
Saat ini, Hammy sedang tidak baik-baik saja.
Saat ini, Hammy sedang merasa sedih.
Padahal, baru saja ia merasa bahagia, tapi kenapa, tidak bisa bertahan lama.
Ia mulai merasa, kalau dirinya tak pantas untuk bahagia.
Ia mulai berpikir, apakah salah, kalau ia berhasil mendapatkan seseorang yang ia inginkan?
Ia mulai berpikir, apakah salah, jika ia hanya ingin merasakan yang namanya dicintai?
Bukankah kekasihnya sudah memberinya kesempatan?
Bukankah kekasihnya sudah memberikan ijin kepada dirinya untuk membuktikan ketulusan hati dan cintanya kepada sang kekasih?
Bukankah kekasihnya sudah memberikan ijin kepadanya untuk meraih hati dan cintanya?
Bukankah harusnya,
itu sudah cukup?
Tapi kenapa, ia harus mengalami ini sekarang?
Kenapa ia harus hidup di dalam ketakutan?
Kenapa ia harus diteror?
Bahkan, ia saja tidak kenal dengan orang itu.
Meski begitu, semua isi pesan itu sama, yaitu harus menjauhi kekasih orang itu atau bersiap, Lucky akan direbut darinya.
Ia tak mau itu terjadi. Ia takut kehilangan Lucky.
Ia kini cuma bisa menangis dan hidup di dalam ketakutan.
Ia tidak tau, kekasih siapa yang pernah ia usik hingga ia harus mengalami hal yang seperti ini, karena ia hanya fokus mengejar Lucky.
Ia kembali, terduduk di lantai sambil menangis dan memeluk lututnya. Ia membenamkan wajahnya di antara lututnya dan menangis terisak.
Kurang lebih, 30 menit sudah, Hammy menangis di depan kelas Lucky.
Tak lama, terdengar keramaian dari dalam kelas Lucky.
Satu per satu mahasiswa dan mahasiswi mulai keluar dari kelas Lucky.
Bisa dipastikan, kelas Lucky mulai bubar.
Hammy yang tidak mendengar suara itu karena sedang fokus menangis, terusik oleh sebuah suara dari seorang mahasiswa.
"Nona, kamu kenapa? Kok menangis? Nama kamu siapa?"
Hammy pun mendongak dan melihat ke arah si pemilik suara.
"Apakah kamu melihat Lucky?"
"Lucky? Kamu kenalan Lucky?"
"Aku adalah kekasihnya."
"Oh, apakah namamu, Tsukasa?"
"Bukan, aku bukan Tsukasa! Aku mohon, tolong panggilkan saja, Lucky!"
"Baiklah, tunggu sebentar! Lucky tadi, lagi mengobrol soal tugas kelompok!"
"Makasih!"
"Sama-sama dan maaf, kalau tadi, aku salah menyebut namamu!"
"Tak apa!"
"Kenalkan, namaku Raymond sebagai permintaan maaf dariku!"
"Aku, Hammy!"
"Oke, sebentar ya, Hammy!"
Hammy mengangguk lalu Raymond berlalu kembali ke dalam kelasnya.
Tak lama, dia keluar kembali sambil mengajak Lucky.
Lucky terlihat panik. Dia pun berlari, menghampiri Hammy.
"Kamu kenapa, beib? Kata Raymond, kamu menangis lagi?"
"Bisa bawa aku pulang? Aku mau pulang!"
Rengek Hammy manja.
"10 menit lagi, ya? Aku lagi bahas tugas kelompok, nanti aku gak ngerti, tugas kelompoknya apa. Kamu tunggu aku di kelasku saja, nanti selesai bahas, kita langsung pulang, ya?"
Hammy mulai manyun.
Lucky lalu memeluk Hammy erat ke dalam dekapannya dan mengelus punggungnya dengan lembut.
Hal itu membuat hati Hammy menghangat. Ia lalu membalas pelukan dari Lucky.
Lucky lalu menuntun Hammy masuk ke dalam kelasnya.
Awalnya, beberapa teman Lucky terkejut, tapi, setelah Lucky menjelaskan maka mereka pun membiarkannya.
Hammy duduk tidak jauh dari posisi Lucky. Ia duduk dengan membaringkan kepalanya di punggung tangannya yang ia jadikan bantal.
Lama kelamaan, rasa kantuk pun, mulai menyerangnya.
Ia sangat lelah akan teror yang menyerangnya dan hampir menangis seharian. Dalam sekejab, ia pun tertidur.
Lucky yang masih membahas soal tugas kelompok, sama sekali tidak mengetahui, kalau Hammy tertidur di atas meja.
10 menit pun berlalu.
Tepat seperti perkataannya, diskusi tugas kelompok mereka sudah selesai.
Mereka berencana akan mengerjakan tugas kelompoknya di rumah Lucky, hari Sabtu nanti dan Lucky sudah menyetujuinya.
Mereka pun mulai pamit satu per satu dan berpencar.
Lucky lalu melangkah ke arah Hammy. Dia berniat untuk mengajak Hammy pulang.
"Beib, pulang, yuk!"
Hening.
Di saat itulah, dia menyadari, kalau Hammy tertidur.
"Huft, pantas saja, tak ada jawaban, ternyata ia tidur!"
Lucky lalu menatap Hammy yang tertidur dengan pulasnya.
Mukanya terlihat sangat lelah.
Lucky lalu merapikan rambut yang menutupi wajah Hammy.
"Sebenarnya, kamu sangat imut dan lucu, beib! Kuakui, kalau kamu juga cantik, hanya saja, kamu salah, memberikan hatimu untukku yang tak bisa mencintaimu! Meski begitu, aku akan tepati janjiku padamu! Aku akan mencoba untuk membuka hatiku padamu. Jadi, tolong berikan bukti kepadaku, kalau kamu adalah calon yang tepat untukku di masa depan! Aku menunggumu, beib!"
Selesai berucap, Lucky mencium kening Hammy lembut lalu menggendong Hammy ala bridal style sambil menenteng kedua tas mereka.
Di sepanjang lorong, banyak pasang mata melihat ke arah mereka, tapi Lucky mengacuhkannya.
Dia memutuskan untuk menggendong Hammy hingga ke mobilnya lalu mendudukkannya perlahan di kursi mobilnya agar tak terbangun, baru meletakkan kedua barang mereka.
Setelah itu, dia melajukan mobilnya pulang ke rumahnya.
Begitu sampai di rumah, Lucky parkir dan turun dari mobilnya lalu membuka pintu depan dan pintu kamarnya.
Dia kembali ke mobilnya dan menggendong Hammy perlahan, keluar dari mobil lalu membawanya masuk.
Kemudian dia membaringkan Hammy perlahan di atas kasurnya.
Dia melepaskan sepatu yang dipakai oleh Hammy lalu kembali keluar dari kamarnya untuk mengambil barang mereka di mobilnya, mengunci pintu mobilnya lalu mengunci pintu depan.
Dia masuk ke dalam kamarnya dan memutuskan untuk mandi dan ganti baju.
Selepas itu, dia menyusul Hammy ke alam mimpi sambil merangkul pinggangnya erat.
__ADS_1
Tak lama, Hammy terbangun.
Ia merenggangkan otot-ototnya yang kaku.
Ia pun duduk dan melihat ke sekelilingnya. Ia merasa berada di tempat yang berbeda.
Bukankah tadi, dirinya masih di kampus? Lebih tepatnya, di kelas kekasihnya? Kenapa dirinya bisa berada di kamar? Siapa yang membawanya kemari?
Ia pun hendak turun dari ranjang, tapi tak bisa karena merasakan ada sesuatu yang berat, yang melilit pinggangnya.
Ia pun melihat sumbernya dan mendapati, kalau itu adalah sebuah tangan dari seorang pria.
Ia pun menoleh ke arah sumber itu dan mendapati, kalau pemilik tangan itu adalah kekasihnya sendiri.
Ia pun menghela nafas lega karena jujur, ia takut, kalau tangan itu, milik seorang pria asing yang membawanya ke kamar ini.
Ternyata, itu tangan kekasihnya.
Ia pun menoleh dan mendapati kekasihnya, ltidur dengan nyenyak.
Ia pun memutuskan untuk memperhatikan wajah sang kekasih dari dekat, jadi ia membaringkan kembali dirinya dan memeluk erat kekasihnya.
Mendapatkan pelukan hangat, membuat Lucky terusik. Dia pun menyadari, kalau sang kekasih sudah bangun. Dia lalu membiarkannya saja.
Dia dapat merasakan, kalau tangan sang kekasih sedang terulur, menyentuh dirinya.
"Beib, aku sungguh mencintaimu! Aku ingin memilikimu seutuhnya! Tapi kenapa, begitu berat? Meski begitu, aku takkan menyerah! Aku tak mau kehilangan dirimu, beib! Aku akan membuktikan, kalau aku bisa menjadi calon istrimu dan kamu gak akan menyesal dengan itu!"
Selesai berucap, Hammy membenamkan kepalanya di dada Lucky dan memeluknya erat.
Lucky sibuk mencerna ucapan Hammy di dalam hatinya.
"Benarkah, kalau gadis ini sungguh mencintaiku? Benarkah, kalau aku memberikan kesempatan untuknya? Haruskah kubuka hatiku dan belajar untuk menerima keberadaannya?"
Lucky berusaha untuk merenung dengan tetap memejamkan kedua matanya.
Tak lama, dia membuka kedua matanya perlahan. Dia menoleh ke arah gadisnya dan menatapnya dalam. Dia membelai lembut rambutnya.
Tak lama, terdengar suara erangan dari gadisnya.
"Engh!"
"Kamu sudah bangun, beib?"
Hammy lalu membuka kedua matanya perlahan.
"Aku laper!"
Rengek Hammy manja.
Melihat expresi Hammy saat merengek manja, membuat Lucky tersenyum kecil.
"Baiklah, ini memang sudah saatnya untuk makan siang! Ayo, kita makan siang! Kamu mau makan siang di rumah atau di luar?"
"Di luar!"
Rengek Hammy lagi.
"Baiklah!"
Lucky setuju karena dia berpikir, kalau Hammy membutuhkan udara segar.
Mereka pun bersiap-siap.
Selesai bersiap, mereka pergi ke sebuah restoran yang menjadi pilihan Hammy.
Lucky, hanya tak mau, Hammy terbebani pikirannya, jadi dia membiarkan Hammy untuk memilih yang dirinya suka dan dia hanya mengikuti pilihan gadisnya itu.
Mereka pun makan siang bersama setelah pesanan mereka tiba.
Hammy mulai tersenyum kembali. Lucky pun merasa lega.
Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang mengawasi mereka dari jauh, sambil sedikit emosi.
Orang itu pun pergi dari sana sambil menghentakkan kakinya kesal.
"Harusnya aku yang berada di posisi itu!"
Kembali ke Lucky dan Hammy.
Lucky lalu meminta Hammy untuk pindah duduk ke sebelahnya.
Hammy pun pindah dari duduk di hadapan Lucky, ke sebelah Lucky.
Lucky merangkul bahu Hammy erat.
Hammy merasa sangat bahagia. Dulu Lucky yang tidak suka dan bisa disentuhnya, kini dialah yang merangkulnya duluan.
"Kamu kenapa, beib?"
"Boleh aku membahasnya di rumah?"
"Baiklah! Kita habiskan makan siang kita lalu pulang!"
Hammy mengangguk.
Mereka pun menghabiskan makan siang mereka lalu pulang ke rumah Lucky.
Begitu sampai di rumah Lucky, Lucky menuntun Hammy ke kamarnya dan menuntutnya untuk cerita.
Hammy langsung menyerahkan ponselnya yang berisi pesan-pesan itu kepada Lucky.
Lucky lalu menerimanya dan membuka pesan-pesan itu.
Dia lalu menoleh ke arah Hammy, sedangkan Hammy menunduk dalam diam.
Lucky lalu menoleh kembali ke ponsel Hammy.
Tak lama, expresi mukanya berubah serius dan menjadi marah.
"Apa-apaan ini? Ini benar-benar sudah keterlaluan!"
"Beib, aku takut!"
Lucky lalu memindahkan semua pesan yang ada di ponsel Hammy, ke ponselnya.
"Sebelum itu, aku mau tanya, apa kamu pernah selingkuh dariku, selama kita jadian?"
"Ga pernah, beib! Aku itu sungguh-sungguh mencintaimu! Selain itu, aku juga lagi fokus meraih hati dan cintamu, jadi mana mungkin, aku selingkuh?"
"Benarkah? Masalahnya, inti dari semua pesan itu sama! Kamu mengusik kekasihnya!"
"Gak, beib! Percayalah padaku! Aku juga tak tau! Kumohon!"
Lucky lalu entah, dapat ide gila dari mana, dia menelpon si pengirim pesan itu dengan ponsel Hammy.
Tentu saja, awalnya diangkat, tapi setelah itu langsung dimatikan dan diblokir.
Hal itu membuat Lucky tersenyum dengan smirk.
"Mau main-main denganku, rupanya!"
Lucky lalu menghampiri Hammy dan memeluknya.
"Sudahlah, jangan menangis!"
"Tapi aku takut kehilanganmu, beib! Aku sungguh-sungguh mencintaimu!"
"Selama kamu gak selingkuh dariku maka kamu takkan pernah kehilanganku!"
"Aku janji padamu, kalau aku takkan pernah selingkuh darimu!"
"Kupegang janjimu!"
"Iya, beib, aku janji, kalau aku akan menepati janjiku dan takkan pernah mengecewakanmu!"
"Baiklah lalu apa yang akan kamu lakukan, jika kamu sudah mengetahui siapa pelakunya?"
"Entahlah, tapi mungkin, aku akan bertanya padanya, kenapa dia melakukan ini padaku? Apa alasannya? Apa salahku padanya? Siapa kekasihnya?"
"Baiklah, jadi kamu akan memberikan rentetan pertanyaan kepadanya.
"Aku bisa menggunakan jawabannya sebagai petunjuk untuk mengetahui siapa pelakunya."
"Lalu apa lagi yang akan kamu lakukan?"
__ADS_1
"Aku tak tau, hanya saja, seperti kataku, aku akan bertanya kepadanya, alasannya melakukan ini, apa?"
"Setelah tau alasannya?"
"Aku tak tau, beib! Aku sungguh takut jika peneror itu adalah orang yang kukenal baik dan gimana aku bisa menghadapinya?"
"Ya sudah, kamu gak perlu takut, ada aku. Biarlah masalah ini menjadi urusan dan tanggungjawabku!"
"Beib, ngantuk!"
Rengek Hammy.
"Iya, iya! Kita tuker baju dulu, baru kita beristirahat!"
Hammy mengangguk.
Mereka lalu ganti baju dan memutuskan untuk tidur siang.
Lucky memeluk Hammy erat dan mereka pun tidur sambil pelukan.
Tapi sebelum Lucky benar-benar tertidur, dia memikirkan isi pesan tadi.
"Kali ini, aku takkan tinggal diam! Ini sudah keterlaluan! Aku memang tidak mencintai Hammy, tapi bukan berarti, kubiarkan, siapapun mengusiknya, gimanapun juga, Hammy adalah kekasihku! Aku pasti akan melindunginya! Jika aku sampai mengetahui siapa penerornya maka aku akan memberinya peringatan! Apalagi, dia sudah berani melibatkanku!"
Selesai berucap, barulah Lucky tidur.
Selama Hammy diteror maka Hammy akan menginap di rumah Lucky dan tidur di kamar Lucky agar Lucky mudah melindunginya.
Sementara itu, si peneror sedang bersenang-senang.
Ia sedang tersenyum smirk.
"Lihat aja, Hammy! Aku takkan pernah berhenti menerormu hingga aku puas dan melihat kehancuranmu! Kamu akan kehilangan kekasihmu, jika sampai aku kehilangan dirinya! Aku tak sudi, melihatmu bahagia dengan kekasihku! Ini baru langkah awal saja! Berikutnya, mungkin bisa lebih parah! Aku takkan pernah sudi, melihatmu bahagia di atas penderitaanku!"
Selesai berucap, ia melanjutkan aktivitasnya.
Skip Emu.
Emu, saat ini sedang sibuk mengurus pasien.
Tapi entah kenapa, dia sulit untuk berkonsentrasi. Ada yang mengusik pikirannya. Dia merasa, kalau ada yang aneh dengan sikap Asuna, belakangan ini! Dia pun berencana untuk menyelidiki kekasihnya secara diam-diam.
"Huft, kenapa aku merasa, kalau sifat kekasihku berubah, ya? Aku harus menyelidikinya diam-diam! Ini sungguh, mengusik pikiranku!"
Selesai berucap, Emu melanjutkan kembali pekerjaannya.
Skip Kairi dan Tsukasa.
Mereka sedang berkencan, tapi sejak tadi, Tsukasa hanya melamun.
Hal itu membuat Kairi bingung dan sedikit kesal.
Meski begitu, dia tetap melanjutkan kencan mereka. Dia ingin mencari tau, apa penyebab kekasihnya itu melamun, setelah mereka selesai kencan.
Hari demi hari berlalu.
Teror yang dialami Hammy, makin parah.
Pesan-pesan itu, terus saja berdatangan lalu ada paket yang berisi boneka robek, ada kertas di mejanya yang diletakkan batu di atasnya dengan tulisan, "menyingkirlah dari kekasihku!"
Saat Hammy menemukannya, Hammy bertanya, apa ada yang melihat si pelaku?
Tapi para mahasiswa dan mahasiswi sekelasnya, hanya menggeleng.
Sepertinya, itu diletakkan pagi-pagi sekali.
Hammy lalu memberikan itu semua kepada Lucky.
Lucky sangat geram. Dia merobek kertas itu dan membuangnya ke tempat sampah.
"Cukup! Artinya, si peneror ada di kampus kita! Aku sepertinya tau, siapa pelakunya!"
"Benarkah? Apa mungkin, itu Tsukasa, beib? Bisa saja, ia balas dendam karena aku sudah merebutmu darinya?"
Kamu ini! Selalu aja mengarah kepada Tsukasa! Ini, belum tentu perbuatannya, tau!"
"Kamu juga selalu saja membelanya, beib! Aku jadi curiga, jangan-jangan kamu berusaha untuk menutupi kesalahannya, beib! Apa kamu sudah tau, kalau ini adalah ulahnya?"
Mendengar itu, Lucky langsung emosi, tapi berusaha untuk menahannya.
"Bukan itu, maksudku! Kamu itu, kan dulu, pernah menuduh Tsukasa juga, tapi ternyata, kamu salah, kan? Aku cuma gak mau, kamu menuduhnya, tanpa bukti! Tsukasa juga bisa sakit hati karena ulahmu! Kita itu sedang berusaha mencari si peneror, bukan untuk menuduh orang sembarangan dan menambah musuh, beib!"
"Tapi kamu bilang, kalau kamu sudah tau, siapa pelakunya."
"Aku bilang, kalau aku, mungkin sudah tau, siapa pelakunya, tapi bukan berarti, tebakanku itu sudah benar, hal ini, tetap akan kuselidiki dan aku tau caranya!"
"Caranya?"
"Itu rahasia karena kamu yang menjadi targetnya, artinya, dia mengawasimu ketat, jika aku memberitahumu caranya, bisa saja, dia menguping pembicaraan kita dan membuat rencanaku gagal, apa kamu mengerti, beib?"
Hammy mengangguk.
"Sudah, serahkan ini padaku!"
Selesai berucap, Lucky mengajak Hammy, pergi ke suatu tempat.
Lucky ingin mengembalikan mood kekasihnya itu.
Setelah itu, Lucky menuju ke kelasnya karena pelajaran akan segera dimulai.
Di perjalanan menuju ke kelas.
"Jika kamu suka main kucing-kucingan maka aku akan memberikanmu umpan! Jika kamu tak mau menunjukkan jati dirimu maka aku yang akan memaksamu untuk keluar dan menunjukkan jati dirimu! Semoga saja, tuduhanku itu salah! Aku harap, bukan kamu pelakunya!"
ucapnya dalam batin sambil diliputi penuh kemarahan.
Sementara Hammy.
Selepas kepergian Lucky, ia menjadi penuh waspada, tingkat tinggi.
Ia bertekad untuk mencari tau siapa pelakunya.
Ia sudah muak akan hal ini.
Ia lelah, jika harus terus menangis dan mengadu pada Lucky.
Ia bertekad untuk melakukannya sendiri, tanpa bantuan dari Lucky.
Ia mengotak-atik ponselnya dan mengetik sesuatu di sana.
Ia membuka browser internet dan mencari sesuatu.
Setelah dapat, ia menyimpan nomor ponsel yang tertera.
Lalu menutup browser itu dan mulai fokus mendengarkan pelajaran.
"Semoga saja tuduhanku salah, jika sampai benar maka aku takkan pernah memafkanmu! Takkan pernah! Aku kali ini takkan tinggal diam, jika sampai, kamu berusaha untuk merebut Lucky dariku! Lucky itu milikku seorang! Jika aku tak bisa memilikinya maka jangan harap, orang lain juga bisa memilikinya!"
ucapnya sambil diliputi dengan kemarahan.
Sementara itu, si peneror, tiba-tiba merasa merinding.
"Kok aku merinding begini, ya?"
Kira-kira, siapakah pelakunya?
Benarkah itu Tsukasa atau justru, orang lain?
Apa yang dilakukan oleh Asuna hingga Emu curiga padanya?
Apa yang akan dilakukan oleh Emu kepada Asuna, jika sampai tau, apa yang sedang dilakukan oleh kekasihnya itu di belakangnya?
Apa yang akan dilakukan oleh Lucky kepada si peneror, jika sampai, tuduhannya itu terbukti benar?
Apa yang akan dilakukan oleh Hammy kepada si peneror?
Nomor siapakah yang Hammy simpan di dalam ponselnya? Apa yang dibrowsing oleh Hammy?
Apa yang membuat Kairi merasakan, perubahan di dalam sikap Tsukasa?
Apa yang akan dilakukan Kairi, jika sampai, dia tau penyebab perubahan sikap Tsukasa?
Siapakah yang pergi dengan kesal dari restoran saat melihat kemesraan Lucky dan Hammy?
Apa yang akan terjadi selanjutnya?
__ADS_1
Next/stop? Like dan komen!