Playboys Dan Playgirls Bersatu Karena Cinta

Playboys Dan Playgirls Bersatu Karena Cinta
Hammy Mendapatkan Teror


__ADS_3

Saat ini, situasi lagi memanas.


Kejadian di mana, Hammy meminta maaf kepada Tsukasa, ternyata, tidak membuatnya berhenti sampai di situ aja.


Jujur saja, Lucky dan Hammy berpikir, asalkan Hammy minta maaf kepada Tsukasa maka urusannya akan selesai.


Tapi ternyata, tidak semudah itu!


Pertama, Tsukasa tidak mau menerima maaf dari Hammy.


Dilanjutkan dengan mengira, kalau Kairi akan bertindak kasar kepada Hammy.


Lalu mendapatkan bantuan dari Emu dengan alasan yang mencurigakan.


Disusul lagi dengan nasihat dari Kairi, yang membuat Lucky dan Emu mematung.


Setelah itu, mereka pun berpencar dengan pasangan masing-masing.


Di situlah, timbul masalah kembali, bedanya, kali ini dengan pasangan masing-masing.


Kairi dan Tsukasa.


Kairi tidak suka, di saat Tsukasa menyembunyikan sesuatu darinya.


Dia ingin mengetahui semua tentang kekasihnya. Apapun yang membuatnya senang, sedih ataupun terluka.


Tsukasa adalah kekasihnya, jadi dia yang bertanggungjawab untuk menjaga dirinya, perasaannya, semua yang ada di dalam dirinya.


Tapi, bagaimana dia melakukannya, kalau Tsukasa saja tidak menceritakan kepadanya, apa yang membuatnya gelisah, apa yang dirasakannya saat ini.


Itulah yang membuat Kairi kesal.


Tapi saat, melihat Tsukasa menundukkan kepalanya, tanda merasa bersalah, dia menghentikan kemarahannya dan merasa tidak tega.


Dia pun menasihati agar Tsukasa tidak melakukan hal yang serupa lagi.


Tsukasa lalu membalasnya dengan anggukan.


Kairi yang merasa, kalau Tsukasa sudah paham, menghela nafas lega. Hatinya pun menghangat dan emosinya reda.


Itu kalau Kairi dan Tsukasa.


Lain lagi, kalau Emu dan Asuna.


Semenjak kejadian di kampus, mereka terus aja bertengkar.


Emu merasa, kalau Asuna itu egois dan suka memojokkannya.


Dia tidak suka, di saat Asuna menghina Hammy. Dia tidak suka, jika Asuna melarangnya untuk menolong Hammy.


Padahal Asuna tau, di hatinya hanya ada Hammy. Asuna tak punya hak sama sekali untuk melarangnya, menolong gadis yang disukainya.


Dulu waktu sebelum jadian, dia sudah mengingatkan, kalau mereka jadian, hanya agar Hammy bisa jadian dengan Lucky.


Tapi kenapa, sekarang Asuna harus marah? Kenapa Asuna harus menuntutnya untuk setia?


Emu sama sekali tak mengerti dengan jalan pikiran Asuna saat ini.


Dulu waktu mereka jadian, Asuna diam saja, tapi kenapa, jika menyangkut soal Hammy maka Asuna jadi lebih sering menuntut dirinya.


Hal itu membuatnya sangat kesal dan marah terhadap Asuna. Ditambah, Asuna sudah berani mengancamnya.


Ia bahkan tak mau diputusin. Apa-apaan ini? Di sini harusnya, dialah yang membuat keputusan, bukan, Asuna.


Asuna cukup memerankan kekasih yang baik di hadapan Lucky dan Hammy agar Hammy tidak curiga, jika dia memiliki rasa kepadanya.


Tapi kenapa sekarang, Asuna mengancam, kalau ia akan menceritakan kepada Hammy, soal perasaan yang dimiliki kekasihnya kepada dirinya itu?


Emu, benar-benar, gak habis pikir dengan keberanian yang dimiliki oleh Asuna.


Asuna, bahkan sangat yakin, jika ia melakukan itu maka Hammy akan menjauhinya dan membencinya.


Entah dari mana, rasa percaya diri yang dimiliki oleh Asuna itu.


Emu pun yang sudah tidak bisa menahan diri dan emosinya, memutuskan untuk meninggalkan Asuna di tempat parkir dan berjalan duluan ke ruangannya.


Kebetulan, hari ini dia lembur, jadi dia ingin memanfaatkan pekerjaannya untuk menenangkan emosinya.


Begitu pekerjaannya selesai, emosinya kembali muncul, jadi dia memutuskan untuk mendiamkan Asuna selama di perjalanan pulang ke rumah Asuna.


Dia pun langsung melajukan mobilnya pulang, begitu, Asuna turun.


Dia malas berlama-lama dengan Asuna hari ini. Moodnya sangat buruk.


Begitu sampai di rumah pun, dia ingin cepat tidur untuk melupakan masalah hari ini.


Lain halnya dengan Emu, Asuna yang ditinggalkan oleh Emu merasa tidak senang dan ia pun merencanakan sesuatu.


Ia mengutak-atik ponselnya, tanpa sepengetahuan Emu dan berencana untuk melakukan sesuatu agar Emu tidak menemui atau mengingat Hammy lagi.


Ia bahkan berniat untuk menghukum Emu karena Emu lebih mempedulikan kekasih temannya dibandingkan dirinya. Entah apa, yang dipikirkannya.


Ia sebagai seorang kekasih, tidak suka diacuhkan, apalagi, ditinggalkan cuma demi gadis lain.


Itulah yang membuatnya marah, saat melihat Emu, begitu perhatian kepada Hammy.


Ia sudah cukup mengalah dengan diam saja dan berpura-pura menjadi gadis dan kekasih Emu yang baik, di depan Lucky dan saingannya, Hammy.


Ia juga memiliki batas kesabaran. Ia juga ingin diakui oleh kekasihnya.


Ia ingin mendapatkan perhatian penuh dari kekasihnya.


Ia tak mau, terus bersembunyi di balik bayang-bayang Hammy. Ia ingin menjadi dirinya sendiri.


Ia ingin semua orang mengetahui, kalau dirinyalah kekasih Emu, bukan Hammy, hingga membuat Emu, tak memiliki jalan lain, selain mengakui dirinya di muka umum.


Itulah kepuasan sejati yang diinginkannya.


Ia tau, kalau dirinya berhak untuk itu. Ia tau, kalau itu adalah bentuk kewajiban dan tanggung jawab dari Emu sebagai kekasihnya.


Ia bersyukur karena Kairi, saat itu mengingatkan Emu, kalau dia memiliki tanggung jawab kepada dirinya.


Terbukti, hal itu berhasil membuat Emu mematung, saat mendengar ucapan Kairi.


Hal itu membuatnya lega, karena apa yang ingin ia ucapkan sudah diwakilkan oleh Kairi.


Sayangnya, nasihat itu tidak mengubah sifat Emu.


Dia malah marah, saat mengetahui kebenarannya.


Itulah yang membuat Asuna sudah tak tahan lagi dengan kelakuan Emu. Ia memutuskan untuk tidur dengan perasaan jengkel.


Itulah Emu dan Asuna.


Lalu, bagaimana dengan pasangan yang terakhir? Lucky dan Hammy.


Hammy yang sedang mengerjakan tugas kuliah, mendapatkan pesan yang mengejutkan dan menakutkan.


Hal itu membuatnya ketakutan hingga menangis.


Lucky lalu memeluk dan menenangkannya. Dia juga berusaha untuk membangkitkan kembali rasa percaya diri Hammy.


Dia merangkulnya dan berjanji akan memberikan hatinya, jika Hammy bisa menunjukkan ketulusan cintanya dan hanya ada dirinya di dalam hati Hammy.


Hammy pun setuju dan bahkan dengan sangat yakin, kalau ia bisa membuktikan itu semua kepada Lucky.


Lucky merasa lega karena rasa percaya diri Hammy sudah kembali.


Hammy lalu mengajaknya tidur.


Lucky setuju karena dia memang sudah sangat lelah, mengenai, apa yang terjadi hari ini.


Mereka tidur sambil pelukan karena Hammy takut, saat ia bangun, tak ada Lucky di sisinya. Lucky pun paham dan mengalah.


Keesokan harinya.


Semua menjalankan rutinitas masing-masing sebagai seorang pelajar.


Dari bangun tidur hingga belajar di kampus, tidak ada masalah.


Kini sedang masuk jam istirahat.


Di sinilah, timbul masalah baru.


Mereka berjalan bersama pasangan mereka masing-masing.


Lucky dengan Hammy.


Emu dengan Asuna.


Kairi dengan Tsukasa.


Tanpa sengaja, Lucky dan Hammy, dipertemukan kembali dengan Kairi dan Tsukasa di kantin kampus.


Mereka sedang memesan makanan dan minuman.


"Hai, Lucky!"


"Hai juga, Kairi! Tak kusangka, kita ketemu di kantin!"


"Ya, begitulah, kebetulan, ada yang mau kusampaikan padamu! Aku ingin minta maaf soal kemarin. Aku tak bermaksud untuk menyinggungmu dan Emu dengan ucapanku! Aku ingin berterimakasih juga karena kamu sudah menyelamatkan Tsukasa!"

__ADS_1


"Sama-sama, sekali lagi, aku atas nama Hammy, minta maaf atas penghinaan yang diucapkannya kepada Tsukasa!"


"Sudahlah! Semua sudah lewat, jadi jangan diungkit lagi!"


Lucky mengangguk paham.


Mereka lalu melanjutkan kembali memesan makanan dan minuman mereka.


Sementara itu, Tsukasa yang melihat Hammy sedang duduk sendirian, menghampirinya.


"Halo, Hammy!"


"Tsukasa? Kamu di sini juga?"


"Seperti yang terlihat! Kairi sedang memesan makanan dan minuman, sekalian untukku, begitu pun dengan Lucky, bukan?"


Deg!


"Kenapa kamu tiba-tiba menyinggung soal Lucky?"


"Memang kenapa? Lucky itu kan, orang yang mencintaiku?"


"Apa maksud kamu?"


"Saat aku melihat Lucky, jadi teringat akan ucapan orang-orang di supermarket yang mengatakan, kalau kami cocok! Kami itu adalah pasangan yang serasi!"


"Itu karena mereka tidak tau, kalau aku adalah kekasihnya!"


"Benarkah? Duh, kasihan! Kekasih yang tak dianggap, ya? Sudah tidak diakui oleh Lucky, semua orang pun, tidak melihatnya seperti itu! Jadi, kamu harus selalu menempel padanya, kan?"


"Apa maksud kamu?"


"Jika aku mengirim pesan, kalau aku sedang dalam bahaya, siapa yang akan ditolong oleh Lucky duluan, ya? Aku atau kamu?"


Mendengar pertanyaan Tsukasa, kembali membuat Hammy teringat akan pesan yang ia terima semalam. Hal itu membuatnya menangis tiba-tiba.


Hammy yang menangis tiba-tiba, membuat Tsukasa tersentak kaget.


Kebetulan, Lucky baru saja selesai memesan makanan dan minumannya lalu hendak membawanya ke meja, tempat Hammy duduk.


Di saat itulah, dia melihat Hammy menangis.


Dia langsung mempercepat langkahnya, membawa pesanan miliknya lalu menghampiri Hammy.


Begitu sampai, dia meletakkan pesanan miliknya lalu kembali, menghampiri dan memeluk Hammy.


Hammy lalu mengalungkan kedua lengannya di leher Lucky dan membaringkan kepalanya di dada Lucky. Ia mulai menangis terisak.


"Hei, kamu kenapa menangis lagi, beib?"


"Aku teringat sama pesan yang kemarin, beib."


"Duduk dulu, yuk!"


Hammy mengangguk pelan.


Lucky lalu menggendong Hammy ala bridal style di depan Tsukasa dan mendudukkannya di pangkuannya, sambil mengacuhkan Tsukasa.


Hammy, persis seperti anak kecil. Ia memeluk Lucky erat dan tak mau melepaskannya.


"Sudah, ya? Aku ada di sini."


"Benarkah?"


"Tentu saja, aku sekarang ini, ada di hadapanmu!"


Hammy mendongakkan kepalanya sebentar ke arah Lucky lalu mulai menangis lagi.


Sepertinya, isi pesan kemarin itu sangat mempengaruhi Hammy.


Hammy, yang notabenenya manja, kini, karena masalah ini malah membuatnya, makin manja.


Lucky pun memaklumi soal itu.


Tsukasa yang melihat itu, makin kesal.


Di saat yang bersamaan, ada seseorang yang mengawasi dari jauh.


Ia mengeluarkan ponselnya dan mengotak-atiknya lalu menyimpannya kembali. Ia ingin melihat reaksi dari seberang sana.


Kembali ke Lucky dan Hammy.


Saat Hammy masih terisak, ia merasakan getaran di ponselnya.


Ia pun mengambilnya dan melihat penyebab getaran di ponselnya.


Setelah ia melihatnya, ia makin, menangis terisak.


Dia lalu mengambil ponsel di tangan Hammy untuk mengetahui penyebabnya.


Ternyata, itu adalah sebuah pesan yang isinya, "sepertinya, bukan cuma aku yang tak suka, melihat dirimu bersama Lucky! Kuperingatkan lagi, jika kamu tak menjauhi kekasihku maka kupastikan, Lucky akan kerebut!"


Setelah membaca pesan itu, entah kenapa, timbul amarah di hati Lucky.


Lucky, sungguh tak habis pikir dengan si pengirim.


"Apa sih maunya si pengirim? Berusaha untuk menakuti Hammy? Tapi untuk apa?"


Kali ini, Lucky tak bisa tinggal diam lagi, dia bersumpah di dalam hatinya akan mencari identitas si pengirim.


"Kita makan lalu kita pulang! Apa kamu masih ada jadwal kuliah?"


Hammy menggeleng.


"Huft, aku masih ada jadwal kuliah, 1 lagi! Kamu tunggu di depan kelasku saja, ya?"


Hammy mengangguk.


"Ya sudah, sekarang kita makan!"


Lucky dan Hammy makan dengan pesanan mereka.


Lucky makan dengan sedikit emosi, sementara Hammy makan sambil menangis.


Selesai makan, Lucky menggandeng tangan Hammy dan menuntunnya ke kelasnya.


Hammy hanya mengikuti langkah Lucky sambil menundukkan kepalanya.


Di sepanjang perjalanan, saat mereka melewati Tsukasa, Tsukasa menatap Hammy jengkel.


"Dasar pelakor! Katain aku pelakor, tapi sendirinya, juga sama!"


Hammy hanya diam.


Sementara itu, tanpa Tsukasa sadari, aksinya diawasi oleh Kairi.


"Gadisku, apa dirinya masih...? Aku tak boleh tinggal diam!"


Kairi lalu menghampiri Tsukasa dan menepuk bahunya.


Tsukasa pun tersentak kaget dan menoleh.


"Kamu ngapain, sayang?"


"Eh, sayang! Kamu sudah dapat pesananmu?"


"Sudah!"


"Gimana, kalau kita makan sekarang? Aku sudah lapar banget!"


"Hem!"


Kairi dan Tsukasa makan pesanan mereka, sambil Kairi sesekali, melirik ke arah Tsukasa.


Sementara itu, begitu sampai di kelas Lucky, Lucky masuk dan Hammy menunggu di depan.


"Ingat, jangan ke mana-mana, kita pulang bersama!"


Hammy mengangguk paham.


Lucky lalu mengikuti pelajaran di kelasnya dengan baik.


Sementara Hammy yang sedang menunggu Lucky di luar kelasnya, ia memutuskan untuk memainkan ponselnya.


Di saat itulah, ponselnya kembali bergetar.


Ia melihat ada pesan masuk ke dalam ponselnya. Ia pun membukanya dengan perasaan takut-takut.


Kali ini, isi pesan itu adalah, "senangnya, diperhatikan sang kekasih, tapi itu, takkan bertahan lama, apa jadinya, jika perhatian dari sang kekasih menghilang dan berpindah ke gadis lain?"


Hammy menggeleng kuat dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Air matanya sudah mengalir kembali.


Ini sudah ketiga kalinya, ia menangis, akibat pesan teror itu.


Hammy, sungguh tak bisa membayangkan, hidup tanpa Lucky.


Lalu ada satu pesan lagi.


"Menjauhlah dari kekasihku atau akan kubuat, dia membencimu dan membuatmu kehilangannya!"


Hammy pun makin terpuruk.

__ADS_1


Sementara sang pelaku sudah pergi dari sana dengan senyum kemenangan, tak lupa, menghapus pesan yang ia kirim tadi agar tak ada bukti, kalau ialah sang pengirim teror kepada Hammy.


Tak lama, Lucky keluar dari dalam kelasnya. Dia menghampiri Hammy yang duduk melantai. Dia pikir, mungkin, Hammy bosan.


Tapi begitu, dia melihat air mata mengalir dan membasahi pipi Hammy, dia langsung mengubah pikirannya.


"Kali ini, apa isi pesan itu? Tunjukkan padaku!"


Lucky, tak mau bertanya lebih jauh lagi, karena dia sudah tau, apa penyebabnya.


Hammy pun dengan berat hati memberikan ponselnya kepada Lucky dan Lucky mengambilnya lalu membaca isi pesan yang terdapat di sana.


Dia mulai geram dan mengeratkan genggaman tangannya di ponsel Hammy.


"Kita pulang!"


Hammy mengangguk pasrah.


Lucky lalu menggenggam tangan Hammy dan membawanya ke parkiran.


Mereka lalu masuk ke dalam mobil Lucky dan Lucky melajukan mobilnya pulang.


"Kamu akan menginap di tempatku selama kamu masih menerima pesan teror itu! Akan kubuktikan, kalau aku akan selalu di sisimu! Akan kubuktikan, kalau pesan teror itu takkan pernah terjadi! Dengan satu syarat, kalau kamu takkan pernah menghianatiku! Sekali kamu selingkuh maka aku akan langsung meninggalkanmu! Apa kamu paham, beib?"


"Aku paham dan janji, kalau aku takkan pernah selingkuh darimu!"


"Baiklah dan ingat, tak ada kesempatan kedua! Ditambah, aku belum memiliki rasa kepadamu maka akan mudah bagiku untuk meninggalkanmu!"


"Iya, aku paham, beib! Aku takkan selingkuh, menghianati kepercayaanmu dan akan kutunjukkan, kalau aku tulus mencintaimu!"


"Baiklah, kupegang kata-katamu!"


Skip Emu dan Asuna.


Asuna, dari tadi terlihat sangat bahagia. Ia tak hentinya, tersenyum senang.


Hal itu membuat Emu curiga padanya, dia ingin bertanya, apa penyebabnya, tapi dia urungkan karena itu bukan urusannya. Ditambah, mereka belum baikan dan dia masih marah kepada Asuna, membuatnya tambah malas untuk bertanya.


Dia memilih untuk bekerja secara profesional.


Sementara Asuna, semangat dalam melakukan pekerjaannya.


Ia kini, tinggal mengurus kekasihnya dan memastikan akan memberikan hukuman apa untuk kekasihnya itu, yang sudah mengutamakan gadis lain.


"Honey, hari ini kita lembur, gak?"


"Berhenti memanggilku seperti itu! Ini di rumah sakit dan saat ini, aku adalah atasanmu!"


"Huft, baiklah, dokter! Jadi, apakah kita akan lembur hari ini, dok?"


"Bukankah kamu yang memegang data pasien, kenapa bertanya kepada saya? Kamu tinggal melihat saja, ada berapa pasien yang belum diperiksa!"


"Tinggal 2 pasien, dok!"


"Hem, mungkin gak perlu lembur, asalkan pasien terakhir sudah selesai diperiksa maka sudah boleh pulang!"


"Baiklah, dokter!"


Tiba-tiba saja, Asuna menghampiri Emu dan dengan tanpa malunya, ia mencium pipi Emu.


Hal itu membuat Emu mematung dan tak lama, melotot tajam kepada Asuna.


Sementara Asuna hanya bersikap santai dan membalasnya dengan senyuman.


"Butuh tenaga extra, hehe!"


Lalu ia memanggil dua pasien yang ada di depan dan kembali, melanjutkan pekerjaannya bersama sang kekasih.


Mereka pun bekerja hingga pasien terakhir keluar dan bersiap untuk pulang.


Mereka berjalan menuju ke mobil Emu, setelah persiapan selesai.


"Apa maksudmu tadi, menciumku?"


"Oh, ayolah, honey! Itu adalah tanda, kalau kamu adalah kekasihku!"


"Maksud kamu?"


"Nanti akan kulanjutkan pembahasannya, saat sudah di rumahku, kamu fokuslah menyetir dulu, honey!"


Emu mendengus nafas kasar dan mulai fokus menyetir ke rumah Asuna.


Skip di rumah Asuna.


"Sekarang kita sudah sampai, bisa tolong, jelaskan yang terjadi?"


Sebelum menjawab, Asuna sudah turun dari mobil Emu.


"Baiklah! Itu adalah tanda bahwa kamu adalah kekasihku! Jika kamu selingkuh maka aku akan menciummu di pipi untuk menghapus bekasnya dan di depan selingkuhanmu!"


Mendengar itu, mata Emu melotot.


Dia ingin memarahi Asuna, tapi sebelum itu terjadi, Asuna sudah lebih dulu, berlari masuk ke rumahnya dan mengunci pintunya dari dalam.


Emu pun kembali mendengus nafas kasar lalu melajukan mobilnya pulang. Dia akan memarahi Asuna lewat telpon, pikirnya.


Skip Kairi dan Tsukasa.


Setelah mereka makan siang, mereka lalu pulang.


Kairi ingin bertanya soal tadi, tapi dia urungkan karena gak mau, mood kekasihnya memburuk. Dia memutuskan untuk menyimpan soal ini di hatinya.


Meski begitu, dia tetap menyelidiki, soal prasangkanya barusan agar kekasihnya tak lagi bisa mengelak.


Hari ini pun mereka lalui.


Hari demi hari berganti.


Teror demi teror didapatkan oleh Hammy, baik melalui pesan yang isinya untuk menjauhi kekasih sang pengirim, jika tak mau hidup menderita karena kehilangan kekasihnya.


Disusul oleh telpon tak bernama.


Setiap kali berbunyi, tapi begitu diangkat, akan langsung dimatikan, sepertinya sengaja agar nomornya tak terlacak.


Hammy mulai hidup di dalam ketakutan. Ia terus berpikir, apa salahnya, ia hanya ingin Lucky di sisinya.


Ia tak pernah mengganggu kekasih orang lain, tapi kenapa si pengirim pesan, ingin merebut kekasihnya dan membuatnya hidup menderita.


Lucky yang melihat Hammy seperti itu merasa tidak tega dan sudah tidak sanggup lagi.


Dia berjanji akan segera bertindak dan mengakhiri ini semua, secepatnya! Meski dia belum punya rasa, tapi bukan berarti, dia akan diam saja, saat melihat Hammy diperlakukan seperti ini!


Dia pun sudah mulai emosi dan mulai menebak siapa dalangnya.


Skip Emu dan Asuna.


Asuna melakukan apa yang dikatakannya, saat ada pasien perempuan, mencoba untuk mendekati dan menggoda Emu, ia langsung bersikap mesra.


Emu ingin memarahinya, tapi Asuna malah bersikap cuek padanya.


Akhirnya Emu menyerah dan hanya geleng-geleng dengan sikap kekasihnya itu.


Skip Kairi dan Tsukasa.


Semenjak kejadian Hammy menangis di kantin, tingkah Tsukasa menjadi semakin aneh, ia terlihat sangat tidak suka kepada Hammy.


Ia merasa, kalau Hammy cuma ingin menarik perhatian Lucky dengan sifat manjanya.


Kairi semakin berpikir, kalau Tsukasa itu, terhadap Lucky masih....


Akhirnya, Kairi yang sudah tak tahan lagi untuk menerka, memutuskan untuk mengajak kekasihnya itu untuk bicara.


Dia memutuskan untuk berhati-hati dalam bicara agar hati sangat kekasih, tak terluka nantinya karena ucapannya.


"Sayang, aku boleh minta waktunya? Aku mau bicara sesuatu sama kamu!"


"Bicara soal apa?"


"Aku mau tanya, apakah kamu..."


Kira-kira, siapa pelaku peneror Hammy?


Dapatkah Lucky menemukannya? Apa yang akan dia lakukan, setelah menemukan dalangnya?


Akankah kondisi jiwa Hammy menurun, akibat ulah si peneror?


Akankah si peneror mendapatkan apa yang ia mau? Ataukah justru, berhasil dihentikan oleh Lucky?


Apa yang akan dilakukan oleh Emu untuk mengendalikan aksi kekasihnya?


Apa yang mau dibicarakan oleh Kairi kepada Tsukasa?


Akankah Tsukasa tersinggung nantinya?


Apa yang membuat Tsukasa tidak suka dengan Hammy?


Apakah karena penghinaan yang diterimanya dari Hammy dulu dan ia ingin membalas dendam kepada Hammy, lewat Lucky? Ataukah sesuai dengan perkiraan Kairi?


Apa yang akan terjadi selanjutnya?


Next/stop? Like dan komen!

__ADS_1


__ADS_2