
Saat ini, suasana panas sudah mulai memuncak.
Hammy yang tidak mendapatkan kabar mengenai keberadaan sang kekasih, harus dikejutkan dengan pemandangan sang kekasih membawa pulang sang mantan.
Ia pun emosi dan terus menyerang Tsukasa.
Ia merasa dirinya berhak karena gara-gara Tsukasa, kekasihnya sampai lupa waktu untuk pulang.
Gara-gara Tsukasa, sang kekasih tidak memberinya kabar.
Gara-gara Tsukasa, dirinya dilupakan.
Gara-gara Tsukasa, Lucky melupakan, kalau akan selalu ada dirinya yang menunggu kepulangan sang kekasih.
Itulah yang membuat emosi Hammy makin meninggi.
Hammy pun membentak dan menghina Tsukasa untuk mengingatkan posisinya.
Tapi apa yang ia dapat? Sang kekasih, justru membela sang mantan, bahkan, saat sang mantan menangis, dengan tanpa malunya, sang kekasih memeluk sang mantan di depannya.
Hati Hammy sungguh sangat sakit.
Pemandangan itu terasa sangat panas baginya.
Bukan itu saja, ia bahkan mendapatkan penghinaan yang sepantasnya untuk Tsukasa.
Ia pun memutuskan untuk masuk ke dalam karena sudah tidak tahan dengan pemandangan di depannya.
Jujur, ia sempat merasa atau berharap, kalau Lucky akan menyusulnya atau menghiburnya.
Tapi apa? Dia malah lebih memilih untuk berduaan lebih lama dengan sang mantan, bahkan mereka masuk bersama.
Ia pun memutuskan untuk mengawasi interaksi keduanya, untuk memastikan, takkan ada interaksi aneh dan di luar batas untuk keduanya.
Siapa sangka? Ia malah mendapatkan informasi penting.
Ia pun diam saja sambil menatap lurus ke depan dengan kuping terpasang
baik.
Ia sempat berpikir, kalau ia sudah salah paham.
Pikirannya pun kacau hingga di saat ia sedang memasak, tangannya, tanpa sengaja teriris pisau.
Untungnya adalah ia mendapatkan perhatian dari Lucky. Ia pun merasa senang.
Sayangnya, itu tidak berlangsung lama.
Saat ia melihat sang kekasih sedang mengobrol dengan Tsukasa, mereka terlihat asik, seolah dunia milik berdua.
Tak ada tempat baginya untuk masuk.
Rasa emosinya pun kembali muncul, bahkan di saat Tsukasa akan ikut makan siang di rumah kekasihnya.
Ia merasa, kalau Tsukasa sungguh tak punya malu, sudah pulang sama kekasihnya, membuat kekasihnya lupa akan ada dirinya yang menunggu kepulangan kekasihnya lalu menumpang makan siang di rumah kekasihnya.
Ia pun menolak.
Sayangnya, penolakannya, justru membuat sang kekasih marah.
Dia bilang, kalau ini adalah rumahnya dan bukan begitu, caranya memperlakukan tamu.
Dia juga bilang, kalau dialah yang memutuskan siapa tamu yang berhak dia terima, artinya dirinya bisa diusir. Itulah yang menyebabkan Hammy, tersenyum miris.
Emosinya pun kembali memuncak dan ia tak menyangka, Lucky akan kembali membentaknya, bahkan menghinanya.
Penghinaan yang ia berikan untuk Tsukasa malah berbalik kepadanya. Tsukasa sungguh sudah mempengaruhi pikiran dan hati Lucky.
Ia malah mendapatkan penghinaan yang seharusnya didapatkan oleh Tsukasa.
Sekali lagi, Tsukasa berhasil menguasai hati Lucky, terbukti, penghinaan itu berhenti setelah Tsukasa menegur Lucky.
Hammy makin merasa muak dengan Tsukasa. Ia seolah ingin membela Hammy di depan sang kekasih.
Tsukasa seolah ingin menunjukkan, kalau Lucky hanya mau mendengarkan omongannya.
Ia tak butuh semua itu!
Akhirnya, Hammy memutuskan untuk masuk ke dalam kamar Lucky.
Ia memutuskan untuk menangis tersedu-sedu.
Di saat itulah, pintu kamar terbuka dan ia merasakan pelukan yang sangat erat dari sang kekasih.
Sayangnya, mood dan hatinya sudah hancur. Ia memilih untuk meronta dari pelukan sang kekasih.
Tapi sang kekasih tidak mau melepaskannya. Akhirnya, ia hanya bisa melampiaskan semuanya kepada sang kekasih.
"Lepaskan aku! Bunuh saja aku, beib! Jika memang dengan kematianku bisa membuatmu bahagia maka lakukan!"
"Jangan bicara konyol! Jangan pernah gunakan kata kematian di depanku!"
"Lalu aku harus apa, beib? Aku harus apa? Kamu dengan mudahnya menyakiti dan membentakku demi mantanmu!"
"Itu semua karena kamu sudah keterlaluan! Tapi aku sungguh tidak bermaksud untuk menyakitimu. Aku hanya ingin menegurmu!"
"Sudah terlambat, beib! Kamu sudah menghinaku di depan mantanmu! Apa kamu pikir, kalau aku masih punya harga diri di depannya?"
Lucky menghela nafas berat. Dia berpikir sungguh sulit untuk menjelaskan, selama Hammy masih emosi.
"Aku boleh tanya satu hal?"
"Apa?"
"Kenapa kamu sangat membenci Tsukasa hingga kamu ingin merebutku darinya, Tsukasa sama sekali tidak bersalah ataupun pernah menyakitimu, kan?"
Mendengar itu, Hammy malah tersenyum miris.
"Kamu sungguh tidak tau alasannya atau hanya pura-pura tidak tau?"
"Jika aku tau maka aku takkan bertanya."
"Huft, alasannya itu kamu, beib! Aku sungguh-sungguh mencintaimu dan aku iri pada Tsukasa yang dengan mudahnya mengambil hati, pikiran dan cintamu sepenuhnya. Bahkan saat ia kumarahi, kamu langsung saja membelanya, tanpa mempedulikan perasaanku. Kalian pulang berdua, mengobrol berdua, seolah diriku tak ada di antara kalian. Kamu juga mengatakan, seandainya tak ada diriku dan Kairi, artinya kamu ingin menyingkirkanku dari hidupmu, kan? Aku sungguh tak mengerti dengan apa yang dilakukan oleh Tsukasa hingga membuatmu tergila-gila padanya?"
Hening.
Tunggu sebentar! Sepertinya di sini ada kesalahpahaman.
"Jadi kamu sungguh-sungguh mencintaiku?"
"Menurutmu?"
"Bukannya karena kamu tak suka pada Tsukasa makanya ingin merebutku darinya?"
Hening.
Mata Hammy melotot mendengar ucapan dari Lucky dan mendongakkan kepalanya.
"Jadi maksudmu, selama ini kamu berpikir, aku iri pada Tsukasa dan berniat menjadikanmu sebagai kekaasihku adalah untuk membuktikan, kalau aku lebih baik darinya?"
"Memang seperti itu, kan?"
"Beib, aku itu sungguh-sungguh mencintaimu! Jika tidak maka takkan ada malam itu dan aku tak perlu mempertahankanmu!"
"Bukan karena kamu takut, kalau kamu akan kalah dari Tsukasa, jika aku direbut darimu?"
"Ya ampun, beib! Aku itu sungguh-sungguh mencintaimu! Aku melakukan itu, murni karena takut kehilanganmu! Amarah yang kumiliki itu karena cemburu! Cemburu karena perhatian sang kekasih diambil oleh mantan. Cemburu karena bayang-bayang mantan menghantui sang kekasih!"
Hening.
Hammy geleng-geleng kepala. Ia sungguh tak menduga dengan isi kepala kekasihnya.
Kekasihnya mengira, kalau ia membenci kalah dari Tsukasa.
Kekasihnya mengira, kalau ia memenangkan taruhan itu untuk menang dan terutama untuk mengalahkan Tsukasa.
Lucky mengusap wajahnya kasar. Jadi selama ini, dia sudah salah paham?
"Aku sama sekali tidak pernah menjadikanmu barang taruhan, ataupun bermaksud untuk menjadikanmu senjata kemenanganku dalam mengalahkan Tsukasa, beib!"
"Kupikir karena kamu ingin menang dari Tsukasa dan karena kamu merasa takkan sanggup menang darinya maka kamu berencana untuk merebutku darinya supaya Tsukasa kalah darimu!"
"Ya ampun, beib! Itukah yang kamu pikirkan tentangku?"
"Apalagi? Apa kamu lupa, kalau saat itu kita sedang dalam tahap taruhan? Segala cara diperbolehkan untuk menang! Kupikir kamu hanya ingin menjadikanku sebagai salah satu korbanmu."
"Jadi kamu membenciku karena alasan itu? Alasan bodohmu itu? Kamu sudah salah paham, beib! Saat itu, memang kita sedang taruhan, tapi perasaanku padamu, muncul sebelum itu! Aku menyadari perasaanku padamu, saat kamu sedang menjadi kekasih dari Tsukasa. Aku cemburu melihat kedekatan kalian! Aku merasa sakit hati saat kamu menolakku! Itulah alasannya yang membuatku ingin memilikimu! Aku ingin membuktikan padamu, kalau terkadang, apa yang kita inginkan, tak selamanya terpenuhi! Ada beberapa hal yang dikira tidak mungkin, malah menjadi mungkin makanya aku ingin merebutmu dari Tsukasa, karena aku ingin menjatuhkan harga dirimu yang sudah menolakku! Aku ingin membuktikan kepadamu, kalau aku jauh lebih pantas untukmu daripada Tsukasa! Aku sadar, kalau caraku untuk mendapatkanmu itu salah, tapi aku sama sekali tidak menyesalinya, karena berkat itu, aku bisa memilikimu dan bisa merasakan berada di posisi Tsukasa, yang berhasil memonopoli dirimu!"
"Jadi sejak awal, kamu berniat menjadikanku targetmu?"
"Awalnya, aku tak mengerti! Tapi aku selalu merasa panas, saat kamu berada di dekat Tsukasa, apalagi saat kamu sedang bermesraan dengannya! Tiba-tiba muncul perasaan, gimana, jika seandainya, akulah yang berada di posisi itu menggantikan Tsukasa, hingga tanpa sadar, membuatku ingin memilikimu dengan cara apapun! Saat itulah aku sadar, kalau aku sudah jatuh cinta padamu! Sayangnya, saat hasil akhir taruhan itu, kamu malah menolakku dan itu membuatku hancur! Lalu aku memikirkan cara untuk membalaskan rasa sakit hatiku dan timbullah ide, jika aku bisa merebutmu dari Tsukasa maka aku bisa memilikimu untuk diriku selamanya! Aku bisa memonopoli dirimu, layaknya yang dilakukan oleh Tsukasa! Sayangnya, kamu membenciku makanya aku harus melakukan cara lain untuk membuatmu menetap di sisiku! Tepat saat itulah, Tsukasa menelpon dan tiba-tiba saja muncul ide, jika aku menciummu langsung di depan Tsukasa, apakah kalian akan putus?"
"Jadi itukah alasannya, kamu menciumku di acara kembang api saat itu?"
"Benar dan terbukti, kalau kalian putus, setelah itu! Akupun bisa memilikimu, tapi sayangnya, aku hanya bisa memiliki ragamu dan bukan hatimu! Akupun harus memikirkan cara lain untuk mempertahankanmu di sisiku, meski dengan menerima kebencianmu kepadaku, tapi setidaknya, kemungkinan kalian untuk kembali bersama itu nihil!"
"Lalu aku ingin bertanya satu hal lagi padamu! Apa kejadian malam itu, juga merupakan rencanamu untuk mempertahankanku di sisimu?"
Hammy mengangguk.
"Argh!"
Lucky menjambak rambutnya kasar.
"Jadi kamu menjebakku supaya aku berada di sisimu?"
Hening.
"Lalu kenapa kamu memberitahuku soal ini sekarang? Apa kamu tak terpikir, kalau aku bisa saja makin membencimu?"
"Sudah kukatakan, kalau aku sudah siap menerima kebencianmu, karena bagiku, asalkan bisa memilikimu maka aku tak mempedulikan hal yang lainnya!"
"Maksudmu, asalkan aku berada di sisimu maka kamu tak peduli, meski aku membencimu sekalipun?"
__ADS_1
"Jika itu bisa membuatku memilikimu maka sama sekali tidak masalah bagiku!"
Lucky geleng-geleng mendengar pernyataan Hammy.
"Bagiku, memilikimu itu segalanya! Aku takkan pernah melepaskanmu! Aku yakin kok, kalau suatu saat, kamu akan mencintaiku juga!"
"Huft, jadi apa maumu sekarang? Apa kamu bisa menggunakan nada yang sopan kepada Tsukasa?"
"Tidak, selama kamu masih berada di dekatnya! Apa kamu lupa dengan perjanjian kita? Bahkan, ini belum sampai seminggu dari perjanjian kita?"
"Huft, gini saja! Aku tau, kalau aku sudah berbuat salah kepadamu dan menyakiti perasaanmu! Aku minta kamu untuk bicara sopan kepada Tsukasa dan sebagai gantinya, aku akan memanjakanmu, menghabiskan waktuku seharian penuh denganmu besok, janji padamu, kalau aku akan pergi ke manapun bersamamu agar hal seperti ini, takkan terulang lagi dan aku akan..., gimana?"
Mendengar itu, mata Hammy melotot.
"Apa kamu serius, beib?"
"Ya, tapi dengan syarat, kamu mau bicara sopan kepada Tsukasa, selama ia di sini, kamu mau, kan?"
Hammy mulai manyun, tapi apa boleh buat. Ia pun mengangguk.
Lucky lalu tersenyum dan memeluk Hammy.
"Sekarang kita keluar, ya? Aku sudah lapar. Kamu gak mau membuat kekasihmu ini kelaparan, kan?"
Hammy mengangguk patuh.
Lucky tersenyum dengan lega karena Hammy mau menurut kepadanya. Mereka pun turun dari ranjang lalu berjalan menuju keluar kamar.
Di sepanjang jalan menuju ke pintu kamar, Hammy merangkul erat pinggang Lucky.
Lucky lalu membuka pintu kamarnya.
Ceklek!
Hammy lalu melepaskan rangkulannya dan berjalan menuju ke meja makan, sedangkan Lucky mengajak Tsukasa untuk makan siang bersama.
Awalnya Tsukasa menolak karena takut dimarahi oleh Hammy lagi, tapi karena Lucky meyakinkannya kalau hal itu takkan terjadi, Tsukasa pun setuju.
Mereka lalu berjalan bersama menuju ke meja makan.
Begitu sampai di meja makan, Hammy langsung menarik bangku dan meminta Lucky untuk duduk di bangku yang sudah ditariknya.
Lucky lalu melakukannya dan Hammy dengan segera, duduk di bangku sebelahnya.
Hammy lalu membalikkan piring kosong di hadapan Lucky dan mengambilkan nasi, berikut dengan sop yang dibuatnya.
Lucky lalu menerimanya.
"Makasih, beib!"
"Sama-sama, beib!"
"Wah, Hammy! Hebat kamu, kamu sedang belajar menjadi istri yang baik ya?"
"Tentu saja! Jika aku tidak belajar dari sekarang maka setelah kami menikah, aku akan mengalami kesulitan, bukan?"
Jawaban Hammy membuat Tsukasa tersenyum miris.
"Ehehem!"
"Huft! Maksudku adalah sebagai seorang gadis, kita semua pasti akan menikah, kan? Jadi, jika tidak dimulai dari sekarang maka saat kita sudah menikah, akan terasa canggung dan kita akan kesulitan melayani suami kita, nantinya."
Jawaban Hammy membuat Lucky tersenyum.
"Kamu sungguh berpikiran ke depan ya, Hammy? Aku salut padamu!"
"Tentu saja, lagipula aku gak mau mengecewakan suamiku nantinya!"
"Ehem!"
"Maksudku adalah kamu tidak perlu terlalu memujiku karena aku pun masih belajar dalam melayani Lucky."
Lucky mengangguk.
Tsukasa mengangguk paham.
"Ya sudah, gimana, kalau kita makan siang dulu sekarang? Aku sudah lapar dan sayang, jika sopnya keburu dingin."
Hammy dan Tsukasa mengangguk.
Mereka bertiga lalu makan siang dengan hening.
Selesai makan siang.
Lucky dan Tsukasa kembali duduk di sofa ruang tamu, sedangkan Hammy merapikan meja lalu mencuci piring dan peralatan makan bekas mereka pakai.
"Tsukasa, coba kamu telpon Kairi dan memastikan, kapan dia bisa menjemputmu."
Tsukasa mengangguk lalu menelpon Kairi.
Ia lalu bertanya untuk memastikan kapan Kairi bisa menjemputnya.
Setelah mendapatkan jawaban, Tsukasa memutuskan telponnya lalu memberitahu Lucky.
"Katanya sih, sekitar jam 6 atau 7, sekalian makan malam, mungkin?"
"Sekarang jam 3 siang, artinya masih ada waktu 3 atau 4 jam lagi, kamu mau belanja, Tsukasa? Karena kamu tadi, belum sempat belanja?"
"Lalu Hammy?"
"Tenang, masalah kami sudah selesai, kok!"
"Bukan itu maksudku! Maksudku adalah apa tak apa, jika kita hanya pergi berdua? Apa takkan timbul salah paham?"
"Takkan. Lagipula supermarketnya kan, dekat."
"Ehem! Beib, aku boleh ikut, gak?"
"Boleh, donk!"
"Oke!"
Lalu Hammy mengganti bajunya.
Selesai menunggu Hammy mengganti bajunya, mereka pun pergi ke supermarket.
Begitu sampai di supermarket, mereka masuk bertiga dan berjalan beriringan.
Tsukasa lalu meminta ijin untuk melihat-lihat.
"Lucky, aku ke bagian sana dulu, ya?"
"Oke!"
Tapi baru saja, Tsukasa hendak melangkah, tangannya dicekal oleh Lucky.
"Nanti, kalau kamu sudah selesai belanja, telpon aku, ya?"
Tsukasa mengangguk dan hendak kembali melangkah.
Sayangnya, aksi Lucky tersebut, memicu kehebohan bagi orang-orang sekitar mereka yang melihatnya.
"Wuidih, cowok dan ceweknya tinggi banget! Keduanya pasti model!"
"Iya, yang cowok cakep dan yang cewek cantik! Mereka sungguh pasangan yang serasi!"
"Cowoknya mesra banget dan perhatian lagi, so sweet!"
"Mata sang cowok memancarkan dengan jelas, tatapannya yang penuh cinta kepada sang cewek!"
Itulah kehebohan yang terdengar, membuat Lucky dan Tsukasa, salah tingkah.
Lucky, langsung melepaskan cekalan tangannya dari tangan Tsukasa dan menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.
Tsukasa memalingkan wajahnya yang merona malu.
Hammy hanya bisa tersenyum miris kembali. Ia tau, kalau hal ini akan kembali terjadi makanya ia ngotot ingin ikut, tapi tetap saja, terasa sakit.
Tsukasa pun cepat-cepat meninggalkan Lucky dan berjalan sambil terus menunduk.
Lucky melirik ke arah Hammy.
"Beib, kamu mau ke mana?"
"Mau ke sana! Tapi tak apa, karena aku bisa pergi sendiri, kok! Kalau kamu mau temanin Tsukasa, temanin saja!"
"Tidak, aku akan temanin kamu karena kamu adalah kekasihku dan aku sudah berjanji kepadamu, kan?"
Lucky sengaja berkata seperti itu untuk mengembalikan mood Hammy dan melihat respon, orang-orang yang tadi mengatainya adalah kekasih Tsukasa.
Tepat seperti dugaannya, orang-orang itu salah tingkah dan mulai berjalan ke tempat lain sambil berusaha mengalihkan perhatian.
Lucky lalu meminta Hammy, menunjukkan tempat yang ia mau dan dia menggandeng tangan Hammy agar tak ada salah paham lagi dan mood Hammy, tak kembali hancur.
Hammy merasa senang karena Lucky yang menggandengnya pertama kali dan secara terang-terangan, mengakuinya sebagai kekasih.
Ia berjalan sambil tak hentinya tersenyum.
Lucky sudah memutuskan akan menemani Hammy belanja untuk mengganti moodnya yang sempat rusak tadi.
Hammy tampak tersenyum saat sedang belanja, sepertinya, rencana Lucky berhasil.
Lucky pun merasa lega.
Tapi dasarnya cewek, mereka suka belanja hingga lupa waktu.
Waktu pun bergulir dengan cepat. Mereka belanja selama 2 jam lalu berkumpul di kasir.
Setelah itu, barulah mereka membayar.
Selesai membayar, mereka pergi ke cafe terdekat dengan mobil Lucky untuk membuang waktu.
Begitu sampai di cafe, Lucky langsung parkir mobilnya. Mereka pun turun bertiga lalu masuk ke dalam dan mencari bangku kosong.
__ADS_1
Setelah dapat, Lucky memesankan mereka minuman.
Setelah dapat, Lucky membayar dan membawanya ke bangku mereka.
Mereka pun minum sambil mengobrol.
Lucky minum kopinya sambil mendengarkan Tsukasa bicara dan tangannya sambil merangkul bahu Hammy.
Hammy sendiri, hanya asik bermain dengan ponselnya sambil membaringkan kepalanya di bahu Lucky.
Mereka mengobrol selama sejam dan memutuskan untuk kembali ke rumah Lucky.
Sebelum berjalan meninggalkan cafe, Tsukasa menelpon Kairi untuk bertanya, apakah Kairi sudah hampir menjemputnya atau belum.
Ternyata Kairi baru saja selesai dengan tugas kelompoknya dan bilang, kalau dia baru akan berangkat menjemput Tsukasa.
Tsukasa lalu mengirimkan lokasi alamat rumah Lucky.
Selesai mengirim pesan, barulah mereka berjalan menuju ke mobil Lucky.
Mereka pun masuk ke dalam mobil Lucky.
Lucky duduk di kursi pengemudi, Hammy duduk di sebelah Lucky dan Tsukasa duduk di belakang.
Lucky lalu melajukan mobilnya pulang ke rumahnya.
Begitu sampai di rumah Lucky, Lucky langsung memarkirkan mobilnya lalu mereka turun bersama.
Mereka pun berjalan masuk bersama.
Begitu masuk, Hammy merapikan barang belanjaan.
Lucky lalu melihat jam di ponselnya.
"Sekarang sudah jam 6. Apa Kairi sudah jalan menjemputmu, Tsukasa?"
"Tadi waktu kita hendak pulang, ternyata Kairi juga baru akan berangkat menjemputku."
Lucky mengangguk.
"Gimana dengan Hammy?"
"Ya, ia senang dan moodnya pun membaik.
"Syukurlah!"
Lucky kembali mengangguk.
"Hammy itu begitu lugu dan polos! Cobalah untuk tidak menggunakan emosi, saat sedang menegurnya!"
"Ya, akan kucoba untuk mengingat selalu pesanmu, Tsukasa!"
"Bagus, kalau begitu!"
"Soal di supermarket tadi, aku minta maaf karena sudah membuat kehebohan, padahal aku sama sekali tidak bermaksud."
"Tak apa, lagipula aku tau persis, sifatmu itu seperti apa, Lucky, jadi tak perlu minta maaf."
Lucky kembali mengangguk.
Mereka kembali mengobrol.
Hammy baru saja, selesai merapikan barang belanjaannya.
Ia lalu berencana untuk mandi dan ganti baju terlebih dulu.
Saking asiknya mengobrol, membuat Lucky dan Tsukasa lupa waktu.
Obrolan mereka berhenti, di saat terdengar, suara sebuah mesin mobil berhenti di depan rumah Lucky.
"Aku lihat ke depan dulu, kamu tetaplah di sini!"
Tsukasa mengangguk.
Lucky lalu berdiri dan mulai berjalan ke pintu depan rumahnya untuk melihat siapa yang datang.
Dia membuka pintu depan untuk menyambut orang itu.
Terlihat orang itu, baru saja turun dari mobilnya dan berjalan ke arahnya.
"Rupanya kamu!"
"Di mana Tsukasa?"
"Begitukah caramu memperlakukan tuan rumah?"
"Maaf, tapi kutanya sekali lagi, di mana Tsukasa?"
"Tentu saja, ada di dalam!"
"Kalau begitu, aku ingin masuk ke dalam, apa boleh?"
"Silahkan saja!"
"Kalau begitu, permisi!"
Lucky lalu sedikit menyingkir agar sang tamu bisa masuk ke dalam.
Lalu Lucky mengunci pintu depan rumahnya dan menyusul sang tamu tersebut.
Mereka pun mengobrol sebentar lalu pamit pulang.
Tepat, saat hendak pulang, Hammy keluar dari dalam kamar Lucky karena ia mendengar suara berisik di ruang tamu.
Ia menjadi penasaran dan ingin tau, siapa yang datang.
Ia pun menyapa tamu tersebut, setelah mengenali sang tamu.
"Lho, ternyata kamu, Kairi?"
"Hammy, kok kamu di sini?"
"Aku selalu menginap di rumah Lucky, tiap akhir pekan."
"Menginap?"
"Iya, baru dimulai minggu lalu."
Kairi mengangguk.
Ternyata tamu yang datang itu adalah Kairi.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku, Kairi. Sedang apa kamu di sini?"
"Menjemput kekasihku dan kami baru mau pulang."
"Kami pulang ya, Hammy dan maaf, soal keributan yang terjadi lalu makasih juga untuk makan siangnya dan jalan-jalannya!"
"Ya!"
"Lucky, aku pulang dulu, ya dan sekali lagi, makasih atas pertolongannya!"
"Sama-sama! Hati-hati di jalan! Mari kuantar ke pintu depan!"
Tsukasa mengangguk lalu ia dan Kairi mengikuti Lucky ke pintu depan.
Begitu pintu depan dibuka oleh Lucky, mereka langsung berjalan menuju ke mobil Kairi, dengan Kairi, menenteng belanjaan Tsukasa.
Tsukasa naik ke mobil Kairi, sedangkan Kairi meletakkan barang belanjaan Tsukasa di bangku tengah, baru duduk di kursi kemudi.
Tak lama, mobil Kairi melaju meninggalkan perkarangan rumah Lucky.
Lucky hanya bisa menatap mobil Kairi perlahan menjauh lalu dia menghela nafas berat dan masuk ke dalam kembali.
Dia mengunci pintu depannya lalu masuk ke dalam kamarnya karena ingin mandi dan ganti baju. Tubuhnya sudah terasa sangat lengket.
Hammy hanya mengamati sang kekasih dari belakang.
Ia lalu menyusul sang kekasih ke dalam kamarnya.
Ia lalu memutuskan untuk berbaring sejenak di atas kasur Lucky.
15 menit kemudian, Lucky selesai mandi.
Lalu dia melihat Hammy berbaring di atas ranjangnya dan memutuskan untuk ikut berbaring karena dia juga merasa lelah seharian ini.
Tak lama, mereka tertidur dengan pulasnya hingga jam makan malam tiba.
Skip Kairi dan Tsukasa.
"Jadi sayang, bisa kamu ceritakan padaku, apa yang terjadi, hingga kamu bisa berada di rumah mantanmu dan keributan soal apa, yang kamu maksud, hingga harus meminta maaf kepada Hammy, sayang?"
"Aku...."
Kira-kira, apa jawaban Tsukasa?
Akankah Tsukasa menjawab dengan jujur?
Apa yang akan dilakukan oleh Kairi kepada Hammy, jika mengetahui penyebabnya dan apa yang akan dilakukannya kepada Lucky, atas apa yang diperbuat oleh Lucky?
Apa yang dijanjikan oleh Lucky kepada Hammy hingga Hammy mau berbuat sopan kepada Tsukasa?
Akankah Lucky menepati janjinya?
Bagaimana respon Hammy, saat mengetahui, kalau itu hanya janji Lucky semata? Akankah kembali kecewa untuk kesekian kalinya?
Akankah ia benar-benar bunuh diri kali ini atau kembali hanya mengancam Lucky semata?
Akankah salah paham di antara Lucky dan Hammy segera terselesaikan?
Akankah alasan Hammy menginap di rumah Lucky ketahuan?
__ADS_1
Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Next/stop? Like dan komen!