
Bab 10
"Malaika, teganya kamu membanting tubuh aku yang baru saja sembuh," ucap Naresh sambil meringis kesakitan.
Ketika keduanya sedang berdebat karena merasa tidak bersalah dan sedang melindungi diri, pintu kamar diketuk oleh seseorang. Malaika pun berjalan cepat ke arah papan berbentuk persegi panjang.
"Tuan Naresh, ini sudah waktunya makan siang. Tuan Kamandaka dan yang lainnya sudah menunggu di meja makan," kata kepala pelayan.
Malaika dan Naresh pun turun ke lantai satu dan terlihat ada dua kursi kosong di sana. Laki-laki itu mendengus karena kursi untuk Malaika posisinya jauh dari tempat yang biasa dia duduki.
"Kakek aku makannya ingin dekat Malaika. Jadi, aku minta posisi digeser dengan punya Paman Shaka," kata Naresh minta izin.
"Maheswara, kamu pindah ke sana!" titah Kakek Kamandaka pada cucu dari anak perempuan yang merupakan anak tirinya.
Gendis adalah anak sambung yang dibawa oleh istri kedua Kakek Kamandaka. Wanita itu adalah ibu dari Maheswara. Sementara itu, Abimana juga merupakan cucu dari anak tirinya yang bernama Kinara. Gendis dan Kinara itu satu ibu beda ayah.
Dulu Kakek Kamandaka menikahi istri kedua di tahun kedua menduda, setelah istri pertama atau neneknya Naresh meninggal saat melahirkan Arya, ayahnya Naresh. Dia menikahi janda baik hati dua anak yang hidupnya penuh penderitaan, karena selalu di siksa oleh mantan suaminya. Jadi, hanya Naresh satu-satunya orang yang memiliki hubungan datang dengannya di rumah ini.
Maheswara yang menaruh hati kepada Malaika terus saja melihat ke arahnya dengan tatapan liar. Dulu saat dia akan melecehkan perempuan itu saat sedang tidur di kantor Naresh, dia mendapatkan bogem mentah dari saudaranya itu. Namun, itu tidak membuatnya kapok. Saat di lift pun dia hendak memeluknya, tetapi gadis itu balik menghajarnya sampai dia babak belur. Sejak saat itu tidak berani lagi melakukan tindakan pelecehan kepada Malaika secara terang-terangan. Namun, gombalan dia semakin menjadi kepadanya.
Kandasnya hubungan percintaan Malaika dan Rahandika membuat Maheswara senang. Semenjak itu dia kembali terang-terangan mengatakan cinta kepadanya. Bahkan di depan orang lain atau di tempat umum pun dia tidak perduli.
"Kenapa kamu tidak kembali ke kantor?" tanya Gendis sambil menatap ke arah Malaika.
Orang-orang di sana sudah tahu kalau Gendis tidak suka terhadap Malaika yang sudah menolak anaknya dengan mentah-mentah. Dia tidak terima dengan perlakuan perempuan itu dengan keponakannya yang selalu saja memojokkan dan menyalahkan putra semata wayangnya.
__ADS_1
"Dia akan berada di mana aku berada," balas Naresh sambil menatap tajam ke arah tantenya.
"Kalau begitu dia makan gaji buta!" tukas Gendis dengan sinis.
"Tentu saja tidak. Dia mengerjakan semua apa yang aku suruh kepadanya," bantah Naresh dengan tersenyum sinis.
Hubungan Naresh dan Gendis kurang harmonis. Hal ini disebabkan dulu wanita ini suka memojokkan dan memfitnah ibu kandung Naresh atas meninggalnya Arya. Tekanan yang sering dilancarkan oleh Gendis membuat mamanya Naresh tertekan dan jatuh sakit sampai meninggal.
"Diamkan, kalian! Kita sedang makan. Jika, kalian tidak mau makan sebaiknya pergi dari sini!" titah Kakek Kamandaka dengan tegas dan setengah berteriak.
Keadaan yang tidak menyenangkan bagi Malaika begitu juga dengan Naresh. Membuat laki-laki itu membawa sang sekretaris pergi dari sana dan memutuskan makan di luar. Itulah alasan kenapa Naresh memilih tinggal sendiri di apartemen.
"Apa jadwal aku hari ini, Malaika?" tanya Naresh begitu sekretaris itu masuk ke ruangannya.
"Pertemuan dengan pihak perusahaan Grup Laksana dan akan dilanjutkan makan siang bersama. Lalu, sore hari ada pertemuan dengan Pak Burhan. Beliau akan memberi tahu perkembangan kasus," jawab Malaika sambil membaca apa yang tertera di tablet.
"Hah, yang bener itu jadwal. Biasanya sangat padat dari pagi sampai sore," kata Naresh tidak percaya.
"Anda masih dalam proses pemulihan, jadi jangan terlalu lelah bekerja. Semua pekerjaan sudah dilimpahkan kepada Rahandika," balas Malaika yang kini berdiri menghadap ke arah atasannya.
Pekerjaan Naresh belum terlalu banyak yang dia kerjakan, sebaliknya Rahandika sangat padat jadwal kerjanya. Meski begitu sang Presdir tetap memantau dan memberi pengarahan kepada asistennya.
"Malaika, kamu akan makan siang di mana?" tanya Rahandika ketika dia datang ke kabinet tempat gadis itu bekerja.
__ADS_1
"Mungkin di kantin atau di ruangan Pak Presdir. Dia itu sering menyuruh aku makan bersama dengannya," jawab Malaika dengan nada kesal.
"Kalau kamu mau kita makan bersama dan ajak Pak Presdir bersama kita. Kita makan di rumah makan Mpok Aminah. Kemarin dia menanyakan dirimu, katanya ingin bertemu," ucap pemuda itu memberitahu pemilik kedai makanan langganan mereka dulu.
"Aku juga rindu dengan masakan Mpok Aminah. Aku ajak Pak Presdir ke sana saja," ujar Malaika senang. Masakan wanita tua itu sangat cocok di lidahnya.
Naresh yang sudah terbiasa makan berdua dengan Malaika menjadi egois dan berharap hanya mereka saja yang makan di sana tanpa adanya Rahandika. Dia merasa kalau asistennya ini masih berusaha menjalin hubungan asmara kembali dengan Malaika. Hal itu sudah jelas karena keduanya masih sama-sama cinta.
'Bagaimana caranya agar Malaika bisa tergila-gila kepadaku, ya? Eh, sejak kapan aku menginginkan gadis itu seperti terobsesi begini? Jangan-jangan Si Maheswara menyumpahi aku agar tergila-gila juga kepada Malaika. Kalau sudah ke tahap itu sudah bukan cinta murni lagi, tapi cinta gila!' (Naresh)
"Pak! Pak Presdir! Jadi, bagaimana? Apa Anda akan ikut bersama kami makan ke warung makan Mpok Aminah?" Malaika meninggikan suaranya agar terdengar jelas oleh Naresh.
'Apa telinganya budeg kembali, ya? Gara-gara kemarin aku banting.' (Malaika)
"Jangan berteriak begitu! Aku dengar Malaika. Kamu pikir aku budeg apa!' Naresh menggerutu karena sang sekretaris memperlakukan dirinya seperti orang budek.
"Habis, Pak Presdir sejak tadi malah diam saja. Jadi, aku teriak biar kedengaran," balas Malaika dengan senyum lebarnya.
"Baiklah aku akan ikut kalian makan di sana," kata Naresh sambil berdiri.
Ketika mereka sedang makan bersama di sana. Datang seseorang yang mengejutkan bagi ketiganya. Terutama bagi Malaika.
***
Siapakah yang mereka temui di rumah makan Mpok Aminah? Apakah pelaku yang mencelakai Naresh adalah salah seorang dari keluarganya atau orang lain? Tunggu kelanjutannya, ya!
__ADS_1