Playboys Dan Playgirls Bersatu Karena Cinta

Playboys Dan Playgirls Bersatu Karena Cinta
Titik Terang si Peneror


__ADS_3

Saat ini, Lucky sedang emosi.


Kejadian semalam sungguh membuatnya uring-uringan.


Ditambah tadi pagi, yang membuatnya, tambah malas melihat sosok Hammy.


Lalu saat dia ingin mencari hiburan lewat Jessica, apa yang terjadi?


Bukannya membuat moodnya membaik, tapi malah, justru makin buruk.


Dia mendapatkan pesan dari tak bernama, berupa sebuah foto. Foto yang mampu membangkitkan emosinya tingkat dewa.


Gimana tidak?


Foto itu berisi, kalau kekasihnya sedang berpelukan mesra dengan cowok lain.


Melakukannya dengan cowok lain saja, itu sudah salah, ini, malah melakukannya dengan kekasih orang.


Hal itu membuat Lucky, sungguh-sungguh, tak bisa berkata apa-apa lagi.


Dia hanya bisa tersenyum dengan smirk, saat sedang memikirkan hubungan mereka.


Dia lalu memutuskan untuk mencari tau di mana keberadaan gadisnya.


Setelah mengetahuinya, dia lalu berjalan ke sana untuk menghampiri gadisnya.


Tapi, apa yang dilihatnya?


Kekasihnya sedang bersama dengan cowok lain dan parahnya, cowok itu, dikenalnya dengan sangat baik.


Bahkan, orang itu ingin pergi dengan wajahnya yang tampak tak berdosa, membuat Lucky makin geram.


"Kamu mau ke mana? Tak perlu buru-buru, gadisku sangat membutuhkanmu, bukan begitu?"


Deg!


Glek!


"Apa yang harus kulakukan? Aku hanya ingin menenangkan Hammy, tapi sepertinya, malah memperburuk keadaan di dalam hubungan mereka."


"Beib, ini salah paham!"


"Salah paham? Kamu bilang, ini salah paham? Kalau begitu, coba kamu jelaskan padaku, apa maksud dari foto dan caption ini?"


Lucky lalu mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto kiriman yang ada di ponselnya.


Hal itu, berhasil membuat Hammy dan orang tersebut, tersentak kaget.


"Kenapa harus terkejut? Apakah karena aku mengetahuinya dari orang lain? Ataukah karena kalian merasa, kalau aksi kalian takkan pernah ketahuan? Ataukah kalian merasa bisa membodohiku, hah?"


"Ini tidak seperti yang kamu pikirkan, Lucky!"


"Alah, gak usah banyak omong! Kalau kamu mau dengannya, ambil saja, gak perlu lakuinnya di belakangku! Aku tidak memiliki perasaan apapun padanya!"


"Lucky! Kamu sudah keterlaluan!"


Bugh!


Dugh!


"Kamu meninjuku barusan?"


"Untuk menyadarkan dirimu dan otakmu yang bodoh itu!"


"Dengar ya, aku tidak peduli dengan kelakuan kalian!"


Lucky lalu bangun, setelah sempat terpental tadi.


Dia merapikan bajunya lalu pergi dari sana dengan perasaan yang sangat kesal.


Sementara itu, Hammy langsung berlari untuk menyusul Lucky.


Orang tersebut, kembali merasakan sakit di hatinya.


Hammy yang sudah agak jauh berlarinya, membalik badannya dan berteriak agak kencang, "makasih, ya dan maaf untuk tingkah kekasihku, Emu!"


Lalu Hammy kembali berlari untuk menyusul Lucky sambil sesekali menyeka air matanya.


Hal itu, tak luput dari pandangan Emu.


Ya, Emulah yang memeluk dan menenangkan Hammy tadi.


Emu hanya bisa menghela nafas berat dan mulai berjalan, meninggalkan taman kampus.


Hal itu membuat senyuman smirk dari seseorang terbit lalu dia pergi dari sana, setelah mendapatkan pertunjukan, yang cukup membuatnya senang.


"Sudah kubilang, jangan main-main denganku, Hammy! Tapi kamu tak mendengarkan peringatanku! Kini, tanggung sendiri akibatnya!"


Skip Lucky dan Hammy.


Hammy terus mempercepat langkahnya dan melihat Lucky, hendak memasuki mobilnya.


Ia pun mempercepat lagi hingga berhasil sampai di dekat mobil Lucky.


Ia pun buru-buru menaiki mobil Lucky, saat melihat Lucky hendak mengunci pintu mobilnya dari dalam dan memasang seatbelt.


Ia pun duduk dengan nafas yang ngos-ngosan lalu memasang seatbelt di sisinya dan memastikan, kalau pintunya sudah tertutup dengan benar.


Setelah pintunya tertutup dengan benar, ia kini, menegakkan duduknya dengan seatbelt yang terpasang kencang.


Lucky lalu mengunci pintu mobilnya dari dalam dan mulai menyalakan mesin mobil lalu melajukannya pulang.


Di sepanjang perjalanan hanya ada keheningan semata.


Lucky lebih memilih untuk fokus menyetir daripada harus mendengarkan ocehan gadis yang duduk di sampingnya saat ini.


Hammy sendiri hanya bisa duduk diam sambil menatap ke luar jendela.


Ia sadar, kalau ini memang sepenuhnya, kesalahannya.


Bukan itu saja, ia dapat melihat kemarahan di mata Lucky. Ia hanya tak mau, mereka bertengkar di saat Lucky menyetir karena itu, bisa membahayakan mereka dan menyebabkan kecelakaan.


Hammy hanya bisa bersabar menunggu hingga mereka tiba di rumah Lucky.


Begitu tiba di rumahnya, Lucky parkir mobilnya lalu turun dari mobilnya, disusul oleh Hammy.


Lucky mengunci pintu mobilnya dan berjalan menuju ke pintu depan, diekori oleh Hammy.


Lucky berjalan memasuki rumahnya dan menuju ke kamarnya, sedangkan Hammy mengunci pintu depan rumahnya.


Ia lalu berjalan masuk ke kamar Lucky.


Saat ia masuk, Lucky tidak terlihat di sana. Tapi terdengar suara air mengalir, yang artinya, Lucky sedang mandi.


Hammy lalu memutuskan untuk duduk di tepi ranjang sambil menunggu Lucky selesai.


20 menit kemudian.


Lucky selesai dengan kegiatannya. Dia juga sudah ganti baju.


Dia lalu berjalan ke ranjangnya dan berbaring sambil memunggungi Hammy.


Hammy menghela nafas berat lalu memutuskan untuk mandi dan ganti baju.


Setelah itu, ia berjalan menuju ke ranjang dan berbaring sambil mendekati Lucky.


Ia ingin memeluk Lucky dari belakang untuk meredam emosinya. Tapi sayangnya, niatnya tidak terwujud.


Saat ia berhasil memeluk Lucky dari belakang, Lucky, justru menepis tangannya dan melepaskan pelukannya dengan kasar.

__ADS_1


Hal itu, membuat hati Hammy terluka.


Bahkan lukanya menjadi bertambah, saat Lucky, mengatakan sesuatu yang menyakiti hatinya.


"Jangan pernah sentuh aku dengan tangan kotormu! Aku tidak sudi disentuh oleh tangan yang bekas dipeluk oleh pria lain!"


Mendengar itu, Hammy langsung memeluk Lucky erat, tanpa peduli, betapa kasarnya, Lucky berusaha untuk melepaskan pelukannya itu.


Ia menangis di punggung Lucky dengan keras. Air matanya mengalir dengan derasnya dan membasahi punggung Lucky.


Lucky, masih terus saja meronta dan Hammy, masih terus saja bersikeras, memeluk Lucky.


Tetap saja, sekuat apapun tenaganya, tenaga Lucky, jauh lebih kuat darinya.


Lucky menghempaskan Hammy dengan sekali sentakan.


Dia lalu turun dari ranjangnya dan berjalan dengan kesalnya.


Dia berjalan ke arah lemari bajunya. Dia melepaskan bajunya yang tadi lalu mengganti bajunya dengan yang baru.


Setelah itu, Lucky berjalan ke arah tepi ranjang.


Hammy yang sempat terpental karena sentakan Lucky, sudah duduk di tepi ranjang. Ia memberanikan diri untuk mendongak dan menatap mata Lucky.


Terlihat dengan jelas, Lucky memberikan tatapan, seolah ingin membunuhnya.


Dia mencengkram kuat dagu Hammy dan membuat Hammy meringis kesakitan, akibat ulahnya.


"Dengar, baik-baik! Kamu ini bodoh atau tuli? Sudah kubilang, jangan sentuh aku, tapi kamu malah memeluk dan menangis di punggungku! Apa kamu pikir, semua masalah, bisa diselesaikan hanya dengan menangis, hah? Jawab!"


Hammy menggeleng kuat.


"Cuih! Aku sudah memberikanmu kesempatan untuk meraih hati dan cintaku dengan menunjukkan ketulusan cintamu! Inikah balasanmu? Ternyata memang ya, sifat playgirlmu, takkan bisa dihilangkan! Kamu memang seorang playgirl sejati! Mulai besok, kamu pulang ke rumahmu, jangan pernah temui aku lagi dan hubungan kita, berakhir! Aku muak!"


Selesai berucap, Lucky menghempaskan dagu Hammy kasar dan membuat Hammy, terjatuh kembali di atas kasurnya.


Setelah itu, dia pergi dari kamarnya dan berjalan menjauh dari sana.


Hammy pun langsung bangun dan berlari menyusul Lucky.


"Maaf, beib, maaf!"


Hammy berucap sambil berlari dan ia terjatuh di atas lantai.


Ia bahkan berlutut di depan Lucky dan memohon.


"Maaf, beib, maaf! Jangan putusin aku! Aku sungguh mencintaimu! Aku dan dirinya tidak memiliki hubungan apapun! Dia melakukan itu, hanya untuk menenangkanku."


Mendengar itu, bukannya membuat hati Lucky tenang dan emosinya reda, tapi justru, membuatnya tertawa mengejek.


"Apa kamu bilang? Dia melakukan itu untuk menenangkanmu? Artinya, setiap kita ada masalah, meski bukan dirinya, kamu dengan mudahnya, membiarkan dirimu dipeluk dan ditenangkan oleh pria lain, donk? Inikah sifat aslimu? Aku tak menyangka, bahkan kamu melakukannya dengan Emu! Aku sulit untuk percaya!"


"Bukan gitu, beib! Kamu salah paham!"


"Jangan sebut aku, beib dengan mulut kotormu! Pantas aja, aku tak bisa mencintaimu karena sifatmu yang memang, tidak tulus mencintaiku! Kamu hanya ingin merebutku dari Tsukasa karena kamu ingin balas dendam padaku yang sudah menolakmu, saat kita sedang taruhan, kan? Kamu itu, ternyata seorang pelakor dan gadis berhati licik! Selamat, kamu sudah mendapatkanku dan menjebakku untuk bersamamu lalu kini, kamu menyakitiku dengan melakukannya bersama Emu, tanpa memikirkan perasaanku! Kamu itu, benar-benar menjijikkan!"


"Bukan begitu, beib! Dengarin aku dulu!"


"Mau ngomong apa lagi? Kamu tau, gak? Tingkah kalian di taman itu, seperti di film-film yang menceritakan, sang kekasih dihianati oleh kekasihnya dan sahabat baiknya! Aku tak menyangka, kini aku yang berada di dalam posisi itu! Kamu menuduh Tsukasa yang pelakor lalu kamu sendiri apa, yang merebutku dari Tsukasa, hah? Mulai besok, aku akan berbaikan kembali dengan Tsukasa dan kamu tak punya hak untuk melarangku, mendapatkan Tsukasa kembali! Tsukasa itu milikku dan akan kembali kepadaku!"


Mendengar itu, hati Hammy memanas dan balas, membentak Lucky.


"Takkan kubiarkan, kamu kembali kepada Tsukasa! Apa kamu lupa, kalau kita pernah melakukan itu dan aku masih menyimpan buktinya? Menurutmu dengan bukti itu, siapakah yang akan Tsukasa percayai, aku atau dirimu? Aku sudah pernah bilang, kan? Jika Tsukasa adalah milikmu maka kamu adalah milikku, Lucky dan jika aku tak bisa mendapatkanmu maka tak seorang gadis pun bisa memilikimu, terutama Tsukasa!"


Lucky mulai mengeratkan kepalan tangannya.


Jika dia tidak ingat, Hammy adalah seorang gadis maka sudah dipastikan, nyawa Hammy akan melayang di tangannya.


"Lalu apa maumu?"


Mendengar itu, Hammy tersenyum dengan smirk.


"Katakan saja, apa maumu! Jangan berputar-putar!"


"Keinginan pertamaku adalah kamu menjauhi Tsukasa dan itu, sudah kamu lakukan! Keinginanku yang kedua adalah kamu harus menjadi kekasihku yang baik di depan Tsukasa dan mengenalkanku sebagai calon istrimu di depannya dan itu, yang belum kamu lakukan! Lalu untuk permintaan terakhirku, akan kusebutkan, setelah permintaanku yang kedua, kamu penuhi, beib!"


"Kamu benar-benar licik! Kamu sudah berbuat salah, bukannya menyesal, malah mengancamku!"


"Sudah kubilang kan, kalau kamu yang membuatku begini, beib? Aku sudah memohon, tapi kamu tidak mendengarkanku, bahkan, mengancamku untuk putus denganmu dan mengusirku dari sini, jadi kita impas!"


"Kamu...!"


"Iya, beib! Apa kamu lupa, kalau aku juga kekasih yang keras kepala dan selalu ingin mendapatkanmu? Apa kamu pikir, setelah aku mendapatkanmu lalu aku akan melepaskanmu begitu saja? Sama seperti, kamu yang tak mau melepaskan Tsukasa maka aku pun takkan pernah mau melepaskanmu!"


"Kamu tau gak, hubungan kita itu, gak sehat? Penuh paksaan dan ancaman! Bagaimana mungkin, aku mau menikahimu?"


"Aku tak peduli soal itu! Sekarang kita kembali ke kamarmu atau kamu mau tetap pergi untuk temui selingkuhanmu?"


Lucky, akhirnya mengalah dan memutuskan untuk kembali ke kamarnya dengan perasaan jengkel.


Hammy, hanya bisa menatap punggung Lucky.


Ia tau, kalau dirinya salah karena sudah mengancam Lucky, tapi ia takut, kalau setelah Lucky menemui Tsukasa maka perannya sebagai kekasihnya akan hilang dan akan sesuai dengan isi pesan itu.


Hammy sendiri, jika mengingat isi pesan itu, memang takut, tapi kini, sudah bercampur dengan marah.


Ia marah karena orang itu sengaja mengadu domba dirinya dengan Lucky, tapi ia lupa, kalau cara itu adalah cara yang sama, yang dirinya pernah pakai untuk merebut Lucky dari Tsukasa.


Itulah sebabnya, ada yang mengatakan, "apa yang kamu lakukan maka akan berbalik padamu, jadi, jangan pernah memperlakukan orang lain dengan buruk, jika kamu tidak mau menerima keadaan yang serupa!"


Itulah yang sedang dialami oleh Hammy sekarang.


Cara yang digunakannya untuk merebut Lucky dari Tsukasa, kini, berbalik menyerang hubungannya dengan Lucky. Ia kini berada di posisi Tsukasa yaitu sebagai kekasih.


Jika dulu, Tsukasa yang tidak mau mendengarkan dan percaya pada penjelasan Lucky, kini Lucky, yang tidak mau mendengarkan dan percaya pada penjelasannya. Lucky dan Tsukasa pun putus.


Hal itu juga akan terjadi kepadanya, jika ia tidak mengancam Lucky, soal kejadian malam itu.


Ia sungguh marah dan ingin mencari tau, siapa dalangnya.


Ia mulai muak dengan keadaan yang dialaminya.


Ia lalu mulai berjalan ke arah kamar Lucky.


Sesampainya di kamar Lucky, ia mengunci pintu kamar Lucky dari dalam dan berbaring di samping Lucky.


Sehabis berbaring, ia melihat kedua mata Lucky terpejam, yang artinya, ada dua yaitu pura-pura tidur atau memang sudah tertidur.


Ia lalu mengambil ponselnya dan mengetikkan sesuatu.


Sesuatu itu adalah sebuah pesan singkat.


"Temui aku di cafe, dekat Universitas Todai, Hari Sabtu depan! Ia sudah sungguh mengusikku dan aku sudah muak dengan ulahnya!"


"Baiklah, serahkan padaku!"


"Aku harap, kamu tidak mengecewakanku!"


"Dengan senang hati, Nona Hana!"


Lalu Hammy menyimpan ponselnya dan menyusul Lucky ke alam mimpi.


Saat Hammy terlelap, Lucky bangun dan memikirkan kejadian hari ini.


"Sudah kuduga, pelakunya ada di kampus yang sama dengan kami dan kini, aku sudah yakin, siapa pelakunya melalui foto yang ia kirimkan! Kini saatnya untuk memulai permainan!"


ucap Lucky sambil tersenyum dengan smirk.


Lucky lalu memutuskan untuk berbaring dan melanjutkan tidurnya, karena takut, kalau Hammy akan terbangun.

__ADS_1


Skip Kairi dan Tsukasa.


Kairi masih menunggu jawaban dari Tsukasa.


Tsukasa pun merasa tidak tega dengan Kairi.


Akhirnya ia membuat keputusan dan bilang, kalau ia akan memberitahukan soal itu kepada Kairi besok.


Tsukasa melakukan itu karena cepat atau lambat, Kairi pasti akan mengetahuinya juga, bedanya, antara dari dirinya atau dari orang lain.


Tsukasa tidak mau membuat Kairi cemas akan keadaannya.


Kairi, selama ini selalu di sisinya, tanpa menuntut ini dan itu, kini saatnya, ia mempercayakan dirinya untuk terbuka kepada Kairi.


Kairi benar, mereka adalah sepasang kekasih, jadi sudah seharusnya saling terbuka dan itulah yang dilakukan oleh Tsukasa sekarang.


Benar saja, Kairi menanggapi ucapannya dengan membiarkannya bercerita jika dirinya sudah siap karena Kairi tak mau memaksa dirinya bercerita, jika dirinya belum siap.


Tsukasa pun merasa makin bersalah kepada Kairi. Ia pun bertekad kalau mulai malam ini, ia akan memikirkan perasaan Kairi dan hubungan mereka ke depannya, seperti apa.


Skip Emu dan Asuna.


Emu sangat marah, saat mengingat, ejekan Lucky padanya tadi.


Dia memang mencintai Hammy, tapi Hammy, bukanlah barang, yang bisa dia ambil lalu setelah dia bosan atau tak butuh, akan dikembalikan kepada Lucky. Hammy juga punya perasaan.


Dia sama sekali tidak menyangka, kalau pria yang dicintai oleh Hammy adalah tipe pria yang berpikiran sempit dan berhati dingin.


Lucky sungguh menatap jijik kepada Hammy, seolah ia adalah kuman. Hammy memang seorang playgirl, tapi bukan berarti, ia pantas untuk dihina dan dipermalukan di depan umum.


Jika saja Lucky, bukan pria yang dicintai oleh Hammy maka sudah dipastikan, dia akan merebut Hammy dari tangan Lucky dengan tangannya sendiri dan pastinya, akan selalu menjaga agar Hammy tak pernah terluka sedikitpun, baik, fisik maupun hati karena dia akan membuat Hammy bahagia.


Tapi dia sadar, kalau Hammy, takkan bahagia bersamanya selama hati dan pikirannya, tertuju kepada Lucky.


Dia teringat, saat mereka terpaksa pacaran dulu. Hammy begitu tersiksa karena tidak bisa jadian dengan Lucky.


Kini sudah jadian, Hammy malah menderita, sepertinya, Hammy sudah cinta buta dengan Lucky.


Emu, akhirnya harus berkorban demi kebahagiaan Hammy karena cinta memang butuh pengorbanan dan tidak harus memiliki. Itulah yang dilakukannya yaitu merelakan Hammy untuk Lucky, demi kebahagiaan Hammy.


Dia hanya bisa melindungi Hammy diam-diam, tanpa disadari oleh Lucky. Dia tak mau Hammy makin menderita akibat ulahnya.


Emu pun menghela nafas berat dan memijat pelipisnya karena pusing akan hal ini.


Cinta itu sungguh rumit.


Saat itulah, Emu teringat sesuatu, mengenai foto yang ditunjukkan oleh Lucky.


Dia kaget, kenapa foto itu bisa di ponsel Lucky, siapa yang memotretnya dan apa tujuannya? Apa supaya ada kesalahpahaman dan mereka bertiga bertengkar? Tapi siapa, yang tega berbuat seperti itu?


Dia pun berpikir keras lalu tiba-tiba, teringat akan tingkah aneh Asuna. Dia lalu mulai, mencari titik penghubungnya.


Setelah menganalisa, dia pun membuat kesimpulan.


"Apa mungkin, si pengirim adalah...? Apa alasannya? Jangan-jangan, dirinya...."


Selesai berucap, Emu dipenuhi oleh emosi.


"Semoga saja aku salah, jika tidak maka aku takkan pernah mengampunimu! Lihat saja, nanti!"


Meski emosi, tapi Emul tidak mau menuduh tanpa bukti, ia ingin, si pelaku menunjukkan sendiri sosoknya. Ia pun mencari cara untuk menjebak si pelaku.


Tak lama.


"Aha, aku tau, apa yang harus kulakukan!"


Emu lalu memanggil Asuna dan mengajaknya untuk pulang.


Kebetulan juga sudah tidak ada pasien.


Asuna pun senang, saat Emu mengajaknya pulang. Mereka pun pulang bersama.


Emu hari itu, langsung mengantar Asuna pulang dan dirinya pun langsung pulang.


Dia ingin memikirkan cara yang ampuh untuk membuat Asuna bak tikus di dalam karung, yang tidak bisa mengelak dan kabur lagi, selain mengaku.


Mereka pun langsung mandi dan ganti baju lalu tidur di rumah mereka masing-masing.


Skip Kairi.


Kairi yang mendapatkan penolakan dari Tsukasa, hanya bisa bersabar karena dirinya memang tidak mau memaksa Tsukasa.


Dia ingin Tsukasa secara keseluruhan membuka hatinya karena percaya kepadanya, bukan karena dipaksa. Itulah alasannya, dia bilang akan menunggu Tsukasa sampai ia siap.


Hari pun cepat berlalu.


Keesokan paginya.


Tsukasa dan yang lainnya, melakukan aktivitas mereka seperti biasanya, kecuali Lucky dan Hammy, yang masih bertengkar karena Lucky masih marah kepada Hammy.


Emu bersikap biasa agar orang yang dituduhnya, tidak curiga kepadanya.


Tsukasa berjanji akan menceritakan semuanya sehabis kampus agar mereka konsentrasi belajar dulu. Kairi pun setuju.


Mereka pun belajar di hari itu dengan baik, meski suasana hati dan pikiran, tidak mendukung.


Mereka hanya tidak mau, hubungan percintaan mereka mempengaruhi pendidikan mereka.


Mereka hanya bisa mengikuti pelajaran sampai akhir dengan baik.


Skip pulang kampus.


Hammy langsung menunggu di depan kelas Lucky agar tidak kecolongan seperti kemarin dan tidak ada kejadian, yang menambah buruk hubungan Mereka.


Emu langsung mengajak Asuna ke rumah sakit dan bekerja seperti biasanya, karena hari itu, mereka ada pasien darurat.


Kairi dan Tsukasa sedang berbicara di cafe.


"Baiklah, aku sudah siap cerita! Kamu memang benar, aku marah saat di restoran itu karena aku cemburu, melihat kemesraan Lucky dan Hammy, tapi kamu jangan salah paham dan aku sudah membuat keputusan, jadi aku ingin membahas tentang hubungan kita ke depannya! Keputusanku adalah...."


Kairi pun tersentak kaget, saat mendengar pernyataan dan keputusan dari Tsukasa.


"Apa kamu yakin?"


Skip Lucky dan Hammy.


Kira-kira, siapa pelakunya yang sebenarnya?


Benarkah dugaan Lucky dan Emu? Apakah mereka memiliki dugaan yang sama tentang pelakunya?


Apa yang akan dilakukan oleh Lucky dan Emu?


Siapakah orang yang dikirimi pesan oleh Hammy?


Akankah berhasil rencana mereka?


Rencana siapakah yang paling ampuh?


Apa perkataan dan pernyataan Tsukasa yang membuat Kairi tersentak kaget?


Apa jawaban Tsukasa mengenai pertanyaan Kairi?


Bagaimana dengan hubungan mereka selanjutnya?


Akankah Lucky dan Hammy berbaikan, setelah si peneror tertangkap?


Benarkah Lucky selingkuh atau itu cuma, salah satu caranya untuk menangkap sang pelaku?


Next/stop? Like dan komen!

__ADS_1


__ADS_2