Playboys Dan Playgirls Bersatu Karena Cinta

Playboys Dan Playgirls Bersatu Karena Cinta
Syarat Lucky


__ADS_3

Berawal dari Lucky, yang terjebak dengan Hammy, dalam posisi yang tidak menguntungkan.


Dia pun ingin bicara dengan Tsukasa, mengenai hal ini.


Tapi sayangnya, gagal dengan kedatangan Hammy dan Kairi.


Hammy, bahkan tak segan, menunjukkan video mereka berdua yang semalam kepada Tsukasa.


Untung saja, Lucky bergerak dengan cepat dan tepat, hingga video itu, belum sampai dilihat oleh Tsukasa.


Entah, apa reaksi Tsukasa, jika ia sampai melihat isi video itu.


Marah? Pasti!


Jijik? Mungkin saja!


Benci? Kemungkinan besar!


Memikirkan itu, membuat Lucky bertengkar dengan Hammy.


Lucky tidak suka dengan cara Hammy, yang menyerang Tsukasa seperti itu.


Dengan Hammy melakukan itu, sungguh, membuat harga dirinya sebagai seorang lelaki, jatuh di mata Tsukasa.


Dia bahkan tidak habis pikir, kenapa Hammy, rela mempermalukan dirinya, dengan menunjukkan aib dirinya kepada Tsukasa, hanya untuk mempertahankan dirinya.


Biasanya, orang akan menutupi aib dirinya, bukan malah menunjukkannya kepada orang lain.


Tapi Hammy, malah bertindak sebaliknya.


Entah, apa alasan ia melakukan itu, apa karena ia putus asa atau tidak percaya diri karena bersaing dengan Tsukasa?


Apapun alasannya, Lucky merasa, kalau Hammy rela berbuat nekat, demi mempertahankan dirinya.


Makanya ia memberanikan diri bertanya, apa yang sebenarnya Hammy inginkan darinya?


Hammy pun menjawabnya dan berhasil membuatnya terkejut.


Meski begitu, dia juga berpikir, kalau Hammy memang pantas untuk meminta hal itu darinya.


Lucky lalu memutuskan untuk menenangkan dirinya.


Dia pun berpikir dari segala sisi, baik dari sisinya, maupun dari sisi Hammy.


Setelah penuh pertimbangan, akhirnya, Lucky setuju dengan semua keinginan Hammy.


Hammy, tentu saja bahagia mendengarnya.


Meski begitu, Lucky mengajukan syarat kepada Hammy.


Syaratnya apa? Hammy tidak mau tau dan tidak peduli! Ia hanya ingin, keinginannya terkabul, itu saja!


Bukan cuma Hammy, tapi semua orang juga, pasti ingin harapan dan kemauannya terkabul.


Hammy hanyalah gadis yang polos dan lugu. Tapi sayangnya, ia juga bisa berbuat nekat.


Lucky sama sekali tidak menyadari itu, dia berpikir, kalau Hammy hanya mengancamnya saat itu.


Kini setelah dia tau, kalau Hammy bisa bertindak nekat, demi mempertahankannya, dia pun mengambil keputusan.


Dia setuju dengan semua keinginan Hammy, tapi dengan syarat yang masih belum diketahui, apa itu syaratnya.


"Baiklah, aku akan penuhi semua keinginanmu! Aku akan mengantar-jemput dirimu tiap hari, aku akan mengijinkan kamu menginap di tempatku ataupun sebaliknya tiap akhir pekan dan aku mau berjanji akan belajar mencintaimu juga menyerahkan hatiku sepenuhnya padamu, tetapi dengan syarat dariku!"


"Apa itu syaratnya?"


"Jangan pernah melibatkan orang lain ke dalam hubungan kita ataupun ke dalam pertengkaran kita!"


"Baiklah, aku setuju, maksudmu adalah tidak boleh ada orang luar yang ikut campur dalam hubungan kita, kan?"


"Benar, karena kita yang menjalin hubungan, jadi yang menyelesaikan masalah adalah kita sendiri."


"Kedua, jangan pernah melibatkan Tsukasa di setiap pertengkaran kita!"


"Tapi memang benar, kan? Setiap kamu melihat Tsukasa, kamu selalu melupakanku dan niatmu untuk kembali bersamanya, masih sangat kuat!"


"Makanya, beri aku waktu untuk belajar mencintaimu! Ingat, perasaan itu tidak bisa dipaksakan!"


"Tapi, seandainya tidak ada kejadian malam itu, akankah kamu bersikap seperti ini dan bersedia untuk belajar mencintaiku?"


Hening.


"Sudah kuduga, kamu takkan bisa!"


ucap Hammy sambil tersenyum miris.


Lucky hanya diam mematung. Dia tidak tau harus berkata apa untuk membalas perkataan Hammy.


Memang benar, apa yang diucapkan oleh Hammy, tanpa adanya kejadian malam itu, mereka tak mungkin seperti sekarang, Lucky juga, tak mungkin mau berjanji akan mencintai Hammy.


Hammy hanya bisa menatap Lucky yang diam.


Ia lalu menundukkan kepalanya dan menggenggam erat tangannya sambil menahan rasa sesak di dada.


"Aku boleh tanya satu hal, beib?"


"Tatap mataku jika ingin bicara denganku, aku tidak ada di lantai!"


Hammy lalu mendongakkan kepalanya dan menatap Lucky.


Ia mengulangi pertanyaannya yang tadi.


"Apa aku boleh bertanya, beib?"


"Tanya saja dan gak perlu formal."


"Jika aku hamil, gimana?"


"Tentu saja, jika kamu hamil maka aku akan tanggung jawab! Aku memang seorang playboy, tapi aku juga masih punya hati! Aku juga gak sudi, jika anakku, nantinya dibesarkan tanpa seorang ayah atau dibesarkan oleh pria lain!"


"Apa itu artinya, kita akan menikah?"


"Tentu saja! Memang ada cara lainnya?"


"Jika aku tidak hamil, gimana?"


"Lho, malah bagus, donk?"


"Maksudku, apa kamu akan tetap tanggung jawab, beib?"


"Jika kamu tidak hamil sekalipun, ada kemungkinan, takkan ada pria yang mau menikahimu karena keadaanmu dan aku juga yang sudah membuatmu seperti ini, jadi aku pasti akan tetap tanggung jawab, tapi...."


"Tapi apa, beib?"


"Sebelum aku menjawab pertanyaanmu, aku boleh bertanya?"


"Apa?"


"Apa kamu tak apa, jika pernikahan ini tanpa cinta? Aku memang akan menjadi suamimu, tapi itu, hanya sebatas di atas kertas. Sekalipun kita sudah menikah, kita takkan pernah tidur bersama karena aku menikahimu, hanya sebatas tanggung jawab! Apa kamu tak apa? Bukankah di sini, kamu yang akan paling terluka?"

__ADS_1


Mendengar pertanyaan itu, mata Hammy mulai berkaca-kaca.


"Jadi maksudmu, meski kita menikah, kita hanya akan menikah kontrak, begitu?"


"Huft, bukan itu maksudku! Maksudku, meski kita menikah, aku tak bisa langsung tidur bersamamu, aku butuh penyesuaian diri."


"Penyesuaian diri apanya? Mana ada sepasang suami - istri yang tidur terpisah? Kamu pasti sengaja, kan? Jadi jika ada tamu yang datang, kamu bisa mengenalkanku sebagai saudara atau tamu, bukan sebagai seorang istri, kan? Aku tidak mau! Aku mau, kita tidur bersama, layaknya sepasang suami dan istri sungguhan, meski kamu tidak menyentuhku, aku akan menunggumu, tapi setidaknya, kita tidur sekamar dan aku gak mau, kamu menjadi suamiku, sebatas di atas kertas! Kertas itu bisa dirobek dan dibuang dan aku gak mau, kamu menikahiku karena kamu kasihan padaku, yang aku inginkan itu, hatimu dan cintamu, sampai kapan kamu akan mengerti soal itu, hah? Jika aku tak menginginkanmu maka aku tak perlu repot-repot minta tanggung jawab darimu, bisa saja dari pria lain? Aku tak mau cerai darimu! Aku takkan pernah melepaskanmu, sekarang, gantian aku yang bertanya!"


"Apa?"


"Jika dalam pernikahan kita, aku bisa melakukan tugasku sebagai seorang istri, dengan baik, apa kamu akan tetap menceraikanku? Apa kamu akan menceraikanku setelah kontrak kita berakhir? Apa tidak ada kesempatan sama sekali untuk kita memiliki anak?"


Hening.


Diamnya Lucky, membuat Hammy tersenyum smirk.


"Sudah kuduga, kamu ingin menikahiku, karena takut, takkan ada yang mau menikahiku, kan? Kamu bilang, statusmu adalah suami di atas kertas, yang artinya bisa menceraikanku, kapan saja, bukan? Kamu bilang, kita tidur terpisah, artinya, kamu memang tidak mau melihat wajahku, kan? Kamu bilang, ingin belajar menyesuaikan diri, tapi itu bohong, karena aku tau, kamu pasti takkan pernah memberiku kesempatan untuk mendekatimu, menyentuhmu, melakukan tugasku sebagai seorang istri dan memiliki anak darimu, ya kan? Kamu hanya ingin dan akan menikah dengan Tsukasa, bukan? Aku memang polos dan lugu, tapi aku tidak sebodoh itu, beib, yang langsung percaya pada kata-katamu!"


Mendengar itu, membuat Lucky tersentak kaget.


Dia seperti tidak mengenali Hammy yang ada di depannya.


Karakter lugu dan polos yang pernah melekat padanya, kini berubah total, menjadi ancaman baginya.


Melihat reaksi Lucky, Hammy berjalan menghampirinya.


"Kenapa, beib? Kaget? Ya, aku jadi seperti sekarang ini karena ulahmu, yang selalu saja mengharapkan Tsukasamu itu! Beib, kuingatkan padamu, aku bukan tipe seorang istri yang akan diam saja, saat tau akan diceraikan! Aku takkan menangis! Aku akan melakukan apapun untuk mempertahankanmu, termasuk memiliki anak darimu nantinya! Jadi jangan macam-macam, beib! Aku serius!"


Lucky menatap mata Hammy dan melihat ada tekad yang kuat dan kesungguhan dalam ucapannya.


Hal itu membuat Lucky meneguk salivanya kasar.


"Kamu tau kan, beib, kalau aku bisa nekat jika berada di ujung tanduk?"


"Apa maksudmu?"


"Dengar beib, kuperingatkan untuk terakhir kalinya, jangan main-main denganku atau akan kubongkar semuanya di depannya!"


"Bukankah kamu sudah janji untuk tidak melibatkan orang luar ataupun Tsukasa di dalam hubungan kita?"


"Memang, tapi itu semua tergantung dari niat dan caramu, berusaha untuk menepati janjimu!"


Lucky menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Dia akui, Hammy adalah kekasihnya yang paling sulit diatasi, tidak seperti, mantan-mantannya yang lain.


Dia juga mendapati, kalau Hammy memiliki sifat yang tersembunyi dan bisa mengeluarkannya kapan pun yang ia inginkan, terutama di saat ia terdesak.


Dia juga mengingat, bagaimana ia menunjukkan video itu, tanpa malunya kepada Tsukasa, hanya untuk memastikan, mereka tidak bisa kembali bersama.


Jika dirinya tidak bisa diberi tau maka Tsukasalah yang akan menjadi targetnya.


Lucky merasa, Tsukasa akan disakiti, jika dia tidak memilih Hammy.


Lucky lalu menghela nafas berat.


"Baiklah! Kita akan menikah secara sah! Kita juga akan sekamar, meski aku takkan menyentuhmu, tapi aku takkan pernah menceraikanmu!"


Hal itu membuat Hammy merasa tenang, meski ada perkataan Lucky yang menyakitinya.


"Takkan disentuh, mank aku kuman hingga Lucky jijik akan diriku? Padahal di video itu, dia bertindak yang sebaliknya. Tapi tak apa, yang penting adalah menyandang gelar Nyonya Kizu, terlebih dahulu!"


Monolognya dalam hati.


"Baiklah, aku tak masalah, lagipula aku yakin, semakin kita sering bersama maka hatimu akan luluh padaku!"


"Tak masalah, asalkan aku pasti akan menjadi istrimu!"


"Tenang saja, kamu akan menjadi istriku dan menyandang gelar Nyonya Kizu karena pernikahan itu adalah sakral dan suci upacaranya."


Hammy mengangguk paham.


"Tapi, apa aku boleh yang tentukan prosesnya, memilih cincin, gaun dan dekorasi?"


"Tentu karena itu adalah pernikahan kita, tak mungkin aku yang memilih semuanya!"


Hammy mengangguk paham.


"Makasih, beib!"


"Tapi, jangan berharap, kalau itu akan cepat terjadi karena aku belum mau menikah secepatnya!"


"Tak masalah, kita bisa mulai dari proses kekasih, tunangan, baru menjadi istrimu, kan?"


"Baiklah, aku setuju karena itu dilakukan secara bertahap!"


"Makasih, beib!"


Hammy memeluk erat Lucky, pertanda ia tak mau melepaskan dirinya.


Lucky hanya diam saja menerima perlakuan Hammy.


Jika dia menolak maka mereka pasti akan kembali bertengkar.


Dia akan membiarkan Hammy selama tidak melewati batas.


Dia sedang malas berdebat dengan Hammy.


Dia juga merasakan, kalau Hammy sangat butuh cinta, perhatian dan kasih sayang darinya.


Dia tidak menyalahkan Hammy, hanya saja, caranya yang dia tidak suka.


Hammy, begitu manja kepadanya, seolah takut kehilangan dirinya.


Sementara dia tidak suka dengan gadis yang manja, karena baginya, itu sangat merepotkan!


Meski begitu, dia sudah terlanjur berjanji kepada Hammy, kalau mereka takkan pernah bercerai.


Lucky sudah tidak bisa mundur lagi, karena sebagai seorang lelaki, tak mungkin baginya, menarik kata-katanya kembali.


Lucky, kini hanya bisa pasrah, terjebak dalam situasi yang tidak menguntungkan baginya.


Baginya, menikah dengan Hammy, sama sekali tidak ada di dalam rencana masa depannya.


Semuanya berantakan karena kejadian malam itu, tapi apa yang sudah terjadi, tidak bisa diulang kembali.


Lucky, kini hanya bisa berusaha untuk menerima kenyataan yang ada di depan mata, kalau dia bersedia untuk menikahi Hammy dan takkan menceraikannya apapun alasannya dan apapun yang terjadi.


Sementara bagi Hammy sendiri, ia juga tidak mau memaksa Lucky, sebenarnya, tapi keadaanya yang memaksanya, ia tak mau, Lucky lepas dari tanggung jawab dan rasa takut akan kehilangan Luckylah, yang membuatnya menjadi seperti ini.


"Jadi kita sudah sepakat kan, beib?"


"Iya, aku akan menikahimu apapun keadaanmu, baik kamu hamil atau tidak, aku akan tetap tanggung jawab dan aku janji akan tetap menjalankan tugasku sebagai seorang suami! Aku juga takkan menceraikanmu apapun alasannya, karena pernikahan itu, cuma terjadi sekali dan seumur hidup!"


Hammy mengangguk.


"Kupegang semua sumpah dan janjimu, beib!"


"Apa kamu sudah merasa lega sekarang?"

__ADS_1


"Sudah, tapi aku belum tenang, kalau kamu tidak mau berjanji akan melupakan Tsukasa selamanya dan menerimaku sebagai wanita satu-satunya di hatimu!"


"Huft, beri aku waktu untuk itu!"


"Berapa lama?"


"Entahlah, mungkin sampai kita menikah?"


"Baiklah, tak masalah, yang penting kita sudah bersama!"


Lucky mengangguk.


"Jadi apa rencana kita hari ini dan kapan kamu akan mengenalkanku sebagai calon istrimu di depan Tsukasa?"


Lucky mengusap wajahnya dengan kasar.


"Bisakah tidak secepat itu? Kenapa kamu ingin, kita menikah cepat-cepat? Kamu tau kan, semua itu butuh proses, tidak semudah membalikkan telapak tangan? Aku jadian denganmu lalu tiba-tiba mengenalkanmu sebagai calon istriku di depannya, apa itu tidak mencurigakan?"


"Kamu kepikiran dengan pendapat darinya atau memang kamu tidak mau?"


"Ya ampun, Hammy! Bisakah kamu sekali aja, percaya pada perkataanku?"


"Benarkah? Buktinya, saat kita jadian saja, kamu masih nekat menemuinya, sebanyak dua kali! Apa kamu ingat?"


"Sekarang bukankah keadaannya sudah berbeda? Bukankah aku sudah setuju, kalau aku akan belajar mencintaimu dan menyerahkan hatiku padamu?"


"Memang, tapi aku tak bisa begitu saja percaya padamu, kan? Kamu belum bisa membuktikan perkataanmu itu!"


"Jadi, gimana caranya agar kamu mau percaya?"


"Pertama, buktikan selama seminggu, kalau kamu menghindari Tsukasa dan hanya bersikap sewajarnya! Aku gak mau, kamu menemui Tsukasa lagi!"


"Huft, baiklah!"


"Oke, itu dulu! Baru setelah itu, kukatakan yang selanjutnya!"


"Masih ada lagi?"


"Oh, jelas! Untuk dirimu, harus super ketat, beib!"


"Ayolah, aku ini kekasihmu, bukan tawananmu!"


Mendengar itu, Hammy tertawa keras.


"Kekasihku? Baru mengakui, kalau aku kekasihmu? Ke mana saja kamu selama ini? Bukankah kamu takkan pernah menganggapku sebagai kekasihmu?"


"Semua orang berhak untuk berubah! Baiklah, aku akan membuktikan kepadamu, kalau aku akan menghindari Tsukasa!"


"Baiklah, ujian seminggu kekasihku untuk melupakan sang mantan, dimulai!"


Lucky lalu pamit pulang setelah ucapan Hammy barusan.


Hammy pun mengijinkan, karena ia ingin tau, sekeras apa, usaha kekasihnya untuk melupakan sang mantan.


Malamnya, mereka tidak punya rencana ke mana-mana.


Mereka hanya di rumah masing-masing.


Hammy mengirim pesan kepada Lucky dan ia senang karena Lucky cepat membalasnya, tidak seperti dulu.


Mereka terus mengobrol sambil makan malam di rumah masing-masing, bahkan video call sebelum tidur.


Hammy tidur dengan pulas hari ini, karena senang, sementara Lucky tidur pulas karena dia merasa lelah hari ini.


Keesokan harinya.


Ujian seminggu Lucky dimulai.


Dia mulai menepati janjinya, datang pagi-pagi untuk menjemput Hammy.


Hammy pun merasa senang karena Lucky menepati janjinya.


Di saat jam istirahat, Lucky ingin mengirim pesan kepada Tsukasa, tapi dia batalkan, karena ingat janjinya kepada Hammy.


Pas jam pulang, dia menjemput Hammy di kelasnya.


Hammy senang karena Lucky tidak terlambat menjemputnya. Mereka pun pulang bersama.


Hari kedua.


Masih sama, Lucky malah ingin menelpon Tsukasa kali ini, tapi dia kembali batalkan.


Hari ketiga.


Lucky ingin menemui Tsukasa, tapi kembali batal.


Hari keempat.


Lucky tak sengaja, melihat Tsukasa sedang bersama dengan Kairi. Dia lalu menghela nafas berat dan memilih untuk mengambil jalan lain.


Hari kelima.


Lucky tak sengaja, berpapasan dengan Kairi dan Tsukasa.


Kali ini, Lucky merangkul erat bahu Hammy di depan mereka, seolah mereka adalah kekasih yang mesra.


Hammy merasa senang bukan main.


Lucky mulai menganggap Tsukasa sebagai orang asing.


Hari keenam.


Lucky, saat ini sedang bersiap akan berangkat ke rumah Hammy, tapi dia mau mampir ke supermarket dulu.


Dia ingin membeli bumbu masakan untuk dimasak nanti malam.


Saat itulah, dia melihat pemandangan yang tak asing.


Itu membuatnya berhenti terpaku.


Dia bingung saat ini, dia sudah berjanji kepada Hammy untuk cepat datang, tapi keadaan di depannya, membuatnya tak bisa berkutik.


Ingin menolong, Hammy pasti marah. Mereka akan terlihat berduaan lagi.


Ingin menelpon Kairi, takut terlambat.


Dia sungguh tak tau, apa yang harus dia lakukan, saat ini.


Dia menggaruk kepalanya yang tak gatal karena pusing memikirkan masalah yang ada di depannya saat ini.


Kira-kira, apa yang dilihat oleh Lucky?


Apa yang akan dilakukan oleh Lucky?


Bagaimana reaksi Hammy selanjutnya?


Sanggupkah Lucky menepati janjinya kepada Hammy?


Next/stop? Like dan komen!

__ADS_1


__ADS_2