
Bab 11
Warung nasi milik Mpok Aminah hanya tempat yang sangat sederhana. Namun, sangat laris karena rasa masakan di sana sangat enak. Malika sudah langganan di sana sejak dia kuliah. Di tempat ini juga dulu dia dan kekasihnya sering makan bersama.
Naresh ke sana kalau diajak oleh Malaika. Pernah dia ke sana sendirian karena Malaika sedang sakit setelah putus dengan Rahandika, niatnya mau membelikan ikan bakar kesukaan gadis itu. Namun, saat dia menunggu banyak perempuan yang menggoda dan mengajak ber-selfie. Dia kapok kalau disuruh ke sana tanpa Malaika.
Makanan yang mereka pesan sudah tersedia di meja. Ketiganya langsung menyantap hidangan itu. Wangi bumbu dari masakan itu langsung membuat ngiler siapapun yang mencium baunya.
"Makan yang banyak, kamu terlihat kurusan sekarang," kata Rahandika sambil menyodorkan ikan bakar yang berukuran besar kepada Malaika.
Naresh yang melihat itu merasa tidak suka. Kalau dulu dia cemburu dalam diam, karena asistennya itu kekasih Malaika. Namun, sekarang mereka tidak punya hubungan lagi.
Ketika mereka sedang makan bersama di sana. Datang seseorang yang mengejutkan bagi ketiganya. Terutama bagi Malaika.
"Dika, apa yang kamu lakukan di sini? Kamu lagi, Malaika! Jadi, perempuan itu harus punya harga diri. Sudah tahu Dika punya tunangan, masih saja menggodanya. Dasar wanita tidak tahu malu!" bentak seorang wanita paruh baya yang kini berdiri di dekat mereka.
Malaika tidak bisa membalas ucapan wanita yang sudah melahirkan Rahandika. Apalagi kehadiran seorang gadis cantik yang berjilbab lebar menatap ke arah dirinya.
"Ibu? Ibu salah paham. Kita makan siang bertiga. Ada Naresh juga di sini dan Malaika tidak sedang menggoda aku," kata Rahandika membela Malaika.
"Maaf Tante Sri, ucapan Tante sungguh keterlaluan. Malaika buka perempuan yang seperti Tante tuduhkan. Lagian Malaika juga sudah punya calon suami. Jadi, Tante tidak perlu takut kalau Rahandika akan kembali menjalin hubungan dengan Malaika kembali," jelas Naresh dengan menggebu-gebu.
Orang-orang yang ada di sana terkejut mendengar ucapan Naresh barusan. Bahkan Malaika sendiri juga sangat terkejut mendengar itu.
'Sejak kapan aku punya calon suami? Apa maksud Naresh calon suami aku itu Tuan Juwanto? Gila ini orang menjodohkan aku dengan kakek-kakek tua bau tanah!' (Malaika)
"Benarkah itu, Malaika?" tanya Rahandika dengan tatapan terluka dan itu membuat sang gadis tercekat saat mau membantahnya.
__ADS_1
"Baguslah kalau begitu. Karena bulan depan Dika akan menikah dengan Hafshah," ujar Ibu Sri, ibunya Rahandika.
Suasana makan siang yang terbayangkan akan enak dan nikmat, kini malah terasa pahit. Ibu Sri pun menarik putranya agar pergi dari sana. Kini hanya ada Naresh dan Malaika.
"Sudah kamu jangan sedih begitu," ucap Naresh berusaha menghibur Malaika.
"Puas kamu! Sudah menghancurkan perasaan aku dan Dika. Apa kamu tahu kalau Dika sedang berusaha meyakinkan ibunya kalau aku adalah pilihan terbaiknya," tukas Malaika dengan tatapan sinis dan bercampur benci pada temannya itu.
Ditatap seperti itu oleh Malaika membuat hati Naresh terasa sakit. Dia tadi hanya ingin menolongnya agar Ibu Sri tidak menghina gadis yang disukainya.
"Maaf. Aku tidak bermaksud—"
"Tidak ada gunanya meminta maaf. Semua sudah berakhir, hancur, dan aku benci kamu!"
Malaika berdiri lalu pergi dari sana. Naresh merutuki kebodohannya yang tidak berpikir panjang. Segala sesuatu yang berhubungan dengan Malaika sering membuat dirinya bodoh dan terburu-buru.
Sementara itu, Rahandika tidak bisa menolak keinginan ibunya untuk mempercepat pernikahan dengan Hafshah. Dia mengira kalau Malaika benar-benar sudah menemukan pengganti dirinya.
Meski awalnya dia tidak percaya, tetapi saat hendak meminta penjelasan kepada sang pujaan hati, dia melihat wallpaper handphone miliknya kini berubah. Gambar itu memperlihatkan Malaika dan Naresh yang sedang tersenyum bahagia ke arah kamera.
Rahandika tidak tahu kalau gambar itu diambil saat Naresh mengajak jalan-jalan agar Malaika melupakan rasa sakit hatinya karena hubungan asmara kandas. Naresh juga yang mengganti wallpaper di handphone milik Malaika agar gadis itu cepat melupakan sang mantan.
Naresh pernah mencoba meminta maaf, tetapi Malaika yang terlanjur sangat sakit hati oleh bosnya itu memintanya jangan mengganggu dirinya lagi. Mereka hanya berinteraksi saat kerja saja.
"Malaika datang ke sini!" titah Naresh lewat panggilan interkom.
__ADS_1
Tidak berapa lama gadis itu pun masuk. Wajah yang biasanya tersenyum manis kini terlibat datar meski bibirnya terangkat.
"Persiapkan diri kamu untuk menjalankan dinas ke Malaysia. Kita akan pergi selama lima hari," kata Naresh.
"Maaf, Pak. Bisa tidak Anda mengajak yang lain saja. Saya tidak bisa—"
"Terserah kamu saja!" potong Naresh dengan nada kesal.
Malaika merasa kalau Naresh sudah salah paham. Maka dia pun menjelaskan kalau Nenek Romlah sedang sakit dan dia tidak bisa meninggalkan dirinya.
"Maaf, Pak. Kali ini saja izinkan aku untuk tidak—"
"Anggit, datanglah ke kantor aku, sekarang!" Naresh tidak memedulikan ucapan Malaika. Dia menghubungi sekretariat yang sering membantu Rahandika.
"Iya, Pak. Ada apa?" tanya Anggit setelah masuk ke ruangan Naresh.
"Persiapkan diri kamu, besok kita pergi ke Malaysia!" titah Naresh dan itu membuat perempuan itu senang.
"Kalian boleh keluar," lanjut sang pimpinan.
"Pak, sekali lagi aku minta maaf," kata Malaika merasa tidak enak karena sudah menolak tugas. Naresh hanya menggerakkan tangan yang menyuruhnya keluar.
Naresh sedang membaca laporan tentang kelanjutan kasusnya. Dia tidak menyangka kalau bom itu dipasang ketika mobil berada di parkiran khusus miliknya di perusahaan. Bukti cctv di parkiran itu memperlihatkan kalau ada seorang bertubuh gemuk yang mendekati kendaraan itu.
Dia pergi ke Malaysia bukan untuk menemui klien sembarangan. Engku Baharudin yang merupakan sahabat papanya sejak masih muda. Laki-laki paruh baya itu merupakan pengusaha terkenal di negeri Jiran itu.
***
__ADS_1
Apakah Naresh dan Malaika akan bisa berbaikan kembali setelah mereka berpisah beberapa hari atau malah semakin memperburuk hubungan mereka? Tunggu kelanjutannya, ya!