
Setiap orang yang berbuat salah, tentu harus minta maaf, bukan?
Meski nantinya mendapatkan penolakan ataupun kemarahan, tetap harus dilakukan.
Itulah yang diinginkan oleh Lucky dari Hammy.
Dia ingin menasihati Hammy, jika ia berbuat salah maka ia harus berani bertanggungjawab atas perbuatannya.
Caranya adalah dengan berani mengakui kesalahan dan meminta maaf.
Penolakan ataupun kemarahan, itu urusan nanti, yang penting, sudah berani meminta maaf.
Akhirnya, setelah diberikan pengertian oleh Lucky dan memastikan kalau Lucky akan berada di sisinya, di saat ia ditolak nanti, Hammy pun bersedia, meski dengan berat hati karena takut dengan akibat yang akan ia terima nantinya.
Hal itu pun terwujud di saat pulang kampus.
Lucky berhasil mengatur tempat ketemuan mereka, yaitu di lobi kampus.
Awalnya, hanya Hammy yang ingin meminta maaf, tapi begitu mendengar, Kairi akan bicara sesuatu maka langsung saja ditetapkan.
Untungnya, Kairi dan Tsukasa langsung saja setuju.
Setelah itu, mereka berempat, langsung ketemuan dan berkumpul di lobi kampus, seperti saat ini.
Skip di lobi kampus.
Suasana begitu canggung.
Tak ada seorangpun yang mau bicara duluan.
Lucky, akhirnya meminta Hammy maju duluan karena memang ia cewek dan karena ia yang punya kepentingan, jadi harus segera diungkapkan.
Kairi dan Tsukasa pun diam saja karena mereka penasaran dengan apa yang mau disampaikan oleh Hammy.
Hammy ditemani oleh Lucky, berusaha menyampaikan apa yang mau dibicarakannya.
Untungnya saja, semuanya lancar hingga Hammy sudah tidak merasakan beban lagi sama sekali.
Tapi sayangnya, ia harus menerima akibat dari ucapannya itu.
Tsukasa tidak menerimanya dan tampak sangat marah kepadanya.
Hal itu memicu Lucky untuk bicara berdua dengan Tsukasa.
Hammy, hanya bisa diam melihat interaksi di antara keduanya.
Ia sadar, kalau ini memang salahnya.
Ia tidak bisa menyalahkan Tsukasa.
Ucapannya yang mengatakan, jika ia sendiri yang berada di posisi Tsukasa, gimana? Membuatnya sadar, kalau ia memang sudah salah dalam hal berucap.
Ia hanya bisa menunduk di dalam diam.
Belum selesai disalahkan oleh Tsukasa, kini Kairi menghujaninya dengan pertanyaan yang sangat sulit untuk ia jawab.
"Tadi kamu sempat bilang, kalau kamu menghina Tsukasa, menghina yang seperti apa, maksudmu? Memang kamu menghinanya dengan sebutan apa?"
Hammy meneguk salivanya dengan kasar. Meski begitu, ia menjawab pertanyaan Kairi dengan jujur.
Siapa sangka, reaksi Kairi sangat marah dan menakutkan.
Ia tak mengira sama sekali, kalau Kairi hendak menamparnya.
Ia hanya bisa menutup matanya, saking ketakutan.
Anehnya, meski ia menutup mata selama mungkin, tak ada apapun yang terjadi padanya.
Ia tak merasakan sakit sama sekali.
Ia pun penasaran dan hendak membuka matanya.
Tapi sebelum itu terjadi, ia mendengar sebuah suara yang tak asing di telinganya.
"Jangan pernah sakiti, Hammy! Kamu tak berhak sama sekali untuk menyakitinya!"
Ucapannya itu, tentu memicu berbagai reaksi di sekelilingnya.
"Dia melindungi Hammy yang bukan siapa-siapanya? Apa mungkin, dia...?"
"Kenapa dia melindungi Hammy sampai segitunya?"
"Kenapa dia marah, saat Hammy disakiti?"
"Kenapa dia sangat ingin melindungiku?"
"Uh, selalu saja begini! Kenapa sih, dia tak bisa membiarkan Hammy begitu saja?"
Ya, jadi ada yang memberikan reaksi bingung.
Ada yang memberikan reaksi berlebih ataupun marah.
Kenapa? Karena dia tidak bersikap layaknya teman.
Dia membela kekasih orang lain dan itu tidak wajar, kecuali, jika dia memiliki rasa lebih.
"Kenapa kamu melindunginya, padahal kamu gak tau apa-apa? Kenapa kamu membelanya, padahal kamu gak tau, kalau ini adalah salahnya?"
Di saat itulah, Lucky maju dan menarik Hammy ke dalam dekapannya.
"Apa kamu takut? Apa kamu baik-baik saja?"
Hammy mengangguk pelan sambil mencengkram baju Lucky, yang menandakan, kalau ia sungguh-sungguh ketakutan.
__ADS_1
Lucky membawa Hammy, menjauh dari sana sambil memeluknya.
Hammy sungguh speechless.
Lucky berusaha untuk menenangkannya.
"Beib, takut!"
"Tak apa, ada aku di sini! Aku takkan membiarkan Kairi menyentuhmu ataupun menyakitimu!"
Hammy mengangguk pelan.
Hal itu, memicu rasa iri terhadap Hammy.
"Ih, dasar cengeng! Pasti itu cuma alasannya untuk menggaet Lucky! Sebel!"
"Enak ya, udah punya kekasih! Masih aja, cari perhatian dari kekasih orang lain?"
Monolog mereka di dalam batin mereka masing-masing.
Sementara Hammy yang tak tau apa-apa, sudah mulai menangis di dalam dekapan Lucky.
"Jadi, apa maksudmu menyakiti Hammy, Kairi? Jangan pernah menyentuh ataupun menyakiti Hammy!"
"Sebelum aku menjawab pertanyaanmu, jawab dulu pertanyaanku! Kenapa kamu begitu perhatian pada Hammy, padahal kamu belum tau, siapa yang salah di sini? Kenapa kamu begitu peduli pada Hammy, Emu?"
Seketika yang ditanya, hanya bisa diam mematung.
Lucky yang penasaran, pun ikut maju dan bertanya.
"Aku juga penasaran, kenapa kamu begitu ingin melindungi Hammy? Kita semua di sini tau, kalau itu adalah hakku! Apa kamu memiliki suatu rasa terhadap Hammy, Emu?"
Hening.
"Gawat! Niatku cuma ingin menolong Hammy, tapi siapa sangka, justru membuatku terjebak?"
Suasana pun berubah menjadi semakin canggung.
"Sudah kuduga akan seperti ini, jadinya!"
Selesai berucap, orang itu pun maju.
Tapi, langkahnya terhenti.
"Aku cuma menganggap Hammy sebagai teman! Apa salahnya, jika melindungi teman sendiri?"
Sayangnya, jawaban Emu, tidak membuat Lucky maupun Kairi percaya padanya.
"Kamu pikir, aku bakal percaya, Emu? Aku tidak sebodoh itu!"
"Bukan hanya Kairi, perhatianmu pada Hammy, justru membuatku curiga, Emu!"
Glek!
Orang itu pun kembali melangkah karena merasa dan melihat, kalau Emu sudah terpojok.
"Yang dikatakan oleh Emu itu, jujur, apa adanya! Apa kalian lupa, kalau dirinya itu sudah memiliki kekasih? Jika dia lebih mementingkan Hammy dibandingkan kekasihnya, itu artinya, dia selingkuh, bukan? Lalu apa kalian pikir, kalau aku akan diam saja diselingkuhin oleh Emu? Jawabannya adalah tidak!"
Mendengar itu, membuat Emu, Kairi dan Lucky menoleh ke asal suara.
"Lho, Asuna? Kamu ada di sini juga?"
"Tentu saja, kalau Emu tidak sedang bersamaku lalu dia sedang bersama siapa?"
Pertanyaan itu membuat Lucky dan Kairi mematung.
Kini tuduhan mereka tidak ada bukti sama sekali.
Meski begitu, Lucky masih tetap mencurigai Emu. Dia yakin, kalau perasaan yang dimiliki oleh Emu, bukan sekedar ingin melindungi teman semata, tapi ada unsur lain di dalamnya.
Tanpa berucap, dia memutuskan untuk menyimpannya di dalam hatinya.
Dia lalu kembali melanjutkan urusannya dengan Kairi.
"Kairi, aku juga ingin bertanya padamu, apa maksudmu dengan ingin menampar Hammy tadi?"
"Apa kamu tak dengar yang diucapkannya?"
"Aku tau, tapi ini urusan mereka berdua, lagipula, Hammy sudah mau minta maaf, ditambah, tidak pantas jika seorang pria menampar seorang gadis!"
"Aku memang mau menasihati dirinya, tapi bukan berarti, dengan cara ditampar!"
Lucky dan Emu mematung.
"Kalianlah yang menuduhku, bahkan kalian tak punya bukti apapun, jika aku berniat untuk menyakiti Hammy! Siapa yang bilang, aku mau menamparnya? Aku juga gak mungkin, menampar seorang gadis!"
Lucky dan Emu kembali mematung.
Kairi lalu berjalan menghampiri Hammy.
Hammy mulai melangkah mundur karena saking takutnya.
Dengan sigap, Kairi mencekal lengan Hammy sehingga Hammy gak bisa ke mana-mana.
"Dengar, Hammy, soal cemburumu, aku tak menyalahkan soal itu! Kamu berhak untuk cemburu karena aku pun akan melakukan hal yang sama kepada Lucky, bahkan mungkin, aku akan menghajarnya, saat melihat mereka bersama! Tapi bukan berarti, kamu berhak untuk membentak, apalagi menghinanya, ditambah, kamu itu kan, seorang gadis? Jika memang Tsukasa berbuat salah maka akulah yang berhak untuk menegurnya karena Tsukasa adalah tanggung jawabku! Kamu sendiri juga tak ingin dihina, kan? Tak ada seorangpun yang ingin dihina! Kamu berhak marah, tapi kamu tak berhak untuk menghinanya seperti itu, sama seperti, Lucky yang berhak menegurku karena tak suka, aku yang hendak menyakitimu! Lain kali, pikirkan dulu bicara dan tindakanmu, sebelum kamu melakukannya! Apakah kamu menyakitinya atau tidak? Kalian itu adalah tanggung jawab kami masing-masing! Asuna adalah tanggung jawab Emu, kamu adalah tanggung jawab Lucky dan Tsukasa adalah tanggung jawabku karena kalian adalah kekasih kami! Apa kamu paham, Hammy?"
Hammy menunduk sambil mengangguk pelan.
Setelah mendapat anggukan, Kairi mulai berjalan menghampiri Tsukasa dan mengajaknya pergi dari sana, sambil merangkulnya.
Hammy masih tetap menunduk dalam diam.
Lucky dan Emu masih diam mematung sambil mencerna ucapan Kairi yang barusan.
__ADS_1
"Asuna adalah tanggung jawabku?"
"Hammy adalah tanggung jawabku?"
"Memang benar, kalau Asuna adalah kekasihku, tapi kalau ia menjadi tanggung jawabku, apakah aku akan sanggup menjalankannya?"
"Memang benar, kalau Hammy adalah tanggung jawabku karena kejadian malam itu, tapi di hatiku, masih tersimpan nama Tsukasa. Akankah aku bisa melakukannya dengan baik?"
Itulah isi batin mereka masing-masing.
Asuna yang melihat Hammy sedang sendirian, mulai berjalan menghampirinya karena merasa ada kesempatan untuk bicara dengannya.
"Hammy, bisakah aku minta nomor ponselmu?"
Hammy mendongak lalu memberikan nomor ponselnya kepada Asuna.
"Makasih, Hammy!"
Lalu Asuna berjalan menghampiri Emu.
Ia terlihat, mengajak Emu pergi lalu Emu pun mengangguk. Mereka pun pergi bersama, entah ke mana, mungkin ke rumah sakit untuk bekerja.
Hammy lalu berjalan perlahan menghampiri Lucky.
"Beib? Pulang, yuk!"
"Ah, iya! Ayo!"
Mereka pun pulang bersama.
Mereka langsung pulang karena mereka gak ada mood untuk jalan-jalan setelah apa yang terjadi hari ini.
Kairi dan Tsukasa pun pulang, sama, mood mereka juga hancur karena hari ini.
"Kenapa sih, Lucky jadi membela Hammy?"
"Tak kusangka, ada kejadian, Hammy menghina Tsukasa, tapi kenapa, Tsukasa diam saja? Jika tak diceritakan oleh Hammy maka aku takkan pernah tau!"
Skip Emu dan Asuna.
"Ih, sebel! Emu langsung lupa diri jika sudah menyangkut Hammy! Awas aja kamu, Hammy!"
"Hammy sempat menghina Tsukasa? Memang ada kejadian apa? Lalu ucapan Kairi tadi, apa aku sungguh sanggup melakukannya?"
Skip Lucky dan Hammy.
"Lucky tadi sempat marah, saat Kairi hendak menamparku dan juga, membelaku di depan Tsukasa! Apa aku boleh menganggapnya sebagai bentuk perhatian? Lalu Emu menjadi aneh, kenapa Emu, begitu ingin melindungiku, yang justru itu adalah kewajiban dari Lucky?"
"Tak kusangka, Tsukasa tega berucap seperti itu soal Hammy, meski, itu memang salahnya! Emu, entah kenapa, aku sulit percaya padanya, saat dia mengatakan cuma menganggap Hammy sebagai teman? Lalu Kairi, apa iya, aku bisa bertanggungjawab sepenuhnya soal Hammy?"
Itulah isi pikiran mereka di sepanjang perjalanan, menuju ke tempat tujuan mereka masing-masing.
Lucky dan Hammy, begitu sampai di rumah Lucky, langsung mandi, ganti baju lalu makan siang dan segera tidur siang hingga malam tiba.
Hal yang sama dilakukan oleh Kairi dan Tsukasa di rumah Tsukasa.
Sedangkan Emu dan Asuna, sengaja menyibukkan diri dengan pekerjaan setelah mereka makan siang hingga malam tiba.
Skip malam tiba.
Mereka makan malam lalu memutuskan untuk beristirahat ataupun mengerjakan tugas sebelum istirahat karena besok kuliah, jadi mereka tak ingin tidur terlalu malam.
Skip Hammy.
Hammy, saat ini sedang mengerjakan tugas kuliahnya hingga mendapatkan sebuah pesan di ponselnya.
Ia pun mengeceknya, ternyata itu adalah pesan dari tanpa nama pengirim.
Ia pun membukanya karena penasaran dan tak lama, ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya karena saking kaget dan tak percayanya, dengan isi pesan yang dibacanya.
Ia menggelengkan kepalanya dengan kuat untuk memastikan, kalau ia tak salah baca atau ini hanya mimpi.
Ternyata tidak, itu bukan mimpi.
Ia sungguh kaget. Matanya mulai berkaca-kaca dan air matanya mulai mengalir dan membasahi pipinya. Ia menangis tak bersuara.
Sebenarnya, apa isi dari pesan yang dibaca oleh Hammy?
Siapakah pengirimnya?
Akankah ketahuan?
Akankah ketahuan, kalau Emu mencintai Hammy?
Akankah ada perubahan dalam hubungan Emu dan Asuna, beserta Lucky dan Hammy, setelah mendapatkan teguran dari Kairi?
Kapankah Tsukasa bisa memaafkan Hammy?
Siapakah yang akan jatuh cinta duluan?
Benarkah, kalau Asuna sudah mulai cemburu kepada Hammy?
Benarkah kalau Tsukasa merasa menyesal, telah memutuskan Lucky?
Akankah Tsukasa berniat untuk kembali bersama Lucky setelah kejadian ini?
Lalu apa respon dan apa tindakan Lucky, jika memang benar, itu yang terjadi?
Lalu bagaimana dengan nasib Hammy selanjutnya?
Apa yang akan terjadi selanjutnya dengan hubungan mereka berenam? Akankah membaik atau justru makin buruk?
Next/stop? Like dan komen!
__ADS_1