Playboys Dan Playgirls Bersatu Karena Cinta

Playboys Dan Playgirls Bersatu Karena Cinta
Lucky Mabuk


__ADS_3

Hammy merasa sangat bahagia karena Lucky sedang menginap di rumahnya.


Meski tidak lama, tapi setidaknya 2 hari, yaitu di akhir pekan.


Lucky juga berulang kali bertanya kepadanya, soal keinginannya yang kedua.


Hammy sengaja mengulur waktu dan tak mau menjawabnya, karena ia tau, jika ia mengatakannya, Lucky akan segera melaksanakan keinginannya dan tak ada lagi pengikat di antara mereka.


Ia mau memanfaatkan keinginannya untuk menahan Lucky lebih lama di sisinya.


Ia tak mau kebahagiaan yang dimilikinya saat ini, segera berakhir.


Jujur saja, ia sudah tau apa yang ia inginkan, tapi ia ingin membuat Lucky tidak bisa berkutik, terutama di depan Tsukasa.


Ia ingin menunjukkan kepada Tsukasa, kalau Lucky itu adalah seorang pria yang suka melanggar janji. Dengan begitu, Tsukasa akan kecewa berat kepada Lucky dan kesempatan untuk mereka bersama akan semakin kecil atau semakin sulit.


Di saat itulah, ia akan masuk dan menghibur Lucky.


Ia yakin, jika ia terus berada di sisi Lucky, baik dalam keadaan suka maupun duka, Lucky akan membuka hatinya sedikit demi sedikit untuknya.


Di saat itulah, ia tinggal membuat perasaan Lucky berkembang dengan sendirinya.


Rencana pertamanya membuahkan hasil.


Idenya untuk memasak, siapa sangka akan mendapatkan pujian dari Lucky.


Ditambah, Lucky hampir tak hentinya, menatap dirinya. Meski tiap ketahuan, Lucky akan membuang muka, tapi setidaknya, berhasil membuatnya salah tingkah.


Hal itu memberikan senyuman kepadanya.


Ia pun berniat untuk mempertahankan cara ini hingga sudah tidak mempan, barulah mencari cara lain lagi.


Itu dilakukannya untuk mendapatkan cinta dari Lucky.


Ia sadar kalau ia itu salah dan egois, tapi ia juga memiliki hak untuk mendapatkan kekasih pujaan hatinya dan setelah berhasil mendapatkannya, tentu saja harus mempertahankannya.


Makanya ia melakukan hal ini.


Saat mereka tinggal bersama, Hammy menyadari sesuatu. Ternyata, Lucky mudah lunak jika diberikan perhatian kecil.


Hammy pun berpikir untuk mengganti tekniknya, tapi ia ingin memantau dulu, sejauh apa, rencananya ini berhasil.


Lucky sempat dibuatnya kagum. Itu membuatnya tersenyum.


Saat ini, Hammy sedang mandi.


Siapa sangka akan ada kejadian buruk yang menimpa hubungan mereka.


Akan ada kejadian yang membuat hubungan mereka berada di ujung tanduk.


Kejadian apakah itu?


Sebentar lagi akan ketahuan!


Diawali oleh Lucky yang ingin meminjam penghapus, yang kebetulan, berada di atas meja belajar Hammy.


Saat Lucky sudah mengambilnya, secara bersamaan, siku tangannya tak sengaja menyentuh sesuatu di atas meja dan membuatnya terjatuh.


Dia pun mengambilnya dan di saat dia hendak mengembalikannya ke tempat semula, Lucky melihat sesuatu yang tidak seharusnya dia lihat.


Dia pun cepat-cepat mengakhirinya sebelum sang pemilik kamar kembali.


Dia lalu mengambil penghapus yang dia butuhkan dan keluar dari dalam kamar Hammy.


Dia kembali ke kamar dan melanjutkan tugasnya, pura-pura melupakan hal yang tadi.


Saat sedang mengerjakan tugasnya, langkah sang pemilik kamar, terdengar sedang memasuki kamarnya.


Dia cuma bisa berusaha untuk tetap fokus, sambil berharap sang pemilik kamar tidak menyadari apa yang terjadi.


Tapi sayangnya, harapannya tidak terkabul karena sang pemilik kamar, kini berada di depan kamarnya dan sedang mengetuk pintu kamarnya dari luar.


Tok! Tok! Tok tok!


Lucky menghela nafas lalu bangun dari bangkunya.


Dia berjalan menuju ke arah pintu dan membukanya.


"Ada apa, Hammy?"


"Aku cuma mau tanya, apa kamu sudah ketemu penghapusnya?"


"Iya, sudah. Sekarang lagi kupakai."


Hammy mengangguk.


"Apa tugasmu sudah selesai, beib?"


"Belum, kenapa?"


"Tak apa-apa, aku mau bicara sesuatu denganmu."


Deg!


"Bicara soal apa?"


"Soal keinginan keduaku!"


"Oh, aku belum selesai."


"Tak masalah, aku kan bisa bicara di sini saja!"


"Baiklah, tak masalah!"


Lucky lalu membuka pintunya lebih lebar dan Hammy lalu masuk ke dalam kamar yang ditempati oleh Lucky.


Ia pun duduk di tepi ranjang.


Setelah Hammy masuk, Lucky menutup pintunya dan menyusul Hammy masuk ke dalam.


Dia duduk di meja belajar sambil menghadap Hammy.


"Kamu mau bicara apa?"


"Aku mau bicara soal keinginan keduaku."


"Bukannya kamu bilang, mau besok di kampus?"


"Memang, aku juga sekalian mau ingetin, kalau besok kita pergi bareng, ya?"


"Iya, tak masalah kalau cuma soal itu!"


"Beib, kamu merasa nyaman gak, tinggal di sini?"


"Lumayan, kenapa kamu bertanya soal itu?"


"Soalnya, ini berkaitan dengan keinginan keduaku."


Deg!


Perasaan Lucky langsung merasa tidak enak, saat mendengar ucapan Hammy yang barusan.


Dia teringat dengan penemuannya yang tadi dan pikirannya langsung travelling ke mana-mana, terutama ke arah yang buruk.


"Maksudmu apa, bicara begitu?"


"Tak ada maksud apa-apa, kok! Emang kamu bayangin apa, beib?"


"Aku gak bayangin apa-apa!"


"Lalu kenapa kamu terlihat gugup begitu?"


"Aku tidak gugup!"


Hammy mengangguk.


"Apa tugasmu masih banyak, beib?"


"Tidak. Kenapa?"


"Tanya saja, aku kan ingin memperhatikan kekasihku ini agar tidak sakit."

__ADS_1


"Sebentar lagi!"


Hammy mengangguk.


"Beib, aku mau di permintaanku yang kedua, kamu berjanji kepadaku!"


"Janji soal apa?"


"Kamu akan mengetahuinya besok! Aku mau tidur dulu, sampai besok, beib!"


Hammy lalu bangun dari duduknya dan berjalan menghampiri Lucky.


Ia mencium pipi Lucky lalu berjalan keluar dari dalam kamar yang ditempati oleh Lucky.


Tak lama, terdengar pintu kamarnya terbuka dan tertutup.


Sepertinya Hammy sudah masuk ke dalam kamarnya.


Selepas kepergian Hammy, Lucky mengusap wajahnya kasar. Dia kembali melanjutkan mengerjakan tugasnya yang sempat tertunda tadi.


20 menit kemudian.


Tugasnya selesai.


Lucky merenggangkan otot-ototnya yang kaku lalu bangun dari duduknya. Dia berjalan menuju ke ranjangnya dan berbaring lalu dia pun tidur.


Keesokan paginya.


Lucky bangun dan membereskan semua peralatan untuk kuliahnya.


Setelah itu, dia keluar kamarnya untuk mandi dan ganti baju agar tubuhnya segar.


Setelahnya, dia menyiapkan sarapan sebagai rasa terima kasih sudah dibuatkan sarapan kemarin oleh Hammy.


Tepat saat sedang membuatkan sarapan, Hammy bangun.


Ia lalu berjalan menghampiri Lucky yang ada di dapur.


"Pagi, beib! Kamu masak?"


"Iya, kamu sekarang mandi dan ganti baju dulu lalu kita sarapan sama-sama!"


"Siap, beib!"


Hammy lalu segera ke kamar mandi untuk mandi dan ganti baju.


15 menit kemudian.


Hammy yang sudah selesai dengan kegiatannya, menghampiri Lucky yang kebetulan juga sedang menata masakannya di atas meja.


Ia pun duduk di meja makan.


Lalu mereka sarapan bersama dengan hening.


Selesai sarapan, Lucky yang membereskan semuanya dan meminta Hammy untuk siap-siap terlebih dahulu.


Hammy pun menurut dan segera bersiap-siap di kamarnya.


Lucky pun menyusul setelah acara beres-beresnya selesai.


Hammy yang sudah selesai, menunggu Lucky di sofa ruang tamunya.


Tak lama, terlihat Lucky keluar dari kamar dan berjalan menghampirinya.


"Kamu sudah siap? Ayo kita jalan dan ini penghapusnya, makasih!"


"Sudah dan sama-sama, beib!"


Mereka lalu berangkat bersama ke kampus setelah Hammy mengunci pintu depan rumahnya dan menaiki mobil Lucky.


Skip di kampus.


Mereka semua belajar dengan serius, lancar dan baik sampai akhir pelajaran.


Skip jam pulang pelajaran.


Hammy mengirim pesan kepada Kairi untuk membawa Tsukasa ke lobi kampus karena ada yang mau disampaikannya.


Lalu ia mengirim pesan kepada Lucky untuk menjemputnya karena ia sudah selesai.


Tak lama, ada sebuah pesan masuk yang berbunyi, kalau Lucky ada pelajaran tambahan selama 10 menit.


Hammy pun membalas kembali, kalau ia akan menunggunya di kelasnya.


Sambil menunggu Lucky, ia memutuskan untuk memainkan ponselnya.


10 menit kemudian.


Pesan kembali masuk ke ponselnya.


Itu ternyata dari Lucky yang mengatakan, kalau dia sedang ke kelasnya untuk menjemputnya.


Hammy pun membalas oke lalu bersiap untuk dijemput Lucky.


Setelah Lucky muncul di kelasnya, Hammy keluar bersama Lucky dan pergi menuju ke lobi kampus, tempat Kairi dan Tsukasa menunggu mereka, tanpa sepengetahuan dari Lucky.


Begitu sampai di lobi kampus, ia langsung mencari keberadaan Kairi dan Tsukasa.


Setelah menemukan mereka, ia menghampiri mereka sambil diekori oleh Lucky.


Setelah mereka berempat sudah berhadapan, Hammy pun menyampaikan maksudnya.


"Selamat siang, Kairi dan Tsukasa!"


"Selamat siang juga, Hammy! Apa tujuanmu memanggil kami kemari?"


"Tujuanku adalah karena aku ingin menyampaikan sesuatu kepada kalian!"


"Menyampaikan soal apa?"


"Aku ingin mengatakan, kalau mulai hari ini, tiap akhir pekan, Lucky akan menginap di tempatku dan kami sudah semakin mesra, lebih tepatnya, Lucky sudah mengakui soal hubungan kami!"


"Apa? Benarkah itu? Selamat ya, Hammy!"


"Makasih, Kairi!"


Lucky dan Tsukasa tidak memberikan respon apa-apa, hanya terdiam di tempatnya.


Lucky lalu mengepalkan kedua tangannya erat dan memejamkan matanya sejenak.


"Yang dibilang oleh Hammy itu bohong, karena aku cuma mencintai Tsu...!"


"Beib, apa kamu lupa janjimu padaku? Kamu bilang akan mengabulkan apapun keinginanku, kan?"


"Tapi tidak soal menginap dan...kamu menipuku, Hammy!"


Selesai berucap, Lucky bergegas pergi dari sana.


Hammy pun berlari mengejar Lucky hingga ia terjatuh, tapi sayangnya, Lucky sudah keburu menaiki mobilnya dan mobil Lucky sudah melesat meninggalkan parkiran kampus.


Lucky melajukan mobilnya begitu cepat, saking marahnya, entah ke mana.


Hammy hanya bisa tersungkur sambil menangis.


Bukan ini yang diharapkannya. Ia ingin membuat Lucky tidak bisa berkata apa-apa, selain menerimanya dan membuat Tsukasa kecewa padanya, bukan malah, ia yang ditinggalkan seperti ini.


Ia menangis keras hingga berhasil menarik perhatian seorang pemuda.


"Lho, itu kan Hammy?"


Dia pun langsung berlari menghampiri Hammy, tanpa mempedulikan panggilan di belakangnya.


Dia membantu Hammy bangun dan memeluknya untuk menenangkannya.


"Kamu kenapa, Hammy? Cerita padaku!"


"Aku, hiks, aku ditinggal oleh Lucky!"


Mendengar ucapan Hammy, sang pemuda mengepalkan kedua tangannya erat dan mempererat pelukannya.


"Kurang ajar kamu, Lucky! Beraninya, kamu menyakiti Hammy, takkan kubiarkan! Aku merelakan Hammy untukmu, bukan untuk disakiti!"

__ADS_1


Pemuda itu lalu menuntun Hammy ke dalam mobilnya dan membawanya pergi.


Kepergian mereka memancing kemarahan seseorang.


"Lagi-lagi, demi wanita itu, langsung melupakan segalanya, bahkan meninggalkanku! Aku sangat membencimu, Hammy!"


Orang itu lalu pergi dari sana dengan menghentakkan kakinya, saking marahnya.


Sementara Hammy, duduk sambil menangis tanpa henti, di dalam mobil sang pemuda.


Sang pemuda mengendarai mobil dengan penuh kemarahan.


Skip Kairi dan Tsukasa.


"Tsukasa, aku ingatkan untuk tidak pernah memikirkan mantanmu yang bernama Lucky lagi, ingat, kamu sekarang adalah kekasihku dan milikku!"


"Iya, aku tau itu, kamu tenang saja, sayang!"


Kairi mengangguk lalu membawa Tsukasa pergi bersamanya, entah ke mana.


Skip Hammy dan sang pemuda.


Sang pemuda membawa Hammy pergi bersamanya.


"Hammy, aku ada pekerjaan, kamu akan kuantar pulang setelah pekerjaanku selesai ya, apa gak apa-apa?"


Hammy tak menjawab, hanya terus menangis.


Sang pemuda pun melajukan mobilnya ke tempat dia bekerja.


Begitu sampai, sang pemuda parkir lalu turun dari mobilnya dan dia membukakan pintu mobil di sisi Hammy.


Dia membantu Hammy turun lalu menutup pintu mobilnya dan menguncinya.


Dia merangkul bahu Hammy sambil berjalan masuk ke dalam gedung, tempat dia bekerja.


"Kamu tunggu di sini dulu, ya! Aku mau bekerja dulu! Nanti aku akan menjemputmu lagi."


Hammy tetap diam, tapi ia duduk di bangku yang sudah disiapkan untuknya.


Sang pemuda mengusap wajahnya kasar, jika saja pekerjaannya ini tidak mendesak, dia lebih memilih untuk menghabiskan waktu bersama Hammy untuk menenangkannya.


Dia lalu masuk ke dalam ruangannya dan mulai bekerja.


Saat sedang bekerja, terjadi keributan di luar ruangannya. Dia pun keluar dari ruangannya untuk mencari tau, apa yang terjadi.


Saat sudah di luar ruangannya, dia pun shock.


Dia melihat Hammy sudah basah kuyup. Dia lalu menghampiri Hammy dan membuka jasnya.


"Apa-apaan ini? Hammy, kamu baik-baik saja? Pakailah jasku agar kamu tidak kedinginan!"


Sang pemuda memberikan jasnya kepada Hammy dan menutupi bajunya yang basah itu.


Dia lalu menatap tajam ke arah si pelaku lalu menariknya ke dalam ruangannya.


"Bisa tolong jelaskan, apa yang terjadi barusan? Kenapa dirinya bisa basah kuyup seperti itu?"


"Kenapa sih, selalu ia yang diutamakan? Aku itu kekasihmu, bukan dirinya! Itu baru pelajaran awal untuknya!"


"Diam! Kamu tau sendiri kan, perasaanku untuknya itu seperti apa? Jangan bersikap konyol!"


"Tapi kamu itu kekasihku dan aku gak suka, kamu memberikan perhatian lebih padanya!"


"Cukup! Aku akan antar dirinya pulang supaya tidak masuk angin lalu kembali kembali untuk menyelesaikan masalah di antara kita!"


"Huh!"


Sang pemuda lalu keluar dari ruangannya sambil membanting pintu.


Sang gadis pun makin jengkel dan menghentak-hentakkan kakinya ke lantai dengan keras.


Sang pemuda dan Hammy pergi ke rumah Hammy dengan mobil sang pemuda.


Dia pun menuntun Hammy masuk ke dalam rumahnya.


Setelah masuk, dia menuntun Hammy duduk di sofa dan memberinya segelas air hangat.


"Minumlah dan aku minta maaf soal yang terjadi barusan! Bisa kamu ceritakan secara keseluruhan, kenapa Lucky sampai meninggalkanmu sendirian di kampus dan membuatmu menangis?"


Hammy lalu menoleh ke arah si pemuda dan menceritakan semuanya, tanpa berhenti.


Hal itu membuat sang pemuda tambah marah.


"Lucky sudah benar-benar keterlaluan! Awas kamu, Lucky! Hammy, aku pamit dulu, ya!"


Hammy mengangguk tanpa mengantar kepergian sang pemuda. Ia masih shock dengan apa yang terjadi.


Tak lama, terdengar suara mobil sang pemuda sudah meninggalkan rumahnya.


Setelah kepergian sang pemuda, ia memutuskan untuk mandi dan ganti baju agar tubuhnya merasa lebih baik.


Setelah itu, ia pergi ke kamar yang ditempati oleh Lucky dan memutuskan untuk menunggu Lucky pulang sambil berbaring di ranjang.


"Hmmm, aroma tubuh Lucky, begitu melekat di atas ranjang ini, seolah Lucky sedang berbaring di atas sini sekarang."


Tak lama, Hammy pun ketiduran.


Entah sudah berapa lama ia tertidur, tapi ia segera bangun, begitu mendengar suara mobil Lucky di luar rumahnya.


"Lucky? Dia sudah pulang!"


Ia langsung turun dari atas ranjangnya dan berlari keluar dari kamar itu untuk menghampiri dan menyambut kedatangan Lucky.


Ia langsung membuka pintu depan rumahnya dan tak lama terlihat, Lucky turun dari dalam mobilnya.


Ia shock, saat melihat Lucky sedang berjalan sempoyongan ke arahnya.


Ia langsung berlari menghampiri Lucky dan menuntun Lucky masuk ke dalam kamar.


Tapi baru saja disentuh, Lucky sudah meronta dan tak lama, dia terjatuh ke atas lantai, untung saja, Hammy menopang tubuh Lucky.


"Minggir, jangan sentuh aku!"


"Tapi kamu hampir jatuh, beib! Aku bantu, bawa ke sofa, ya!"


"Tak perlu! Aku bisa jalan sendiri!"


Tanpa mendengarkan ucapan Lucky, Hammy menuntunnya ke sofa dan membantunya untuk duduk.


Setelah itu, ia cepat-cepat menuju ke pintu depan dan menguncinya dari dalam.


Lalu ia kembali membantu Lucky bangun dari sofa dan menuntunnya ke dalam kamar lalu membaringkannya di atas ranjang.


Lucky terus memberontak dan meracau.


"Minggir kamu, gadis gak punya hati! Tsukasa, kenapa kamu tidak menahanku saat pergi dan diam saja? Aku sangat mencintaimu, satu-satunya gadisku, itu cuma kamu, Tsukasa!"


Setelah itu, Lucky berbaring sambil memeluk bantal guling.


Ucapan Lucky tadi, membuat hati Hammy panas dan makin membenci Tsukasa.


"Tsukasa, selalu nama Tsukasa yang disebut, bahkan, saat sedang mabuk pun, Lucky menyebut namamu! Emang, apa hebatnya dirimu sampai Lucky tidak bisa melupakanmu? Lucky, kamulah yang sudah membuatku begini maka jangan salahkan aku! Aku takkan pernah membiarkan kalian kembali bersama! Tsukasa, apa yang akan kamu lakukan, jika melihat aku dan Lucky, melakukan hal yang...?"


Monolog Hammy sambil menatap Lucky dengan senyuman smirk.


Siapakah pemuda yang melihat Hammy menangis?


Siapakah yang marah terhadap Hammy?


Apa yang akan dilakukan oleh sang pemuda, ketika mendapati Hammy, disakiti oleh Lucky?


Apa yang akan terjadi, di saat Lucky yang mabuk saat ini dan ketika terbangun nantinya?


Apa rencana Hammy selanjutnya untuk memisahkan Lucky dan Tsukasa untuk selamanya?


Apa yang akan dilakukan oleh Lucky terhadap Hammy, setelah mengetahui rencananya?


Apa yang akan dilakukan oleh Tsukasa, saat mengetahui, kalau Hammy membenci dirinya?


Berhasilkah rencana Hammy?

__ADS_1


Bagaimana respon Tsukasa terhadap rencana Hammy kali ini?


Next/stop? Like dan komen!


__ADS_2