
Saat ini, suasana sedang tegang memanas.
Niat Lucky untuk menolong Tsukasa malah membawa dampak buruk.
Dampak buruk itu, bukan baginya, tapi bagi Tsukasa.
Di sini memang Lucky yang salah.
Pertama, dia lupa, kalau Hammy sedang ada di rumahnya dan berniat untuk menginap.
Kedua, dia memang lupa, kalau dia sudah berjanji akan menjauhi Tsukasa.
Ketiga, dia lupa, kalau Hammy sangat membenci Tsukasa.
Keempat, dia lupa memberi kabar kepada Hammy, kalau dia akan pulang terlambat.
Kelima, dia lupa, kalau dia sudah berjanji akan belajar mencintai Hammy dan menyerahkan hatinya untuk Hammy.
Dia sudah berjanji akan memberi Hammy kesempatan untuk masuk ke dalam hatinya.
Dia juga sudah berjanji akan mulai perlahan menganggap Hammy adalah kekasih resminya.
Baru setelah itu, mereka akan membahas soal bertunangan. Diakhiri dengan soal pernikahan.
Tapi semua itu, rusak total.
Dia harus kembali mengecewakan Hammy dengan membawa Tsukasa ke rumahnya.
Dia mengerti kok karena di sini, Hammy berhak marah padanya.
Tapi bukan berarti, ia boleh menghina Tsukasa.
Itulah sebabnya, Lucky kembali membentak Hammy, apalagi di saat, Hammy mulai menghina Tsukasa dan membuatnya menangis.
Hati Lucky sangat sakit.
Tapi bukannya mereda, Hammy malah makin menjadi.
Terlihat, Hammy mengeluarkan senyum smirknya dan terus saja, menghina Tsukasa.
Lucky pun memutuskan untuk memeluk Tsukasa untuk menenangkannya.
Hal itu malah membuat Hammy, tambah emosi kepadanya.
Lucky pun akhirnya sudah tak tahan lagi akan sikap Hammy.
"Hammy, hentikan! Kamu sudah benar-benar keterlaluan!"
"Benarkah? Bahkan di saat seperti ini saja, kamu masih membelanya! Apa kamu memikirkan perasaanku, saat sedang bersamanya tadi?"
"Hammy, kamu...!"
Tsukasa memeluk Lucky erat, membuat Lucky menoleh ke arahnya dengan sedikit menunduk.
Terlihat Tsukasa menggeleng pelan.
Lucky pun berusaha menahan emosinya dengan mengepalkan salah satu tangannya.
Dia lupa, kalau Hammy sedang marah lalu dibentak, malah membuatnya, tambah emosi.
Hammy harus diberikan pengertian.
Lucky lalu melepaskan kepalan di satu tangannya yang tadi dan menarik nafas dalam lalu menghembuskannya perlahan berulang kali untuk meredam emosinya.
Plok! Plok!
"Bahkan Tsukasa bisa meredam emosi kekasihku! Kamu benar-benar hebat dalam mengendalikan kekasihku, pelakor!"
"Sabar, Lucky, sabar!"
ucapnya dalam hati berulang kali untuk menahan emosinya yang makin meninggi.
"Tsukasa, apa sih yang sudah kamu lakukan kepada Lucky hingga membuat Lucky, begitu setia mencintaimu? Apa yang sudah kamu berikan kepadanya hingga Lucky sulit sekali menjauhkanmu dari kehidupan kami? Tolong katakan padaku, apa yang harus kulakukan supaya aku bisa berada di posisimu! Tolong beritahu aku, cara untuk membuatnya menetap di sisiku, sama sepertimu, yang begitu menangis, langsung mendapatkan pelukan hangat darinya, padahal kita tau persis, yang lebih membutuhkan pelukan hangat di sini, itu siapa?"
Tsukasa yang paham akan maksud dari Hammy, berusaha melepaskan diri dari pelukan Lucky.
Lucky yang paham akan maksud dari Tsukasa, pun melepaskan Tsukasa dari pelukannya.
"Miris banget, ya! Udah melihat kekasihku, berduaan dengan mantan, membelanya, bahkan saling berpelukan di depan mataku! Aku tak tau, apa aku harus tertawa atau justru, malah menangis! Selamat Tsukasa, kamu selalu berhasil membuat Lucky berpaling dariku, bahkan, jika tidak kusindir, kalian akan terus berpelukan, seperti tadi, kan?"
"Kamu itu salah paham, aku melakukan itu, hanya untuk menenangkannya karena kamu sudah keterlaluan dan menghina Tsukasa."
Lucky sudah mulai bisa meredam emosinya.
"Percuma ya, kayaknya, aku mau bicara apapun, kamu akan tetap membelanya! Terserah kamu sajalah mau membawanya pergi ke mana pun, aku tak peduli, asalkan kamu ingat saja untuk pulang!"
Selesai berucap, Hammy masuk ke dalam rumah Lucky.
Lucky benar-benar merasa tidak enak kepada Tsukasa.
Ini semua adalah kesalahannya, tapi kenapa, Tsukasa yang harus menderita, terluka karena ulahnya?
Lucky menghembuskan nafas berat.
"Maafkan soal tadi, ya? Aku tau, ucapan Hammy tadi sungguh sangat keterlaluan dan ia menghinamu habis-habisan. Aku akan menjelaskan semuanya kepadanya setelah ia tenang. Aku yakin, kalau ia pasti akan menyesal dan minta maaf padamu."
"Tapi apa salahku hingga ia menghinaku? Aku tau, kalau aku salah karena berada di dekatmu, tapi ini, bukan keinginanku!"
"Iya, aku tau itu! Ini semua salahku! Seandainya saja, tadi aku mengantarmu pulang lalu mencari alasan lain kenapa aku pulang terlambat maka hal seperti ini takkan terjadi padamu! Aku sungguh sangat menyesal, Tsukasa! Kamu tidak pantas untuk dihina dan disakiti."
"Bahkan ia menyebutku seorang pelakor! Apa aku segitu menjijikkan hingga tak ada julukan yang lebih pantas, selain pelakor? Ia berhak marah, aku bisa paham, tapi kenapa harus menghinaku?"
"Aku tau dan aku sungguh sangat menyesal! Aku akan bicara dan jelaskan semuanya kepada Hammy. Aku janji padamu, kalau hal ini, takkan terulang lagi ke depannya."
Tsukasa mengangguk pelan.
Hatinya begitu terluka saat ini.
"Kamu kuantar pulang saja ya atau mau menunggu di dalam?"
"Menunggu di dalam lalu dipermalukan lagi?"
Tsukasa menggeleng kuat.
"Jadi, gimana?"
"Lebih baik, aku menunggu di luar!"
"Tidak, nanti kamu sakit! Kairi, baru datang sore, kamu tunggu di dalam saja! Aku gak mau, kamu kenapa-napa!"
"Lalu soal Hammy?"
"Itu biar menjadi urusanku, kamu duduk saja di sofa dalam. Lagipula, ini rumahku, jadi aku berhak untuk mengajak siapapun yang kumau!"
Setelah berulang kali menolak dan mendapatkan paksaan dari Lucky, akhirnya, Tsukasa setuju untuk masuk ke dalam dengan Lucky.
Lucky mengunci pintu depan lalu menuntun Tsukasa untuk duduk di sofa ruang tamu.
Terlihat, Hammy sedang duduk di meja makan.
Ia duduk menatap ke depan dengan pandangan kosong, menghiraukan Lucky, yang masuk dengan sang mantan.
"Tsukasa, aku taruh belanjaanku di dapur dulu, ya? Kamu mau minum apa?"
"Air putih atau teh hangat saja!"
"Baiklah, kamu kutinggal dulu, ya?"
Tsukasa mengangguk, meski ragu.
Lalu Lucky berjalan menuju ke dapur untuk meletakkan barang belanjaannya dan mengambilkan minum untuk Tsukasa.
Saat melewati Hammy, Lucky berbisik di telinganya.
__ADS_1
"Nanti kita bicarakan lagi soal ini baik-baik!"
Setelah itu, Lucky, barulah melangkah kembali ke dapur.
Tak lama, dia kembali dengan 2 gelas air putih, untuknya dan Tsukasa.
Lucky menghampiri Tsukasa dan menyerahkan gelas berisi air tersebut.
Tsukasa menerimanya dan meminumnya hingga habis.
"Gimana, sudah baikan?"
Tsukasa mengangguk.
"Lucky, apa aku boleh bicara kepadanya?"
"Itu bukan ide yang bagus, biar aku saja, lagipula ini masalah hubungan kami. Aku juga yang salah karena telah menyeretmu yang tak bersalah ke dalam masalah ini."
Tsukasa mengangguk.
Hammy, meski menatap ke depan dalam diam, tapi ia tetap melirik interaksi di antara keduanya, tanpa sepengetahuan mereka.
Ia juga ingin mendengarkan, apa aja yang mereka bicarakan.
Ia tak mau, ada rahasia yang ditutupi oleh kekasihnya.
"Apa kamu terluka? Apa para preman itu sempat, menyakitimu atau menyentuhmu?
Mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Lucky barusan, membuat alis Hammy, terangkat sebelah ke atas.
"Tidak, kok! Mereka memang menggodaku dan sempat, ingin menyentuhku, tapi gagal karena kamu ada di sana dan menyelamatkanku dari mereka!"
"Tentu saja, gimana pun, kita itu pernah menjadi sepasang kekasih, jadi mana mungkin, aku akan membiarkanmu dilukai, apalagi sampai disentuh oleh para preman itu!"
"Tapi gara-gara itu, kalian jadi bertengkar?"
"Hei, ini salahku, bukan salahmu! Lagipula sudah kubilang, kan? Kamu di sini, hanya sampai, Kairi datang menjemputmu! Aku cuma gak mau, saat aku pergi meninggalkanmu di supermarket itu sendirian, ada preman lainnya yang mengganggumu, hanya itu! Lagipula ini hanya salah paham, aku akan coba jelaskan dan bicarakan baik-baik dengannya, ia pasti akan mengerti, kok! Kamu tenang saja, ya?"
Tsukasa mengangguk paham.
Tanpa Lucky tau, Hammy menguping pembicaraan mereka dari tadi.
Kini Hammy sedang berusaha mencerna ucapan Lucky.
"Benarkah hanya sebatas, Lucky menolong Tsukasa? Benarkah Tsukasa di sini, hanya sampai, sebatas dijemput oleh Kairi? Benarkah ini hanya sebatas salah paham? Mereka tidak sengaja ketemu, bukan main di belakangku? Apakah ini murni karena kecemburuanku semata?"
Hammy yang bingung, akhirnya memutuskan untuk bangun dari kursinya lalu pergi ke dapur untuk mengolah makan siang mereka berdua.
"Percayalah kepadaku, aku tau persis, sifatnya seperti apa!"
Tsukasa mengangguk.
"Sekali lagi, makasih, ya!"
"Tak perlu terimakasih! Itu kewajibanku, lagipula, jika Hammy berada di posisi yang sama denganmu maka aku akan melakukan hal yang sama pula!"
Tsukasa mengangguk kembali.
Sementara Hammy, memutuskan untuk bangun dari bangkunya dan memasak di dapur untuk menyiapkan makan siang.
Saat ini, Hammy sedang memotong sayuran, mungkin ia berencana untuk membuat sop.
Tapi karena kepikiran kata-kata Lucky, tanpa sengaja, jarinya teriris pisau.
"Aw!"
Mendengar teriakan Hammy, Lucky tersentak kaget lalu ijin kepada Tsukasa untuk ke dapur.
"Tsukasa, aku tinggal ke dapur dulu, ya?"
"Iya, Lucky."
Skip di dapur.
"Kamu kenapa?"
"Kok bisa? Mana? Sini, coba kulihat!"
Hammy lalu memperlihatkan jarinya yang terluka kepada Lucky.
Lucky lalu mengambil kotak obat dan membersihkan luka Hammy, membuatnya meringis kesakitan.
"Tahan sedikit agar lukamu tidak mengalami infeksi!"
Hammy mengangguk.
Lucky menempelkan plester di luka Hammy. Dia begitu telaten dalam mengobati luka Hammy.
Hal itu, membuat Hammy menatap Lucky dengan tatapan hangat dan matanya mulai berkaca-kaca.
Ia tersenyum, melihat Lucky sangat mengkhawatirkannya.
"Oke, sudah selesai! Lain kali, hati-hati!"
"Iya, maaf!"
Lucky mengangguk lalu merapikan kembali kotak obatnya dan meletakkannya kembali ke tempat semula.
Dia lalu kembali ke tempat Tsukasa.
Hammy sendiri, lanjut memasak.
Ia memasak sambil tersenyum karena mengingat, cara Lucky mengobati lukanya.
Sementara itu....
"Kenapa dengan Hammy?"
"Oh, itu! Jarinya teriris pisau, tapi hanya luka kecil."
"Syukurlah!"
"Iya, ia memang suka bikin panik."
"Tapi tetap harus diobati!"
"Iya, aku sudah mengobatinya."
"Baguslah!"
"Kamu memang baik, Tsukasa, meski sudah dihina oleh Hammy, tapi kamu tetap memikirkan lukanya."
"Gimana pun, kami sesama perempuan, tentu, aku tetap khawatir! Lagipula ia begitu karena sangat mencintaimu dan salah paham! Jika dijelaskan maka takkan terjadi, hal yang seperti ini!"
"Itulah yang membedakanmu darinya, kamu berpikiran dewasa dan ke depan, sementara Hammy, hanya terpaku ke satu titik!"
"Hus, gak boleh begitu! Ia kini kekasihmu! Masa kamu menjelekkan kekasihmu di depanku?"
"Bukan begitu, justru aku harus membimbingnya, karena ia tak bisa, tanpa adanya bimbingan dariku."
"Oh, kirain!"
"Phew, ya sudahlah!"
Lalu mereka melanjutkan mengobrol berdua, seolah tak ada orang lain di antara mereka.
Hal itu, membuat Hammy mendengus kesal.
"Huh, baru saja merasakan sedikit perhatiannya, udah dapat, pemandangan panas lagi!"
Hammy lalu memutuskan untuk mempercepat masaknya agar tidak melihat pemandangan yang tak perlu.
"Tsukasa, seandainya saja, Hammy dan Kairi tidak muncul di antara kita, apa mungkin, kita bisa membawa hubungan kita ke...?"
__ADS_1
"Ehehem!"
Mendengar suara deheman di belakang, berhasil membuat mereka, salah tingkah.
"Kamu bicara apa, Lucky?"
"Kan hanya seandainya."
"Sayangnya, apa yang kamu harapkan itu, takkan terjadi, beib!"
"Apa maksudnya?"
"Itu karena, aku memang kekasih Lucky dan sebentar lagi, kami akan...."
"Tsukasa, apa kamu sudah lapar? Gimana, kalau kita makan siang?"
"Apa tak apa, aku makan siang di sini?"
"Tentu saja, tak apa! Kekasihku pasti, menyiapkan makan siang untuk kita bertiga, kan?"
"Huh, makan siang itu, cuma untuk kami berdua!"
"Hammy! Jaga bicaramu! Meski kamu marah padanya, kamu kan bisa menganggapnya sebagai tamu?"
"Tamu apanya? Mantan ketemu mantan? Itu baru benar."
Lucky menggelengkan kepalanya karena pusing menghadapi, tingkah kekasihnya.
"Sudah, tak apa! Akulah tamu yang tak diundang di sini, aku bisa cari makan di luar, kok."
"Tau diri juga! Baguslah!"
"Hammy!"
"Huh!"
"Sudahlah, Lucky! Tak apa!"
"Tidak! Kamu makan siang di sini karena ini adalah rumahku! Jika ia tidak setuju maka aku akan menemanimu, cari makan di luar!"
"Huh, bilang saja, ingin berduaan lebih lama dengan mantan!"
Brak!
Lucky menggebrak meja makan dengan keras.
"Sudah cukup, ya! Aku sudah diam dari tadi! Tapi kamu terus saja menghinanya! Apa kamu tidak bisa menghormati tamuku sedikitpun? Ini adalah rumahku, jadi aku yang membuat keputusan! Ia adalah tamuku! Jadi kuminta untuk jaga sikap dan hormati dia, belum jadi istri saja, kamu seperti ini, apalagi, kalau sudah jadi seorang istri?"
"Lucky, berhenti! Kamu menyakiti perasaannya!"
Lucky lalu menarik nafas dalam.
Dia lalu menatap Hammy dalam diam.
Benar kata Tsukasa, Hammy hanya diam mematung, tapi dia bisa melihat dengan jelas, ada genangan air di pelupuk matanya.
Tanpa berucap lagi, Hammy langsung berlari, masuk ke dalam kamar Lucky.
Lucky langsung mengusap wajahnya dengan kasar.
"Lucky, hibur dia!"
"Tapi?"
"Lucky?"
Lucky menoleh ke arah Tsukasa dan Tsukasa mengangguk.
Lucky pun membalas dengan anggukan dan mulai berjalan menuju ke kamarnya.
Begitu sampai di kamarnya, dia mengetuk pintu itu.
"Beib! Tolong buka!"
"Pergi! Pembohong! Kamu selalu saja membela Tsukasa! Kamu bilang, ingin menjelaskan padaku, tapi lagi dan lagi, kamu membentakku! Aku yakin kok, kalau bukan Tsukasa yang memintanya, kamu takkan kemari, ya kan?"
Lucky menghela nafas berat.
Sepertinya penjelasan untuk Hammy, tak bisa ditunda lagi atau masalah mereka akan makin runyam.
Biarlah dia mengalah.
"Beib, aku masuk, ya? Aku ingin bicara denganmu."
Nada bicara Lucky, mulai pelan.
Tanpa menunggu jawaban, Lucky masuk ke dalam kamarnya.
Dia membuka pintu kamarnya dan masuk lalu menutup kembali pintu kamarnya.
Di dalam, dia dapat melihat punggung Hammy bergetar, yang artinya, gadis itu sedang menangis.
Lucky menghela nafas berat.
Dia lalu menghampiri Hammy yang berbaring meringkuk sambil menghadap dinding.
Lucky berbaring di sebelah Hammy lalu memeluk Hammy dari belakang.
Terdapat rontaan dari Hammy, membuat Lucky, mempererat pelukannya.
Dia terus mempererat pelukannya hingga rontaan Hammy berhenti. Mungkin karena lelah atau kehilangan tenaga, atau mungkin, pasrah.
"Maaf, aku tak bermaksud menyakitimu!"
"Tapi kamu sudah menyakitiku! Menyakiti perasaanku, beib!"
Lucky lalu membalik paksa badan Hammy agar menghadap ke arahnya.
"Maaf! Aku sungguh tak bermaksud!"
Kali ini Hammy memukul dada Lucky, tapi Lucky membiarkannya.
"Kenapa sih, kalau menyangkut Tsukasa, kamu dengan mudahnya, melanggar janjimu dan menyakitiku berulang kali?"
Hening.
Lucky sengaja diam karena ingin, Hammy melampiaskan semua kekesalannya terlebih dulu.
Dia berniat untuk menunggu Hammy tenang dulu, baru menjelaskan semuanya.
"Kenapa kamu selalu marah, jika Tsukasa disakiti? Kenapa dengan mudahnya, kamu menghinaku tanpa memikirkan perasaanku? Kenapa beib, kenapa?"
Hening.
"Apa sebaiknya aku mati saja, baru kalian bisa bahagia? Kamu tau kan, aku gak rela melihatmu, bersamanya atau bersama wanita lain? Lebih baik, aku mati saja!"
Hening.
"Bukannya kamu ingin menyingkirkanku dan Kairi dari hidup kalian? Kami kan, penghalang kalian untuk bersatu dan menikah? Bunuh saja aku, beib! Aku sungguh tak sanggup kehilanganmu, apakah itu semua salahku? Salahkah aku yang sangat mencintaimu hingga ingin memonopoli dirimu? Tak berhakkah aku cemburu, saat melihatmu, menatap mantanmu penuh mesra? Katakan di mana salahku? Jawab, jangan diam saja, beib!"
Kali ini, Lucky merasakan bajunya basah, yang artinya, air mata Hammy, mengalir membasahi bajunya.
"Apa kamu sudah selesai melampiaskan semuanya? Jika sudah, barulah aku akan menjawabmu. Aku akan menjawab semuanya setelah kamu tenang."
Kali ini keheningan berasal dari Hammy.
Tak lama, Lucky merasakan anggukan kepala Hammy.
"Huft, baiklah! Dengar baik-baik karena inilah, jawabanku!"
Kira-kira, apa jawaban Lucky?
Bagaimana respon Hammy dengan jawaban Lucky?
__ADS_1
Apakah setelah kejadian ini, hubungan mereka menjadi erat, atau justru, malah makin retak?
Next/stop? Like dan komen!