
Baru aja, para tokoh kita merasakan kebahagiaan karena mereka sudah memiliki ikatan resmi dengan pasangan mereka.
Baru saja, mereka merasa bahagia karena mereka sudah mengikat pasangan mereka di dalam sebuah hubungan pertunangan.
Baru saja, mereka merasa hanya tinggal selangkah lagi maka mereka bisa memonopoli pasangan mereka.
Baru saja, mereka merasa, kalau waktu pernikahan mereka sudah dekat.
Tapi apa? Masalah kembali muncul!
Masalah yang cukup besar untuk diselesaikan dengan mudah.
Hal itu terjadi kepada Hammy.
Hammy yang baru aja bahagia karena sudah tidak diteror oleh Asuna, kini mendapatkan masalah besar.
Ternyata, Asuna tidak berhenti untuk menyerangnya. Bahkan, kali ini, ia menerima bantuan dari Tsukasa.
Asuna meminta tolong dan bekerja sama dengan Tsukasa untuk menyakitinya.
Mereka berdua menyerang dan menyakitinya.
Asuna berupaya untuk memancing emosi dari Tsukasa dan Tsukasa yang menyerangnya.
Asuna terus-menerus, mencuci otaknya Tsukasa dengan kemarahan dan kebencian kepada Hammy.
Tsukasa yang terpancing pun, menyerang dan berbuat kasar kepada Hammy.
Tsukasa memarahi, menghina, menampar dan mempermalukannya di depan umum.
Dirinya yang sudah tak tahan lagi, ingin menangis, rasanya.
Belum juga sempat menangis, dirinya akan kembali mendapatkan tamparan dari Tsukasa.
Ia memutuskan untuk berdiri diam dan menundukkan kepalanya sambil menunggu tamparan kedua datang menghampirinya.
Tapi ia salah, berapa menit pun, dirinya menunggu, tamparan itu, tak kunjung tiba.
Tak lama, terdengar suara dari orang yang sangat dikenalnya dan yang sangat dicintainya itu.
Ya, sumber suara itu adalah tunangannya sendiri.
Ia merasa lega karena Lucky, datang tepat waktu. Ia pun, akhirnya bisa menuangkan kesedihannya.
Hal itu memicu rasa penasaran di dalam diri Lucky.
Ia pun menjawab pertanyaan dari Lucky sambil terisak dan hal itu, memicu kemarahan di dalam diri Lucky, terhadap Asuna dan sang mantan.
Ia sama sekali tak menyangka, kalau tunangannya akan membelanya di depan sang mantan.
Bahkan, tunangannya membawanya pergi dari sana agar dirinya, tak bisa disakiti lagi.
Saat sedang membawanya pergi pun, terlihat sang tunangan, begitu marah karena sang mantan berlaku kasar padanya.
Mengetahui hal ini, ia sangat bahagia.
Kini mereka sudah berduaan.
Hammy pun bisa melampiaskan, semua yang ia rasakan kepada Lucky, tanpa ada rahasia yang ditutup-tutupi dari Lucky.
Skip Kairi dan Tsukasa.
Kairi sungguh sangat marah kepada Tsukasa. Dia sungguh, tak habis pikir dengan kelakuan tunangannya ini.
Entah sejak kapan, tunangannya ini memiliki sifat kasar, bahkan, mempermalukan tunangannya orang lain.
Ia tak habis pikir, mereka sebentar lagi akan menikah, tapi tunangannya, masih aja terusik dengan hal-hal yang berkaitan dengan Hammy.
Ia bisa dengan mudahnya, dipengaruhi oleh Asuna untuk menyakiti dan mempermalukan Hammy.
Dulu, waktu Hammy menyakiti dan menghinanya, itu karena didasari oleh alasan yang kuat, yaitu rasa cemburu.
Tapi itu pun hanya dilakukan di depan dirinya dan Lucky, bukannya, di depan umum seperti ini.
Dia sungguh kecewa dengan Tsukasa dan memarahinya habis-habisan karena tak bisa menjaga emosinya dan telah mempermalukannya sebagai seorang tunangan karena dianggap, memiliki seorang tunangan yang kasar, sepertinya.
Dia pun meminta dan memaksa Tsukasa untuk minta maaf kepada Hammy karena telah menyakiti dan berbuat kasar kepadanya.
Tsukasa, tentu saja menolak dan hal itu, membuat Kairi makin marah kepadanya.
Dia sama sekali tak menyangka, kalau tunangannya ini, begitu keras kepala dan mementingkan egonya semata.
Dia yang sudah tak tahan lagi, memutuskan untuk membawa Tsukasa ke hadapan Hammy dengan cara apapun, bahkan, meski harus dengan menyeretnya, sekalipun!
Tsukasa, terus aja meronta, tapi diacuhkan oleh Kairi.
Mereka terus aja berjalan untuk menghampiri Hammy dan meminta maaf kepadanya.
Mereka pun berusaha untuk mencari keberadaan Hammy dan berhasil, berkat bantuan dari mahasiswa yang melihat mereka.
Mereka pun menuju ke sana hingga sampai di tempat yang dituju.
Begitu sampai di tempat yang diinginkan, mereka memilih untuk bersembunyi di balik tembok karena sepertinya, Hammy sedang terlibat, pembicaraan yang serius dengan Lucky dan mereka tak mau mengganggu Lucky dan Hammy saat ini hingga mereka mendengar, sebuah kenyataan yang mengejutkan secara tak sengaja.
Kenyataan apakah itu?
Jawabannya akan muncul sebentar lagi!
Sementara itu, Emu dan Asuna juga sedang bertengkar di tempat yang berbeda.
Emu merasa sangat marah kepada Asuna karena Asuna, lagi-lagi menyakiti Hammy, gadis yang sangat dicintainya itu!
Emu marah karena Asuna telah melanggar janjinya untuk tidak menyakiti Hammy lagi dan parahnya, menggunakan tangan Tsukasa untuk menjalankan aksinya tersebut!
Emu sungguh marah dan kesel kepada Asuna karena Asuna tidak mau juga, menghentikan niatnya itu, padahal, dua keinginannya sudah dipenuhi, yaitu bertunangan dan tinggal bersama.
Emu selama ini sudah bersabar, tapi kali ini, tidak lagi! Dia sudah muak dengan tuntutan dan ancaman dari Asuna.
Dia sudah muak dengan ancaman Asuna yang selalu aja menyangkutpautkan, semua hal yang berkaitan dengan mereka, sama Hammy, gadis yang tak tau apa-apa dan hanya menjadi korban dari peneroran dan ancaman dari Asuna.
Dia sungguh-sungguh, sudah tak tahan lagi dengan cinta Asuna yang begitu egois dan mendominasi dirinya.
Dia sungguh merasa sesak, saat berada di dekat Asuna dan udara yang melingkupi mereka, terasa, begitu pengap hingga membuat dirinya sulit untuk bernafas.
Dia butuh udara segar untuk melepaskan pening di bagian kepalanya.
Dia merasa Asuna sudah sangat keterlaluan. Kesabarannya pun ada batasnya.
Dia lalu memutuskan untuk meninggalkan Asuna dan membatalkan rencana pernikahan mereka.
__ADS_1
Sudah cukup baginya untuk bersabar dan diam aja, di saat dirinya, melihat Hammy disakiti, tapi tidak untuk kali ini!
Dia lalu memutuskan untuk pergi dari hadapan Asuna untuk meminta maaf kepada Hammy karena sudah menyakiti, menghina dan mempermalukan Hammy.
Dia sungguh merasa malu karena memiliki tunangan yang tak bisa menjaga sikapnya dan begitu, merendahkan orang lain.
Dia pergi dari hadapan Asuna dengan tetap, mengacuhkan panggilan Asuna dari belakangnya.
Dia mencari dan terus mencari hingga bisa menemukan mereka lalu melihat, Lucky dan Hammy yang sedang bicara secara pribadi dan Hammy yang sedang bicara di dalam pelukan Lucky, membuat hatinya terluka karena melihat gadis yang dicintainya sedang menangis dan berada di dalam pelukan, lelaki lain.
Hal itu membuatnya tak rela karena jujur aja, dia ingin berada di posisi itu, tapi apalah daya, Lucky adalah tunangan dari gadis yang dicintainya, jadi, dia tak memiliki hak sama sekali untuk memisahkan mereka.
Dia sadar betul, siapa dirinya bagi Hammy, jadi, dia memutuskan untuk diam dan menunggu saat yang tepat untuk bicara kepada Hammy, setidaknya, setelah Hammy tenang.
Diamnya Emu, membuat Asuna sampai juga di tempat itu.
Tapi, Emu yang tak sadar dan yang tak peduli dengan kehadiran Asuna, memutuskan untuk tetap bersembunyi, di tempatnya.
Siapa sangka, dia mendengar sebuah kenyataan yang sangat mengejutkan dari mulut Lucky dan Hammy.
Apakah itu?
Mari kita mencari tau!
Skip Lucky dan Hammy.
Saat ini, mereka berdua sedang berada di taman kampus.
Hammy sedang menangis terisak di dalam pelukan Lucky.
Ia sedang mencurahkan segala isi hatinya yang terluka kepada Lucky dan Lucky, berusaha untuk menenangkannya.
"Sudah, jangan menangis lagi, ya!"
"Tapi, apa salahku, beib? Dulu, aku memang memarahi dan menghina Tsukasa, tapi itu, hanya karena aku cemburu, saat melihat kalian berduaan, itu pun, tidak di tempat umum, seperti ini!"
"Iya, aku tau, kok! Itu bukan salahmu, aku sendiri juga kaget, saat mengetahui, Tsukasa melakukan hal itu padamu! Ternyata, Tsukasa memiliki hati yang pendendam, mungkin, ia hanya ingin membalas perlakuanmu dulu padanya!"
"Kamu tak membelanya, beib?"
"Apa maksudmu? Di sini sudah jelas, Tsukasa yang salah, lagipula, kamu adalah tunanganku, jadi, mana mungkin, aku akan diam aja, saat melihatmu, disakiti di depanku? Justru, dengan melihat kejadian yang barusan, aku jadi tau, sifat aslinya, Tsukasa itu, seperti apa dan kini, mataku sudah terbuka, jadi, tak ada yang perlu kamu cemaskan!"
"Apa kamu yakin? Bukankah selama ini, kamu selalu ingin kembali dengan Tsukasa?"
"Kamu ini, bicara apa sih? Bukannya, kamu sendiri yang gak rela melihatku, kembali padanya? Bukankah sudah kukatakan, kalau aku akan bertanggungjawab padamu? Selain aku maka tak akan ada seorang pun yang akan dan yang ingin menikahimu! Bukankah ini sudah menjadi keinginanmu sejak lama yaitu menjadi Nyonya Kizu dan kini, tinggal selangkah lagi, kamu malah, ingin melepaskanku dan merelakanku untuk kembali kepada Tsukasa, apa kamu tau dengan apa yang kamu ucapkan? Apa kamu sadar dengan dampaknya? Di mana, rasa percaya dirimu yang ingin memonopoliku dan mengancamku supaya aku gak bisa kembali kepadanya? Kini di saat, aku ingin menepati janjiku padamu, kamu malah bertanya, apa aku ingin kembali padanya? Apa kamu tau resikonya, setelah mengatakan itu?"
"Aku tau, tapi kupikir, saat ia mengatakan, ingin merebutmu dariku maka kamu pun berpikir, kalau ini adalah kesempatan yang bagus untuk kembali padanya karena perasaan kalian masih sama?"
Ctak!
"Aw! Kok dahiku disentil sih, beib?"
"Dari mana sih, asal pikiran konyolmu itu? Jika aku memilih Tsukasa maka aku pasti akan jauh lebih memilih untuk membawa Tsukasa pergi atau menculiknya atau pergi meninggalkanmu, tapi lihatlah! Aku jauh lebih memilih untuk bersamamu saat ini karena kamu adalah tunanganku dan aku tau, kalau saat ini, dirimu lebih membutuhkanku dibandingkan Tsukasa! Tsukasa adalah mantanku dan sekarang, dirinya sudah menjadi milik dan tanggung jawabnya dari Kairi! Tugasku adalah menjagamu, melindungimu, baik, hati ataupun fisik sebagai tunanganmu, jadi, jangan pernah berpikiran konyol lagi, seperti itu! Bukankah aku sudah memberimu kesempatan untuk memasuki hatiku dan menggantikan posisinya, Tsukasa? Bukankah katamu, Tsukasa adalah masa laluku dan kamu adalah masa depanku? Maka lakukanlah itu!"
"Apa itu artinya, kalau kita akan tetap menikah?"
"Tentu aja, gadis polos! Memang benar, aku belum bisa mencintaimu hingga sekarang ini! Memang benar, aku menikahimu hanya sekedar tanggung jawab atas, apa yang kulakukan di malam itu, tapi, berilah aku waktu agar aku bisa belajar mencintaimu, jadi, maukah kamu menungguku hingga aku bisa sepenuhnya mencintaimu?"
Hammy mengangguk.
"Iya, beib! Aku akan menunggumu dan akan selalu berada di sisimu hingga kamu bisa sepenuhnya mencintaiku!"
"Jadi, aku ingin kembali mengingatkanmu! Ingatlah, aku belum bisa mencintaimu karena atas, apa yang kamu lakukan di malam itu! Kamu dengan mudahnya, menyerahkan dirimu dan membuat dirimu terlihat, seperti Tsukasa di mataku! Jadi, apa yang ingin kukatakan adalah jangan pernah berselingkuh di belakangku karena aku belum bisa mencintaimu, jadi, aku bisa meninggalkanmu kapanpun yang aku mau dan aku takkan pernah bisa memaafkan seorang penghianat, apa kamu paham? Jangan pernah menghianatiku, jika kamu sungguh-sungguh, ingin mendapatkan cintaku sepenuhnya! Jika kamu memang bisa membuktikan, kalau akulah, satu-satunya di hatimu maka aku berjanji, kalau aku akan sepenuhnya, menyerahkan hatiku dan cintaku padamu! Kamu bisa memonopoliku seutuhnya! Lalu satu lagi, aku harap, kamu takkan semudah itu untuk menyerahkan dirimu kepada pria lain manapun! Ingat, sampai kapanpun, hanya aku yang berhak untuk menyentuhmu!"
"Iya, aku percaya padamu! Jadi sekarang, gimana? Apa kamu masih mau menyerahkanku kepada Tsukasa?"
"Gak! Kamu itu cuma milikku, beib!"
"Jadi, berhentilah menangis! Bukankah, kamu sudah berhasil merebutku dari Tsukasa? Jadi sekarang, tugasmu adalah untuk mempertahankanku agar tak direbut kembali, bukan?"
Hammy mengangguk mantap lalu menghapus air matanya. Ia pun mulai tersenyum kembali.
Lucky pun merasa lega, saat mengetahui, strateginya untuk membuat Hammy tersenyum kembali itu, berhasil.
Lucky pun memeluk Hammy dengan eratnya dan Hammy membalas pelukannya Lucky.
Setelah dirasa cukup, Lucky melepaskan pelukan mereka lalu mengajak Hammy pergi.
"Kamu mau pulang atau kencan dulu untuk memperbaiki moodmu?"
"Kencan donk, beib!"
"Ya udah, kita pulang dulu lalu merapikan penampilan, baru kita pergi, oke? Tak mungkin kan, kamu kencan dengan tampang habis menangis, gitu?"
"Iya, beib! Aku menurut aja ama kamu!"
"Good girl!"
Lucky lalu menggandeng tangan Hammy dan hendak membawanya pergi dari taman kampus.
Sepanjang perjalanan, Hammy, tak hentinya, tersenyum.
Mereka berjalan hingga terhenti.
"Ada apa, beib?"
"Lho, Kairi, Tsukasa, Emu dan Asuna? Sejak kapan, kalian berdiri di situ?"
Mendengar pertanyaan dari tunangannya, Hammy pun menoleh dan melihat semuanya sedang menatap ke arah mereka dengan raut yang menuntut penjelasan.
Muka Lucky dan Hammy pun menjadi pucat.
"Apa maksudnya dengan Hammy yang mengatakan, kalau kamu menikahinya karena cinta atau sebatas tanggung jawab belaka?"
"Apa maksudnya dengan kamu yang mengatakan, kalau kamu akan bertanggungjawab akan kejadian malam itu?"
"Apa maksudmu dengan mengatakan, kalau Hammy yang sudah dengan sengaja, merebutmu dariku?"
"Sebenarnya, ada rahasia apa, di dalam pertunangan kalian?"
"Apa itu artinya, kalau kalian sudah...?"
Hening.
"Gila ya, kamu, Hammy! Kamu memakai cara licik untuk mendapatkan Lucky! Kamu itu jahat banget, tau, gak? Lucky itu harusnya menjadi suamiku! Kami dulu sudah sempat, ingin membahas soal pernikahan! Kamu itu kok, tega amat, sih?"
Marah Tsukasa sambil mendorong Hammy.
Untung aja, Lucky dengan sigapnya, menangkap Hammy.
__ADS_1
"Tsukasa, berhenti! Itu semua sudah masa lalu! Kamu sudah menjadi miliknya Kairi dan aku sudah menjadi miliknya Hammy! Kamu tak punya hak sama sekali untuk menyakiti, membentak, menghina dan mempermalukan Hammy! Sudah cukup, Tsukasa, kamu menamparnya dan membuatnya malu di depan umum! Hammy itu adalah tunanganku! Takkan kubiarkan, kamu atau siapapun menyakitinya!"
"Wah, hebat, ya! Pantas aja, Lucky menempel padamu! Tak kusangka, kamu adalah gadis yang seperti itu, Hammy! Untung saja, Emu menjadi milikku, bukannya menjadi milikmu!"
"Asuna, jaga bicaramu! Hammy itu adalah tunanganku, kamu sama sekali, gak berhak untuk menghinanya ataupun menyangkutpautkan dirinya dengan Emu!"
"Asuna, jaga bicaramu! Kamu tak pantas, menyebutnya dengan sebutan yang seperti itu!"
"Kamu masih aja membelanya, honey? Meski setelah tau, sifat aslinya adalah seperti itu? Kamu dengar sendiri, kan? Ia itu akan melakukan segala cara untuk meraih yang diinginkannya!"
"Asuna!"
"Hammy, apa kamu sungguh-sungguh, tidak memikirkan cara yang lainnya untuk mendapatkan Lucky?"
Jujur aja, semua pertanyaan itu, membuat Hammy makin terpojok.
Lucky pun, berhasil dibuat mereka marah.
"Hentikan, semuanya! Emu, aku mau tanya satu hal padamu karena mumpung, kamu ada di sini!"
"Mau tanya apa, Lucky?"
"Ikuti aku!"
"Tapi, Hammy?"
"Kita hanya bicara di sana, kok!"
Emu lalu mengangguk dan mengikuti Lucky dan membiarkan Hammy, sendirian.
Skip Lucky dan Emu.
"Aku mau tanya satu hal padamu! Pertanyaan yang sudah lama, ingin kutanyakan! Pertanyaan yang sangat mudah dan singkat! Sejak kasus peneroran, Asuna, terus aja mengatakan, kalau tunanganku selalu mengusik dirimu dan baru aja tadi, kamu pun membela Hammy! Jujur aja, hal itu membuatku tak nyaman dan menaruh curiga padamu! Apa kamu memiliki rasa kepada gadisku? Jika iya maka singkirkan dan buang jauh-jauh pikiranmu untuk memilikinya karena aku takkan pernah membiarkan itu terjadi dan jika tidak maka jangan berbuat hal yang mengundangku curiga karena aku merasa gak nyaman dengan tingkahmu yang seolah-olah pahlawan bagi Hammy! Hammy adalah tunanganku dan sudah menjadi tanggung jawabku, bukan dirimu! Urus aja tunanganmu, Asuna agar tak menyakiti Hammy dengan mulut kasarnya itu dan mencuci otaknya, Tsukasa agar berbuat kasar kepada Hammy! Sudah cukup, Hammy terluka karena ulahnya, Asuna! Sekali lagi, Asuna berbuat yang seperti itu maka aku takkan pernah memaafkannya! Ingat itu baik-baik, Emu!"
Selesai berucap, Lucky pergi dari sana dengan emosinya yang tinggi dan membuat Emu, berdiri mematung.
Dia mengepalkan tangannya dengan erat.
Dia berpikir, apakah sudah saatnya untuk menjawab pertanyaannya Lucky dengan jujur agar Asuna pun sudah tak bisa mengancamnya lagi? Dia memejamkan matanya sejenak dan membulatkan tekadnya.
Dia lalu memanggil dan menghentikan langkahnya Lucky.
"Lucky, berhenti!"
Lucky pun berhenti dan menoleh.
"Ada apa?"
Emu mulai berjalan dengan langkah tegapnya, menghampiri Lucky.
"Apa kamu tak penasaran dengan jawabanku, Lucky?"
"Tidak karena aku sudah mengatakan, apa yang ingin kukatakan!"
"Aku akan menjawab pertanyaanmu, Lucky dan jawabanku adalah...."
"Nanti aja, karena bagiku, Hammy, jauh lebih penting saat ini karena ia tak bisa, kutinggalkan lebih lama bersama dengan Asuna dan Tsukasa! Aku cuma gak mau, kalau Hammy disakiti lebih dari ini! Datang aja ke rumahku sendirian, jika kamu memang, ingin menjawab pertanyaanku itu!"
Selesai berucap, Lucky kembali berjalan, menghampiri Hammy lalu membawanya pergi dari sana.
"Tunggu, Lucky! Kamu belum menjawab pertanyaannya kami!"
"Untuk apa? Agar kalian punya celah untuk menyakiti Hammy lebih dari ini, iya? Jangan harap! Kalaupun kalian penasaran, datanglah ke rumahku dan akan kujawab pertanyaan kalian semua di sana!"
Selesai berucap, Lucky benar-benar membawa Hammy, pergi dari sana dan kali ini, tak ada seorangpun yang mencegahnya.
"Gimana ini?"
"Aku mau ke rumahnya Lucky!"
"Ya, aku setuju agar rasa penasaran kita, terbayar!"
"Semoga aja, Lucky dan Hammy, menjawab semua pertanyaan kita dengan jujur!"
Mereka pun mengangguk secara bersamaan.
Mereka lalu pergi dari sana dengan pasangan mereka masing-masing, sambil sibuk dengan pikiran mereka masing-masing, pula.
"Apa iya, Hammy adalah gadis yang seperti itu?"
"Tak kusangka, selain penggoda, ternyata, Hammy sanggup melakukan itu! Takkan pernah kumaafkan dirimu, Hammy!"
"Akhirnya, terbongkar juga, sifat aslimu, gadis licik! Sekarang, kamu mengundang kebencian dariku dan Tsukasa, berikutnya? Hem, aku sudah tak sabar untuk mengetahuinya dan menantikan, agar hal itu cepat terjadi!"
"Hammy, semoga dugaanku salah, mengenai dirimu! Semoga, itu artinya, aku masih bisa memiliki kesempatan untuk meraih hatimu! Mungkin sudah saatnya untuk jujur kepada Lucky dan Hammy agar aku tak lagi, berada di bawah bayang-bayang ancaman darinya!"
Skip Lucky dan Hammy.
"Beib, apa kamu yakin, kalau kamu akan menceritakan semuanya kepada mereka?"
"Ya, aku juga sudah lelah dengan sebuah rahasia ini! Aku mau, kita menjalani hubungan dengan terbuka, bukan karena memiliki sebuah rahasia, tapi kamu tenang aja, kita akan tetap menikah sesuai dengan rencana! Apa perlu, kita menikah yang pertama agar kamu tenang dan percaya pada perkataanku?"
"Aku...."
Kini, rahasia pertunangannya, Lucky dan Hammy sudah terbongkar, juga menimbulkan berbagai pertanyaan dan kontroversi dari berbagai pihak!
Lucky pun sudah bertanya kepada Emu, tentang dugaannya selama ini!
Apakah jawabannya, Emu?
Sanggupkah, dia mengatakannya dengan jujur?
Bagaimana dengan reaksi dari Lucky dan Hammy, saat mengetahui, kejujurannya Emu?
Bagaimana dengan reaksinya Asuna, saat mengetahui, kalau dirinya sudah tak bisa lagi, mengancam Emu?
Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Mungkinkah, mereka akan tetap menikah sesuai dengan rencana semula ataukah ada perubahan urutan, seperti, pada saat pertunangan?
Jika iya maka siapakah yang akan menikah duluan, nantinya?
Apakah akan mempengaruhi hubungan mereka berenam ke depannya?
Akankah persahabatan mereka terpecah, nantinya?
Akankah Tsukasa dapat menerima kenyataannya ataukah justru, ia malah, ingin merebut Lucky kembali dari sisinya, Hammy?
Bagaimana reaksi dari Lucky, Hammy dan Kairi mengenai hal ini?
__ADS_1
Apakah keputusan dan jawabannya, Hammy akan pertanyaan yang diajukan oleh Lucky?
Next/stop? Like dan komen!