Playboys Dan Playgirls Bersatu Karena Cinta

Playboys Dan Playgirls Bersatu Karena Cinta
Lucky Bertindak


__ADS_3

Hammy yang mendapatkan teror secara terus-menerus, berhasil, membuat batinnya tertekan.


Hammy yang mendapatkan teror secara terus-menerus, setiap harinya, merasa ketakutan.


Ia selalu menangis dan mengadu kepada Lucky.


Ia melakukan itu karena Lucky adalah kekasihnya, jadi dia berhak untuk tau.


Ia butuh sandaran. Ia butuh seseorang yang bisa ia andalkan. Ia butuh seseorang di sisinya.


Ia merasa yakin, kalau ia membutuhkan dukungan dari Lucky.


Ia tak bisa melewati ini semua sendirian.


Ia rapuh dan lemah dan hanya bisa menangis.


Ia bisa menjadi kuat karena merasa, Lucky akan selalu berada di sisinya.


Kini impiannya sudah terkabul, tapi kenapa, malah muncul masalah seperti ini?


Untungnya, hal itu membuat Lucky ikut marah. Sepertinya, Lucky takkan tinggal diam kali ini.


Bahkan dia sudah memiliki dugaan, tentang siapa si peneror itu.


Gara-gara itu juga, mereka sempat bertengkar.


Mereka bertengkar karena mereka memiliki perbedaan pendapat, soal siapa pelakunya.


Hammy, langsung dalam sekejab, menuduh Tsukasalah pelakunya karena ingin balas dendam terhadap dirinya yang sudah merebut Lucky, menuduhnya macam-macam dan menghinanya.


Tapi sayangnya, kekasihnya tidak mendukungnya.


Hammy menuduh Tsukasa karena menurutnya, Tsukasa memiliki alasan yang kuat untuk balas dendam padanya karena telah merebut Lucky.


Tapi, kekasihnya tidak setuju. Menurutnya, bukanlah Tsukasa.


Pertengkaran pun kembali terjadi.


Hammy merasa, kalau Lucky kembali membela Tsukasa.


Tapi Lucky menjelaskan, bukan itu, maksudnya.


Lucky bilang, kalau dia hanya tak mau, kekasihnya menuduh Tsukasa tanpa bukti, karena belum tentu, Tsukasalah pelakunya, ditambah, dulu dirinya pernah menuduh Tsukasa tanpa bukti dan menghinanya.


Hammy merasa perkataan Lucky ada benarnya, tapi tetap saja, baginya, masih ada kemungkinan, kalau Tsukasa yang menjadi pelakunya.


Hammy tak mau ambil resiko.


Lucky sudah memperingatkan, biar dia saja yang bertindak.


Tapi, Hammy sendiri sudah tidak tahan lagi.


Ia lelah diginikan terus. Ia juga sudah muak diteror dan dipermainkan.


Menunggu Lucky bertindak, membutuhkan waktu yang sangat lama baginya.


Jadi ia kini membuat keputusan, kalau dirinyalah yang akan mencari tau, siapa penerornya.


Entah dapat ide dari mana, ia membuka ponselnya dan membuka sebuah situs di sana.


Ia bahkan mencatat dan menyimpan nomor yang tertera ke dalam ponselnya.


Nomor apakah itu? Hanya Hammy yang mengetahuinya.


Ia menyimpan nomor ponsel itu secara diam-diam.


Ia tak mau, Lucky mengetahuinya.


Jika Lucky memiliki cara untuk mengetahui siapa pelakunya maka dirinya pun punya cara tersendiri untuk mengetahui siapa pelakunya.


Sama seperti Lucky, yang sudah geram, dirinya pun sudah sangat marah.


Setelah menyimpan nomor ponsel itu, ia mengikuti kembali pelajaran yang sedang berlangsung.


Pelajaran pun berjalan dengan baik.


Akhirnya kelas Hammy bubar. Ia mengirim pesan dan bertanya, kapan kelas kekasihnya bubar.


Tak lama, ada pesan balasan yang isinya, "10 menit lagi bubar, apa kamu sudah selesai?"


Hammy pun ingin menjawab sudah, tapi ia urungkan karena ingin menelpon nomor di ponselnya itu.


Akhirnya, ia menjawab, "belum, kok! Aku masih ada kelas 15 menit lagi, beib! Tapi bisa jadi, hanya 10 menit! Nanti kukabari kamu lagi, ya!"


"Baiklah, kabarin saja! Aku akan menjemputmu di kelasmu!"


ItuIah bunyi pesan terakhir mereka.


Hammy memejamkan kedua matanya sejenak. Ia merasa bersalah karena sudah membohongi Lucky, tapi ia tak punya pilihan lain.


Ia pun membuka kedua matanya perlahan, menghembuskan nafasnya perlahan, memantapkan hati dan langkah untuk berjalan keluar dari kelasnya, menuju ke suatu tempat yang hanya dirinya ketahui.


Begitu sampai di tempat yang dituju, Hammy langsung mengeluarkan ponselnya dan menelpon nomor yang disimpannya tadi.


"Halo, apa benar, ini dengan jasa...? Saya ingin minta tolong untuk memeriksa...."


"Ya, benar! Dengan siapa, saya bicara?"


"Nama saya Hana!"


"Baiklah! Apa alasan anda meminta tolong pada saya?"


"Saya diteror! Bisakah kamu membantu saya? Kapan dan di mana kita bisa ketemuan?"


"Terserah nona saja!"


"Bagaimana, kalau akhir pekan? Seperti Sabtu atau Minggu? Di restoran dekat Universitas Todai?"


"Baiklah! Lalu mau jam berapa?"


"Saya belum tau karena saya takut, kalau saya sedang bersama kekasih saya!"


"Baiklah, jadi ini misi rahasia?"


"Itu benar! Nanti, kamu akan kukabarin lagi! Saya harus mengakhiri panggilan ini sekarang karena saya takut dicariin oleh kekasih saya! Pertemuannya yang jelas adalah minggu ini, untuk jam, nanti, biar saya yang atur!"


"Baiklah, saya tunggu kabar dari nona!"


"Makasih!"


"Sama-sama!"


Hammy lalu mengakhiri panggilannya dan berjalan kembali menuju ke kelasnya sambil tersenyum smirk.


Tapi baru saja beberapa langkah, ponselnya berbunyi, yang menandakan ada telpon masuk.


Ia pun melihat ponselnya dan mukanya berubah menjadi pucat pasi.


Ia mau gak mau harus mengangkatnya.


"Halo?"


"Halo, Halo! Di mana kamu sekarang? Ini sudah 20 menit dan kelas kamu kosong! Apa kamu menipuku? Kembali ke kelasmu sekarang!"


"Iya, aku lagi menuju ke sana!"


"Kutunggu dalam waktu 5 menit! Kamu tak muncul? Kutinggal!"


"Jangan, hiks!"


Hammy lalu mengakhiri panggilannya dan bergegas menuju ke kelasnya.


Skip Emu dan Asuna.


Emu yang hari ini gak terlalu banyak pasien, memutuskan untuk mencari tau perubahan sikap Asuna.


Dia bermaksud untuk menyelidiki secara diam-diam.


Dia pun memanggil Asuna dan mengajaknya untuk pulang.

__ADS_1


Mereka lalu merapikan barang-barang mereka dan pulang.


Di tengah perjalanan, Emu merasa lapar. Dia lalu mengajak Asuna untuk makan di sebuah restoran.


Asuna pun setuju karena ia juga sama laparnya. Pekerjaan mereka, membuang begitu banyak energi.


Mereka butuh makanan untuk mengembalikan energi mereka yang terkuras.


Mereka pun pergi ke restoran, tempat yang dituju oleh Emu.


Begitu sampai, Emu parkir lalu mereka turun bersama.


Emu mengunci pintu mobilnya lalu mereka masuk bersama.


Mereka mencari kursi yang kosong lalu duduk dan memesan makanan dan minuman.


Kini mereka sedang duduk sambil menunggu pesanan mereka, menghampiri meja mereka.


Skip Kairi dan Tsukasa.


Kairi, saat ini sedang sibuk menerka dengan apa yang terjadi sama kekasihnya.


Dia pun menahan dirinya untuk tak bertanya karena menunggu Tsukasa sendiri yang bercerita.


Tapi semakin dia menunggu maka rasa penasaran itu semakin memenuhi otaknya.


Dia menjadi sangat gelisah dan serba salah.


Jika dia bertanya maka takut Tsukasa akan tersinggung dan tak mau menjawabnya.


Jika tak bertanya maka rasa penasaran itu akan selalu memenuhi hati dan pikirannya.


Dia lelah, jika berada di situasi yang terombang-ambing seperti ini.


Dia memutuskan untuk menuntaskan rasa penasaran itu dengan bertanya kepada Tsukasa.


Dia pun mengajak Tsukasa kencan sehabis pulang kampus untuk memperbaiki dulu moodnya.


Dia akan berusaha mencari suasana dan waktu yang tepat untuk bertanya kepada kekasihnya itu.


Jika suasananya mendukung maka akan lebih mudah utnuk berkomunikasi.


Rencananya pun berhasil.


Di sepanjang mereka berkencan, Tsukasa mulai tampak tersenyum.


Emosi yang ditampilkannya tadi, menghilang sudah.


Hal itu membuat Kairi bernafas dengan lega.


Mereka meneruskan kencan mereka hingga Kairi mengajak Tsukasa untuk makan di sebuah restoran.


Mereka pun menikmati hidangan yang disajikan tersebut.


Skip Hammy.


Hammy, saat ini masih bergegas, kembali ke kelasnya.


Waktu yang dimilikinya hanya tersisa satu menit.


Ia merutuki dirinya karena tidak menitip pesan kepada teman sekelasnya, jika ada yang mencarinya, bilang saja, sedang ke kamar kecil.


Kini ia harus menghadapi kemarahan seseorang. Dari nada bicaranya, ia tau jelas, kalau orang itu sangat marah kepadanya.


Akhirnya, setelah belokan terakhir, ia sampai di depan kelasnya.


Ia pun merapikan penampilannya dan tersenyum, menghampiri orang yang sedang menunggunya.


"Hai, beib! Maaf ya, sudah membuatmu menungguku."


"Dari mana saja kamu?"


"Aku gak dari mana-mana, beib! Aku hanya dari kamar kecil!"


"Benarkah? Lalu kenapa kamu tidak menghubungiku? Bukankah kamu bilang, kelasmu selesai dalam waktu 10-15 menit?"


"Itu, aku...."


"Beib, kamu menungguku?"


"Kelasku sudah bubar, saat kuakhiri berkirim pesan di antara kita! Kupikir, daripada aku melamun dan menunggu kelamaan, aku berniat untuk menunggumu di luar kelasmu! Awalnya, satu per satu mulai keluar! Tapi aku penasaran, kenapa aku tidak melihatmu lalu aku bertanya kepada salah satu teman sekelasmu dan ia bilang, kalau kelas kalian sudah bubar 10 menit yang lalu! Saat itulah, aku menyadari kalau kamu menipuku! Aku pun langsung menelponmu!"


"Maaf, beib!"


"Berani sekali, kamu membohongiku! Habis dari mana kamu?"


"Aku cuma pergi ke atap kampus."


"Ngapain kamu di sana? Apa jangan-jangan kamu menemui selingkuhanmu di sana? Jadi benar, kamu main di belakangku?"


"Gak, beib! Aku gak punya selingkuhan! Aku setia sama kamu!"


"Kamu itu seorang playgirl, apa menurutmu, aku bisa percaya padamu, begitu saja?"


"Lalu apa yang harus kulakukan supaya kamu percaya?"


"Entahlah! Sekarang kita pulang! Aku akan pikirkan di rumah nanti!"


Hammy mengangguk pelan.


Hammy pun berjalan ke kelasnya sambil menunduk. Ia tak berani menatap wajah kekasihnya yang sedang marah.


Begitu sampai di kelasnya, Hammy mengambil tasnya.


Lalu ia menghampiri Lucky dan mereka pulang bersama.


Di sepanjang lorong menuju ke tempat parkir, Lucky sama sekali tidak mau disentuh, bahkan dia mempercepat langkahnya.


Hammy pun kesulitan mengimbangi langkah Lucky yang panjang dan cepat.


Begitu sampai di mobil Lucky, Hammy cepat-cepat masuk.


Lucky lalu melajukan mobilnya dengan cepat, yang menandakan, kalau dia memang sedang marah saat ini.


Di sepanjang perjalanan, hanya ada keheningan.


Hammy pun menunduk terus.


Begitu sampai di rumah Lucky, Lucky parkir lalu mereka turun bersama.


Lucky mengunci pintu mobilnya lalu mereka masuk bersama.


Lucky lalu mengunci pintu depan rumahnya lalu masuk ke kamarnya.


Begitu sampai di dalam kamarnya, dia langsung mandi dan ganti baju, mengacuhkan Hammy sama sekali.


Hammy hanya menghela nafas berat.


"Mandi dan ganti bajumu! Aku mau bicara soal tadi!"


"Iya, beib!"


Hammy langsung mandi dan ganti baju.


Ia tak mau membuat kekasihnya lebih marah lagi.


Setelah mandi dan ganti baju, ia menghampiri kekasihnya yang sedang duduk bersandar sambil menatap lurus ke depan dengan dipenuhi kemarahan.


Hammy menghampiri Lucky sambil menunduk.


Ia perlahan menaiki ranjang.


"Kamu masih marah, beib?"


"Menurut kamu?"


Glek!


"Kamu kenapa harus bohong, sih? Aku gak peduli, kalau kamu mau ke mana, tapi setidaknya, kamu jujur! Apa menurutmu itu lucu karena telah membuatku menunggumu?"

__ADS_1


"Maaf, beib! Aku tadi ke atap untuk mencari udara segar agar tidak merasa sedih terus!"


"Apa dengan maafmu bisa mengubah yang sudah terjadi?"


"Maaf, beib, maaf!"


"Apa kamu lupa dengan perkataan Kairi? Kamu itu sekarang adalah tanggung jawabku! Kamu tau gak, aku itu udah panik mencarimu tadi karena kupikir kamu diculik, terjadi sesuatu sama kamu dan berpikir, kalau kamu sedang menangis lagi, tau gak?"


"Kamu khawatirin aku, beib?"


"Kamu itu sedang diteror, artinya, nyawa kamu sedang di dalam bahaya, kamu tau, gak? Bisa gak sih, lain kali, kabarin aku dulu? Tau kamu baik-baik saja, rugi aku mengkhawatirkanmu! Lain kali, kalau memang, kamu mau berbuat sesukamu, silahkan saja! Aku tak peduli lagi, kamu mau pergi ke mana dan pergi sama siapa!"


Selesai berucap, Lucky bangun dari ranjangnya dan berjalan menuju ke pintu kamarnya.


Dia membukanya dan menutup pintu sambil membantingnya.


Tak lama, terdengar suara mobil Lucky menyala dan melaju, meninggalkan rumahnya.


Hammy berlari keluar dari kamar Lucky dan menangis dengan derasnya sambil menatap ke perkarangan rumah Lucky yang sudah kosong.


Ia menatap dari jendela.


Ia kembali menangis sambil memeluk lututnya. Ia belum pernah melihat Lucky semarah itu.


Gimana, kalau Lucky tidak peduli padanya lagi, setelah kejadian ini?


Ia lalu bangun dan berjalan dengan lunglai ke sofa sambil menunggu Lucky pulang. Ia pun duduk di sofa tersebut.


Ia bahkan tak berniat untuk makan malam sampai Lucky pulang.


Ia duduk sambil terus menangis.


Skip Lucky.


Lucky mengeratkan genggamannya pada setir, bahkan, memukulnya berulang kali, saking kesalnya. Dia melajukan mobilnya tanpa arah.


"Argh! Kenapa ia harus menipuku? Aku sudah berusaha untuk menyerahkan hatiku padanya, tapi kenapa ia menipuku? Apakah cintanya kepadaku juga sebuah kebohongan? Haruskah kuserahkan hati dan cintaku kepada seorang playgirl?"


Saat Lucky sedang kesal, dia tiba-tiba, teringat akan pesan di ponsel Hammy.


Dia menghentikan mobilnya di tepi jalan.


Dia kembali, membuka pesan-pesan itu di ponselnya.


Dia berulang kali menatap gaya bahasa pada pesan tersebut dan membacanya di dalam hati.


Dia sedang berusaha mengingat, gaya bahasa ini dipakai oleh siapa.


Dia berpikir keras lalu memejamkan kedua matanya.


"Gaya bahasa ini, sungguh tidak asing! Tapi aku sungguh, tak bisa mengingatnya! Clue yang kudapat saat ini ada 2 yaitu sang peneror ada di kampus yang sama, karena hanya itu kemungkinan, ia bisa mengenal dan mengawasi Hammy dari dekat! Lalu sang peneror adalah seorang wanita! Dia sangat yakin akan hal itu karena ia merasa kesal dengan Hammy, yang berusaha merebut kekasihnya, artinya, Hammy kenal betul dengan kekasihnya dan si peneror juga bawa-bawa dirinya, artinya, si peneror, kenal betul dan tau benar, kalau Hammy sedang berpacaran dengan dirinya."


Lucky mulai mempersempit pencarian hingga terhenti di satu titik.


"Mungkinkah pelakunya adalah....? Aku harus mencari tau dan mengumpulkan buktinya! Setelah itu, aku akan bertanya kepadanya! Tapi sepertinya, aku tau alasannya! Baiklah, akan kumulai besok!"


Lucky lalu berencana untuk pulang, tapi dia batalkan karena masih kesal dengan Hammy.


Dia memutuskan untuk pergi ke tempat lain.


Skip Kairi dan Tsukasa.


Mereka baru saja, selesai berkencan.


Kairi hendak mengantar Tsukasa pulang.


Kini, mereka sudah berada di dalam mobil Kairi.


Mobil Kairi sedang melaju ke rumah Tsukasa.


Begitu sampai di rumah Tsukasa, Kairi parkir mobilnya lalu turun bersama dengan Tsukasa.


Kairi mengunci pintu mobilnya lalu mereka masuk bersama.


Setelah sampai di dalam, Kairi mengunci pintu depan dan menuntun Tsukasa, duduk di sofa.


"Duduklah, sayang! Ada yang mau kutanyakan padamu."


"Apa itu, sayang?"


Kairi lalu menarik nafas dalam dan bertanya dengan nada lembut agar Tsukasa tidak tersinggung.


"Sayang, aku mau tanya, kenapa kamu sempat kesal setelah membeli minuman dari restoran, sebelum kita kencan tadi?"


Deg


Pertanyaan Kairi barusan, membuat Tsukasa menjadi pucat pasi.


"Mati aku! Aku harus jawab apa? Haruskah kujawab jujur dan menerima kemarahan Kairi? Aku sangat yakin, kalau Kairi akan marah saat mengetahui jawabanku."


"Sayang?"


"Sayang, aku...."


Skip Emu dan Asuna.


Mereka baru saja selesai makan malam dan pulang.


Begitu sampai di rumah Asuna, Asuna turun dari mobil Emu.


Tapi langkahnya dihentikan oleh Emu.


"Tunggu sebentar, honey! Ada yang mau kutanyakan kepadamu!"


"Mau tanya apa, honey?"


"Pertanyaanku mudah dan cuma 1, jadi kuminta untuk kamu jawab jujur! Aku ingin tanya, kenapa kamu mulai berubah akhir-akhir ini? Aku merasa sifatmu belakangan ini aneh, honey. Kamu tidak menyembunyikan sesuatu dariku, kan? Atau kamu melakukan sesuatu di belakangku?"


Deg!


Pertanyaan itu membuat Asuna mati kutu.


"Mati aku! Kenapa Emu tanya soal ini, sih? Memang mudah, tapi mematikan! Aku harus jawab apa, Emu itu cerdas, jadi jika bohong pun harus ada alasan yang masuk akal, jika tidak maka dia akan curiga padaku!"


"Honey? Kok diam? Apa benar dugaanku?"


Glek!


"Aku, anu, itu...."


Skip Lucky dan Hammy.


Hammy terus menunggu, tapi tak ada tanda, kalau Lucky akan pulang malam itu.


"Beib, kamu ke mana? Aku kangen! Maafin aku!"


Kira-kira, ke mana Lucky pergi?


Kira-kira, apa jawaban Tsukasa?


Marahkah Kairi sesuai dengan dugaan Tsukasa?


Kira-kira, apa jawaban Asuna?


Akankah Emu percaya kepada jawaban Asuna?


Pulangkah Lucky?


Akan seperti apa, hubungan mereka ke depannya setelah kejadian ini?


Siapakah yang dicurigai Lucky, yang menjadi peneror Hammy?


Akankah terbukti dugaannya?


Apa yang akan dilakukan oleh Lucky dan Hammy kepada si peneror?


Apa yang harus dilakukan oleh Hammy, demi mendapatkan maaf dari Lucky?


Akankah mereka berhasil baikan? Akankah hubungan mereka membaik atau justru, memburuk?

__ADS_1


Next/stop? Like dan komen!


__ADS_2