Playboys Dan Playgirls Bersatu Karena Cinta

Playboys Dan Playgirls Bersatu Karena Cinta
Hammy Mengancam Lucky


__ADS_3

Baru saja, Hammy merasa bahagia, karena Lucky menginap di rumahnya, meski hanya selama 2 hari.


Baru saja, Hammy merasa bahagia, karena taktiknya untuk mendapatkan perhatian dari Lucky, berhasil.


Baru saja, Hammy ingin memberitahu Tsukasa, kalau hubungan mereka, mengalami kemajuan ke arah yang jauh lebih baik.


Baru saja, Hammy merasa, kalau perlakukan Lucky terhadapnya, berubah menjadi hangat.


Baru saja, ia merasakan, kalau hubungan mereka mulai mesra.


Tapi kenapa, itu semua tidak bertahan dengan lama?


Tapi kenapa, semua itu hilang dalam sekejap mata?


Kenapa yang sudah ia dapatkan dengan susah-payah, dengan mudahnya, menghilang begitu saja?


Kenapa Lucky langsung pergi meninggalkannya, di saat ia sedang bahagianya, mengumumkan hubungannya tentang mereka?


Kenapa di saat ia bertemu dan menyambut kepulangan Lucky, malah mendapatkan kenyataan, kalau Lucky pulang dalam keadaan mabuk?


Kenapa di saat Lucky sedang mabuk pun, hanya nama seorang wanita yang disebutnya?


Nama wanita yang sangat dibencinya.


Nama wanita yang berhasil menyita perhatian, cinta dan hati Lucky sepenuhnya.


Apakah ia benar-benar tidak bisa memiliki Lucky seutuhnya?


Apakah ia harus mengalah kepada saingannya, yang kini sedang menjadi milik orang lain?


Hammy menggeleng kuat.


Ia sungguh tak sanggup, kehilangan Lucky.


Ia sungguh tak sanggup, kehilangan semua perhatian dan kehangatan yang pernah didapatnya.


Ia sungguh tak bisa membayangkan, kalau Lucky menghilang dari sisinya.


Ia menatap Lucky, yang kini sedang berbaring telungkup.


Lucky sungguh mabuk berat.


Ia kembali menatap ke depan dan mengusap wajahnya dengan kasar.


Ia membantu melepas sepatu Lucky.


Ia lalu berjalan ke sisi ranjang dan menyelimuti Lucky.


Di saat itulah, ia tidak hentinya mendengar suara racauan Lucky.


Suara racauan yang sama dan berulang kali diucapkan.


"Tsukasa, kenapa kamu meninggalkanku? Kenapa kamu lebih pilih dia? Jangan dengarkan Hammy! Hatiku dan cintaku sepenuhnya hanya untukmu, Tsukasa sayang!"


Hammy yang mendengar itu, sangat jengkel.


"Tsukasa! Selalu saja, Tsukasa! Kamu itu kekasihku, tapi kenapa, selalu nama wanita itu yang kamu ingat dan sebut?"


Hammy pun mengepalkan kedua tangannya dengan penuh emosi.


"Apa sih yang diperbuat Tsukasa kepadamu hingga kamu cinta mati kepadanya?"


Hammy bangun dari sisi ranjang dan melangkah keluar dari kamar itu.


Ia pun menuju ke kamarnya.


Setelah itu, ia kembali ke kamar yang ditempati oleh Lucky sambil membawa ponselnya.


Ia memutuskan untuk berbaring di sisi Lucky sambil memainkan ponselnya.


Saat sedang asik bermain, ia merasa, kalau tangan Lucky sedang merangkul pinggangnya.


Entah dapat ide dari mana, posisi Lucky yang memeluk pinggangnya, membuatnya ingin memotretnya.


Melihat posisi Lucky yang seperti ini, membuat Hammy ingin melakukan sesuatu.


Hammy mengangkat tangan Lucky dan menyingkirkan tangannya.


Tapi Lucky, malah meronta dan memeluk Hammy makin erat.


"Tolong, jangan pergi! Aku butuh kamu di sisiku."


Melihat Lucky yang seperti ini, Hammy jadi ingin merekamnya.


Ia lalu mulai menyalakan tombol perekam lewat ponselnya.


Ia meletakkan ponselnya di nakas, sampingnya ia berbaring.


Setelah itu, terjadi kejadian tak terduga. Lucky, tiba-tiba bangun dan menindih tubuhnya.


"Beib, kamu mau apa?"


Tanpa menjawab, Lucky langsung mencium bibir Hammy dan **********.


Hammy tidak membalasnya.


Lucky tak hentinya, mencium bibir Hammy.


Akhirnya runtuh juga pertahanan Hammy, ia pun membalas ciuman dari Lucky.


Makin lama, ciuman Lucky makin dalam, makin panas dan makin mesra.


Hammy pun ikut larut dalam permainan Lucky.


Tak lama, nafas keduanya sudah memburu.

__ADS_1


Bau alkohol, tercium kuat dari aroma nafas Lucky.


Lucky lalu kembali melanjutkan aksinya karena tubuhnya sudah mulai memanas.


Dia melepaskan bajunya dan Hammy secara kasar dan terjadilah, malam yang gak seharusnya.


Hammy, hanya diam saja merasakan semua sentuhan itu, tapi dalam hatinya, ia merasa sangat senang. Ia sungguh menikmati sentuhan itu.


Meski sambil melakukannya, Lucky meracau nama Tsukasa.


Hammy sadar betul, kalau yang dilihat dan dibayangkan Lucky yang ada di hadapannya saat ini, bukanlah dirinya, tapi Tsukasa, tapi ia sudah tidak peduli lagi.


Ia merasa dengan melakukan ini maka ia sudah menjadi milik Lucky, begitu pun sebaliknya.


Malam itu sungguh terasa panas dan panjang. Mereka melakukannya berulang kali hingga Hammy merasa kelelahan dan Lucky merasa puas.


Lucky, tentu saja yang tertidur duluan, setelah keinginannya terpuaskan.


Hammy masih sempat melihat hasil rekaman itu.


Ia bahkan menutup mulutnya, saking tak percaya dengan suara yang ia keluarkan tadi.


Suaranya terdengar, begitu menikmati sentuhan itu.


Ia segera menyimpan video rekaman itu, untuk berjaga kalau Lucky tidak mau mengakui, kalau mereka sudah melakukan itu.


Lalu ia pun tidur menyusul Lucky, sambil menarik tangan Lucky yang seolah tengah memeluknya dan menarik selimut untuk menutupi kedua tubuh mereka.


Ia melakukan itu untuk menunjukkan, seolah itu memang keinginan mereka, bukan karena paksaan.


Ia tau, kalau ia sudah berbuat salah, tapi kesempatan untuk memiliki Lucky, menghampirinya maka ia tidak mungkin membuang kesempatan itu.


Ia sadar, kesempatan ini hanya datang sekali dalam seumur hidup.


Keesokan paginya.


Lucky bangun terlebih dahulu.


Kepalanya sangatlah pusing hingga dia mengetuk-ngetuk pelan pelipisnya, sambil geleng-geleng kepalanya untuk mendapatkan kembali kesadarannya.


Dia lalu merasakan keanehan.


Entah kenapa, badannya terasa pegal-pegal. Dia lalu meregangkan ototnya yang kaku.


Lalu dia turun dari ranjang, saat itulah, dia menyadari sesuatu.


"Eh, kenapa tubuhku polos begini?"


Dia lalu melihat, kalau bajunya sudah berserakan ke mana-mana.


Saat dia hendak mengambil bajunya, dia mendengar suara erangan dari balik tubuhnya.


Dia baru sadar, kalau dia tidak sedang sendirian di kamar itu.


"Engh!"


Deg!


"Hammy? Kamu, kenapa bisa ada di kamar ini?"


"Hoam, halo, beib! Pagi, beib!"


Saat Hammy bangun, ia merasa, kalau tubuhnya remuk dan kesakitan.


"Aw!"


Mendengar suara aduh dari Hammy, Lucky menghampiri dan melihat kalau Hammy sama sepertinya.


"Hammy, kamu kenapa? Kok kamu sama sepertiku?"


"Kamu tak ingat soal semalam, beib?"


Deg!


Pertanyaan Hammy membuat Lucky merasa tidak nyaman.


"Apa maksudmu soal semalam?"


"Kamu tidak melihat, kalau aku seperti ini sekarang?"


"Jangan bilang, kalau aku dan kamu, semalam, kita...?"


Hammy mengangguk membenarkan.


Anggukan Hammy membuat Lucky tersentak kaget.


"Kalau kamu tak percaya, aku ada buktinya!"


"Aku mau mandi dulu!"


Lucky langsung bergegas mengambil bajunya yang berserakan dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan mengganti bajunya.


Setelah itu, dia kembali ke kamarnya dan menghampiri Hammy.


"Apa masih sakit?"


"Sakit, beib!"


Lucky lalu menggendong Hammy ala bridal style dan membawanya ke bawah shower.


Dia menurunkannya di sana.


"Aku akan menunggumu di luar, panggil saja kalau kamu sudah selesai!"


"Iya, beib!"

__ADS_1


Lucky lalu melangkah keluar dari kamar mandi dan menunggu Hammy, yang saat ini sedang mandi.


15 menit kemudian.


Terdengar suara Hammy memanggil namanya.


Dia melangkah masuk dan menggendong Hammy kembali hingga ke depan lemari pakaian.


"Gantilah bajumu, aku akan menyiapkan sarapan untuk kita berdua!"


Hammy mengangguk.


Lucky lalu berjalan keluar dan menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.


Tak lama, terlihat Hammy menyusul, meski dengan langkah pelan.


Lucky hari ini hanya memasak ramen.


Mereka pun sarapan dengan hening.


Selesai sarapan, Lucky merapikan semuanya.


Hammy bersiap ke kampus, di kamarnya. Lucky pun menyusul di kamarnya.


Dia bersiap sekalian merapikan barang-barangnya karena dia memutuskan untuk pulang ke rumahnya, sehabis dari kampus.


Setelah beres semuanya, tanpa sengaja, dia melihat ada noda pada sprei putih itu.


Itu menandakan, kalau ucapan Hammy soal semalam itu tidak bohong.


Lucky menghembuskan nafas berat dan mengusap wajahnya secara kasar.


Dia berjalan gontai ke luar kamar itu.


Dia lalu memasukkan tasnya ke dalam mobilnya.


Hammy yang sudah selesai lalu menyusul Lucky.


Mereka pun berangkat bersama ke kampus.


Sesampainya di kampus, Lucky parkir mobilnya, tapi tidak turun.


Hammy yang paham, langsung menunjukkan soal bukti rekaman itu kepada Lucky.


Lucky yang melihatnya, langsung melotot saking tidak percayanya dan memegang ponsel Hammy dengan tangannya yang gemetar.


"Lihat, kan? Aku tidak bohong kalau semalam itu, kita sudah...."


Lucky langsung mengembalikan ponselnya Hammy.


Hammy pun mengambilnya dengan senang hati.


"Jadi, apa maumu?"


"Mauku, tentu saja kamu tanggung jawab karena aku sudah tidak mungkin bisa menikah dengan orang lain dan gimana, kalau aku sampai hamil? Lalu aku ingin, kamu mulai saat ini belajar melupakan Tsukasa dan menjauhinya atau aku akan menunjukkan bukti rekaman ini kepadanya! Lalu aku mau, kamu mengakuiku sebagai kekasihmu dan memanggilku, beib! Terakhir, jika kamu bertemu Tsukasa, aku mau, kamu mengenalkanku sebagai calon istrimu!"


"Kamu mengancamku, Hammy?"


"Tidak, tapi akan kulakukan, kalau kamu masih saja mendekati Tsukasa! Aku sudah lelah dengan sikapmu, jadi aku memutuskan untuk mengambil langkah tegas! Jika kamu tak percaya, silahkan saja maka kamu akan lihat, apa ini hanya ancaman atau aku sungguh akan melakukannya, jadi, jangan salahkan aku karena aku sudah memperingatimu!"


"Hammy, tak kusangka, kamu adalah orang yang seperti ini!"


"Kamu yang sudah membuatku seperti ini! Aku sudah memberimu perhatian dan memberimu kelembutan, tapi kamu selalu saja mencintai gadis lain! Jadi aku pun memutuskan, jika aku tidak bisa memilikimu maka jangan harap, Tsukasa bisa memilikimu! Kamu sepenuhnya adalah milikku, Lucky dan aku akan mengawasimu!"


Selesai berucap, Hammy lalu keluar dari dalam mobil Lucky dan berlari masuk ke kampus, menghiraukan panggilan dan teriakan Lucky di belakangnya.


Lucky yang ditinggal, merasa marah dan mengeratkan genggamannya di setir mobilnya.


Dia sungguh mengutuk dirinya dan minuman keras itu.


Seandainya, dia tidak mabuk semalam maka Hammy tidak punya senjata untuk mengancamnya seperti ini.


Kini harapannya untuk kembali bersama Tsukasa, lenyap sudah.


Dia lalu turun dari dalam mobilnya, mengunci pintu mobilnya dan berjalan masuk ke dalam kampus sambil berusaha untuk menerima keadaan dirinya yang sekarang, dengan hati yang berat.


Sementara Hammy, merasa sangat puas.


Akhirnya impiannya menjadi milik Lucky terwujud, meski dengan cara yang salah, tapi ia tidak menyesalinya sama sekali.


Cintanya kepada Lucky, sungguh membuatnya buta dan membuatnya menghalalkan segala cara untuk mempertahankan Lucky di sisinya.


"You are mine now and forever!"


Hammy mengucapkan itu sambil tersenyum smirk lalu bersiap untuk mengikuti pelajaran.


Lucky pun bersiap mengikuti pelajaran, tapi sayangnya, dia tidak semangat dan menyesali perbuatannya yang semalam.


Mereka kini sedang mengikuti pelajaran hingga akhir dan jam pulang, tiba.


Kira-kira, apa yang akan terjadi selanjutnya?


Akankah Lucky menerima keadaan dan menjauhi Tsukasa?


Berapa lama hubungan mereka akan bertahan?


Akankah Hammy hamil akibat dari perbuatan Lucky semalam?


Bagaimana respon Tsukasa dan Emu, saat mengetahui soal kejadian semalam?


Maukah Lucky bertanggungjawab atau justru lari?


Akankah keputusan Lucky nantinya, semakin mengubah sifat Hammy?


Next/stop? Like dan komen!

__ADS_1


__ADS_2