
Saat sedang berkencan, biasanya, sepasang kekasih akan bermesraan.
Saat sedang berkencan, biasanya, sepasang kekasih akan bergandengan tangan.
Itulah yang dilakukan oleh Hammy kepada Lucky.
Tapi sayangnya, usaha Hammy ini, tidak disambut baik oleh Lucky.
Sifat playgirl yang ia miliki, yang biasanya, ia gunakan untuk menggoda para lelaki, untuk dijadikan korban, justru tidak mempan bagi Lucky.
Justru, hal itu memberikan tantangan tersendiri untuk Hammy bisa meluluhkan hati Lucky.
Di saat itulah ia mendapatkan kenyataan, kalau yang membuatnya makin sulit untuk mendapatkan hati Lucky itu adalah sosok Tsukasa.
Tsukasa pun langsung ia jadikan saingan cintanya untuk mendapatkan Lucky.
Ia tau betul, kalau cinta pertama itu, sulit untuk dilupakan, apalagi ada istilah, mantan terindah.
Nah, bagi Lucky, Tsukasa adalah mantan terindahnya.
Tentu saja, ia sebagai kekasih, tidak bisa menerima itu. Ia ingin hati dan cinta Lucky sepenuhnya.
Tapi, Lucky dengan mudahnya mengatakan, kalau itu takkan pernah terjadi.
Bahkan dengan mudahnya, Lucky meninggalkannya dan memilih untuk mengejar Tsukasa, yang dengan jelas, sudah memilih Kairi untuk melupakannya.
Tentu ia tidak terima dengan sikap Lucky. Meski ia seorang playgirl, tapi ia juga punya perasaan.
Ia berjanji kepada Lucky dan dirinya, untuk takkan pernah melepaskan dan mengembalikan Lucky kepada Tsukasa.
Tentu saja, Lucky tidak setuju, tapi meski begitu, ia tidak peduli.
Ia akan melakukan apapun untuk mempertahankan Lucky di sisinya.
Ia akhirnya memutuskan untuk mengejar Lucky.
Di mana akhirnya, berujung dengan pertengkaran. Mereka pun makan siang untuk memperbaiki mood.
Lalu sehabis makan dan saat hendak pulang, terjadilah kejadian yang tak terduga.
Ia hampir saja, tertabrak oleh mobil yang melaju kencang ke arahnya.
Untung, Lucky sigap.
"Hammy, awas!"
Ia pun menoleh dan berteriak.
"Aaaah, beib, tolong aku!"
Lucky pun berlari ke arah Hammy dan menarik Hammy sekuat tenaga hingga tubuh mereka berdua, jatuh di atas aspal.
Bugh!
Lucky lalu memeluk Hammy erat dan berdiri.
"Apa kamu tidak apa-apa?"
Dia bertanya sambil memastikan, kalau tak ada luka pada tubuh Hammy.
"Aku gapapa kok, beib!"
Hammy menjawabnya sambil tersenyum.
Tanpa sadar, Lucky memeluk Hammy erat.
"Fyuh, syukurlah! Kamu sungguh membuatku takut! Jangan ulangi lagi!"
Mendengar kecemasan Lucky, membuat Hammy senang di dalam hatinya.
"Iya, beib! Aku tidak apa-apa, kok! Maaf ya, sudah membuatmu cemas!"
"Kamu ini! Lain kali, kalau mau menyebrang, liat-liat dulu! Untung saja aku sigap, jika tidak, kamu pasti sudah tertabrak!"
"Iya, beib! Maaf!"
Hammy membalas sambil menunjukkan wajah menyesalnya.
Melihat Hammy yang menyesal, Lucky menjadi tidak tega untuk memarahinya, lebih lanjut.
Lucky pun menyudahinya lalu menggandeng tangan Hammy untuk memastikan, ia bisa menyeberang dengan selamat, kali ini.
Saat digandeng oleh Lucky, tangan Hammy merasa hangat.
Ia semakin, tak ingin melepaskan rasa itu.
"Hangat!" ucapnya dalam hati.
Setelah menyebrang, mereka langsung masuk ke dalam mobil Lucky.
Lucky pun melajukan mobilnya pulang.
"Beib, bolehkah aku menginap di rumahmu sesekali?"
__ADS_1
"Untuk apa? Tidak pantas, jika seorang perempuan menginap di rumah seorang lelaki yang tidak punya ikatan!"
"Tapi, aku kan kekasihmu!"
"Kekasih, bukan istri!"
"Tapi, kekasih itu kan cuma beda setahap dari menjadi seorang istri!"
"Huft, kamu ini benar-benar keras kepala dan banyak bermimpi! Memang, siapa yang mau menikahimu?"
"Aku pasti akan menikah denganmu, beib!"
"Jangan konyol! Aku takkan mau menikahimu!"
"Beib, kamu itu milikku! Pokoknya aku gak mau tau! Kamu pilih, aku yang menginap di rumahmu atau kamu yang menginap di rumahku?"
Mendengar pertanyaan dari Hammy, dengan nada yang mengancam, membuat Lucky mengerem mobilnya secara mendadak.
"Jangan gila kamu, Hammy!"
"Aku serius!"
"Hammy, bisakah kamu sekali saja, tidak memaksaku untuk melakukan keinginanmu?"
Hammy pun mulai senjata rahasianya. Ia menangis keras di dalam mobil Lucky, bak anak kecil, yang habis dibentak.
"Huaaaaa! Apa salahku? Aku kan cuma ingin menghabiskan waktu lebih lama bersama kekasihku? Aku kan tidak minta macam-macam!"
Mendapati Hammy yang kembali menangis, Lucky mengusap wajahnya dengan kasar.
"Jangan menangis! Kamu ini cengeng sekali!"
"Huaaa! Aku dibentak!"
Lucky menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.
Dia baru tau, kalau sifat Hammy itu, selain pemaksa, tapi juga cengeng.
Hammy itu, begitu manja, bak anak kecil yang takut ditinggal.
Lucky pun akhirnya mengalah dan tak tega. Dia merasa bersalah karena sudah membentak Hammy.
Dia menarik tubuh Hammy ke arahnya dan memeluknya erat.
"Sudah, jangan menangis! Aku hanya tak suka dipaksa. Maaf, aku tak bermaksud untuk membentakmu. Kamu ingin apa?"
"Gak mau! Beib, pasti bohong! Aku mau satu hal saja, gak dituruti, tapi malah dibentak!"
"Iya, maaf! Aku takkan membentakmu lagi."
Lucky mengangguk.
"Beib, janji? Kalau aku buat kesalahan apapun, takkan membentak?"
"Iya, aku janji, hanya menegur, takkan membentak."
"Boleh aku minta 2 hal darimu?"
Lucky mengangguk.
"Pertama, penuhi dulu keinginanku yang tadi!"
Lucky sebenarnya mau menolak kembali, tapi dia sudah berjanji akan memenuhi keinginan Hammy.
"Baiklah, aku yang akan menginap di rumahmu."
"Sungguh?"
Lucky mengangguk.
Lucky lalu melajukan mobilnya kembali.
"Beib, kita mau ke mana?"
"Ke rumahku, tentu aku harus mengambil baju dan tasku dulu, kan?"
Hammy mengangguk.
Lucky lalu melajukan mobilnya ke rumahnya.
Begitu sampai di rumahnya, Lucky lalu parkir dan turun bersama Hammy.
Mereka berjalan ke pintu depan rumah Lucky.
Lucky lalu mengunci pintu mobilnya dengan remot dan membuka pintu depan rumahnya lalu mereka masuk ke dalam.
Lucky langsung masuk ke kamarnya untuk mandi sekalian ganti baju dan beres-beres untuk menginap selama dua hari di rumah Hammy.
Sementara Hammy di sofa, menunggu Lucky bersiap. Ia sangat puas.
Ia jadi tau kelemahan Lucky. Lucky memang playboy, tapi dia tidak suka, melihat seorang wanita menangis karena ulahnya.
Ia berniat untuk menggunakan tangisannya sebagai senjata rahasia, setiap mereka bertengkar.
__ADS_1
Tak lama, Lucky keluar dari dalam kamarnya dan menghampiri Hammy.
"Ayo, kita jalan sekarang!"
"Iya, beib!"
Mereka berjalan keluar dari rumah Lucky dan menaiki mobil Lucky untuk menuju ke rumah Hammy.
Begitu sampai, Lucky parkir dan Hammy, turun duluan untuk membukakan pintu untuk Lucky.
Lucky turun dari mobilnya untuk mengambil tas dan barang-barangnya lalu mengunci pintu mobilnya dengan remot, barulah dia menyusul Hammy.
Lucky lalu masuk ke dalam dan duduk di sofa ruang tamu rumah Hammy.
Hammy mengunci pintu depan dan menyusul Lucky. Ia memberitahukan letak kamar Lucky.
Lucky pun mengekori Hammy.
Begitu sampai, Hammy langsung membuka pintu kamar itu dan Lucky masuk ke dalam untuk meletakkan tas dan barang-barangnya.
Setelah itu, Hammy menunjukkan kepada Lucky, seisi rumahnya.
Lucky hanya diam selama mengekori Hammy.
"Ini kamar mandi, dapur dan ini, kamarku!"
"Jadi, kamar kita bersebelahan?"
"Yup, jadi kalau ada apa-apa, mudah!"
Lucky mengangguk paham.
"Beib, untuk makan malam, kamu mau apa?"
"Terserah padamu, kamu kan, tuan rumahnya."
"Aku mau makan malam di luar, apa boleh?"
"Baiklah, tak masalah! Tapi aku mau tidur sore dulu karena aku sangat lelah dan aku takut akan mengantuk saat menyetir."
"Oke!"
Lucky lalu pergi ke kamarnya.
Hammy hanya menatap punggung Lucky, yang perlahan menjauh sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Lihat saja, beib! Kamu akan kubuat menjadi milikku! Hanya masalah waktu!"
Selesai berucap, Hammy pun ke kamarnya dan ikut tidur sore.
Ia tidur sambil tak hentinya tersenyum, karena senang bisa membuat sang kekasih, menginap di rumahnya.
Lucky sendiri langsung pulas karena kebetulan dia memang sangat capek, dengan kencan, keributan dengan Hammy, menolong Hammy yang hampir celaka dan perdebatan soal menginap ini.
Skip malam tiba.
Lucky dan Hammy sedang bersiap untuk makan malam.
Setelah siap, mereka pergi.
Mereka makan malam di restoran pilihan Hammy.
Begitu tiba, Lucky parkir lalu mereka turun dan masuk ke dalam bersama.
Mereka mencari tempat duduk yang kosong lalu memesan makanan dan minuman.
Mereka mengobrol sambil menunggu pesanan mereka tiba.
"Jadi, apa keinginan keduamu?"
"Sebenarnya, aku masih ada dua keinginan lagi, apa boleh?"
"Baiklah, selama aku masih bisa memenuhinya maka akan kulakukan, lagipula aku sudah berjanji padamu, kan?"
Hammy mengangguk.
"Jadi, permohonan keduaku adalah aku ingin...."
Wah, mulai hari ini, Lucky akan menginap di rumah Hammy selama dua hari!
Kira-kira, apa permohonan kedua Hammy?
Akankah Lucky memenuhinya?
Bagaimana perasaan Hammy?
Benarkah dengan cara ini akan memudahkan Hammy untuk mendapatkan seluruh cinta dan hati Lucky?
Apa yang akan dilakukan oleh Lucky, saat mengetahui, kalau ini cuma cara Hammy untuk mendapatkannya?
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Akankah timbul banyak pertengkaran atau justru, mereka makin dekat sesuai dengan keinginan Hammy?
Apakah rasa bersalah yang dimiliki oleh Lucky membawa keuntungan atau justru menjadi bumerang di dalam hubungan mereka ke depannya?
__ADS_1
Sanggupkah mereka mengatasinya atau justru memperkeruh keadaan?
Next / stop? Like dan komen!