Playboys Dan Playgirls Bersatu Karena Cinta

Playboys Dan Playgirls Bersatu Karena Cinta
Pertunangan Emu dan Asuna


__ADS_3

Setelah ketiga tokoh kita menyampaikan keputusan dan keinginan mereka, ternyata, tidak semua berjalan dengan lancar.


Memang benar, keputusan dan keinginan yang dimiliki haruslah disampaikan.


Memang benar, keputusan dan keinginan yang disampaikan oleh sepihak, takkan selalu berjalan dengan mulus karena jika berkaitan dengan pasangan maka harus didiskusikan terlebih dahulu.


Memang benar, apa yang kita pikirkan, belum tentu, sejalan dengan apa yang kekasih kita pikirkan.


Memang benar, kita tak bisa memaksakan kehendak, keputusan, keinginan dan pikiran kita kepada orang lain, terutama kepada pasangan kita.


Memang benar, apa yang menurut kita baik, yang bisa membuat kita bahagia, belum tentu, dirasakan yang sama oleh pasangan kita.


Jika kita masih sendiri maka semua itu, takkan menjadi masalah untuk kita.


Tapi, jika kita sudah memiliki pasangan maka semua harus dibicarakan, terlebih dulu.


Itulah yang namanya, bertukar pikiran.


Bertukar pikiran itu penting agar tidak menimbulkan salah paham.


Bertukar pikiran itu penting agar tidak menimbulkan pertengkaran di antara mereka.


Bertukar pikiran itu penting agar kita bisa tau, pikiran dan perasaan dari pasangan kita.


Bertukar pikiran itu penting agar rasa bahagia kita juga bisa dirasakan oleh pasangan kita.


Apa yang kita pikirkan, juga bisa dipahami oleh mereka.


Apa yang kita rasakan, juga dirasakan oleh mereka. Itulah yang namanya, sehati dan sepikir dengan pasangan.


Itulah tujuannya memiliki pasangan, bukan?


Pasangan, menjadi tempat untuk bertukar pikiran dan pendapat.


Pasangan, bisa dijadikan sebagai tempat untuk berbagi kebahagiaan ataupun kesedihan.


Pasangan, bisa dijadikan sebagai tempat untuk curhat dan berbagi keluh kesah.


Pasangan, bisa kita andalkan di dalam masalah kita.


Pasangan, akan merangkul dan memeluk kita di saat kita sedang bersedih.


Pasangan, akan menasehati di saat kita sedang berbuat salah.


Pasangan, akan tersenyum di saat kita merasakan bahagia.


Pasangan, akan berbagi suka dan duka bersama kita.


Pasangan, akan ikut merasakan, apa yang kita rasakan.


Pasangan, akan selalu mendukung apapun keputusan dan keinginan kita, selama demi kebaikan bersama.


Itulah, pasangan yang ideal.


Tapi sayangnya, tidak semua pasangan itu, ideal.


Bahkan, pasangan yang ideal sekalipun, tidak jarang bertengkar. Mereka terkadang bertengkar untuk hal yang kecil lalu mengubahnya menjadi besar.


Bahkan pertengkaran itu pun, tak jarang, bisa membawa hubungan menuju ke tahap akhir atau ke satu kata, yaitu putus.


Kalau sudah seperti itu, tinggal, tingkah para pasangannya aja, mau memperbaiki dan mempertahankannya atau justru, mengikuti keinginan kekasihnya untuk putus atau mengakhiri hubungan di antara mereka, tanpa peduli lagi sudah berapa tahun, mereka menghabiskan waktu bersama sebagai pasangan.


Itu semua dilupakan karena sudah ditutupi oleh kemarahan, pertengkaran dan kesalahpahaman.


Emosi menjadi lebih dominan dibandingkan rasa cinta dan kelembutan.


Tatapan mesra pun, berubah menjadi tatapan yang tajam dan menusuk.


Kehangatan berubah menjadi udara dingin.


Kedekatan menjadi jarak yang terbentang.


Perhatian pun, berubah menjadi rasa cuek dan acuh.


Lalu apa yang tersisa dan apa dampaknya?


Yang tersisa hanyalah luka, rasa kecewa, sedih dan tersakiti, yang berujung dengan saling menyakiti.


Jika sudah seperti itu, yang tersisa hanya 2 pilihan, saling memperbaiki dan bertahan atau saling melepaskan.


Semua itu hanya bisa dijawab oleh pasangan mereka masing-masing.


Contohnya, Lucky dan Hammy!


Awalnya Lucky tidak setuju dengan keinginan Hammy, tapi karena dia sudah berjanji untuk bertanggungjawab kepada Hammy maka dia pun setuju, tapi dengan syarat darinya.


Syaratnya sangat mudah dan Hammy pun setuju. Lucky pun merasa lega karena Hammy, begitu pengertian dan gak menuntut, ini dan itu.


Mungkin bagi Hammy, yang penting, mereka bisa menikah dan itu sudah cukup! Itu yang ada di pikiran Lucky.


Makanya, saat Lucky mengajukan syarat yang mudah, Hammy pun langsung setuju.


Hubungan mereka pun aman dan bisa dipastikan, kalau keinginan Hammy untuk bertunangan dengan Lucky, sebentar lagi akan terwujud.


Itu untuk pasangan Lucky dan Hammy.


Lalu bagaimana dengan 2 pasang yang lainnya?


Berikutnya, mari kita lihat pasangan Kairi dan Tsukasa!


Akankah mereka selancar, pasangan Lucky dan Hammy?


Kairi yang memiliki sifat tegas dari awal, memberitahukan keputusannya di depan semuanya lalu dengan tanpa basa-basi, langsung menjelaskan alasan dari keputusannya itu kepada sang kekasih, yaitu Tsukasa.


Awalnya, Tsukasa tersentak kaget dengan keputusan dari Kairi.


Tapi begitu, ia mendengar alasannya, ia pun setuju dengan keputusan dari Kairi.


Meski untuk itu, ia agak berat dengan syarat dari Kairi yaitu mereka harus tinggal bersama, tapi ia memilih untuk tidak keberatan dengan syarat itu karena memang benar, apa kata Kairi, yaitu cepat atau lambat setelah mereka menikah, mereka pun akan tinggal bersama, jadi harus mereka biasakan dari sekarang agar tidak kaku ke depannya.


Itulah yang membuat Tsukasa setuju lalu alasan lainnya adalah karena Tsukasa sudah berjanji untuk belajar mencintai Kairi dan menerima Kairi di dalam hidupnya.


Jadi, selain Lucky dan Hammy, pasangan Kairi dan Tsukasa pun aman untuk membawa hubungan mereka ke tahap yang lebih serius yaitu pertunangan.


Lalu, gimana dengan pasangan kita yang terakhir, yaitu Emu dan Asuna?


Saat ini, Emu sedang sangat marah kepada Asuna.


Emu pun, menolak keinginan dari Asuna dan ingin membatalkan rencana pertunangan mereka, tapi sayangnya, Asuna bertindak dengan cepat dan cerdas.


Bahkan saking cepat dan cerdasnya, hal itu membuat Emu shock dan merasa terancam.


Dia tak menyangka sama sekali, kalau Asuna akan mengancamnya.

__ADS_1


Asuna mengancamnya dengan perasaannya kepada Hammy.


Emu pun mengepalkan tangannya dengan penuh emosi.


Kini, Emu harus memutuskan sesuatu yang tak mudah.


Merelakan Hammy dengan cara mengorbankan perasaannya, seperti selama ini? Masalahnya, ini sudah menyangkut masalah pertunangan dan pernikahan.


Ataukah justru, mengacuhkan Asuna, tapi gimana, jika Asuna berbuat seperti yang dikatakannya dan membuat Hammy menjauhi dan membencinya? Dia lebih, gak mau itu terjadi!


Pilihan apapun yang diambilnya hanya akan membuatnya tersiksa secara batin.


"Jadi, apa keputusanmu, honey?"


Emu menarik nafas dalam lalu menghembuskannya perlahan untuk menahan emosinya.


"Huft, baiklah, sudah kuputuskan! Aku setuju untuk bertunangan denganmu!"


"Yeay! Keinginan pertamaku terpenuhi!"


"Pertama? Artinya, masih ada yang lain, donk?"


"Tentu saja!"


"Apa lagi maumu?"


"Nanti ya, honey! Setelah kita bertunangan dulu! Aku gak mau, nanti kamu bohongi aku! Kamu kan cerdas, tapi gak mau disebut sebagai seorang dokter pembohong, kan?"


"Sudah, katakan, apa maumu?"


"Tidak! Belum saatnya, honey! Buktikan dulu perkataanmu, kalau kita akan bertunangan, 3 bulan ke depan!"


"Baiklah, selama 2 bulan, aku akan menjalankan peranku sebagai kekasihmu yang baik! Lalu sebulan sisanya akan kita pakai untuk membahas acara pertunangan kita, termasuk, apa yang perlu kita persiapkan untuk pertunangan kita!"


"Baik! Aku suka dengan idemu, honey! Lalu kapan kamu akan mulai bersikap, layaknya sebagai kekasihku yang baik dan mesra?"


"Mulai besok!"


"Baiklah, kutunggu janjimu, honey!"


"Hem!"


Selesai berucap, Asuna menghampiri Emu lalu menciumnya di bibir.


Emu kembali tersentak kaget karena Asuna makin berani kepadanya. Tapi dia gak bisa berbuat apa-apa karena dia di rumah sakit dan Asuna adalah kekasihnya, jadi itu, memang hak Asuna!


"Hehe, buat mengisi tenaga! Yosh, aku jadi semangat kerja lagi!"


Emu hanya geleng-geleng kepalanya saja.


Emu lalu memakai jasnya kembali, bangun dari bangkunya dan berjalan menuju ke pintu ruangannya untuk membuka kunci pintu ruangannya lalu duduk kembali di bangkunya dan kini, dia sudah siap untuk bekerja kembali.


Asuna pun sama. Ia merapikan pakaiannya lalu berjalan ke pintu ruangan Emu untuk memeriksa dan memanggil pasien masuk.


Ia memanggil dengan senyuman yang tak henti, terbit dari bibirnya.


Mereka lalu bekerja dengan lancar hingga jam makan malam tiba.


Skip malam pun tiba.


Para pasangan sedang makan malam di tempat yang berbeda dan dengan pasangan mereka masing-masing.


Hari demi hari berlalu.


Lucky dan Hammy pun sama. Lucky pun menepati janjinya dan tak pernah ada pertengkaran lagi di antara mereka, terutama dengan alasan, Tsukasa.


Hammy pun bisa menjalani hubungan mereka dengan tenang karena merasa aman.


Lalu Kairi dan Tsukasa pun sama. Mereka sudah tak pernah lagi, membahas soal hubungan Lucky dan Hammy, jadi mereka hanya fokus dengan hubungan mereka aja.


Waktu terus bergulir dengan sangat cepat. Hari berganti minggu lalu berganti bulan.


Skip 2 bulan kemudian.


Emu, terlihat pasrah dalam menjalani hubungan mereka.


Asuna, tak peduli, baginya, yang penting hanya tinggal sebulan lagi, mereka akan bertunangan, yang artinya, keinginan keduanya pun akan segera terkabulkan.


Ia tak bisa berhenti membayangkan, kalau hal itu akan terjadi sebentar lagi di depan matanya.


Sementara Asuna bahagia, Emu tidak sama sekali.


Bukannya dia pasrah, hanya saja, dia adalah tipe seorang pria yang menepati janjinya.


Dulu aja, dia sama sekali gak menyangka, kalau Asuna akan menyakiti Hammy dengan menerornya.


Entah, apalagi yang akan dilakukannya, jika Emu masih bersikeras untuk memandang Hammy dengan tatapan yang penuh cinta. Dia tentu, gak mau itu terjadi.


Itulah alasan Emu menjalani perannya dengan baik.


Ia hanya tak mau, Asuna cemburu dengan Hammy dan kembali bertindak nekat, bahkan lebih jauh.


Baginya, menepati janjinya dengan Asuna itu, jauh lebih penting untuk dia lakukan saat ini.


Tiap hari, Asuna makin nempel sama Emu dan pamer kemesraan mereka, bahkan menunjukkan identitasnya di depan umum, kecuali di rumah sakit dan kalau ada pasien karena mereka bekerja secara profesional, bukannya bekerja untuk pamer kemesraan.


Mereka tak ingin, kemampuan mereka sebagai seorang dokter dan suster diragukan.


Mereka menjadi seorang dokter dan suster karena kemampuan mereka, bukan karena relasi atau karena sedang menjalin hubungan.


Makanya ruangan Emu, tak pernah hentinya ada pasien karena kredibilitasnya sebagai seorang dokter, tak diragukan lagi.


Hari demi hari berlalu, berubah menjadi minggu.


Skip 3 minggu kemudian.


Ini sudah memasuki minggu akhir, yang artinya, sudah memasuki minggu terakhir sebelum pergantian bulan.


Emu pun menepati janjinya dan dia memutuskan untuk membahas soal keperluan pertunangan mereka di rumahnya, sepulang kerja nanti sore.


Mereka bekerja hari itu dengan lancar dari pagi sampai sore.


Kebetulan, tidak ada pasien darurat, jadi mereka bisa pulang dengan cepat.


Skip jam pulang kerja.


Emu langsung merapikan ruangannya dan mengajak Asuna untuk makan malam di luar.


Asuna dengan senang hati setuju.


Mereka pun makan malam berdua di luar atau bisa disebut dengan candlelight dinner.


Mereka menikmati hidangan yang disajikan dan juga suasana di malam itu.

__ADS_1


Setelah kenyang, mereka pun pulang dan Emu langsung membawa Asuna ke rumahnya.


Skip di rumah Emu.


Begitu sampai, Emu langsung parkir mobilnya lalu mereka turun dan berjalan masuk ke dalam rumahnya.


Begitu sampai di dalam, Emu langsung mandi dan ganti baju santai.


Dia lalu membuatkan minuman untuk mereka berdua.


Kini Emu sudah siap untuk membahas soal persiapan pertunangan mereka.


"Baiklah, ini sudah waktunya untuk kita membahas persiapan pertunangan kita!"


Asuna pun mendengarkan dengan seksama.


"Pertama, kita akan mengadakan pertunangan kita secara sederhana dan di rumahku lalu minggu depan, kita akan memilih cincin pertunangan. Malamnya, kita akan membahas soal dekorasi ruangan, sekaligus mengumumkan kepada Lucky, Hammy, Kairi dan Tsukasa. Pertunangan kita akan diadakan minggu depannya lagi, gimana?"


"Aku setuju aja denganmu, honey! Yang penting, pertunangan kita bulan depan, berjalan dengan lancar."


Emu mengangguk paham.


Setelah berdiskusi kurang lebih 20 menit, pembicaraan mereka pun, selesai.


Emu lalu mengantar Asuna pulang.


Begitu sampai di rumah Asuna, Asuna langsung mandi dan ganti baju, sedangkan Emu melajukan mobilnya pulang.


Begitu sampai di rumahnya, Emu langsung tidur, begitu pun dengan Asuna yang sudah selesai dengan kegiatannya, langsung tidur.


Asuna tidur sambil tersenyum karena sudah tak sabar untuk menantikan minggu depan.


Hari pun bergulir dengan cepatnya.


Skip minggu depan.


Ini adalah hari pemilihan cincin.


Mereka berencana untuk memilih dan membeli cincin pertunangan mereka sehabis kerja.


Setelah dapat, Emu lalu menyimpannya hingga hari-H.


Malamnya sesuai dengan rencana, dia mengajak Lucky, Hammy, Kairi dan Tsukasa untuk datang ke rumahnya.


Mereka berempat pun setuju dan menjawab, kalau mereka akan ke sana setelah makan malam karena mereka saat ini sedang berkencan.


Emu dan Asuna lalu memutuskan untuk makan malam sambil menunggu mereka datang.


Sehabis mereka makan malam, tak lama, mereka kedatangan tamu yang ditunggu.


Setelah mereka sudah berkumpul, Emu memberitahu alasannya untuk apa, meminta mereka berkumpul di rumahnya.


"Jadi, tujuanku mengumpulkan kalian di sini adalah untuk membahas soal dekorasi yang akan dipakai di acara pertunangan kami nanti, yaitu di sini!"


"Wow, kalian jadi bertunangan?"


"Jadi, kalian akan bertunangan di sini?"


"Kalian mau minta tolong kami untuk dekorasi?"


"Ya, sekalian memberitahukan kalian tentang pertunangan kami!"


"Siap lalu kapan kalian akan bertunangan?"


"Minggu depan!"


"Wow! Cepat sekali!"


"Ya donk, makin cepat, makin baik, takut kecolongan!"


Mendengar itu, Emu melotot, Hammy menundukkan kepalanya dan Lucky menatap tajam Asuna.


Setelah itu, mereka berdiskusi tentang tema pertunangan Emu dan Asuna. Ternyata, temanya putih. Sesuai dengan baju dokter yang berwarna putih.


Mereka pun setuju lalu mereka pulang ke rumah mereka masing-masing dengan kendaraan dan pasangan mereka masing-masing pula.


Begitu sampai di rumah, langsung mandi dan ganti baju lalu istirahat, begitu pun dengan Emu, baru, dia mengantar Asuna pulang.


Asuna pun sama, begitu sampai di rumah langsung mandi dan ganti baju lalu dirinya dan Emu, istirahat di rumah mereka masing-masing.


5 hari kemudian.


Keenam tokoh mulai mendekorasi rumah Emu untuk acara pertunangan Emu dan Asuna yang akan diadakan lusa.


Skip 2 hari kemudian.


Tibalah hari pertunangan Emu dan Asuna.


Mereka sedang merayakan acara pertunangan dengan dekorasi yang sudah dipasang di rumah Emu dan dihadiri oleh Lucky, Hammy, Kairi dan Tsukasa.


Acara pun berlangsung dengan sederhana dan kini sudah tahap, memasangkan cincin di jari manis tangan kiri pasangan masing-masing.


Dimulai dari Asuna yang memasangkan cincin di jari manis tangan kiri Emu lalu gantian, Emu memasangkan cincin di jari manis tangan kiri Asuna.


Kini selesailah sudah, prosesi acara pertunangan Emu dan Asuna. Mereka sudah resmi bertunangan. Mereka pun berfoto sambil memamerkan cincin di jari manis tangan kiri masing-masing. Asuna, tak hentinya tersenyum.


Lalu Lucky, Hammy, Kairi dan Tsukasa pulang ke rumah mereka masing-masing.


Mereka memutuskan untuk istirahat, sementara Emu dan Asuna merapikan dekorasi yang terpasang.


Mereka kini tinggal berduaan lalu Asuna menghampiri Emu dan bicara, soal keinginannya yang kedua.


"Terima kasih, honey karena udah memenuhi keinginanku yang pertama. Kini saatnya untuk keinginanku yang kedua!"


"Apa itu?"


"Tenang! Keinginanku mudah, kok! Keinginan keduaku adalah...."


Mendengar itu, Emu tersentak kaget hingga berdiri.


Kira-kira, apa keinginan kedua dari Asuna hingga membuat Emu tersentak dengan kagetnya?


Akankah keinginan kedua Asuna, dipenuhi pula oleh Emu?


Lalu gimana dengan pertunangan Kairi dan Tsukasa lalu Lucky dan Hammy?


Akankah sama lancarnya dengan pertunangan Emu dan Asuna?


Akankah pertunangan Emu dan Asuna bisa berlanjut hingga ke pernikahan?


Apa yang akan terjadi selanjutnya?


Next/stop? Like dan komen!

__ADS_1


__ADS_2