
Teman-teman jangan lupa kasih like, bunga, kopi, atau vote. Lalu, 🌟🌟🌟🌟🌟.
Bab 38
Pandu dan Guntur memfokuskan perhatian mereka ketika Bima mengatakan pertemuan ketiga dirinya dengan Shaka. Laki-laki itu menengadahkan kepalanya melihat bola lampu yang menggantung di atas langit-langit.
"Cepat katakan jangan membuang-buang waktu," ucap Guntur sambil melihat jam di tangannya. Ternyata sudah lebih dari satu jam mereka berbicara.
"Dipertemuan ketiga kami membicarakan bagaimana caranya untuk mencelakakan Naresh agar benar-benar tepat sasaran. Sebab, tiga bulan sebelumnya kami pernah merusak rem mobil yang sering dipakai Naresh. Nasib dia mujur saat mobil itu tidak dipakai dan saat ada pengecekan oleh pegawainya, ketahuan kalau rem mobilnya rusak," aku Bima yang melakukan hal itu saat Naresh menginap di rumah Kakek Kamandaka dan saat pulang laki-laki itu mengganti mobilnya.
Pandu dan Guntur mengakui kalau nasib Naresh itu sering diliputi oleh kemalangan dan kemujuran dalam hidupnya. Meski setiap kemalangan menghampiri dirinya, maka kemujuran pun akan menjadi akhirnya.
"Maka aku pun mengajukan pembuatan bom dan memasangkannya di mobil yang sering di pakai Naresh belakangan ini. Maka Pak Shaka pun membantu aku dengan mematikan kamera cctv dan menghapus di mana saat aku terekam," lanjut Bima.
Pandu dan Guntur akhirnya tahu kenapa ada beberapa rekaman yang terhapus beberapa detik. Ternyata hal itu karena ada Bima yang terekam di sana. Meski mereka sudah merencanakan sesempurna dan sebaik mungkin, tetap saja ada bagian yang luput dari perhatian mereka, yaitu rekaman video lain dari milik orang lain.
"Pak Shaka memberi aku sejumlah uang, sekitar 50 juta waktu itu untuk membeli bahan-bahan yang aku perlukan dalam membuat bom," ucap laki-laki yang dulunya merupakan teman dari Naresh.
***
Malaika dan Naresh saling menatap dalam diam dan kejauhan. Gadis itu menghiraukan panggilan dari laki-laki yang kelak akan menjadi suaminya.
"Malaika, teganya dirimu menjauhi aku," ucap Naresh dengan merengek.
__ADS_1
Perempuan itu berpikir kalau kecelakaan yang menimpa atasannya ini, selain membuat dia budek, juga membuat sifat dirinya berubah menjadi manja.
"Benar-benar ada yang tidak beres dengan kepala Naresh," gumam Malaika yang masih berbaring di sofa.
"Aku hitung sampai tiga. Kalau kamu tidak juga datang ke sini, maka aku yang akan mendatangi dirimu," ancam Naresh dengan sungguh-sungguh.
Malaika malah memejamkan matanya dan tidak menghiraukan ucapan pemuda itu. Dirinya ingin beristirahat setelah pergolakan jiwa dan raganya belakang ini.
"Satu." Naresh memulai hitungannya.
"Dua." Malaika tidak bergerak sedikit pun dari sofa.
"Tiga." Naresh terus memperhatikan keadaan gadis yang terlihat tenang seperti tidak peduli dengan ancamannya.
Naresh pun memutuskan untuk turun dari ranjangnya dan berjalan pelan menuju sofa. Jarak dari brankar ke sofa tidak sampai 3 meter, tetapi bagi Naresh terasa ratusan meter.
Senyum manis tercipta di wajah Naresh saat berdiri di samping sofa. Dilihatnya gadis itu sudah tertidur pulas dan terlihat lucu di mata sang pemuda.
"Kamu sangat cantik sekali Malaika. Makanya tidak aneh jika banyak laki-laki yang langsung jatuh cinta saat baru pertama kali melihat dirimu," bisik Naresh yang kini duduk di lantai sambil memandangi wajah calon istrinya.
Tangan Naresh terulur membelai pipi chubby Malaika. Jari jempol dia pun mengusap bibir yang terasa sangat lembut dan menghantarkan sengatan listrik pada sekujur tubuhnya.
Bibir pink milik Malaika terlihat sangat menggoda di mata Naresh. Ada dorongan kuat dalam tubuhnya untuk mengecup bagian tubuh gadis itu yang belakangan sering membuat dia terasa gila, karena berharap bisa merasakan ciuman dengan gadis yang dicintainya.
__ADS_1
"Apa tidak apa kalau aku mengecup sedikit bibir ini, ya?" tanya Naresh bermonolog.
Sepertinya setan sedang membisikan kepada Naresh untuk mencoba kelembutan bibir Malaika. Sebentar lagi gadis itu juga akan menjadi istrinya. Maka pemuda itu pun mendekatkan kepalanya ke wajah perempuan yang sedang tertidur lelap.
CUP
Niatnya Naresh hanya ingin mengecup sedikit bibir Malaika, tetapi napsu menguasai dirinya. Bukan kecupan yang dia lakukan pada calon istrinya ini, melainkan ciuman manis dan berakhir dengan ciuman panas ketika Malaika membalas ciuman itu di alam bawah sadarnya
***
Kakek Kamandaka berdiri di depan Shaka yang kini terikat di kursi. Muka laki-laki itu sudah babak belur karena sempat berkelahi dengan Yuda.
"Katakan kenapa kamu terus berusaha untuk mencelakai Naresh?" tanya Kakek Kamandaka dengan ekspresi wajah marah.
Shaka hanya menatap laki-laki tua yang selama ini disebut sebagai ayah mertua. Dirinya selama ini berusaha menjadi seorang mantu yang baik bagi keluarga Wijaya. Namun, apa yang dia dapat dari perjuangannya ini.
"Kenapa Anda ingin tahu hal itu?" tanya Shaka dengan seringai di wajahnya.
"Tentu saja, aku tidak akan memaafkan kamu, karena sudah membuat cucuku terluka!" bentak Kakek Kamandaka.
"Sebaiknya Anda pikirkan kenapa Naresh pantas untuk mendapatkan itu semua," lanjut Shaka dengan menatap sinis laki-laki tua itu.
***
__ADS_1
Alasan apa yang membuat Shaka membenci dan selalu ingin mencelakai Naresh? Tunggu kelanjutannya, ya!