Playboys Dan Playgirls Bersatu Karena Cinta

Playboys Dan Playgirls Bersatu Karena Cinta
Asuna Menyesal


__ADS_3

Hammy yang baru saja menyelesaikan urusannya dengan Tsukasa, malah mendapatkan masalah baru.


Ia mendapatkan teror yang berkaitan dengan hubungannya dan Lucky.


Hammy, yang awalnya, hidup di dalam ketakutan dan cuma bisa menangis, juga mengadu kepada Lucky, kini mulai melawan balik!


Ia tak mau hidup tertekan dan berada di bawah ancaman seseorang terus.


Kini sudah saatnya, ia bangkit dan melawan balik!


Ia lalu berencana untuk mencari tau sendiri, siapa dalang dari si penerornya.


Ia bahkan sampai browsing internet untuk mencari orang yang bisa diandalkannya, untuk membantunya dalam mencari si peneror, tanpa mempedulikan ucapan sang kekasih.


Ternyata teror yang dialami oleh Hammy, membawa dampak bagi orang-orang di sekelilingnya Hammy.


Dimulai dari yang paling dekat, yaitu Lucky.


Meski Lucky tidak memiliki perasaan cinta di hatinya untuk Hammy, tapi dia tetap menyadari statusnya sebagai kekasih Hammy.


Meski dia tidak suka dengan cara Hammy untuk mendekatinya dan mendapatkannya, tapi dia mengerti dengan tanggung jawab yang harus dilakukannya sebagai seorang kekasih.


Itulah sebabnya, di saat Hammy mendapatkan teror dan itu membuatnya menangis, ada keinginan di dalam hati Lucky untuk melindunginya.


Dia tidak suka, jika ada yang menyakiti hati Hammy.


Dia merasa tidak rela saat melihat Hammy, begitu terluka dan tertekan, akibat ulah si peneror.


Dia pun menjadi marah, di saat si peneror, melibatkan dirinya untuk menyakiti Hammy.


Dia marah karena si peneror, menjadikannya sebagai alasan ketakutan Hammy.


Dia marah karena si peneror, berulang kali mengancam Hammy dengan ucapan yang sama yaitu akan merebut dirinya.


Itulah yang membuat batas kesabaran Lucky menjadi habis dan ingin mencari tau, siapa si peneror itu.


Dia pun memakai sistem umpan untuk memancing si pelaku.


Untungnya, si pelaku dengan bodohnya, memberikannya petunjuk tentang siapa dirinya.


Lucky pun memanfaatkan petunjuk yang didapatnya dan berusaha untuk menghubungkan semuanya itu dengan isi pesan teror yang diterima oleh Hammy, selama ini.


Setelah dia menemukan kecocokan, barulah dia membuat kesimpulan dari hasil yang didapatnya.


Siapa sangka, dia membuat penemuan besar dan dalam waktu singkat, dia sudah bisa menebak siapa pelakunya?


Meski begitu, dia gak bisa menuduh si pelaku tanpa bukti makanya dia memakai pancingan agar si pelaku melakukan kesalahan.


Rencananya pun berhasil dan si pelaku menunjukkan celah, untuknya memastikan kalau memang, orang itulah, si peneror.


Meski begitu, Lucky harus tetap memancingnya agar si pelaku tidak bisa mengelak lagi.


Lalu dia punya ide untuk mengancam si pelaku.


Dia mengancam si pelaku dengan cara mengirimkan pesan kepadanya.


Ternyata, caranya itu berhasil. Si pelaku, muncul dengan sendirinya.


Ia datang, tanpa tau, kalau dirinya itu sudah dijebak atau bisa dibilang, ia sudah terkena permainan dari Lucky.


Ia datang karena diancam oleh Lucky, tanpa tau, itu hanya rencana Lucky untuk memancingnya keluar dari tempat persembunyiannya.


Jadi di sinilah dirinya, yaitu di tempat pertemuan mereka.


Awalnya, si pelaku datang duluan, tanpa tau, kalau dirinya sedang diikuti.


Ia duduk menunggu sendirian, tanpa tau, ada yang duduk di dekatnya.


Tak lama, si pengirim pesan muncul, yang tanpa dia sadari, kalau dirinya juga sedang diikuti.


Si pengirim pesan masuk dengan langkah yang gagah karena dia merasa, kalau dia sudah meraih kemenangan.


Dia tak tau, kalau selain dirinya, ada orang lain di sana.


Kini sudah ada 4 orang yang ada di tempat yang sama.


Mereka saling mengawasi satu sama lainnya.


Lucky yang terlalu fokus ingin menjebak si pelaku, tidak sadar akan di sekelilingnya.


Dia berjalan menghampiri sang pelaku dan duduk di hadapannya.


Tak lama, mereka terlibat percakapan yang serius.


Di dalam percakapan itu, Lucky menyerang si pelaku.


Dia memberinya berbagai pertanyaan yang menyudutkan.


Percakapan itu pun menarik perhatian orang-orang di sekeliling mereka.


Percakapan itu makin memanas dan berakhir dengan sesuatu yang mengejutkan.


Lucky mengatakan, kalau dia memiliki bukti yang menunjukkan, kalau orang yang berada di hadapannya saat ini adalah si peneror.


Hal itu makin memicu perhatian kedua orang yang mengikuti mereka.


"Asuna, kamu masih tak mau mengakui, kalau kamulah yang selama ini, meneror Hammy?"


"Apa maksudmu?"


"Huh, sudah kuduga, kalau kamu takkan mengaku semudah itu, tapi tenang saja, aku punya beberapa bukti yang cukup kuat untuk memastikan, kamu tak bisa berkelit!"


"Bukti apa?"


"Pertama, kamu meneror Hammy dengan memakai nomor yang tak dikenal, tapi kamu lupa, gaya bahasa seseorang tidak mudah untuk diubah, apa kamu lupa, kalau kita pernah menjadi sepasang kekasih? Bukti kedua adalah kamu mengatakan secara terang-terangan di dalam pesan itu, kalau Hammy tidak menjauhi kekasihmu maka Lucky, yaitu aku, akan direbut dari sisinya, apa kamu lupa, kalau yang mengetahui aku adalah kekasih dari Hammy itu cuma kita berenam, yang berarti, yang tersisa cuma antara kamu dan Tsukasa, bukan? Tsukasa tidak mungkin karena ia ingin aku tetap bersama dan bahagia bersama dengan Hammy, artinya, pelakunya adalah kamu! Lalu bukti yang paling kuat dan tak terbantahkan lagi adalah kamu mengirimkan foto Emu yang sedang memeluk gadisku ke ponselku, jika dihubungkan dengan isi pesan agar Hammy menjauhi kekasihmu maka sudah jelas, kalau si pelaku berada di dekat Hammy, kekasih yang dimaksudnya itu adalah Emu, kamu memiliki nomor ponselku, yang tak mungkin bisa dimiliki jika kita tak saling mengenal atapun pernah berpacaran maka bisa ditarik kesimpulan kalau pelakunya itu adalah kamu, Asuna! Kenapa kamu melakukan ini kepada Hammy? Apa salah Hammy padamu?"


"Aku...."


Belum sempat, Asuna menjawab, tiba-tiba, ia ditarik berdiri dari kursinya lalu ditampar.


Si pelaku yang sudah menampar Asuna, sungguh menunjukkan wajah yang tak percaya. Ia pergi dari sana dengan marahnya.


Belum selesai ditampar, ia kembali dibentak, bahkan terancam diputusin.


Si pelaku yang memutuskannya lalu pergi dari sana dengan penuh amarah.


Asuna pun terpaksa berlari untuk mengejar salah satunya karena ia tak mau diputusin.


Sementara itu, Lucky duduk sambil menikmati kemenangannya karena sudah berhasil menangkap si peneror.

__ADS_1


Setelah puas, dia menelpon kekasihnya karena sudah cukup lama, kekasihnya itu pergi dengan amarah yang meluap.


Sayangnya, telponnya tidak diangkat. Dia lalu memutuskan untuk pergi keluar dari cafe itu untuk mencari gadisnya.


Dia menaiki mobilnya dan melajukannya perlahan karena dia yakin, kalau gadisnya pasti belum jauh dari sana.


Benar saja, beberapa ratus meter dari mobilnya, dia dapat melihat sosok gadisnya yang sedang menghentak-hentakkan kakinya di atas aspal karena saking marahnya, saat ini.


Dia pun melajukan mobilnya dengan sedikit cepat lalu menepikannya di depan gadisnya agar gadisnya tak bisa ke mana-mana lagi.


Ckiiit!


Dia turun dari mobilnya lalu menutup pintu mobilnya.


Dia berjalan menghampiri Hammy.


"Apa kamu sudah puas, setelah mengetahui identitas dari si peneror?"


"Kenapa harus dia sih, beib? Aku kesel banget sama dia!"


"Ya sudah, sekarang kita pulang dan kita lanjutkan untuk membahasnya di rumah, ya?"


Sang gadis menghela nafas kasar lalu mengangguk pelan.


Lucky menuntun gadisnya perlahan untuk memasuki mobilnya, disusul oleh dirinya.


Lucky lalu melajukan mobilnya, pulang ke rumahnya.


Begitu sampai di rumahnya, Lucky parkir mobilnya lalu mereka turun bersama.


Lucky kunci pintu mobilnya lalu mengajak kekasihnya untuk masuk ke dalam bersama.


Dia lalu mengambilkan segelas air untuk meredakan emosi sang kekasih.


Sang kekasih, minum hingga tandas karena kepalanya mengepul, saking emosinya.


Lucky lalu mengunci pintu depan rumahnya dan menuntun sang kekasih, masuk ke dalam kamarnya.


Begitu sampai di dalam, dia mengunci pintu kamarnya dan menuntun sang kekasih untuk berbaring bersamanya di atas kasur.


Skip Asuna.


Asuna masih saja, berlari mengejar orang itu.


Ia terus berlari dan berusaha untuk menggapai lengan orang itu.


Ia pun mencekalnya, saat ia merasa sudah berada di dekat orang itu.


Hal itu membuat orang yang ditariknya, menoleh dan memancarkan tatapan yang membunuh kepadanya.


Dalam sekejab, niat Asuna langsung menciut dan ia menundukkan kepalanya ke atas aspal.


"Lepaskan tanganmu dariku, Asuna! Untuk apa lagi kamu mengejarku? Apa kamu tidak mendengar ucapanku tadi, kalau kita itu sudah put...!"


Belum selesai berucap, Asuna menggapai dan menarik lengan orang itu dan menciumnya di bibir.


Orang itu pun tersentak kaget dan berusaha untuk mendorong Asuna, tapi bukannya lepas, Asuna malah tak mau berhenti mencium orang itu.


Beberapa saat kemudian, orang yang dicium merasakan pipinya basah, yang artinya, Asuna sedang menangis.


Dia lalu melepaskan paksa dan mendorong Asuna agar menjauh darinya hingga Asuna, terjatuh di aspal.


Ternyata benar, Asuna menangis.


Orang itu pun menjadi marah.


"Lepaskan aku, Asuna! Apa yang kamu lakukan? Ini adalah tempat umum!


Asuna menggeleng kuat dan mempererat pelukannya di lutut orang itu, seolah, anak kecil yang mau ditinggalkan oleh ibunya.


"Gak mau! Kamu boleh marah sama aku, tapi jangan putusin aku! Aku akan melakukan apapun, tapi tolong, jangan putusin aku! Huaaaaa!"


Orang itu tersentak dengan kaget karena Asuna menangis dengan kerasnya.


Hal itu menjadikan mereka pusat perhatian.


Asuna sungguh membuatnya malu karena kejadian ini.


Dia mengusap wajahnya dengan kasar lalu menggendong Asuna ala bridal style ke mobilnya.


Begitu sampai di mobilnya, dia menurunkan Asuna di kursi penumpang samping pengemudi lalu menutup pintu mobilnya di sisi Asuna.


Disusul oleh dirinya yang memasuki mobilnya.


Dia menutup pintu mobilnya dengan sedikit keras karena sedang marah.


Dia lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Kita pulang dan kamu harus jelaskan semuanya di rumahku!"


"Kita gak kerja, honey?"


"Kerja? Dalam kondisi seperti ini, kamu masih pikirin soal kerja, apa kamu gila, hah? Kamu mau, semua pasien kita melihat kamu menangis?"


Asuna hanya menunduk dalam diam sambil menangis sesegukan.


Begitu sampai di rumahnya, orang itu langsung memarkir mobilnya dan mereka turun bersama.


Lalu mereka berjalan memasuki rumah orang itu.


Mereka memutuskan untuk berdiskusi di ruang tamu.


"Sekarang, tolong jelaskan padaku, dengan apa maksudmu meneror Hammy dan mengancamnya akan kehilangan Lucky, hah?"


Asuna tidak bergeming.


"Jangan diam saja! Jawab aku!"


Asuna memejamkan kedua matanya karena saking takutnya.


Belum pernah, ia mendapatkan bentakan yang seperti ini, sebelumnya.


Ia mulai menjawab, meski dengan sambil terbata-bata.


"A...ku melakukan itu... itu karena, aku.... gak mau kehilangan kamu! Aku gak suka, saat melihatmu, melindunginya makanya aku mengancamnya untuk menjauh darimu, tapi, jika ia masih nekat maka Lucky akan direbut darinya."


"Kamu...! Apa kamu sudah gila, hah? Sudah kukatakan, kalau sampai kapanpun, aku akan melindungi Hammy, berapa kali harus kukatakan padamu, hah?"


"Tapi aku tak suka melihatnya, kamu adalah kekasihku, Mumu! Tapi kenapa, kamu melindungi kekasih orang lain, biar saja, itu menjadi kewajiban dari Lucky. Bukankah Kairi juga sudah mengatakan saat itu, kalau yang seharusnya menjadi tanggungjawabmu itu adalah aku? Kekasihmu itu aku, Asuna, bukan Hammy!"

__ADS_1


"Jangan bicara konyol! Kita jadian hanya pura-pura agar Hammy bisa jadian dengan Lucky!"


"Aku tak peduli soal itu! Pokoknya, kamu itu adalah kekasihku, Mumu! Aku gak mau putus darimu dan aku juga tak mau menjadi kekasih yang tak dianggap olehmu!"


"Jadi apa maumu sekarang, Asuna?"


"Aku mau kita menjadi kekasih resmi mulai dari sekarang dan aku mau, kamu merangkulku mesra di depan Lucky dan Hammy!"


"Jadi maksudmu adalah aku harus mengumbar kemesraan kita di depan Lucky dan Hammy?"


"Ya, itu benar, honey!"


"Maksudmu adalah aku harus mengumumkan, kalau kita adalah kekasih yang akur, gitu?"


"Ututu, kekasihku ini memang seorang dokter yang cerdas!"


"Kamu menyindirku, Asuna?"


"Tidak, honey! Aku itu, benar-benar memujimu!"


"Memujiku dengan memanfaatkan perasaanku kepada Hammy lalu kamu menyakitinya, apa kamu pikir, kalau aku akan diam saja? Kamu salah besar untuk itu!"


"Aku tau kalau aku salah, honey dan aku benar-benar menyesal! Kamu boleh minta apapun dariku, kecuali putusin aku!"


"Apa benar? Kamu akan melakukan apapun yang kuminta, asalkan, aku tidak memutuskanmu?"


Asuna mengangguk mantap.


"Apa kamu yakin?"


"Tapi setelah itu, aku ingin sesuatu darimu!"


"Apa itu?"


"Setelah aku melakukan yang kamu mau, baru aku akan memberitahumu, honey!"


Mendengar itu, Emu memutar bola matanya dengan jengah.


"Mumu, apa hukumanku?"


"Kamu serius, mau tau?"


"Iya donk, Mumu honey! Asalkan, kamu gak marah lagi!"


"Kamu beneran menyesal, gak sih? Kenapa kamu bersikap santai sekali?"


"Aku bersikap santai karena setidaknya, aku tidak jadi diputusin olehmu, honey!"


"Tapi aku ingin, kamu melakukan 3 hal untukku dulu!"


"Apa aja, honey?"


Mendengar itu, Emu menjadi tersenyum dengan smirk.


"Mudah aja, permintaan pertamaku adalah...."


Skip Lucky dan Hammy.


"Apa kamu sudah lebih baik?"


"Sudah, tapi baru sedikit!"


"Ya sudah, setidaknya, masalahmu sudah kelar dan takkan ada lagi teror yang menyerangmu!"


"Tapi aku itu gak habis pikir, beib! Kenapa Asuna bisa setega itu menerorku? Apa salahku padanya?"


"Aku rasa, itu semua bermula, saat Emu menyelamatkanmu dari tamparan Kairi, saat itu!"


Lalu Hammy mencerna ucapan kekasihnya.


Ia pun teringat sesuatu lalu menepok jidatnya.


"Ah, pantas aja! Kamu bilang gitu, aku jadi teringat sesuatu, beib! Waktu kamu dan Emu sedang mematung karena ucapan Kairi saat itu, yang soal tanggung jawab, Asuna menghampiriku dan meminta nomor ponselku! Kalau aku tau, ia memanfaatkan itu untuk menerorku, mana mungkin kukasih, beib! Aku menyesal telah memberikan nomor ponselku padanya! Tapi kamu hebat, beib, bisa tau siapa pelakunya!"


"Sudah kubilang, serahkan saja padaku! Lalu kamu juga sudah mendengar sendiri kan, saat aku mengucapkan ketiga bukti di cafe tadi?"


Hammy mengangguk.


"Lalu kenapa kamu menyewa detektif untuk mencari tau soal itu dan untuk mengikutiku, hem? Apa kamu takut, kalau aku akan menemui Tsukasa secara diam-diam? Lalu kenapa juga, kamu mengikutiku ke cafe? Kamu penasaran atau curiga padaku, beib?"


"Kamu tau soal itu?"


"Sejak awal, beib! Aku tau kok, kalau aku bilang untuk serahkan padaku maka kamu akan bertindak sendirian! Kamu itu polos dan lugu, apa kamu lupa soal itu, beib?"


"Jadi, semuanya adalah rencanamu?"


"Yup, semuanya bermula dari kampus! Dari aku berkencan dengan Jessica untuk membuatmu bersedih dan aku sangat yakin, kalau Emu akan berusaha untuk menenangkanmu dan benar saja, tak lama, saat dia memelukmu, ada yang memotret kalian!"


"Jadi kamu tak berkencan dengan gadis lain?"


"Tentu saja, tidak! Aku hanya memberikan si pelaku umpan! Jika dia suka menjadi kucing maka harus diberikan umpan supaya dia muncul! Lagipula, aku kan sudah berjanji untuk memberikan hatiku padamu dan belajar untuk mencintaimu, jadi mana mungkin, aku selingkuh darimu, beib?"


Hammy mengangguk paham.


"Lalu bagaimana kamu akan membayar detektif itu sekarang?"


"Iya, aku akan membayarnya besok!"


"Makanya lain kali, dengerin nasihat kekasihmu!"


"Iya, maaf! Tapi ngomong-ngomong, aku jadi kepikiran dengan alasan Asuna melakukan itu kepadaku, padahal aku dan Emu, tak ada hubungan apa-apa, apa mungkin Emu...sama aku?"


"Entahlah, hanya Emu sendiri yang bisa menjawab soal itu!"


"Tapi gimana, jika memang benar?"


"Apa yang kamu inginkan?"


"Jika memang benar maka kita tak bisa menunda lagi, aku mau...."


Kira-kira, apa yang diminta oleh Emu dari Asuna?


Kira-kira, apa yang diminta oleh Asuna dari Emu, sebagai ganti ia melakukan yang Emu mau?


Kira-kira, apa dugaan Hammy soal Emu?


Benarkah dugaan Hammy?


Apa yang akan dilakukan oleh Lucky kepada Emu, jika sampai, dugaan Hammy itu benar?

__ADS_1


Apa yang diinginkan oleh Hammy?


Next/stop? Like dan komen!


__ADS_2