Playboys Dan Playgirls Bersatu Karena Cinta

Playboys Dan Playgirls Bersatu Karena Cinta
Lucky, Tertangkap Basah Sedang Menemui Tsukasa


__ADS_3

Lucky saat ini, sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja.


Lucky saat ini, sedang terjebak di dalam situasi yang tidak menguntungkan baginya.


Lucky yang ingin berbaikan dengan Tsukasa malah, jalannya tertutup dengan rapat.


Lucky yang ingin mengakhiri hubungannya dengan Hammy, kini malah terjebak untuk bersamanya.


Lucky yang memutuskan untuk merebut Tsukasa dari Kairi, kini malah diancam oleh Hammy untuk melupakan dan menjauhi Tsukasa.


Jika dia tetap nekat maka video mereka yang semalam akan disebar oleh Hammy.


Jika sudah begitu, Tsukasa pasti akan kecewa dan membencinya, bahkan, kesempatan mereka untuk kembali bersama pun, menjadi nihil, alias nol.


Lucky sungguh, tidak mau itu terjadi.


Dia lebih memilih untuk melihat Tsukasa menolak dirinya, meski itu sakit, daripada harus merasakan kebencian Tsukasa terhadap dirinya. Itu jauh lebih menyakitkan baginya.


Siapa sih yang mau dibenci?


Siapa sih yang senang disakiti?


Siapa sih yang ingin dijauhi?


Tak ada! Apalagi oleh orang yang dicintainya.


Begitu pun dengan Lucky dan dalam hal ini, orang yang dicintai oleh Lucky adalah Tsukasa.


Lucky, saat ini sedang memikirkan ucapan Hammy.


Tapi dia tau dengan jelas, kalau waktu takkan bisa kembali diputar. Apa yang sudah terjadi, tidak bisa diulang.


Dia hanya bisa menyesali yang telah terjadi.


Dia kini sedang berpikir dari sisinya. Jika dia mau, dia bisa saja menyangkal dan gak mau mengakui perbuatannya, tapi, jika dia berbuat seperti itu, kasihan Hammy juga.


Dia juga akan dicap sebagai seorang pria yang tidak gentle. Dia bukan seorang gentleman.


Jika dia berpikir dari sisi Hammy, memang benar, apa yang dikatakannya.


Tak ada seorang pun yang mau menikahinya dan gimana, jika ia hamil, karena perbuatannya semalam.


Dia lalu berpikir, jika mereka berdua di sini sebenarnya adalah korban dari yang namanya, alkohol.


Dia kini bingung, apakah mungkin baginya untuk menjalani hubungan tanpa cinta ataukah dia harus belajar mencintai Hammy?


Dia tau betul, kalau Hammy di sini, sama sekali tidak salah, tapi dia juga tak mungkin bilang kepada Hammy, kalau semalam itu, dia melakukannya karena dia menganggap Tsukasa yang ada di depannya, bukan Hammy.


Di sini, timbul pertentangan batin di dalam diri Lucky.


Di satu sisi, dia harus belajar menerima kenyataan dan mungkin memang sudah saatnya untuk melepaskan dan melupakanTsukasa lalu belajar menerima Hammy di dalam hidupnya.


Di sisi lainnya, dia menyalahkan Hammy, karena ia menyerahkan dirinya kepadanya.


Dia tau, kalau Hammy pasti mau saja berbuat begitu, karena Hammy mencintai dan ingin memilikinya.


Tapi, jika dilihat dari sudut mana pun, sudah jelas kalau di dalam video itu, dialah yang memaksa Hammy karena terlihat ada paksaan di dalamnya dan Hammy sempat meronta.


Tanpa sadar, hal itu membuatnya melamun.


Lamunannya buyar, saat ada telpon masuk ke dalam ponselnya.


Dia pun melihat siapa yang menelponnya.


Dia menghembuskan nafas kasarnya, saat mengetahui siapa sang penelpon.


Dia memutuskan untuk tidak mengangkatnya karena ingin menenangkan dirinya.


Dia lalu berjalan ke arah taman kampus hingga melihat, sepasang kekasih sedang duduk di bangku taman kampus.


Dia begitu marah, saat melihat sang kekasih, merangkul mesra gadisnya. Mereka bahkan sedang mengobrol sambil bercanda tawa.


Dia mengeratkan tangannya karena sang gadis terlihat begitu bahagia dan dia tidak menyukainya.


Dia lalu menghampiri mereka.


Sepasang kekasih itu, tentu saja terkejut, saat melihat Lucky ada di hadapan mereka.


"Lucky, kenapa kamu ada di sini?"


"Aku ingin bicara denganmu! Bisakah aku minta waktunya, Tsukasa?"


Tsukasa tidak menjawab, tapi menoleh ke arah sang kekasih, seolah meminta ijin lebih dulu.


Hal ini membuat Lucky makin jengkel.


Sementara, sang kekasih hanya mengangguk.


"Ingat, aku hanya ijinkan sebentar! Ia sekarang adalah kekasihku! Aku tidak suka jika kekasihku dekat dengan pria lain, terutama dengan mantannya!"


Mendengar ucapan sang kekasih, membuat Lucky makin jengkel.


"Jaga bicaramu, Kairi! Aku hanya ingin bicara dengan Tsukasa!"


"Benarkah? Aku cuma takut, kalau kamu akan membawanya pergi!"


"Aku mau membawanya pergi atau tidak, itu bukan urusanmu!"


"Apa katamu? Bukan urusanku? Tentu saja urusanku! Ia adalah kekasihku! Siapa pun juga tau, kalau kamu masih menyimpan rasa padanya!"


"Itu adalah hakku!"


Tanpa mengucapkan apapun lagi, Lucky menarik tangan Tsukasa untuk ikut bersamanya.


Kairi yang melihatnya menjadi jengkel.


"Hei, lepaskan tanganmu dari kekasihku!"


Lucky, terus saja, berjalan sambil membawa Tsukasa bersamanya, tanpa menghiraukan teriakan Kairi di belakangnya.


Kairi semakin jengkel, karena Lucky, selalu saja mengganggu hubungannya dengan Tsukasa.


Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa menunggu.


Dia harus lebih percaya kepada Tsukasa.


Tapi melihat Lucky membawa Tsukasa tadi, sungguh membuatnya sangat marah.


Bagi yang tidak tau, justru, mereka lebih terlihat seperti sepasang kekasih.


Kairi duduk kembali sambil menatap langit. Dia sangat berharap, kalau Lucky akan berhenti mengganggu hubungan mereka.


Dia sungguh tidak suka karena kedatangan Lucky selalu mengusik hubungan mereka.


Dia bahkan berpikir, kalau Lucky menemui Tsukasa, pasti untuk memintanya balik kepadanya.


Dia sungguh lelah karena Lucky masih saja berharap untuk memiliki apa yang tidak bisa dimilikinya.


Dia bahkan sempat berpikir untuk menyusul mereka, tapi, jika begitu, Tsukasa akan kecewa padanya karena dianggap tidak mempercayainya.


Dia juga tidak mau dianggap, tidak gentle, karena seorang pria, bisa dipercaya atau tidaknya, dari kata-katanya.


Jika dia menarik ucapannya, artinya dia tidak konsisten.


Kairi hanya bisa mengusap wajahnya dengan kasar dan berharap agar kekasihnya segera kembali.


Dia sungguh tidak tenang meninggalkan mereka berduaan.


Sementara itu, di tempat lain.


"Lepaskan aku, Lucky! Kamu mau bicara apa? Kamu mau bawa aku ke mana?"


"Aku mau bicara denganmu, tapi tidak di sini!"


"Tidak mau! Lepaskan! Aku mau kembali ke tempat Kairi!"

__ADS_1


"Ayolah, Tsukasa! Kamu tidak mempercayaiku? Aku hanya ingin bicara denganmu!"


"Kalau begitu, bicara di sini!"


"Aku ingin bicara berdua denganmu. Apa segitu sulitnya?"


"Bicara di sini atau tidak sama sekali!"


"Kamu berani membentakku?"


"Karena kamu sudah keterlaluan dan bertindak kasar kepadaku!"


"Kamu berubah. Apa yang Kairi lakukan padamu hingga kamu berubah menjadi seperti ini, hah? Dulu waktu kita jadian, kamu lembut dan bicara manis, tapi kini, mulutmu penuh bentakan!"


"Kairi tidak melakukan apapun padaku! Kamulah yang membuatku menjadi seperti ini!"


"Aku tidak percaya padamu! Kairi pasti memaksamu seperti ini, kan?"


"Katakan saja, apa maumu, Lucky! Aku tidak suka, saat kamu menghina kekasihku!"


"Kekasih? Kamu kini menganggapnya sebagai kekasihmu? Bukannya kita sudah sepakat, kalau kita akan kembali bersama? Secepat itukah, hatimu berpaling kepadanya?"


"Kamu itu sudah menjadi kekasih Hammy! Jadi, jangan pernah mengganggu hubungan kami lagi!"


"Aku? Hammylah yang mengganggu hubungan kita! Ia itu orang ketiga di dalam hubungan kita! Ia yang sudah merebutku darimu!"


"Benarkah? Lalu kenapa, saat ia menciummu, kamu diam saja? Apa kamu sangat menikmatinya? Apa kamu lupa, kalau statusmu saat itu adalah masih kekasihku?"


"Ia memaksaku! Ia menarikku dan menciumku!"


"Apa kamu tidak bisa mencegahnya atau mendorongnya pelan? Kamu itu seorang lelaki, masa hal seperti itu saja, tidak bisa kamu hindari?"


"Sayang, kumohon! Maafkan aku! Kembalilah padaku!"


"Tidak! Kamulah yang menghianati aku dan hubungan kita duluan! Jangan pernah berharap untuk aku kembali bersamamu!"


"Sayang, kumohon!"


"Hentikan! Kita sudah putus dan aku sudah menjadi milik Kairi! Kamu sudah tidak berhak untuk memanggilku seperti itu!"


"Tapi aku benar-benar berharap, diberikan kesempatan untuk memperbaiki semuanya!"


"Lupakan masa lalu, Lucky! Majulah dan tatalah masa depan bersama dengan Hammy, mulai dari sekarang!"


"Apa sudah tidak ada kemungkinan lagi?"


Tsukasa mengangguk.


"Apa ada hal lain lagi? Jika tidak, aku mau kembali ke tempat Kairi! Aku tak mau membuatnya cemas karena terlalu lama menungguku dan membuatnya tidak percaya kepadaku."


"Ada satu hal yang ingin kusampaikan! Apapun itu yang berkaitan dengan aku, tolong, jangan percaya! Itu tidak seperti yang terlihat, tolong percaya padaku!"


Sementara itu, sang penelpon, dari tadi tidak bisa menghubungi Lucky karena Lucky mematikan ponselnya.


Ia mengeratkan genggamannya pada ponselnya, saking marahnya.


Ia lalu menelpon orang lain.


"Halo?"


"Iya, ada apa?"


"Aku gak mau basa - basi lagi! Apakah kekasihku, saat ini sedang bersamanya?"


"Tanpa perlu kuberitahu, aku yakin, kalau kamu sudah tau jawabannya!"


"Di mana mereka?"


"Entahlah, kekasihku langsung dibawa pergi begitu saja, seolah keberadaanku, tidak dianggap!"


"Lalu di mana kamu berada saat ini?"


"Di taman kampus!"


"Aku akan menemuimu! Tunggu aku! Aku yakin kalau mereka takkan jauh dari posisimu berada!"


"Iya! Keinginan kita sama, kok!"


"Baiklah, kutunggu!"


"Oke!"


Panggilan pun diakhiri.


Skip di taman kampus.


"Hai, Kairi!"


"Hai, Hammy!"


"Jadi, ke arah mana kekasihku membawa kekasihmu?"


"Ke arah sana!"


"Kita ke sana! Sudah berapa lama, mereka dibiarkan berduaan?"


"10 menit!"


"Apa? Apa kamu tidak curiga, kenapa mereka berdua bisa selama itu?"


"Sebenarnya aku tidak tenang, tapi aku percaya kepada kekasihku."


"Memang benar, tapi tidak dengan kekasihku! Apa kamu yakin, kalau Lucky akan diam saja? Kamu tau kan, kalau Lucky masih berusaha untuk mendapatkan kekasihmu? Apa kamu yakin, kalau Tsukasa akan aman berduaan dengan Lucky? Apa kamu tidak terpikir, kalau Lucky akan nekat menculik Tsukasa? Lalu kamu? Tidak tau apa-apa dan tidak bisa menolong Tsukasa, bukankah itu sama saja, kalau tidak ada yang akan menolong dan menjaga Tsukasa?"


Hening sesaat.


"Ya, kamu memang benar! Ayo, kita menyusul mereka ke arah sana!"


"Ayo!"


Mereka pun menyusul ke arah Lucky dan Tsukasa dengan perasaan jengkel dan tidak tenang.


"Awas kamu, Lucky! Jika sampai kamu menculik dan menyakiti Tsukasa, aku takkan pernah memaafkanmu!"


"Beib, kamu main-main denganku? Maka jangan salahkan aku, jika berbuat nekat nantinya!"


Mereka terus berlari sambil menengok ke kiri dan kanan.


Entah, siapa duluan yang melihat mereka.


Mereka terus mencari, bahkan bertanya kepada mahasiswa ataupun mahasiswi yang berpapasan dengan mereka, lewat foto.


Kairi menunjukkan foto Tsukasa dan Hammy menunjukkan foto Lucky.


Untung saja, ada yang melihat mereka dan menunjukkan arahnya.


Mereka saling pandang lalu berterimakasih atas informasi yang diberikan, lalu bergegas ke sana, sebelum apa yang mereka takutkan, terjadi.


Mereka terus menengok ke kanan dan kiri hingga Kairi yang melihat duluan dan menghentikan langkahnya.


Matanya melotot dan tangannya dikepalkan di pinggang. Dia terlihat sangat marah.


Hammy lalu mengikuti arah pandang Kairi. Ia juga sama kesalnya.


Mereka lalu segera menghampiri kedua orang itu untuk menghilangkan pandangan menyakitkan, yang bisa bikin mata dan hati memanas.


Gimana tidak? Lucky dengan sangat jelas, memeluk Tsukasa dari belakang.


Tsukasa pun hanya menundukkan kepalanya, tidak melawan sama sekali.


Kairi langsung menarik bahu Lucky ke belakang dan menghajarnya tanpa ampun hingga pipi Lucky bengkak dan sudut bibirnya membiru dan mengeluarkan sedikit darah.


"Kairi, kenapa kamu menghajarku, hah?"


"Apa yang mau kamu lakukan kepada kekasihku, hah?"

__ADS_1


"Itu bukan urusanmu! Kami sedang bicara dan kamu mengacaukan segalanya!"


"Mengacaukan? Kamu itu sedang memeluk kekasihku! Apa mungkin aku akan tinggal diam, begitu, hah?"


Kairi kembali menghajar Lucky.


Kali ini, Lucky melawan Kairi. Mereka pun berkelahi.


Perkelahian itu menyita perhatian para mahasiswa dan mahasiswi yang ada di sana.


"Inikah yang kamu mau, Tsukasa? Lihat, kedua orang pria itu sedang memperebutkanmu! Sementara aku? Tidak bisa menjalani hubungan dengan kekasihku, karena apa? Karena kamu! Kamu adalah penghalangku dan Lucky!"


"Aku tidak bermaksud!"


"Tidak bermaksud? Lalu kenapa kamu diam saja, saat kekasihku sedang memelukmu, hah? Kenapa kamu tidak meronta atau melawannya, hah? Apa kamu sangat menikmati pelukannya? Lupa, kalau kamu sudah memiliki kekasih? Kamu kan bisa saja menelponku atau Kairi, di saat Lucky mulai memaksamu, tapi tidak, kan? Kenapa? Kamu masih memiliki rasa padanya, kan?"


"Kamu salah paham, Hammy!"


"Salah paham? Bukan cuma aku, tapi Kairi juga melihatnya! Salah paham, apanya?"


"Apa yang kamu inginkan sebenarnya?"


"Aku mau kamu menyingkir dari hidup Lucky dan berhenti mengusik hubungan kami! Kamu tau, aku dan Lucky memiliki sebuah rahasia yang sangat mengejutkan! Aku yakin, setelah melihat ini kamu takkan mau kembali padanya, bahkan mungkin, jijik dan benci padanya!"


"Rahasia?"


"Iya, sebuah rahasia penting! Apa kamu mau melihatnya?"


"Aku...?"


Mendengar ucapan soal rahasia, Lucky langsung menyudahi perkelahiannya dengan Kairi dan bergegas menghampiri Hammy.


Tepat dugaannya, karena terlihat, Hammy sedang mengeluarkan ponselnya dari dalam tasnya. Dia langsung teringat, ancaman Hammy kepadanya soal semalam.


Dia langsung bergegas untuk merebut ponsel itu dari tangan Hammy dan membawanya pergi dari sana, sebelum semuanya terlambat dan apa yang ditakutinya, terjadi.


"Aku...."


"Gimana, Tsukasa? Apa kamu tidak penasaran?"


Tsukasa mulai terpancing dan penasaran, ingin tau, apa yang akan diperlihatkan oleh Hammy.


"Iya, aku mau tau!"


Hammy lalu mengeluarkan ponselnya. Dia mengotak-atik ponselnya sambil tersenyum smirk.


Setelah ketemu.


"Baiklah, perhatikan baik-baik! Kamu pasti akan terkejut dengan apa isinya dan kamu takkan pernah menyangka, kalau mantanmu bisa bertindak seperti ini! Untung saja, kamu tidak menjadi korbannya!"


Hammy pun menyodorkan ponselnya.


Tsukasa pun mencoba untuk meraih ponsel dari tangan Hammy.


Saat sudah di tangannya dan hendak dibuka, tangannya terhenti!


"Tunggu! Jangan dibuka karena isinya tidak penting!"


"Kenapa, beib? Kamu takut, kalau Tsukasa akan mengetahui soal rahasia kita?"


Tanpa menjawab Hammy, dia merampas ponsel Hammy dan membawanya pergi dari sana.


"Beib, bukannya kamu ingin, kita berkencan sehabis kuliah? Gimana kalau sekarang supaya waktu berkencan kita masih panjang?"


"Tapi bukannya, kamu sedang bicara dengan Tsukasa?"


"Ah, tidak kok! Sudah selesai! Kamu kan kekasihku, jadi kamu yang harus kuutamakan! Tsukasa, makasih atas waktunya! Kami pergi kencan dulu dan makasih ya, Kairi, karena sudah mengijinkanku bicara dengan kekasihmu!"


Lucky lalu menarik tangan Hammy dan dengan cepat, pergi dari sana.



Kepergian Lucky yang tiba-tiba, menimbulkan tanda tanya di hati Tsukasa dan Kairi.


Lucky, langsung membawa Hammy ke parkiran dan mereka menaiki mobilnya.


Lucky duduk sambil menghela nafas lega.


Hammy duduk di samping Lucky dan menoleh ke arahnya.


"Kenapa, beib? Kok kamu pucat? Apa kamu takut?"


Lucky langsung menoleh ke arah Hammy dan dia terlihat sangat marah.


"Apa kamu sudah gila, hah? Membeberkan soal itu kepada Tsukasa?"


"Kenapa? Kan hanya Tsukasa atau kamu mau aku beberkan juga ke Asuna, Kairi dan Emu? Supaya mereka tau kalau kamu itu, tipe lelaki yang tidak bertanggungjawab! Aku yakin, Tsukasa akan menatapmu jijik dan membuatku semakin cepat untuk memilikimu!"


"Jangan gila, Hammy!"


"Kamu kan yang menantangku dan tak percaya kalau itu akan kulakukan?"


"Kenapa kamu rela mempermalukan dirimu?"


"Itu semua demi mempertahankanmu! Aku tak peduli lagi dengan cara apapun yang kupakai dan ingat, aku jadi begini karena ulahmu! Aku ingatkan sekali lagi, kalau aku bisa bertindak nekat! Jadi jauhi dan lupakan Tsukasa! Tidak ada kesempatan kedua dan ingat, kamu harus memanggilku, beib! Juga...."


"Di depan Tsukasa, aku harus mengenalkanmu sebagai calon istriku!"


"Ututututu, ternyata ingatan kekasihku masih bagus! Nah, sekarang mari kita berkencan!"


Lucky memutar bola matanya jengah dan mulai menyalakan mesin mobilnya, juga melajukannya untuk berkencan dengan Hammy.


Dia benar-benar tertangkap basah dengan Tsukasa dan kini dia juga tau, kalau Hammy tidak main-main dengan ancamannya! Ia bisa bertindak nekat!


Lucky, benar-benar terjebak dengan Hammy!


Mau gak mau, dia harus membuat keputusan dan janji kepada Hammy.


Sementara Hammy, tersenyum puas. Ia sama sekali tidak menyesal soal kejadian semalam, malah menjadikannya sebagai senjata untuk menahan Lucky di sisinya.


Ia sempat menyesal, kenapa hal itu, tidak terpikir sejak lama olehnya.


Kira-kira, apa rahasia yang mau ditunjukkan oleh Hammy kepada Tsukasa?


Apakah benar dugaan Lucky?


Bagaimana perasaan Tsukasa, saat mengetahuinya? Akankah sesuai dengan keinginan Hammy?


Apakah isi keputusan dan janji Lucky kepada Hammy?


Bagaimana perasaan Hammy, saat mengetahui keputusan dan janji Lucky? Akankah senang atau justru kecewa, bahkan marah?


Dapatkah Lucky menepati janjinya dan melakukan keputusannya?


Benarkah Tsukasa masih memiliki rasa kepada Lucky?


Bagaimana reaksi Kairi dan apa yang akan dilakukannya, jika memang benar, itu kenyataannya?


Sanggupkah dia menerima kenyataan itu dan melepaskan Tsukasa?


Atau justru marah dan mengikat Tsukasa?


Dapatkah Lucky mengenalkan Hammy sebagai calon istrinya di depan Tsukasa, nantinya?


Bagaimana respon Tsukasa soal ini? Sanggupkah ia menerima kenyataannya, atau justru, merasa sedih dan kecewa kepada Lucky?


Apa yang akan dilakukan oleh Kairi untuk menenangkan Tsukasa?


Bagaimana respon Emu saat mengetahui soal ini, kalau gadis yang dicintainya sudah menjadi calon istri dari Lucky?


Apa yang akan dilakukan oleh Asuna, saat melihat reaksi Emu nantinya?


Apakah ia akan semakin membenci Hammy, atau justru, mempunyai kesempatan untuk memiliki Emu?


Akankah Emu bisa menerima kenyataan dan tetap mendukung Hammy, juga mencoba untuk menerima Asuna di dalam hidupnya, atau justru, akan menjadikan Asuna sebagai pelariannya saja?

__ADS_1


Apa yang akan terjadi selanjutnya?


Next / stop? Like dan komen!


__ADS_2