
Saat ini, suasana sedang tegang.
Lucky yang ingin bicara dengan Tsukasa, akhirnya berhasil, meski harus menghadapi penolakan dari Kairi di awalnya.
Itupun karena dia sedikit memaksa Tsukasa untuk ikut dengannya.
Di saat sudah berduaan, Lucky mendapatkan sebuah kejutan.
Tsukasa menolak dirinya dan lebih memilih untuk kembali kepada Kairi yang telah menunggunya.
Hal itu membuat Lucky kesal.
Gimana tidak? Udah capek-capek berhasil dibuat berduaan, eh, malah mikirin pria lain.
Bahkan, Tsukasa sendiri membalikkan badannya dan ingin pergi dari sana.
Ia juga terus mengingatkan dirinya untuk menjaga hubungannya dengan Hammy.
Lucky yang sudah tak tahan, memeluk Tsukasa dari belakang untuk mencegahnya pergi.
Di saat itulah, tamu yang tidak diharapkan muncul. Bahkan, tamunya dua orang.
Yang satunya, pengacau dan perusak suasana.
Satunya lagi, tukang ancam yang bikin suasana makin tegang dan dirinya, ketakutan akan hal itu.
Melihat si tukang ancam mulai menjalankan aksinya, Lucky, akhirnya mengalah dan membawanya pergi dari sana.
Mereka sedang berada di dalam mobil Lucky untuk berdiskusi.
Tapi bukan diskusi, soal ke mana mereka pergi berkencan, tapi soal pertengkaran mereka.
"Apa kamu sudah gila sampai melakukan hal tadi?"
"Kenapa? Takut?"
"Kamu tau? Kamu melakukan itu, sama saja dengan kamu mempermalukan dirimu, tau?"
"Terpaksa! Demi mempertahankanmu, aku sudah tidak peduli!"
"Tapi kan, gak gitu juga caranya!"
"Kalau gitu, beritahu aku! Beritahu aku, gimana aku bisa mempertahankanmu di sisiku?"
Hening.
"Tuh kan, kamu diam saja!"
Lucky benar-benar bingung dengan Hammy.
Dia tak menyangka, kalau Hammy akan tega berbuat seperti itu, hanya demi, mempertahankannya.
Lucky menghembuskan nafas berat.
"Ayo, kita lanjutkan saja kencan kita, ya?"
"Baiklah!"
"Jadi kamu mau, kita ke mana?"
"Aku mau, kita ke mall dan aku ingin, kamu bersikap romantis!"
Lucky, akhirnya memutuskan untuk menuruti keinginan kekasihnya, daripada mereka harus bertengkar terus.
Lucky lalu melajukan mobilnya menuju ke mall, yang diinginkan oleh kekasihnya.
Begitu sampai di mall, Lucky parkir mobilnya.
Mereka turun bersama lalu Lucky mengunci pintu mobilnya.
Mereka berjalan bersama ke dalam, sambil Hammy menggandeng lengannya.
Banyak pasang mata yang melihat dan iri kepada mereka.
"Mereka pasangan yang cocok!"
"Benar! Yang cowok, tinggi, keren dan tampan bak model dan ceweknya, cantik dan imut!"
"Mereka sungguh serasi."
Lucky hanya diam saja, karena dia tidak tau, apa lagi yang akan dilakukan oleh Hammy, jika sampai, dia melepaskan tangan mereka saat ini.
Mendengar pujian itu, Hammy tersenyum puas.
"Tuh kan, beib! Kamu dengar sendiri, kan? Mereka itu bilang, kalau kita serasi!"
"Iya, beib! Aku mendengarnya dengan sangat jelas."
"Syukurlah, kalau gitu! Aku gak salah menaruh hatiku padamu!"
"Memang gak salah, tapi caramu yang salah!"
"Terpaksa! Jika tidak begitu maka aku takkan bisa memilikimu!"
"Tapi, gak seperti itu caranya! Semua tak ada yang instant! Semua butuh proses!"
"Kalau begitu, beritahu aku! Beritahu aku, bagaimana cara agar aku bisa mendapatkanmu seutuhnya?"
"Kamu kan bisa menungguku untuk memberikan hatiku kepadamu atau kamu bisa memberiku kesempatan untuk belajar mencintaimu lewat perhatian yang kamu berikan?"
"Berapa lama? Sampai kapan? Kita berdua tau, kalau selama ada Tsukasa maka aku takkan pernah bisa mendapatkanmu!"
"Kenapa kamu selalu membawa Tsukasa di dalam hubungan kita?"
"Kamu sudah tau alasannya kan, beib? Kamu sendiri masih ingin kembali bersamanya lalu kapan kamu akan memberiku kesempatan untuk masuk ke dalam hatimu?"
"Itu karena kamu yang sudah merebutku darinya! Ingat, saat itu, Tsukasa adalah kekasihku! Jadi wajar, kalau kami kembali bersama!"
"Tapi sekarang, kalian sudah putus, kan? Jadi kuminta, kamu serahkan cintamu dan hatimu sepenuhnya, hanya untukku seorang, mulai dari sekarang!"
Tanpa berucap lagi, Lucky melanjutkan langkahnya.
Hammy pun dengan setia mendampinginya.
Mereka melanjutkan kencan mereka hingga sore.
Begitu sore tiba, Lucky mengajak Hammy pulang.
Mereka menaiki mobil Lucky menuju ke rumah Hammy.
Begitu sampai di rumah Hammy, Lucky parkir mobilnya lalu mereka turun bersama.
Lalu mereka masuk bersama.
Lucky langsung masuk ke dalam kamarnya dan memutuskan untuk langsung mandi dan ganti baju.
__ADS_1
Setelah itu, dia masuk ke kamarnya dan berbaring.
Dia berbaring sambil mencerna semua ucapan Hammy tadi.
Memang benar, kalau dia masih mengharapkan untuk kembali bersama Tsukasa.
Memang benar, selama ada Tsukasa maka tak mungkin, mereka akan bersatu.
Di saat yang bersamaan pula, dia teringat akan ucapan Tsukasa tadi.
"Jika kamu memang kekasihku, kenapa kamu menciumnya? Kenapa kamu tidak menghindar atau mendorongnya? Apa kamu menikmati ciuman kalian?"
Memang benar, di sini kesannya, dialah yang sudah berselingkuh dari Tsukasa.
Dia sama sekali tidak bisa membayangkan expresi jijik dari Tsukasa, saat melihat video itu.
Memang benar, jika dia tidak belajar mencintai Hammy maka akan menjadi tidak adil bagi Hammy.
Lucky menghembuskan nafas berat dan mulai memejamkan matanya.
Tak lama, dia pun tertidur, karena memang, tubuh dan batinnya lelah saat ini.
Ditambah, begitu banyak yang terjadi hari ini.
Sementara Hammy, baru saja selesai mandi dan ganti baju. Lalu ia berbaring sambil tersenyum puas.
Ia merasa yakin, kalau ia sudah bisa memiliki Lucky.
Ia merasa yakin, kalau kini, sudah tidak ada penghalang di antara mereka.
Meski jauh di dalam hatinya, ia merasa tidak nyaman, karena memang benar kata Lucky, kalau caranya itu salah dan Lucky, memang tidak pernah melarangnya untuk jatuh cinta kepada dirinya.
Lucky memang menolak dirinya, tapi tidak memintanya untuk menghilangkan perasaan cintanya.
Hammy menghembuskan nafas berat.
Ia merasa bersalah, tapi jika tidak melakukan itu, impiannya untuk memiliki Lucky hanya akan menjadi angan semata.
Ia sempat berpikir, tak apa, meski hanya pura-pura, tapi setidaknya, ia bisa merasakan yang namanya, menjadi kekasih Lucky.
Tapi lama kelamaan, perasaannya berubah, menjadi ingin memonopoli Lucky.
Jika ia bisa memiliki Lucky selamanya dan hanya untuk dirinya, kenapa ia hanya berdiam diri?
Itulah yang mengubahnya untuk melakukan apapun, demi mempertahankan Lucky di sisinya.
Belum lagi, penolakan dari Lucky dan keyakinannya, yang akan kembali bersama dengan Tsukasa, membuatnya, makin tidak ingin melepaskan Lucky.
Ia ingin menghancurkan impian Lucky dan membuktikan, kalau masa depan Lucky itu adalah dirinya, bukan Tsukasa.
Itulah yang membuatnya agar menghalalkan segala cara untuk mempertahankan Lucky.
Kebetulan Lucky mabuk, ia pun merasa memiliki kesempatan dan tidak ingin membuang kesempatan sekali dan seumur hidupnya itu.
Jadi, di sinilah mereka sekarang.
Ia bisa tetap menjalin hubungan dengan Lucky, tanpa takut, Tsukasa akan merebutnya kembali.
Ia merasa di atas angin, apalagi saat mendengar Tsukasa, menolaknya untuk kembali bersama.
Artinya, kesempatan mereka kembali bersama semakin kecil.
Ia ditolak oleh Lucky dan Lucky ditolak oleh Tsukasa.
Baginya, Kairi memang bisa diandalkan.
Mereka tidur hingga malam tiba.
Malamnya.
Lucky yang sudah bangun, memutuskan untuk merapikan barang-barangnya karena ia memutuskan untuk pulang ke rumahnya hari ini.
Setelah itu, dia keluar dari kamarnya dan mendapati Hammy yang sedang menyiapkan makan malam.
Lucky langsung berjalan menuju ke sofa dan menyalakan televisi sambil menunggu masakan matang.
Hammy yang mendengar suara televisi menyala, tau, kalau Lucky sudah bangun.
Ia pun memasak sambil tersenyum.
Setelah selesai, ia menatanya di atas meja sambil tersenyum. Ia sangat bahagia.
Ia lalu memanggil Lucky.
Lucky mengangguk lalu mematikan tivinya dan berjalan menuju ke meja makan.
Begitu Lucky duduk, Hammy langsung menyiapkan makanan untuk Lucky, sambil tersenyum.
"Kamu tak perlu berbuat seperti ini!"
"Memang kenapa? Ini adalah kemauanku, sekalian belajar menjadi seorang istri."
"Istri? Kita itu, belum tentu menikah! Dari mana rasa percaya dirimu itu?"
"Aku punya tiga alasan untuk itu!"
"Tiga?"
"Pertama, kamu bilang agar aku memberikanmu perhatian supaya hatimu cepat luluh, bukan? Inilah yang sedang kulakukan!"
"Lalu alasan yang lainnya?"
"Apa kamu lupa soal kejadian yang semalam atau kamu ingin lari dari tanggung jawabmu?"
"Aku tidak bilang seperti itu! Jadi, apa alasan terakhirnya?"
"Terakhir adalah karena Tsukasa sudah menolakmu, jadi artinya, kalian sudah tidak mungkin kembali bersama!"
Hening.
Lucky menatap Hammy tajam.
Sementara Hammy hanya menatap Lucky dengan senyuman.
Ia hanya bersikap biasa dan santai di depan kekasihnya.
"Kenapa, beib? Apa aku salah bicara?"
Lucky tidak menjawab lagi dan memutuskan untuk makan malam secepatnya.
Melihat Lucky yang seperti itu, Hammy pun ikutan.
Kini mereka menikmati makan malam mereka dengan hening.
Sehabis makan malam, Lucky ke kamarnya dan mengambil tasnya lalu pamit.
__ADS_1
Hammy melarangnya.
Lucky mencoba untuk memberikan Hammy pengertian.
Hammy, akhirnya mengijinkan, dengan syarat, setiap pagi ia akan dijemput, setiap hari mereka pulang bersama dan tiap akhir pekan, Lucky akan menginap di sini.
Lucky sempat merasa bingung, kenapa Hammy ingin sekali, dirinya menginap, setiap akhir pekan.
Dia memang tau, kalau Hammy itu manja dan ingin menempel kepadanya, tapi dia juga tau batasan, mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama pacaran.
Dulu, waktu dia pacaran dengan Tsukasa, tidak pernah terpikir olehnya untuk mengajak Tsukasa menginap ataupun sebaliknya.
Dia sadar, kalau mereka belum punya ikatan yang sah.
Tapi ini? Hammy malah memintanya untuk menginap setiap akhir pekan.
Jika tiap pagi, menjemput untuk pergi kuliah dan pulang dari kuliahnya bersama, lalu tiap akhir pekan, mereka berkencan, itu masih wajar, karena itu, memang yang biasanya dilakukan oleh orang yang berpacaran.
Tapi, jika sampai menginap karena mau menempel, bukankah sedikit aneh dan berlebihan?
Lucky sempat memikirkan, kemungkinan apa, yang membuat Hammy sangat menempel kepadanya.
Dia bahkan sempat berpikir, kalau ini ada hubungannya dengan kejadian semalam.
Mungkinkah Hammy?
Dia menatap Hammy dari atas sampai bawah lalu sebaliknya, diakhiri dengan gelengan.
Tidak mungkin! Dia berusaha meyakini dirinya, kalau itu tidak mungkin dan itu hanya, pikiran bodohnya.
Hammy sendiri yang merasa tidak mendapatkan jawaban, merasa bingung dengan apa yang membuat kekasihnya itu melamun.
Ia ingin bertanya karena ia merasa aneh, saat Lucky melihat dirinya dari atas hingga ke bawah.
Tapi, Lucky tetap saja diam.
Akhirnya ia memutuskan untuk memanggil kekasihnya.
Tapi belum sempat ia memanggil kekasihnya itu, terdengar helaan nafas berat.
Lucky yang sudah sadar dari melamunnya, memutuskan untuk menghembuskan nafas berat.
Dia menatap Hammy dan menarik Hammy ke dalam pelukannya.
Hammy sempat tersentak kaget, tapi ia juga merasa senang dan hangat, karena diperlakukan seperti ini oleh Lucky.
Ini pertama kalinya, Lucky yang berinisiatif untuk memeluknya duluan.
Ia pun membalas pelukan Lucky.
Beberapa saat kemudian, Lucky melepaskan pelukan mereka.
Lalu Lucky berkata, "baiklah, tapi untuk menginap tidak bisa kupenuhi karena seperti kataku, kita belum sah! Kalau kamu mau, kita berkencan saja, gimana?"
Hammy menggeleng kuat dan menatap Lucky dengan tatapan memohon.
Lucky menghembuskan nafas berat kembali.
"Ya sudah, baiklah, tapi akhir pekan ini, kamu saja yang menginap di rumahku, ya?"
Hammy mengangguk mantap.
Lucky memeluk Hammy kembali.
"Kamu sungguh manja!"
"Kan manja sama kekasih sendiri, apa salahku?"
"Ya, gak salah sih, tapi tidak boleh berlebihan."
"Beib, boleh gak, aku minta sesuatu?"
"Selama aku bisa dan gak melewati batas kewajaran maka silahkan."
Hammy mengangguk paham.
"Makasih, beib!"
Lalu ia memeluk Lucky erat.
"Kamu mau minta apa?"
"Aku mau, kamu di sisiku dan serius, soal hubungan kita."
Hening.
Hammy mendongakkan wajahnya dan terlihat, Lucky menatap kosong ke depan.
Hammy menghembuskan nafasnya berat.
"Selalu begini! Aku tau kok jawabanmu, lupakan saja! Tapi aku takkan pernah menyerah!"
Hammy lalu melepaskan pelukannya.
Saat Hammy mulai melangkah, Lucky mencekal lengannya hingga membuat Hammy berbalik menghadap Lucky.
"Ada apa, beib?"
"Aku belum jawab pertanyaanmu, jadi jangan pergi!"
"Aku sudah tau, apa jawabanmu dari reaksi dan expresi yang kamu tunjukkan, beib."
"Baiklah!"
Hammy yang mendengar itu, shock dan mengerjapkan matanya berulang kali.
"Sungguh? Artinya, kamu setuju dengan permintaanku?"
"Dengan syarat dariku! Apa kamu mau?"
"Apa syaratnya? Apapun akan kulakukan!"
"Baiklah, kuulangi dulu perkataanku! Ini hanya kuucapkan sekali, jadi dengar baik-baik!"
Hammy mengangguk antusias.
"Baiklah, aku setuju untuk setiap hari menjemputmu ke kampus, kita pulang bersama dari kampus dan kamu menginap di tempatku tiap akhir pekan. Aku juga berjanji akan memberikan cintaku dan hatiku kepadamu, serta mau belajar mencintaimu, tapi dengan syarat, ...."
Hammy menunggu dengan antusias, ucapan Lucky yang selanjutnya.
Kira-kira, apa syarat dari Lucky?
Sanggupkah Hammy melakukannya?
Akankah Lucky menepati atau justru melanggar janjinya?
__ADS_1
Apa yang akan dilakukan oleh Hammy, jika sampai Lucky melanggar janjinya?
Next/stop? Like dan komen!