Playboys Dan Playgirls Bersatu Karena Cinta

Playboys Dan Playgirls Bersatu Karena Cinta
Kecurigaan Lucky


__ADS_3

Saat ini, situasi sedang memanas.


Hammy yang diteror, membuat Lucky, ikut terlibat di dalamnya.


Hal itu, membuat Lucky tak tinggal diam.


Tapi saat Lucky, baru saja akan mencari tau siapa sang peneror, ternyata dia ditipu oleh sang kekasih.


Lucky pun marah besar dan mereka bertengkar hebat hari itu.


Dia bahkan memutuskan untuk pergi dari rumahnya sendiri, entah ke mana.


Hal itu membuat Hammy menangis sambil duduk tersungkur di atas lantai.


Tak lama, ia memutuskan untuk menunggu kepulangan Lucky di sofa sambil tetap menangis.


Sementara Hammy menangis, Lucky, tiba-tiba saja merasa, kalau dia memiliki 2 petunjuk untuk mengetahui identitas sang pelaku.


Petunjuk pertama adalah sang pelaku berada di kampus yang sama dengan mereka.


Dia tau persis tentang latar belakang dan siapa kekasih Hammy saat ini!


Lucky pun mulai mempersempit kecurigaannya.


Tak lama, dia mendapatkan petunjuk yang kedua.


Petunjuk itu adalah kalau si peneror adalah seorang wanita.


Si peneror, begitu membenci Hammy karena mengusik kekasihnya.


Itu artinya, si peneror seorang wanita karena jika seorang pria maka yang diusik adalah Lucky karena dianggap tidak bisa menjaga Hammy.


Lucky dianggap tidak bisa menjaga sikap Hammy.


Lucky dianggap tidak becus menjaga perilaku Hammy sebagai kekasihnya hingga bisa kecolongan mendekati kekasih orang lain.


Itulah yang menyebabkan Lucky marah.


Sikap dan perilaku Hammy sudah membuatnya dipermalukan.


Dia pun bertindak untuk menemukan sang peneror, tapi apa yang dia dapatkan? Ditipu oleh sang kekasih!


Dia bahkan sudah mulai curiga, kalau sang kekasih memang bermain di belakangnya.


Itulah yang menjadi alasan bagi Lucky untuk pergi dari rumahnya. Dia bermaksud untuk menghirup udara segar dari pertengkaran hebatnya.


Lucky yang tadinya berencana untuk pulang, jadi malas karena dia masih emosi. Dia lalu memutuskan untuk berjalan-jalan dengan mobilnya hingga puas, barulah dia pulang.


Sementara Hammy masih menunggunya di rumahnya.


Tak tau jam berapa Lucky pulang, tapi yang jelas, Lucky pulang, malam itu.


Begitu sampai di rumahnya, Lucky langsung parkir mobilnya dan turun.


Dia lalu mengunci pintu depan mobilnya dan berjalan masuk ke dalam rumahnya.


Dia menutup pintu depan rumahnya dan menguncinya dari dalam.


Dia lalu berjalan menuju ke kamarnya.


Tapi saat berjalan, dia mendapati Hammy, tertidur di sofa.


Dia lalu kembali berjalan ke kamarnya untuk ganti baju.


Setelah ganti baju, dia menuju ke dapur untuk membuat ramen instant.


Saat sedang memasak, aroma masakannya menusuk ke hidung Hammy, yang sedang tertidur di sofa.


Hal itu membuat Hammy terbangun.


Ia membuka kedua matanya perlahan.


"Hem, wangi! Apa mungkin kekasihku sudah pulang?"


Ia lalu mengucek kedua matanya untuk memastikan, kalau ini bukan mimpi.


Lalu ia pun mulai duduk tegak dan berdiri.


Ia berjalan perlahan ke arah dapur.


Begitu sampai di dapur, matanya mulai berkaca-kaca.


Ia melihat sosok yang dirindukannya, ada di hadapannya saat ini dan sedang memasak. Hammy langsung menunggu Lucky di meja makan.


Tak lama, masakan Lucky matang. Dia menuang ramen tersebut ke atas mangkuk dan membawanya dengan hati-hati lalu menatanya di atas meja.


Hammy pun duduk diam.


Mereka lalu makan bersama dengan hening.


Sehabis makan malam, Lucky langsung menuju ke kamarnya.


Hammy lalu mengelap dan membersihkan meja. Ia juga mencuci mangkuk dan peralatan makan bekas pakai, barulah, menyusul Lucky ke kamarnya.


Setelah sampai di kamarnya, ia masuk dan mengunci pintu kamar Lucky dari dalam.


Ia melihat Lucky sudah berbaring dan dalam posisi tidur.


Ia menghela nafas berat dan berjalan menuju ke ranjang.


Ia menaiki ranjang perlahan dan berbaring di sisi Lucky. Ia tidur menyusul Lucky.


Sementara itu, Kairi dan Tsukasa.


Tsukasa sedang diberikan sebuah pertanyaan yang menjebak.


Pertanyaan yang mudah, tapi berbahaya untuk hubungan mereka.


Kairi bertanya kepada Tsukasa tentang alasannya merasa kesal, saat sedang di restoran.


Tsukasa bingung harus menjawab apa.


Jika ia jujur ataupun bohong, Kairi pasti akan marah padanya.


Tsukasa benar-benar skak. Tapi, kalau ia tak menjawab maka Kairi akan terus curiga padanya.

__ADS_1


Kairi takkan puas sebelum mendapatkan jawaban.


Ia pun mulai mencoba untuk menjawab pertanyaan dari Kairi, meski dengan takut-takut.


"Aku tadi marah di restoran karena...."


Ternyata, posisi yang dirasakan oleh Tsukasa, juga dirasakan oleh Asuna.


Ia terjebak oleh pertanyaan yang mudah, tapi mematikan.


Emu bertanya kepadanya, alasan sifatnya berubah.


Itu artinya, Emu menemukan keanehan pada dirinya.


Asuna, kini tak tau harus berbuat apa.


Ia tak tau harus menjawab apa. Ia mati kutu.


Tapi ia harus mencoba menjawab karena Emu, takkan berhenti. Dia itu cerdas dan bisa membaca gelagat orang lain.


Ia cuma bisa berharap kalau jawaban yang ia berikan, tidak membuat Emu curiga padanya.


"Jadi gini, alasan sifatku yang berubah adalah karena...."


Tiba-tiba saja, di saat yang bersamaan, kedua gadis ini menemukan cara untuk menghindari pertanyaan tersebut.


"Aduh, Kairi sayang! Aku udah sangat lelah, bisakah lanjut lagi besok untuk bahas ini?"


"Aduh, Emu honey! Aku sudah sangat mengantuk! Dari pagi kerja, jadi mahasiswi lalu kencan sama kamu, masa malamnya masih harus ditanya lagi? Besok aja, ya? Hari kan masih panjang, honey?"


Akhirnya kedua cowok mereka mengalah.


"Ya, sudah! Tsukasa sayang, istirahatlah! Besok kita lanjut lagi, membahas soal ini!"


"Siap, Kairi sayang! Nite!"


"Hem, nite!"


Kairi dan Tsukasa lalu memutuskan untuk istirahat.


Tsukasa istirahat di kamarnya dan Kairi tidur di sofa.


Sebelum tidur, Tsukasa sibuk memikirkan, apa jawaban yang akan diberikannya besok. Ia terus berpikir hingga ketiduran.


Sementara itu, Emu dan Asuna.


"Ya sudah, kamu benar, ini sudah malam! Istirahatlah! Besok di tempat kerja atau di saat kita sedang berkencan, baru kita bahas lagi soal ini!"


"Makasih, Emu honey! Nite!"


Asuna langsung bergegas untuk beristirahat sambil mendengarkan bunyi mesin mobil Emu yang menjauh.


Ia bernafas lega meski hanya sesaat. Ia masih tetap harus memikirkan jawaban darinya.


Salah sedikit maka Emu takkan percaya kepadanya dan itu akan berbahaya.


Asuna lalu berpikir sambil ganti baju dan berbaring dan tak lama, ia pun tertidur karena ia memang sangat lelah hari ini, baik fisik maupun mentalnya.


Berpacaran dengan Emu, membuatnya, disertai kewaspadaan tingkat tinggi.


Skip Emu.


Emu yang baru saja sampai di rumahnya, sibuk berpikir, langkah apa yang selanjutnya, harus diambilnya untuk membuat Asuna menjawabnya.


Ia lalu memutuskan untuk tidur karena tidak mendapatkan jawaban yang diinginkannya.


Kairi sendiri juga sama, sibuk berpikir, jawaban apa yang akan diterimanya hingga membuatnya kelelahan berpikir. Dia pun tertidur.


Keesokan paginya.


Ketiga gadis, tak ada yang bangun dengan semangat.


Mereka bertiga sedang menghadapi berbagai respon dari sang kekasih.


Hammy yang menghadapi amukan dari sang kekasih.


Tsukasa yang menghadapi rasa penasaran yang dimiliki oleh sang kekasih.


Lalu Asuna yang menghadapi rasa curiga yang dimiliki oleh sang kekasih.


Sejak semalam, Lucky terus saja mengacuhkan Hammy.


Lucky, seolah tidak menganggap keberadaan Hammy.


Hammy, bagaikan orang asing baginya, sama seperti, di saat mereka belum berpacaran.


Hammy, hanya bisa diam menunduk, saat menghadapi sikap dingin Lucky.


Lucky masak, memang untuk dua orang, tapi dia makan sendiri.


Setelah itu, tanpa berucap, dia langsung bangun dari bangkunya dan berjalan ke dalam kamarnya untuk mengambil tasnya.


Hammy yang melihat itu, segera mempercepat makannya.


Selesai makan, langsung mencuci piring dan gelas bekas makan mereka lalu mengelap dan merapikan meja dan segera menyusul Lucky.


Saat ia hendak masuk ke dalam kamar Lucky, Lucky sudah berjalan keluar dengan membawa tasnya sambil berjalan menuju ke pintu depan.


Hammy pun makin mempercepat langkahnya.


Setelah ambil tas, langsung berlari keluar untuk menyusul Lucky dan masuk ke dalam mobilnya setelah mengunci pintu depan.


Lucky lalu melajukan mobilnya menuju ke kampus.


Di sepanjang perjalanan, hanya ada keheningan semata.


Begitu sampai di kampus, Lucky langsung parkir dan turun, disusul oleh Hammy.


Lucky langsung mengunci pintu mobilnya dan berjalan menuju ke kelasnya, tanpa mempedulikan Hammy, sama sekali.


Hammy, benar-benar hanya dianggap sebagai tamu yang menginap dan sebagai orang yang menumpang di mobilnya.


Hammy, berjalan dengan gontai ke kelasnya.


Ia mengikuti pelajaran dengan lesu sampai akhir.

__ADS_1


Begitu selesai pelajaran, ia mengirim pesan kepada Lucky, tapi, tak mendapatkan balasan sama sekali.


Ia menghela nafas berat.


Ia memutuskan untuk merapikan semua barangnya dan pergi langsung ke kelas Lucky.


Begitu sampai di kelas Lucky, Hammy tidak melihat keberadaan Lucky.


Ia lalu bertanya kepada teman sekelasnya.


Salah satu teman di kelas Lucky memberitahu, kalau Lucky, pergi sama cewek.


Hal itu membuat Hammy pergi keluar dari kelas Lucky sambil menangis.


Saat Hammy sedang berlari sambil menangis, adegan tersebut, dilihat oleh seseorang.


Orang itu pun menghampiri Hammy.


"Hammy, kamu kenapa?"


Hammy mendongak ke orang itu.


"Lho, kamu? Kenapa kamu di sini?"


"Kebetulan lewat! Ada apa, Hammy?"


"Aku bertengkar dengan Lucky."


Tanpa aba-aba, orang itu memeluk Hammy dan membuat Hammy, tersentak kaget.


Orang itu bermaksud untuk menenangkan Hammy.


"Sudah, jangan menangis! Orang sepertimu, tak pantas menangis! Kita sudah tau, kalau Lucky itu seorang playboy, jika kamu masih ingin bersamanya maka kamu cuma bisa bersabar!"


Hammy mengangguk pelan.


Tanpa mereka sadari, aksi tersebut, dipotret seseorang.


Lalu orang itu pergi dari sana dengan kesal.


Tapi, ia sempat mengirimkan foto itu dan menyebarkannya ke dua nomor yang berbeda. Lalu pergi sambil tersenyum smirk.


Skip Lucky.


Lucky, saat ini sedang bersama dengan Jessica dan mendapati, kalau ponselnya bergetar.


Dia membuka ponselnya dan melihat pesan tanpa nama.


Dia pun membuka pesan itu dan ternyata, itu adalah sebuah foto.


Dia pun mengklik foto itu dan ada tulisan caption, "lihat perbuatan gadismu di belakangmu!"


Melihat itu, hati Lucky makin memanas dan tak lama, dia tersenyum smirk.


Jessica yang sedang bersama dengan Lucky, menatap Lucky heran.


"Kamu kenapa, Lucky?"


"Tak apa, hanya ada undangan permainan."


"Oh!"


Jessica mengangguk paham.


Lucky lalu memutuskan untuk menyimpan ponselnya dan tetap bersama dengan Jessica.


Mereka baru kembali ke kampus, saat sore hari tiba.


Begitu sampai di kampus, Lucky dan Jessica turun bersama dari mobil Lucky lalu mereka berpencar.


Lucky mengambil ponselnya dan menelpon.


"Kamu di mana?"


"Aku di taman kampus."


Tanpa berucap apapun lagi, Lucky mematikan ponselnya dan berjalan menuju ke sana.


Skip di taman kampus.


"Ada apa? Apa itu, Lucky?"


"Iya, dia mau ke sini, sepertinya!"


"Ya sudah, jangan menangis lagi! Aku pergi dulu karena bahaya, jika Lucky melihatku di sini! Aku takut, jika dia berpikir yang macam-macam."


"Baiklah, makasih!"


Orang itu pun berbalik badan dan hendak pergi dari sana, tapi tertahan.


"Mau ke mana? Tak perlu buru-buru! Temani saja gadisku. Mungkin gadisku, membutuhkan dirimu saat ini?"


Deg!


Glek!


"Suara ini? Mungkinkah akan timbul masalah dan salah paham baru?"


"Apa yang harus kulakukan saat ini? Jangan sampai, dia salah sangka padaku! Aku tak mau hubungan mereka memburuk karena ulahku!"


Apa yang akan terjadi selanjutnya?


Apa jawaban Tsukasa?


Siapa orang yang bersama dengan Hammy?


Siapa yang mengirim foto kepada Lucky?


Apakah akan timbul masalah dan salah paham baru, antara Lucky dan Hammy?


Akankah hubungan Lucky dan Hammy, makin rusak?


Kenapa Lucky tersenyum dengan smirk?


Akankah kecurigaan Lucky sudah mulai menemukan titik terang?

__ADS_1


Next/stop? Like dan komen!


__ADS_2