
Kini para tokoh kita sudah bertunangan.
Mereka sudah terikat dengan resmi dan hanya tinggal selangkah lagi, menuju ke sebuah ikatan yang suci, yaitu pernikahan.
Tapi, apakah benar, hubungan mereka yang sekarang ini akan baik-baik aja?
Akankah hubungan mereka bisa berjalan dengan lancar hingga ke jenjang pernikahan, sesuai dengan apa yang menjadi impian mereka?
Ataukah justru, muncul masalah baru ke depannya?
Kata orang, masalah itu muncul untuk menimbulkan kesan menarik di dalam hidup.
Kata orang, masalah itu bisa membuat hidup seseorang menjadi penuh dengan lika-liku.
Kata orang, tanpa adanya masalah maka hidup akan terasa kaku dan datar.
Kata orang, masalahlah yang membuat seseorang itu menjadi dewasa.
Setiap orang pasti akan memiliki masalahnya masing-masing.
Masalah akan selalu muncul, bahkan, tak terhindarkan hingga sampai menikah sekalipun.
Tapi, gimana cara menyikapi dan menyelesaikannya, juga tergantung dari masing-masing orang dan pasangan.
Jika masalah muncul di antara kedua pasangan lalu keduanya memiliki emosi yang tinggi dan berkepala panas maka masalah akan semakin besar.
Tapi, jika salah satu pihak berkepala dingin maka masalah pun akan mengecil dan terselesaikan.
Jika yang satunya, berbicara panjang lebar maka yang satunya, cukup mendengarkan.
Jika keduanya hanya berbicara, tanpa ada yang mau mendengarkan maka masalah akan semakin panjang lebar.
Tapi, jika salah satunya diam, merenung dan mencerna baik-baik maka masalah pun bisa mengecil.
Terkadang, seseorang juga butuh waktu untuk sendiri, merenung dan menenangkan dirinya.
Tapi kembali, tergantung dari masing-masing orang, yang bisa menyebabkan masalah itu, membesar atau mengecil.
Bahkan, tak heran dan tak asing lagi, jika kita seringkali mendengar kata "putus" atau "cerai" dari salah satu pasangan karena tak sanggup, menghadapi masalah yang ada di depan mata.
Kata itu mudah untuk meluncur keluar, di saat diri sedang emosi.
Semua masalah, pasti bisa diselesaikan.
Hanya aja, apa bentuk masalahnya, besar atau kecilnya masalah yang dihadapi dan bagaimana cara menyelesaikannya, itulah yang berbeda dari masing-masing orang.
Hal itu pun berlaku dengan para tokoh kita di dalam cerita ini!
Mari kita lihat, satu per satu!
Dimulai dari Emu dan Asuna.
Mereka adalah pasangan pertama yang sudah bertunangan. Mereka bertunangan dengan cara terpaksa.
Emu terpaksa setuju untuk bertunangan dengan Asuna karena Asuna mengancam akan menyakiti Hammy, jika sampai, dirinya menolak pertunangan mereka.
Emu terpaksa setuju karena dia berpikir, malas untuk berdebat dengan Asuna.
Emu setuju karena dia pikir, asalkan Asuna senang maka Hammy, takkan disakiti olehnya.
Emu setuju karena dia berpikir, cuma itu, yang menjadi keinginan dari Asuna.
Tapi dia salah karena ternyata, Asuna memiliki keinginan lainnya.
Keinginan itu, mampu membuat dirinya, kembali tersentak.
Gimana tidak? Asuna ingin mereka untuk tinggal bersama! Itu artinya, mereka akan menghabiskan waktu, tiap harinya selama 24 jam!
Padahal, Emu sempat berpikir, kalau mereka bertunangan itu hanya sebatas di depan Lucky dan Hammy lalu akan mengakhirinya!
Tapi dia salah besar, Asuna sama sekali tidak memberinya peluang untuk hidup bebas!
Dia merasa terjebak karena lagi-lagi, Asuna mengancamnya, kalau ia akan memberitahukan perasaannya kepada Hammy dan akan membuat Hammy, menjauhinya dan membencinya.
Sementara bagi Asuna sendiri, ia merasa berhak untuk minta itu dari Emu karena mereka sudah bertunangan dan ia merasa dengan mereka tinggal bersama, itu adalah sebuah kesempatan yang bagus untuknya mengawasi dan memastikan, kalau Emu, takkan berdekatan lagi ataupun memiliki kesempatan untuk dekat dengan Hammy.
Emu pun marah besar kepada Asuna.
"Apa kamu sudah gila? Kamu tidak bisa begitu aja, tinggal di rumahku dan tanpa seijinku!"
"Mank kenapa? Aku kan juga punya hak karena kamu itu adalah tunanganku! Alah, bilang aja, jika Hammy, si gadis penggoda itu yang memintamu maka kamu pasti akan setuju, iya kan?"
"Asuna, jaga bicaramu!"
"Kenapa? Aku gak salah bicara, Hammy itu kan memang gadis penggoda dan perusak hubungan kita!"
"Asuna! Ingat baik-baik, kamu tak punya hak sama sekali untuk menyakitinya dan ia sama sekali bukan gadis penggoda! Ia juga punya nama, yaitu Hammy!"
"Aku gak peduli, Mumu! Kita itu udah bertunangan resmi! Jadi, kita pasti akan tinggal bersama! Jadi, kapan kita akan mulai tinggal bersama, honey?"
"Asuna, apa kamu tak mendengarkan perkataanku sama sekali?"
"Aku dengar, kok! Tapi seperti perkataanku, aku tak mempedulikan soal itu sama sekali! Aku cuma ingin, kita tinggal bersama, apa salahnya dengan itu?"
Emu sungguh-sungguh merasa malas berdebat dengan Asuna karena Asuna itu, begitu keras kepala.
Emu pun terpaksa setuju karena dia tak mau, kalau sampai, Asuna menyakiti Hammy, apalagi, sampai membuat Hammy membencinya.
"Baiklah, mulai besok, kamu bisa tinggal di rumahku dan kita akan tinggal bersama sampai di hari pernikahan kita!"
"Yeay, benarkah itu? Makasih, ya, honey!"
Asuna lalu memeluk Emu dengan eratnya.
Emu hanya bisa menghembuskan nafas kasarnya, tanpa berniat untuk membalas pelukan dari Asuna.
Asuna sendiri, sama sekali tidak peduli, jika ia dianggap sebagai seorang kekasih yang egois.
Ia cuma gak mau, kalau sampai, dirinya kecolongan. Emu itu adalah miliknya seorang dan itu, tak bisa digantikan oleh siapapun, jadi, jangan harap akan ada wanita lain yang bisa memasuki kehidupan mereka!
Sekarang paham, kan? Masalah tidak bisa diselesaikan, jika keduanya saling emosi dan berkepala panas.
Masalah baru akan mengecil atau terselesaikan, jika salah satu pihak, ada yang berkepala dingin atau mengalah, contohnya adalah Emu.
Itulah cara Emu dan Asuna menyelesaikan masalah mereka lalu gimana dengan yang lainnya?
Mari kita mencari tau!
Skip Lucky dan Hammy.
Pasangan yang berikutnya adalah Lucky dan Hammy.
Mereka adalah pasangan kedua yang bertunangan.
Lucky, sejak awal sudah sering menginap di rumah Hammy, yaitu dari sejak mereka berpacaran.
Disusul oleh Hammy yang menginap di rumah Lucky karena kasus peneroran yang dialaminya.
Lalu sekarang, setelah mereka bertunangan resmi.
Lucky pun, sama sekali tidak mempermasalahkan soal itu karena dia merasa, kalau Hammy berhak untuk meminta itu darinya, lagipula, mereka akan menikah, jadi sama sekali, tak ada bedanya dengan sekarang.
Sementara Hammy merasa senang sekali karena Lucky, sama sekali, tidak menolak keinginannya itu.
Ia merasa senang karena Lucky tidak seperti dulu.
Ia merasa, kalau Lucky sudah mulai bisa menerima hubungan mereka.
Ia pun merasa sangat bahagia.
Ia tak peduli, jika dianggap sebagai seorang kekasih yang posesif.
Lucky itu adalah miliknya seorang, begitu pun, sebaliknya! Lucky adalah untuknya selamanya.
Lalu berikutnya adalah Kairi dan Tsukasa.
Kairi dan Tsukasa adalah pasangan yang terakhir dan mereka pun sudah resmi bertunangan, lebih tepatnya, baru aja, selesai bertunangan!
Untung aja, acaranya berjalan dengan lancar.
Kini Kairi pun menyampaikan keinginannya untuk mereka tinggal bersama karena Kairi mau, Tsukasa untuk melupakan Lucky sepenuhnya dan belajar untuk mulai hidup baru dengannya.
Bedanya adalah kali ini, Kairi ingin, mereka tinggal bersama di rumahnya karena di rumah Tsukasa, ada begitu banyak, kenangannya bersama dengan Lucky.
Dia mau menghapus kenangan tentang Lucky sepenuhnya dari ingatan Tsukasa.
Dia gak mau, kalau Tsukasa, terus aja mengenang masa lalunya bersama dengan sang mantan, yaitu Lucky.
Kairi lalu memanggil Tsukasa untuk membahas mengenai masalah ini.
"Sayang, kemarilah!"
"Iya, sayang!"
__ADS_1
Tsukasa lalu berjalan menghampiri Kairi.
"Aku mau bicara, soal kita tinggal bersama, sayang!"
"Baiklah, sayang!"
"Aku mau, kita tinggal bersama di rumahku, gimana?"
"Baiklah, aku menurut aja karena kita sudah bertunangan dan cepat atau lambat pun, hal ini pasti akan terjadi juga! Lagipula, setelah kita menikah, aku pasti akan mengikuti suamiku!"
"Good girl!"
Kairi mengangguk paham lalu memeluk Tsukasa dan Tsukasa membalas pelukan dari Kairi.
Kairi merasa lega dan bersyukur karena Tsukasa, setuju dengan idenya.
Kairi pun memanfaatkan waktu untuk mereka tinggal bersama itu untuk mengawasi Tsukasa dan memastikan agar dirinya tidak kecolongan.
Untungnya aja, Tsukasa itu pengertian.
Sementara bagi Tsukasa sendiri, Kairi memang memiliki hak untuk itu.
Ia hanya merasa kaget karena itu mendadak dan kecepetan, tapi ia tau, kalau itu semua adalah haknya Kairi, jadi ia setuju dan diam saja.
Hari demi hari berlalu.
Hubungan Emu dan Asuna selalu diwarnai oleh pertengkaran pasangan.
Tiada hari, tanpa mereka, bertengkar sedikitpun.
Skip Lucky dan Hammy.
Hammy, terus aja, menempel manja ama Lucky dan Lucky hanya membiarkannya aja karena sejak kasus peneroran itu, Lucky menjadi tau, kalau Hammy itu, begitu rapuh.
Dia akan membiarkan Hammy melakukan apapun yang diinginkannya, asalkan, itu tidak membuatnya terluka atau pun kelewat batas!
Dia akan melindungi Hammy karena dia sadar betul, kalau Hammy, kini sudah menjadi tanggung jawabnya.
Dia takkan membiarkan Hammy terluka dan ada yang menyakitinya, kali ini!
Sementara Kairi dan Tsukasa.
Kairi merasa senang karena Tsukasa sudah tidak pernah menyinggung, soal Lucky lagi.
Mereka bisa menjalani hubungan dengan tenang dan tanpa adanya, bayang-bayang sang mantan yang menghampiri Tsukasa.
Hari demi hari, kembali berlalu.
Mereka sedang menjalani kegiatan mereka sebagai seorang pelajar.
Mereka mengikuti pelajaran hingga akhir.
Skip pulang kampus.
Emu memanfaatkan waktu ini untuk mengirimkan pesan.
Dia berniat untuk mengumpulkan semuanya, tanpa tau akan ada masalah besar yang menghampirinya dan mempengaruhi hubungan mereka semua ke depannya.
Masalah apakah itu?
Mari kita mencari tau!
Masalah itu berawal, ketika Emu mengirimkan pesan dan mengumpulkan semuanya di kantin kampus.
Skip di kantin kampus.
Kini semuanya sudah berkumpul.
"Jadi ada apa, Emu?"
"Ya, kenapa kamu mengumpulkan kita semua di sini?"
"Gapapa, hanya aja, setelah pesta pertunangan kita, kita sudah lama, gak berkumpul seperti ini?"
"Benar juga!"
"Iya, aku juga setuju dengan itu!"
"Gimana dengan hubungan kalian, Hammy?"
"Hubungan kami baik-baik aja, kok!"
"Hem!"
"Lalu gimana dengan kalian?"
"Hubungan kami juga baik-baik aja, kok!"
Lalu para cowok memesankan makanan, sekalian untuk para tunangannya.
Di sinilah, masalah dimulai.
Skip para cewek.
"Hei, Hammy!"
"Iya, ada apa?"
"Enak banget ya, hidup loe! Dapatin pria yang kamu cintai, tapi sayangnya dengan merebutnya dari kekasihnya, apa kamu gak punya rasa malu atau takut, kalau gak laku, hah?"
Deg!
"Maksudmu apa?"
"Alah, udah deh! Semua orang juga tau, kalau Lucky itu, cintanya sama Tsukasa, bukan sama kamu!"
"Apa mungkin, kamu melakukan sesuatu sama Lucky hingga dia berubah?"
"Aku gak ngerti sama sekali! Lucky itu adalah milikku! Aku mencintainya dan aku memilikinya, setelah kalian putus, Tsukasa!"
"Benarkah? Kok aku curiga, ya?"
"Asuna, diam kamu! Jangan memperkeruh suasana!"
"Aku? Emang benar, kali? Seseorang itu, gak mungkin berubah secara tiba-tiba, tanpa ada penyebabnya! Apa mungkin, kamu mengancam Lucky? Wah, parah! Udah menggoda kekasih orang, mengancamnya hingga putus dari kekasihnya, ckckck!"
"Benar begitu, Hammy? Kamu adalah orang yang seperti itu?"
"Gak kok, aku udah mencintai Lucky, jauh dan sejak lama!"
"Dari kapan? Apa saat, masih menjadi kekasihku?"
Deg!
"Tuh kan, dirinya gak menjawab, artinya, memang benar, ia mencintai kekasihmu dan mengancamnya agar putus darimu, Tsukasa!"
Plak!
"Aw!"
"Tak kusangka, kamu adalah gadis yang seperti itu! Kamu udah merusak kebahagiaanku bersama dengan Lucky! Apa kamu tau, kalau kami sempat, ingin bicara soal pernikahan?"
"Bukan cuma itu, ia juga mengincar Emu! Kekasihku, tidak, calon suamiku, terus aja, dibuat merasa kasihan dan ingin melindunginya! Aku kan menjadi kesal! Ia itu memang seorang wanita penggoda dan perusak masa depan orang lain!"
"Hammy, kamu benar-benar sudah keterlaluan! Aku salah karena telah menganggapmu teman! Aku menyesal karena pernah ketemu dan berkenalan denganmu! Jika kamu tak ada maka akulah yang akan menjadi istri dari Lucky, bukan dirimu! Ingat baik-baik, aku pasti akan merebut Lucky, kembali darimu! Dasar seorang playgirl penggoda dan perebut kekasih orang! Dasar tukang tikung dan penusuk dari belakang!"
Melihat kemarahan dari Tsukasa, membuat Asuna tersenyum dengan smirk dan puas.
Rasa sakit hatinya karena diacuhkan oleh Emu demi Hammy, kini sudah terbalaskan oleh Tsukasa.
Tsukasa pun, ingin kembali menampar Hammy dan Hammy sudah diam, menunduk ketakutan.
Tangan Tsukasa sudah mulai melayang kembali, namun, dihentikan di udara.
"Ada apa ini? Bisa tolong jelaskan, kenapa kamu ingin menampar tunanganku, Tsukasa?"
Mendengar pertanyaan itu, Asuna menjadi marah karena ia gagal untuk menyakiti Hammy.
Ia berpikir untuk membalas rasa sakit yang dirasakannya karena Hammy, melalui Tsukasa, tapi kini gatot, alias gagal total!
Hammy mulai menangis terisak.
Lucky melirik ke arah Hammy dan melihat ada bekas tamparan di pipinya.
Lucky melepaskan tangan Tsukasa, menghampiri Hammy lalu memeluknya erat.
"Apa ada yang mau memberitahuku atau mau bercerita, tentang ada apa ini sebenarnya?"
Semuanya tetap diam.
Lucky lalu menghembuskan nafas kasar. Hammy pun, makin terisak dengan kencangnya.
Hammy lalu mulai menceritakan semuanya dan yang sebenarnya, secara perlahan kepada Lucky.
__ADS_1
Lucky pun tersentak dengan sangat kaget. Kairi dan Emu pun sama.
Lalu mereka menoleh dan menatap ke arah Tsukasa dan Asuna dengan tatapan yang sangat tajam dan dipenuhi amarah.
Asuna dan Tsukasa hanya bisa diam menunduk.
Lucky lalu membawa Hammy pergi dari sana dengan keadaan yang sangat marah.
Dia sungguh kecewa karena ternyata, gadis yang dicintainya, tidak, tapi yang pernah dicintainya, tidak sebaik yang dirinya kira.
Hal tersebut, ternyata dilakukan pula oleh Kairi dan Emu.
Kairi menarik paksa tangan Tsukasa dan Emu menyeret Asuna ke tempat yang berbeda.
Skip di lobi kampus.
Kairi ternyata membawa Tsukasa ke lobi kampus.
Kairi lalu menatap ke arah Tsukasa tajam dan membuat Tsukasa takut.
"Bisa, tolong jelaskan padaku, apa yang terjadi barusan?"
"Gak ada apa-apa, kok!"
"Gak ada apa-apa, apanya? Kamu berusaha untuk membodohiku? Aku liat sendiri, saat kamu memarahi, menghina, menampar dan mengancam Hammy tadi, kalau kamu akan merebut Lucky, kembali darinya! Apa maksudmu, hah? Kamu pikirin perasaanku, gak? Sejak kapan, calon istriku menjadi kasar begini, hah? Apa perlu, kita yang pertama kali menikah agar kamu tak bisa membayangkan dan memiliki kesempatan untuk menikah dengan Lucky? Apa perlu, aku mengurungmu di dalam rumah atau membawamu ke luar negeri, setelah pernikahan kita? Kamu bilang apa tadi? Kamu ingin merebut Lucky kembali? Kalau begitu, di sini, siapa yang penggoda dan perebut calon suami orang lain, hah? Hammy memang pernah memarahi dan menghinamu, tapi itu, hanya di depan Lucky dan dirimu aja, tapi kamu? Kamu memarahi, menghina, menampar dan mengancamnya di depan umum! Gimana rasanya, kalau kamu yang ada di posisi Hammy, hah?"
Deg!
"Aku gak mau tau, pokoknya, aku mau, kamu minta maaf sama Hammy, sekarang juga! Kita cari keberadaan mereka sekarang!"
Kairi lalu menarik kencang pergelangan tangan Tsukasa.
"Aw, sakit! Lepaskan aku, sayang!"
Kairi terus aja berjalan, tanpa mempedulikan rontaan dan rengekan dari Tsukasa. Dia berjalan dengan emosi yang sangat tinggi.
Skip Emu dan Asuna.
Emu menyeret Asuna di depan semua orang hingga tiba di ruang loker.
Emu menghempaskan tubuh Asuna hingga punggungnya membentur loker.
"Aw, sakit, honey!"
Emu sangat marah dan memukul pintu loker di sisi Asuna.
Asuna pun meneguk salivanya dengan susah payah.
"Kenapa kamu terlihat sangat marah, honey?"
"Kenapa? Kamu tanya, kenapa? Apa kamu ini bodoh, hah? Apa maksudmu dengan menyakiti Hammy tadi, hah? Bukankah aku sudah menuruti keinginanmu untuk bertunangan denganmu, tapi kenapa, kamu malah memakai Tsukasa untuk menyakiti Hammy, apa maksudmu dengan mengadu domba mereka, hah?"
"Kenapa manknya? Itu adalah hal yang pantas untuknya! Siapa suruh, ia untuk mengusikmu? Kamu itu adalah milikku, Emu! Tapi sedikitpun, kamu tak pernah melirikku, kamu selalu aja melirik, memperhatikan dan melindungi Hammy! Jika aku yang berada di posisi Hammy, akankah kamu melindungiku?"
"Asuna, cukup! Aku juga memiliki batas kesabaranku! Jangan pikir, kamu bisa bertindak seenaknya hanya karena kita sudah bertunangan!"
"Honey, kenapa? Selalu aja begini!"
"Kenapa? Kamulah yang udah buat aku jadi begini! Pertunangan lalu tinggal bersama masih bisa kutolerir, tapi tidak, soal menyakiti Hammy! Aku takkan pernah memaafkanmu, Asuna! Sekarang pilih, kamu minta maaf sama Hammy sekarang atau aku akan mengakhiri pertunangan kita di sini dan saat ini juga! Pilihan ada di tanganmu, Asuna!"
Emu lalu membalik badannya dan pergi dari sana dengan penuh amarah.
"Tunggu, mau ke mana kamu, honey?"
"Tentu aja ke tempat Hammy, mau menggantikanmu untuk minta maaf padanya!"
Emu lalu pergi dari sana, tanpa menghiraukan teriakan dan panggilan Asuna di belakangnya.
Dia berjalan sambil melirik ke arah kanan dan kirinya lalu bertanya ke tiap mahasiswa dan mahasiswi yang ditemui.
Untungnya aja, ada yang melihat dan memberitahu Emu.
Dia pun pergi ke sana sambil dikejar oleh Asuna dari belakang dengan marah.
Hal yang sama pun, dilakukan oleh Kairi. Dia dan Tsukasa sedang menuju ke sana.
Skip Lucky dan Hammy.
Sementara pasangan yang sedang dicari, sedang ada di taman kampus.
Hammy, terus aja menangis di pelukan Lucky dan Lucky, terus aja memeluknya untuk menenangkan Hammy.
"Sudah ya, beib?"
"Memang, apa salahku sih, beib? Kenapa aku harus dihina dan dipermalukan di depan umum? Dulu, aku marah dan menghina Tsukasa hanya di depanmu dan itu karena aku cemburu, tapi kenapa Tsukasa, melakukannya di depan semua orang? Aku sungguh malu, beib! Hiks, hiks!"
"Iya, itu bukan salahmu, beib! Coba kulihat, luka di pipimu!"
"Sakit, beib! Apa kamu akan kembali kepada Tsukasa, beib?"
"Apa maksudmu? Aku ini adalah calon suamimu! Justru, berkat dirimu, aku jadi tau persis, sifat asli Tsukasa itu, seperti apa! Ia itu sungguh kasar dan membuatku malu! Untung aja, kami sudah putus, jika tidak, aku tak tau, akan seperti apa, hubungan kami ke depannya? Belum menjadi calon istri aja udah kasar, apalagi, kalau kami sudah menikah?"
"Kamu serius?"
"Ya, lagipula kita sudah bertunangan dan langkahmu untuk menjadi Nyonya Kizu hanya sedikit lagi, jadi, kamu harus percaya diri!"
"Kamu serius, beib?"
"Ya, aku serius, lagipula, aku sudah berjanji padamu, kan?"
Tepat, saat mereka sedang bicara, ada beberapa orang yang sedang menguping.
"Tapi, apa kamu yakin, beib?"
"Sangat yakin karena aku akan bertanggungjawab soal dirimu, aku kan sudah bilang, selain aku maka takkan ada yang mau menikahimu!"
"Apa kamu mau menikahiku hanya karena sebatas tanggung jawab ataukah karena kamu sudah memiliki rasa cinta padaku, beib?"
Sementara itu, beberapa orang yang sedang menguping.
"Janji apa, maksudnya?"
"Tanggung jawab?"
"Tak ada yang mau menikahi Hammy, selain Lucky? Apa maksudnya?"
"Menikah hanya karena sebatas tanggung jawab ataukah karena cinta, apa maksudnya?"
Mereka diam menguping sambil dipenuhi dengan pikiran mereka masing-masing dan sambil menunggu, jawaban dari Lucky karena mereka tau, kunci dari rasa penasaran mereka, ada di Lucky.
"Huft, beib! Dengar aku baik-baik, ya karena ini cuma kuucapkan sekali!"
Hammy mengangguk pelan dan yang sedang menguping, memilih untuk menajamkan pendengaran mereka.
Terlihat, Lucky sudah siap untuk kembali berbicara.
"Jawabanku dan keputusanku adalah...."
Kira-kira, siapa yang sedang menguping?
Akankah aksi meminta maaf kepada Hammy, berjalan dengan lancar?
Akankah Hammy mau memaafkan mereka?
Akankah rasa penasaran mereka terjawab?
Akankah terbongkar, rahasia yang dimiliki oleh Lucky dan Hammy, mengenai alasan pertunangan mereka?
Bagaimana respon dan reaksi dari Emu, Asuna, Kairi dan Tsukasa, setelah mengetahuinya?
Akankah rencana pernikahan yang sudah di depan mata masih bisa berjalan dengan lancar ataukah justru, berantakan karena hal ini?
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Baik atau burukkah hasilnya?
Akankah persahabatan mereka menjadi rusak?
Akankah persaingan, kembali terjadi?
Akankah kembali terjadi, saling merebut?
Bagaimana cara mereka mempertahankan hubungan yang sudah terjalin resmi, seperti sekarang ini hingga berujung ke jenjang pernikahan?
Masa lalu dan masa depan, manakah yang akan menang?
Apakah keputusan dari Lucky, setelah Hammy mengalami kejadian ini?
Next/stop? Like dan komen!
__ADS_1