kata cemburu? Kapan kamu akan mengakuinya?
Terakhir adalah impianku yang kurasakan hampir menjadi kenyataan, kini membuatku ragu.
Bagaimana bisa menjadi kenyataan, kalau pada saat berpacaran saja, hatinya sulit untuk kudapatkan, apalagi nanti, di saat aku sudah menjadi istrinya? Begh, bisa-bisa aku menikah dengan suami tampan yang sedingin es.
Lalu, kalau kutanya apa alasannya, dia cuma bilang untuk memberinya sedikit waktu karena dia masih belum memiliki rasa padaku dan dia masih terus belajar untuk membuka hatinya kepadaku.
Sekali lagi, aku tau, kalau dia itu bohong. Karena apa? Alasan utamanya adalah karena Tsukasa.
Lalu sebagai kekasihnya, apa yang bisa kulakukan?
Kini, aku bingung di antara dua pilihan.
Pilihanku adalah aku harus bertahan atau justru, aku harus melepaskannya?
Tapi, di saat aku sedang membuat pilihan itu, aku pun sadar akan resiko dari pilihanku itu.
Dia pasti akan memanfaatkan itu untuk berbaikan kembali dengan Tsukasa.
Lalu pertanyaannya adalah apakah aku rela, jika itu yang terjadi?
Jawabannya adalah tidak! Aku sudah berhasil mendapatkannya dengan susah payah dan dengan bantuan dari dua orang, masa aku harus melepaskannya begitu saja untuk wanita lain?
Tidak, aku tidak rela!
Tapi, jika aku memilih untuk bertahan, mau sampai kapan hubungan kami akan seperti ini?
Egoiskah aku, jika aku mempertahankannya di sisiku?
Egoiskah aku, jika aku ingin memonopoli dirinya?
Egoiskah aku, jika aku berharap suatu saat nanti, kami akan menikah dan takkan ada lagi Tsukasa di dalam hubungan kami?
Aku rasa tidak karena akulah yang berhak atas dirinya.
Akulah kekasihnya saat ini.
Aku memiliki hak untuk menjauhkan dirinya dari Tsukasa dan memastikan, mereka tidak bisa kembali bersama.
Ya, benar! Itulah yang harus kulakukan! Aku harus yakin, kalau mempertahankan Lucky di sisiku, itu adalah pilihan yang tepat.
__ADS_1
Aku harus yakin, kalau suatu saat, sifat dinginnya itu akan berubah menjadi hangat dan tatapan tajamnya akan berubah menjadi tatapan penuh cinta kepadaku.
Cinta bisa tumbuh karena terbiasa, jika aku selalu memberinya perhatian yang penuh cinta, aku yakin, suatu saat, hatinya akan melembut dan terbuka untuk kumasuki.
Aku harus yakin, kalau suatu saat, itulah yang akan terjadi di dalam hubungan kami, ke depannya.
Yup, aku sudah memutuskan untuk tidak bimbang lagi dan memastikan, Lucky akan menjadi milikku untuk selamanya!
Lucky is mine and my future.
Lucky adalah milikku dan masa depanku.
Jadi, inilah perjuanganku untuk mempertahankan Lucky yang sudah menjadi milikku!
Selesai menuliskan itu semua di buku diarynya, Hammy pun menyimpannya di dalam laci.
Ia pun memutuskan untuk terus berjuang, meluluhkan kerasnya hati Lucky dan mengubahnya menjadi hati yang penuh cinta dan tak mau melepaskannya.
Ia terus berharap di dalam hatinya, kalau suatu saat, itulah yang akan terjadi.
Ia pun kembali bersemangat untuk mendapatkan hati Lucky.
Ia tersenyum bahagia, di saat membayangkan impiannya yang ini akan menjadi kenyataan.
Jadi, inilah dia, kisah Hammy yang berjuang untuk mendapatkan hati Lucky, sang playboy!
Sanggupkah ia bertahan?
Sanggupkah ia mengubah sifat Lucky?
Sanggupkah ia membuat mimpinya menjadi nyata?
Sanggupkah ia mendapatkan dan memonopoli Lucky untuk dirinya?
Akankah ada orang lain selain Tsukasa, yang akan merebut Lucky darinya dan apakah ia akan diam saja membiarkan Lucky direbut?
Apa yang akan dilakukannya?
Akankah ia sanggup, membuat Lucky mengatakan cinta kepadanya?
Kapan itu akan terjadi?
Siapakah yang akan menyerah di akhir? Lucky dengan egonya atau Hammy dengan perasaan cintanya yang terluka dan tersakiti?
Akankah Hammy sanggup menggantikan posisi Tsukasa di hati Lucky, sesuai dengan keinginannya?
Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Lalu, bagaimana pula dengan pasangan yang lainnya?
Emu dengan Asuna dan Kairi dengan Tsukasa?
Siapakah di antara mereka yang benar-benar akan jatuh cinta duluan dengan pasangannya?
__ADS_1
Next/stop? Like dan komen!