
Lucky sungguh sudah sangat lelah berdebat dengan Hammy karena alasan yang sama, yaitu Tsukasa.
Hammy sendiri juga sama, tapi ia tau persis, kalau selama Tsukasa tidak disingkirkan maka ia tidak bisa memiliki Lucky.
Hammy merasa, kalau Tsukasa akan selalu menjadi parasit, alias orang ketiga di dalam hubungan mereka.
Hammy merasa, kalau Tsukasa itu, harus disingkirkan selamanya.
Hammy merasa, kalau Tsukasa tidak disingkirkan maka Lucky yang akan menyingkirkannya dan ia tidak mau itu terjadi.
Ia tak mau disingkirkan karena merasa, Tsukasa jauh lebih berhak untuk disingkirkan.
Ia ingin memiliki Lucky untuk dirinya seorang.
Ia tak mau ada wanita atau gadis lain yang menempel sama Lucky.
Ia tidak suka jika Lucky disentuh oleh gadis lain.
Egois? Memang!
Katakanlah ia paranoid. Tapi itu sungguh ia rasakan karena ada beberapa alasan.
Pertama adalah karena Lucky belum sama sekali mencintainya maka akan mudah bagi Lucky untuk direbut darinya.
Lucky bisa saja, masih berusaha diam-diam menghubungi Tsukasa di belakangnya atau malah sama gadis lain, yang tak ia kenal.
Kedua adalah Lucky itu seorang playboy. Tidak mudah baginya untuk setia pada seorang gadis.
Tapi mudah baginya untuk melirik atau mencari gadis lain, bahkan, saat sedang bersamanya.
Itu terus saja terjadi, kecuali kepada Tsukasa.
Entah bagaimana caranya, Tsukasa bisa merubah Lucky menjadi setia.
Jujur, Hammy merasa iri terhadap Tsukasa karena Tsukasa telah berhasil memiliki hati dan cinta Lucky sepenuhnya.
Ia ingin bisa berada di posisi Tsukasa dan menggantikan posisi Tsukasa di hati Lucky dengan dirinya.
Ia ingin merasakan dicintai sepenuhnya oleh Lucky.
Ia tak mau diduakan, dicampakkan, apalagi disingkirkan dari hidup Lucky.
Lalu alasan terakhir adalah Lucky tidak mau berjanji untuk belajar mencintainya.
Hal itu terbukti, saat dia mengatakan, kalau dia hanya ingin menjadi suami di atas kertas.
Itu artinya, mereka menikah sebatas kontrak. Jika kontrak mereka habis maka mereka akan bercerai.
Ia tidak mau itu terjadi. Ia tidak mau kehilangan Lucky. Ia juga tidak bisa membiarkan Lucky menceraikannya dan kembali ke Tsukasa ataupun menikah dengan gadis lain.
Jika itu terjadi maka masa depannya akan hancur.
Apa kata orang? Baru saja menikah sudah diceraikan.
Mereka menikah cuma karena sang cowok mau bertanggungjawab, tapi bukan karena cinta.
Memikirkan itu sungguh membuat Hammy sakit kepala.
Ia tak kuat, jika melihat tatapan orang-orang yang meremehkannya.
Akhirnya ia memutuskan untuk mengancam Lucky, kalau ia takkan pernah mau diceraikan.
Ancamannya pun berhasil, kini ia bisa sedikit lega.
Setelah Lucky setuju takkan menceraikannya, ia pun dengan cepat meminta hal yang lainnya yaitu menyingkirkan saingan terberatnya dari hidup Lucky.
Ia meminta Lucky untuk menjauhi Tsukasa selama seminggu.
Awalnya, Lucky menolak. Hal itu sudah diperkirakan oleh Hammy.
Ia pun kembali mengancam Lucky, hingga akhirnya Lucky bersedia untuk menghindari Tsukasa dan akan belajar mencintainya.
Meski begitu, ia tetap butuh bukti dari Lucky. Ia cuma gak mau kecolongan, kalau Lucky tetap berhubungan dengan Tsukasa di belakangnya.
Lucky pun setuju.
Akhirnya ujian pun dimulai.
Hari pertama sampai kelima aman. Hammy merasa bahagia karena Lucky menepati janjinya dan mereka selalu pergi bareng ke kampus dan pulang bersama dari kampus.
Pernah ada kejadian, mereka tidak sengaja berpapasan dengan Kairi yang sedang berkencan dengan Tsukasa.
Hammy sudah takut setengah mati, kalau Lucky akan kembali meninggalkannya.
Tapi ternyata, ia salah. Lucky justru merangkul bahunya di depan Kairi dan Tsukasa.
Ia merasa bahagia dan itu membuatnya tersenyum karena Lucky tetap menepati janjinya.
Ia terus berharap, hal ini akan terus terjadi sampai mereka menikah nantinya.
Ia bahkan saking senangnya hingga membuatnya melamun dan lupa waktu. Ia terus saja melamun sambil tersenyum.
Sementara Hammy sedang sibuk melamunkan hubungan indahnya dengan Lucky, Lucky malah kembali harus terjebak.
__ADS_1
Dia bahkan bingung sendiri, kenapa dia selalu saja harus berada di situasi yang tak menguntungkan baginya.
Melihat orang yang dicintainya terluka dan dalam bahaya, membuat hatinya sakit.
Jauh di dalam lubuk hatinya, dia ingin sekali menolongnya, tapi, jika sampai Hammy mengetahuinya maka ia pasti akan marah besar karena menganggap dirinya tidak menepati janji dan pastinya, mereka akan kembali ribut besar.
Jika dia menelpon Kairi maka dipastikan akan terlambat karena dia tidak tau di mana Kairi berada saat ini, apalagi dia tak punya nomor telpon Kairi dan kalaupun Kairi berhasil dihubungi sekalipun maka pasti akan butuh waktu lama untuk datang ke tempat ini. Bisa-bisa, kedatangannya berakhir sia-sia.
Lucky mengusap wajahnya dengan kasar. Dia sungguh tak tau, apa yang harus diperbuatnya.
Dia menarik nafas dalam lalu memejamkan matanya sejenak.
Lalu dia menghembuskan nafas berat, membuka kedua matanya perlahan, mengepalkan tangannya dan memutuskan untuk menolongnya.
Dia lalu berlari agar segera sampai di tempat tujuan.
Begitu sampai, dia langsung berteriak agar mereka menghentikan aksi mereka.
"Hei, kalian! Cukup sampai di situ! Hentikan perbuatan kalian!"
Teriakan Lucky berhasil membuat mereka semua menoleh ke arahnya.
"Woi, siapa kamu?"
"Memangnya dia, siapanya dirimu?"
"Mau sok jadi pahlawan?"
tanya mereka sambil menertawakan Lucky.
Hal itu membuat Lucky makin marah. Dia maju lalu menantang mereka berkelahi.
Perkelahian pun terjadi.
45 menit kemudian.
Lucky memenangkan perkelahian itu, dengan tubuh yang penuh luka dan sudut bibir berdarah.
Dia lalu menghampiri orang yang ditolongnya untuk melihat keadaannya, sementara para orang kasar tadi sudah kabur.
"Apa kamu tak apa-apa, Tsukasa? Mereka tidak sempat menyentuhmu, kan?"
Ternyata orang yang ditolong oleh Lucky adalah Tsukasa.
Tsukasa menjawab pertanyaan dari Lucky dengan gelengan kepala.
Lucky pun merasa lega.
"Tadinya, iya. Hanya saja, pas pulang, Kairi ada keperluan lain. Aku ke supermarket dan Kairi ada tugas kelompok. Tapi tadi, aku pergi ke supermarket dengan diantar oleh Kairi."
Lucky mengangguk paham.
"Sekarang, sebaiknya kamu menelpon Kairi dan bertanya, apakah dia bisa menjemputmu? Jika tidak, aku bisa mengantarmu pulang, tapi, jika dia bisa menjemputmu maka kamu bisa menunggu Kairi datang di rumahku."
Lucky sepertinya lupa, kalau Hammy sedang menginap di rumahnya.
Seperti dugaan Hammy, kalau sudah menyangkut Tsukasa maka Lucky akan melupakan segalanya.
Tsukasa mengangguk lalu menelpon Kairi.
Beberapa saat kemudian.
Tsukasa mengakhiri panggilannya.
"Gimana, Tsukasa?"
"Kairi, baru bisa menjemputku sore hari."
"Ya sudah, kamu tunggu Kairi di rumahku saja!"
Tsukasa tampak ragu-ragu, tapi akhirnya, ia mengangguk pelan.
Lucky lalu mengajak Tsukasa ke mobilnya, sekalian dia mau mengambil kantong belajaan yang dia letakkan di tanah, sebelum berlari tadi. Tsukasa hanya bisa berjalan mengekori Lucky.
Kini mereka sudah berada di dalam mobil Lucky.
Lucky lalu melajukan mobilnya pulang ke rumahnya.
Suasana pun hening selama di perjalanan.
Sementara itu, Hammy sudah sadar dari lamunannya dan ia sekarang sedang gelisah karena Lucky belum juga pulang.
"Aduh, beib! Kok kamu belum pulang, sih? Katanya cuma mau ke supermarket, sebenarnya kamu ke mana, sih?"
Hammy yang sudah tidak sabar, menghembuskan nafas kasar lalu memutuskan untuk menelpon Lucky.
Tapi baru saja, ia hendak menelpon Lucky, terdengar suara mobil Lucky, terparkir di luar.
Rasa cemas yang tadi menyerangnya, kini berubah menjadi senyuman.
Ia pun bangun lalu merapikan penampilannya, karena ia ingin belajar menyambut kedatangan Lucky, seolah Lucky baru pulang dan ia menyambut kepulangan sang suami.
Ia sungguh-sungguh ingin belajar menjadi seorang istri yang baik bagi Lucky.
__ADS_1
Ia pun berjalan ke arah pintu depan dan hendak membukakan pintu itu untuk Lucky, agar Lucky bisa langsung berjalan masuk ke dalam.
Sementara itu, Lucky baru saja selesai memarkirkan mobilnya.
Dia lalu mengajak Tsukasa turun dari mobilnya. Mereka pun turun bersama.
Setelah itu, Lucky mengunci pintu mobilnya. Dia mengajak Tsukasa untuk masuk ke dalam rumahnya. Tsukasa mengangguk. Mereka lalu berniat untuk berjalan masuk ke dalam rumah Lucky.
Lucky berjalan sambil mengobrol dengan Tsukasa, hingga sama sekali tak sadar, jika dari tadi, pintu depan sudah terbuka dan ada sepasang mata yang sedang menatap ke arah mereka dengan penuh emosi dan cemburu.
Mereka sama sekali tidak sadar karena mereka mengobrol sambil berjalan, sambil menghadap satu sama lain.
Mereka baru tersadar, saat ada sebuah suara dengan nada membentak, ditujukan kepada mereka.
"Oh, bagus, ya! Bilangnya mau ke supermarket, tapi gak pulang-pulang! Sekalinya pulang malah membawa selingkuhan! Dasar gak tau malu ya, kalian!"
Bentakan itu membuat Tsukasa tersentak kaget.
Sementara Lucky mematung. Dia menepok jidatnya.
"Mati aku, aku lupa, kalau ia sedang menginap di rumahku."
Lucky pun, mau gak mau, berusaha untuk menjelaskan tentang apa yang terjadi.
"Dengar dulu, ini gak seperti yang kamu kira! Aku sungguh dari supermarket. Kami gak sengaja ketemu karena ada sesuatu yang menimpa Tsukasa!"
Sayangnya, penjelasan dari Lucky tidak didengarkan.
"Benarkah? Kalau begitu, mana belanjaanmu?"
Lucky kembali menepuk jidatnya.
"Ada di mobil, kok! Tunggu, kuambil dulu, ya!"
Lucky langsung berlari kembali ke mobilnya, karena dia sungguh ceroboh, meninggalkan belanjaannya di mobil, hingga membuat dirinya makin dicurigai.
Sementara itu, kini hanya tinggal berdua, antara Tsukasa, dengannya.
"Kamu itu udah punya Kairi, tapi masih saja mendekati kekasih orang! Apa kamu mau berlatih menjadi pelakor, hah?"
"Bukan begitu, Hammy! Tolong, dengar dulu, penjelasan dariku!"
"Memang kamu pakai apa sih hingga Kairi dan Lucky tergila-gila padamu? Apa kamu pakai guna-guna hingga Lucky melupakan diriku? Selalu saja, demi dirimu, aku ditinggalkan, dicampakkan, apa kamu pernah memikirkan perasaanku? Apa kamu mau mencoba agar tau rasanya di posisiku? Memiliki kekasih, tapi diacuhkan! Menunggu kekasih tercinta pulang malah melihatnya pulang bersama mantan, bagaimana rasanya, kalau kamu di posisiku, hah? Dasar pelakor, gak punya malu!"
Mendengar bentakan itu, hati Tsukasa terasa sangat sakit.
Ia pun menangis tersedu-sedu.
"Alah, gak usah pura-pura menangis! Kamu sengaja kan agar menarik simpati Lucky?"
Tsukasa menggeleng dan terus menangis. Sesekali ia menggosok air matanya dengan punggung tangannya.
"Hammy, cukup! Tsukasa tidak seperti itu!"
Lucky datang dengan barang belanjaan di tangannya sambil berlari.
Dia meletakkan barang belanjaannya di atas aspal lalu memeluk Tsukasa.
Tsukasa pun menangis tersedu-sedu di dada Lucky.
Hal itu membuat Hammy makin jengah.
"Lihat kan, gitu menangis langsung dipeluk, enak banget ya, hidup kamu, pelakor!"
"Hammy, cukuuuuup!"
Mata Lucky sudah mulai memerah dan menatap Hammy dengan tajam.
Hal itu membuat Hammy tersenyum smirk.
"Kalau aku gak mau, kamu mau apa, beib?"
"Hammy, kamu...!"
Kira-kira, apa yang akan terjadi selanjutnya?
Apa yang akan dilakukan oleh Lucky kepada Hammy?
Apa yang akan dilakukan oleh Hammy kepada Tsukasa?
Bagaimana reaksi Kairi, saat mengetahui, Tsukasa disakiti oleh Hammy?
Apa dia akan membenci Hammy?
Bagaimana nasib persahabatan mereka ke depannya?
Apa yang akan dilakukan oleh Lucky selanjutnya?
Akankah akibat ulah Hammy kali ini, dia akan meninggalkan Hammy?
Apa yang akan terjadi kepada Hammy, jika sampai ditinggalkan oleh Lucky?
Next/stop? Like dan komen!
__ADS_1