Playboys Dan Playgirls Bersatu Karena Cinta

Playboys Dan Playgirls Bersatu Karena Cinta
Niat Hammy Meminta Maaf, Berujung Kericuhan


__ADS_3

Saat ini, Kairi baru saja menjemput Tsukasa dan mereka kini sedang berada di dalam mobil Kairi.


Di sepanjang perjalanan hanya ada keheningan yang menemani.


Kairi dan Tsukasa tidak ada yang memulai pembicaraan.


Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.


Kairi sibuk memikirkan, apa alasan, alamat yang diberikan oleh Tsukasa adalah rumah Lucky.


"Apa mereka bersama? Kok bisa? Apa yang membuat mereka bersama?"


Dia berpikir sambil mata fokus ke depan, meski sesekali melirik ke arah Tsukasa.


Tsukasa hanya diam sambil memandang ke arah luar jendela.


Hal itu yang membuat Kairi yakin, kalau Tsukasa sedang tidak dalam mood, ingin bicara.


Dia pun memutuskan untuk diam.


Dia ingin Tsukasa sendiri yang menceritakannya, tanpa memaksanya.


Sementara Tsukasa sendiri, sibuk dengan pikirannya.


"Apa benar, kalau aku ini adalah calon pelakor? Tapi kata orang-orang di supermarket itu, kalau aku cocok dengan Lucky? Apa iya, mata Lucky masih memancarkan cinta untukku? Apa iya, aku telah salah karena sudah memutuskan Lucky? Haruskah aku memberikan Lucky kesempatan untuk kembali bersama? Tapi, gimana dengan Hammy dan Kairi? Jika aku melakukan itu maka aku akan menyakiti hati Hammy. Aku pun sudah berjanji kepada Kairi, kalau aku akan belajar mencintainya dan menerimanya di dalam hidupku. Jika aku kembali sama Lucky maka aku akan menyakiti hati 2 orang. Aku akan menghancurkan masa depan Hammy, seolah aku membalasnya karena sudah merebut Lucky dariku. Lalu untuk Kairi pun, seolah aku mendepak Kairi, seolah aku tidak menghargai perasaan dan cintanya untukku. Aku harus gimana? Bisakah aku melakukan itu?"


Tsukasa lalu menghela nafas berat.


Tiba-tiba saja, kepalanya terasa berat dan pening. Ia pun memijat pelipisnya pelan.


Tanpa ia sadari, hal itu terlihat oleh Kairi.


"Kamu kenapa? Apa kamu sakit kepala? Mau ke dokter?"


Tsukasa lalu menoleh ke arah Kairi.


"Tak perlu, sayang! Aku hanya lelah dan aku hanya ingin beristirahat, kok. Bisakah kamu melajukan mobilmu lebih cepat, sayang?"


"Tidak bisa, sayang karena keselamatan jauh lebih utama. Apa kamu mau karena aku mengebut lalu terjadi sesuatu?"


Tsukasa menggeleng.


"Kamu tidur saja dulu, nanti aku akan membangunkanmu, kalau kita sudah sampai!"


Tsukasa mengangguk lalu menidurkan posisi bangku di mobil Kairi.


Dalam sekejab, Tsukasa tertidur lelap.


Kairi yang melihat Tsukasa tertidur, menepuk dan mengelus lembut rambutnya lalu tangan kirinya, dia pakai untuk menggenggam salah satu tangan Tsukasa.


Dia pun melambatkan laju mobilnya karena tidak ingin membangunkan Tsukasa.


45 menit perjalanan ditempuh.


Tibalah Kairi di rumah Tsukasa.


Dia memarkirkan mobilnya lalu turun. Dia membuka perlahan pintu mobil di sisi Tsukasa. Dia menoleh ke arah Tsukasa yang sedang tertidur pulas dan merasa tidak tega untuk membangunkannya.


Dia lalu mengacak isi tas Tsukasa perlahan untuk mencari kunci pintu rumahnya.


Setelah ketemu, dia mengambilnya lalu membuka kunci pintu depannya.


Dia masuk lalu membuka pintu kamar. Barulah kembali ke mobil.


Dia menggendong Tsukasa ala bridal style, masuk ke dalam rumahnya lalu perlahan, membaringkannya di atas kasur yang empuk.


Setelah memastikan Tsukasa tidur dengan nyenyak dan nyaman, dia kembali ke mobilnya untuk menutup dan mengunci pintu mobilnya.


Lalu dia masuk ke dalam dan mengunci pintu depan dari dalam.


Dia memutuskan untuk berbaring di sofa sambil menunggu Tsukasa bangun.


Tak lama, Kairi juga tertidur pulas karena hari ini merupakan hari yang paling melelahkan untuk mereka berdua.


Skip Lucky dan Hammy.


Selepas kepergian Kairi dan Tsukasa, Hammy makin menempel sama Lucky dan terus membujuknya untuk masuk ke dalam kamar.


"Beib, ayo!"


"Iya, iya, kalau kamu sudah mengantuk, duluan saja!"


"Gak mau, maunya sama kamu!"


Lucky mengusap wajahnya dengan kasar lalu menuruti keinginan Hammy dan mulai berjalan masuk ke dalam kamar.


Hammy yang melihat itu, pun tersenyum.


Ia lalu berjalan menyusul Lucky.


Setelah sampai di dalam, Hammy mengunci pintu kamar Lucky dari dalam lalu berbaring sambil menunggu Lucky yang sedang mandi dan ganti baju.


20 menit kemudian.


Terlihat Lucky keluar dari kamar mandi dengan baju ganti lalu berjalan ke arah ranjang.


Dia pun mulai berbaring.


Hammy lalu menghampiri Lucky dan memeluknya erat, seolah tak mau melepaskannya.


Lucky hanya diam membiarkan.


Hammy membaringkan kepalanya di bahu Lucky dan mencari kenyamanan dan tak lama, ia pun tertidur dengan pulas.


Lucky melirik Hammy dan menggelengkan kepalanya lalu dia menyusul Hammy ke alam mimpi.


Mereka bangun di saat jam makan malam tiba.


Mereka pun menikmati makan malam di rumah masing-masing.


Kairi dan Tsukasa di rumah Tsukasa, sementara Lucky dan Hammy di rumah Lucky.


Selesai makan malam, Kairi dan Hammy yang bertugas untuk membersihkan dan merapikan meja lalu Lucky dan Tsukasa yang bertugas mencuci piring dan peralatan makan bekas pakai.


Sehabis makan malam, mereka kembali melanjutkan aktivitas masing-masing.


Kairi dan Tsukasa bicara mengenai hari ini.


Lucky dan Hammy menonton tivi sambil bicara karena Lucky, berutang penjelasan kepadanya.


"Jadi beib, kapan kamu mau menjelaskan dan apa penjelasanmu?"


"Oke, dengarkan baik-baik, ya! Jangan gunakan dulu emosi dan cemburumu, oke?"


"Iya, beib, aku janji!"


Lucky mengangguk.

__ADS_1


Dia pun mulai menceritakan kejadian yang sebenarnya. Semuanya secara mendetail, tanpa ada yang dikurangi atau dilebihkan.


Hammy hanya mendengarkan dalam diam dan dengan seksama karena sudah berjanji untuk tidak menggunakan emosinya sampai Lucky selesai bercerita.


Selesai bercerita.


"Jadi, begitu ceritanya! Ini murni, bukan kesalahan dari Tsukasa! Kamu sudah menuduhnya atas sesuatu yang tidak ia perbuat! Jika kamu mau menyalahkan seseorang maka salahkan saja aku yang tidak bisa menjaga perasaanmu!"


"Jadi murni, kalian ketemu karena kebetulan?"


Lucky mengangguk.


"Jadi murni, ini semua adalah salah paham?"


"Seperti kataku tadi! Gak semua yang terlihat itu, sama dengan kenyataannya, lain kali, kamu bisa bertanya kepadaku dulu dan jangan asal menuduh, tanpa bukti, karena terkadang, melalui perkataanmu, bisa menyakiti hati orang lain, apa kamu paham?"


"Aku cemburu, beib! Kamu selalu saja membahas atau membawa Tsukasa dan juga, selalu ingin kembali bersamanya."


"Tapi, kenyataannya? Semua gak terbukti, kan?"


"Iya, maafkan aku, beib! Aku sudah salah karena menuduhmu selingkuh!"


"Jangan minta maaf padaku, tapi pada Tsukasa, kamu sudah menghinanya, sedemikian rupa!"


"Tapi, aku takut!"


"Ada aku, aku akan menemanimu, saat kamu minta maaf padanya!"


"Apa itu benar?"


Lucky mengangguk.


"Makasih, beib!"


"Sama-sama! Lalu kapan kamu akan meminta maaf padanya?"


"Lusa, sepulang kampus."


"Baiklah, lusa, aku akan menemanimu, sekalian kita pulang bersama."


"Makasih, beib!"


"Sama-sama."


"Apa kamu sudah mengantuk?"


Hammy mengangguk.


Lucky lalu mematikan tivinya dan mereka berjalan ke arah kamar.


Hammy mengekori sambil tersenyum.


Begitu masuk ke dalam kamar, Lucky langsung berbaring dan tak lama, dia tertidur pulas, mungkin dia kelelahan saat ini.


Hammy yang tak tega, memutuskan untuk mengunci pintu kamar Lucky dari dalam lalu segera menyusul Lucky ke alam mimpi.


Skip Kairi dan Tsukasa.


"Jadi, bisa katakan padaku, apa yang terjadi?"


"Kamu sungguh ingin tau?"


"Tentu saja karena aku ini adalah kekasihmu, jadi aku ingin, tak ada rahasia di antara kita!"


"Jadi, waktu aku di supermarket, aku digoda dan diganggu oleh preman! Jika saja, Lucky tidak ada di sana dan menolongku tepat waktu maka aku, mungkin...."


"Iya, jika Lucky tidak datang tepat waktu!"


"Sepertinya aku berutang budi padanya dan harus berterimakasih karena dia sudah menyelamatkanmu!"


"Apa kamu serius?"


"Kapan aku pernah bermain-main dengan perkataanku, sayang?"


"Lalu kapan kamu akan mengatakannya kepada Lucky?"


"Lusa, sepulang kampus!"


Tsukasa mengangguk.


"Ini sudah larut, gimana kalau kita tidur sekarang?"


Tsukasa kembali mengangguk.


Mereka pun tidur terpisah. Tsukasa di kamarnya, sedangkan Kairi di sofa.


Saat Kairi sedang berbaring, dia mengingat sosok Hammy yang keluar dari dalam kamar Lucky, saat dia datang tadi.


"Kenapa Hammy bisa ada di sana? Apa ia menginap? Kenapa Hammy bisa keluar dari dalam kamar Lucky? Apa hubungan mereka sudah sejauh itu? Ah, sudahlah! Kenapa aku jadi memikirkan mereka, sih?"


Kairi pun memutuskan untuk kembali tidur karena menurutnya, tidak penting memikirkan hubungan Lucky dan Hammy.


Keesokan harinya.


Kairi dan Tsukasa berkencan untuk menggantikan hari kemarin.


Lucky menepati janjinya kepada Hammy dan membuat dirinya tersenyum.


Hari pun kembali berlalu.


Keesokan harinya.


Sudah saatnya untuk para tokoh kita, kembali menjadi mahasiswa dan mahasiswi.


Mereka mengikuti pelajaran dengan baik hingga akhir.


Skip akhir pelajaran.


Lucky mengirim pesan kepada Tsukasa, kalau dia ingin menemuinya, karena ada yang mau disampaikan oleh Hammy.


Tak lama, ada pesan dari Tsukasa, yang mengatakan, kalau Kairi juga ingin menemuinya dan bicara kepadanya.


Lucky lalu menyarankan agar mereka bertemu di lobi kampus dan Tsukasa menjawab setuju.


Selesai berkirim pesan, Lucky menuju ke kelas Hammy dan menjemputnya. Dia mengatakan untuk menemui Kairi dan Tsukasa di lobi kampus.


Hammy mengangguk lalu mereka pergi ke lobi kampus.


Skip Kairi dan Tsukasa.


Tsukasa mengirim pesan dari Lucky ke ponsel Kairi dan Kairi sudah membalas oke.


Tak lama, Kairi terlihat menghampirinya lalu mereka pergi ke lobi kampus.


Skip di lobi kampus.


"Oke, jadi kita semua sudah berkumpul di sini! Siapa yang mau bicara duluan?"

__ADS_1


Hening.


Suasana sungguh berubah menjadi canggung.


"Baiklah, Hammy, karena kamu seorang gadis, jadi sebaiknya, kamu duluan!"


Hammy melirik ke arah Lucky dan Lucky mengangguk.


Hammy lalu maju dan menghampiri Tsukasa.


"Maaf, aku tak bermaksud untuk menghinamu! Aku hanya melakukan itu karena cemburuku! Aku sungguh gila akal, saat melihat Lucky bersamamu! Jika bersama wanita lain, mungkin aku takkan semarah itu, hanya saja, kita semua tau, kalau Lucky masih sangat mencintaimu dan ingin, kalian kembali bersama. Hatiku langsung tak bisa menerimanya, ditambah dengan kedatangan kalian berdua, membuatku langsung emosi! Maafkan aku, Tsukasa!"


"Apa kamu tau, kalau perkataanmu saat itu, sungguh kasar dan menyakiti perasaanku? Apa kamu pernah berpikir, jika seandainya perkataanmu, kukembalikan kepadamu, apa yang akan kamu rasakan dan lakukan?"


"Itu memang salahnya, bisakah kamu memaafkannya, Tsukasa, karena Hammy, sungguh sangat menyesal?"


"Tapi, apa ia bisa menggantikan perasaanku yang terluka?"


"Tsukasa, bisa kita bicara sebentar?"


"Tapi, Lucky?"


"Kumohon!"


"Huh!"


Tsukasa lalu berjalan ke arah lain dengan emosi, sambil diekori oleh Lucky.


Terlihat mereka sedang berdebat. Entah, mereka sedang berdebat soal apa.


Kairi dan Hammy hanya bisa menatap mereka dalam diam.


Kairi lalu menghampiri Hammy karena ada yang membuatnya penasaran.


"Hammy, tadi kamu bilang, kalau kamu sempat menghina Tsukasa? Memang kamu menghina apa, dirinya?"


Hammy menggigit bibirnya dan menunduk. Ia takut untuk bercerita.


Ia memejamkan matanya untuk mengumpulkan keberanian.


Lalu ia membuka matanya perlahan dan mulai bercerita.


Mendengar itu, Kairi sangat emosi. Sungguh dia tak menyangka, kalau Hammy bisa setega itu, menghina kekasihnya.


Semarah apa pun dirinya, dia tak pernah menghina Tsukasa.


"Hammy, apa kamu sadar dengan perkataanmu itu? Atas dasar apa, kamu menghina kekasihku? Tak bisakah, kamu menjaga mulutmu? Beraninya, kamu menghina kekasihku, untung saja, kamu seorang gadis, jika tidak maka aku pasti akan memukulmu!"


"Aku kan sudah minta maaf, Kairi! Aku sungguh, tak bermaksud mengucapkan hal seperti itu! Rasa cemburu butaku, yang membuatku, tak sengaja mengeluarkan kata-kata menyakitkan, seperti itu! Aku sadar, kalau aku telah salah makanya aku kemari untuk minta maaf padanya!"


Tanpa sadar, ucapan Hammy menarik perhatian orang sekitar, termasuk Lucky dan Tsukasa, yang sempat berdebat.


Kairi terlihat sangat marah dan tak hentinya, membentak Hammy, membuat Lucky mulai emosi.


Dia memang seorang playboy, tapi dia juga tau, caranya menghargai seorang wanita.


Dia memang membentak Hammy, tapi untuk menghentikan Hammy dan membuatnya sadar kalau perbuatannya itu salah, bukan malah, menyudutkannya dan mempermalukannya di depan umum, seperti ini.


Lucky, sungguh tidak terima. Dia memang belum mencintai Hammy, meski begitu, status mereka saat ini adalah sepasang kekasih.


Melihat kekasihnya dihina dan dipermalukan, tentu saja, emosinya, ikut terpancing.


Dia mengakhiri pembicaraannya dengan Tsukasa lalu menghampiri Kairi dan Hammy.


Terlihat, Kairi mulai mengayunkan tangannya.


Lucky yang berpikir, kalau Kairi hendak menampar Hammy, langsung berlari dan berniat untuk menghentikannya.


Tapi sayang, dia terlambat untuk melakukannya.


Aksinya terhenti karena ada sepasang tangan, yang lebih dulu mencegah aksi Kairi.


Lucky pun merasa lega dan bingung bersamaan.


"Kenapa dia bisa ada di sini? Kebetulan, ataukah...? Ah sudahlah, setidaknya, aksi Kairi terhenti!"


Lucky pun kembali berlari, menghampiri Hammy dan berniat untuk menenangkannya karena dia yakin, kalau kekasihnya saat ini, pasti sedang ketakutan.


Benar saja, tubuhnya terlihat gemetaran, yang menandakan, kalau kekasihnya itu, pasti sebentar lagi akan menangis.


Dia menarik tubuh Hammy dan merangkulnya erat.


Tak lama, Hammy menangis di dada Lucky.


Lucky merangkul erat Hammy untuk menenangkannya.


"Beib, aku takut! Aku mau ditampar!"


"Tenang, ada aku di sini! Dia gak akan berani untuk menamparmu!"


Hammy mengangguk pelan sambil tetap sesegukkan.


Skip Kairi dan orang itu.


"Ada hak apa, kamu menyakiti Hammy, hah? Kamu boleh saja memarahinya, tapi aku tak terima, jika kamu sampai menyakitinya, apalagi di depan mataku, jangan harap aku akan tinggal diam!"


Ucapan orang tersebut memicu berbagai reaksi.


"Kenapa kamu membela Hammy, hah?"


"Kenapa dia membela Hammy sampai segitunya? Apa mungkin dia...?"


"Apa yang kamu lakukan di depan kekasihku? Kenapa kamu membelaku, yang seharusnya menjadi tugas dari kekasihku?"


"Sikapnya berbeda dan terlihat emosi, apa mungkin, dia terhadap Hammy?"


"Mulai lagi, deh! Selalu saja, begini! Ih, kesel!"


Kira-kira, apa yang mau dilakukan oleh Kairi terhadap Hammy?


Benarkah dia hendak menampar Hammy?


Siapa yang menahan Kairi agar tidak menampar Hammy?


Siapa yang kesel dan tidak setuju dengan apa yang dilakukan oleh orang itu?


Apa yang akan terjadi selanjutnya?


Bagaimana dengan niat Kairi yang awalnya, ingin berterimakasih kepada Lucky? Akankah terlaksana?


Apa yang akan dilakukan oleh Lucky kepada Kairi, saat melihat kekasihnya, hendak ditampar?


Apa yang akan dilakukan oleh Lucky terhadap si pembela kekasihnya?


Akankah orang itu bisa menjelaskan alasannya membela Hammy dengan tepat agar tidak membuat yang lain, curiga kepadanya?


Next/stop? Like dan komen!

__ADS_1


__ADS_2