
Bab 36
Ruang sempit yang berukuran 3x3 meter dan hanya ada meja, kursi, dan lemari kecil yang berisikan beberapa alat yang sering di gunakan untuk makan dan minum. Di sana ada tiga orang yang sedang duduk saling berhadapan.
"Ayo, ceritakan semua isi pertemuan kalian dari pertemuan pertama sampai ke pertemuan ketiga!" titah Guntur sambil mengacungkan jarinya di depan wajah Bima.
Laki-laki yang kini wajahnya sudah babak belur itu hanya mengangguk. Bagi Bima sudah tidak ada lagi jalan untuk kabur. Mau mengelak pun sudah tidak bisa karena banyak bukti yang menunjukan pertemuan dirinya dengan Shaka.
"Pertama kali aku bertemu dengan Pak Shaka itu tiga tahun yang lalu saat aku diam-diam menguntit Naresh. Lalu, dia menginterogasi aku sampai aku mengaku kalau sangat benci dengan laki-laki itu sampai menyimpan dendam kepadanya," kata Bima memulai cerita.
Pandu merekam pembicaraan itu dan Guntur mendengarkan sambil menatap tajam ke arah Bima. Laki-laki itu sedang memeriksa apakah ucapan dia itu jujur atau bohong.
"Kita berdua membicarakan alasan aku membenci Naresh dan Pak Shaka memahami kenapa aku sampai melakukan hal itu. Lalu, dia pun menawarkan bantuan agar tujuan aku bisa tercapai," aku Bima dengan jujur.
Pemuda itu bicara dengan suara bergetar seakan emosi di dalam dirinya meluap ke permukaan. Terlihat jelas kalau dia sedang menahan amarah.
__ADS_1
"Apa alasan kamu begitu sangat membenci Naresh?" tanya Pandu dengan ekspresi wajah yang datar.
"Saat adikku diperkosa, dia tidak mau menolongnya," jawab Bima dan membuat Pandu mengerutkan kening.
Pandu tahu betul Naresh orang yang seperti apa. Bagi dia tidak mungkin temannya itu tega membiarkan kejahatan di depan matanya.
"Apa kamu yakin kalau Naresh ada di sana saat kejadian itu berlangsung?" tanya Guntur.
"itu pengakuan adikku. Dia sering bicara 'Kenapa kamu tidak menolong aku, Naresh!' baik dalam keadaan sadar maupun di alam bawah sadarnya," jawab Bima.
"Maksudnya?" tanya Bima.
"Ya bisa saja adikmu yang sudah tergila-gila atau cinta sama Naresh berharap laki-laki itu datang menolongnya. Namun, sayang sekali orang yang diharapkan sebagai pahlawannya itu tidak datang," jelas Guntur dan membuat Bima tersentak akan kemungkinan kenyataan itu.
Selama ini Bima beranggapan kalau Naresh ada di sana dan melihat kejadian itu, tetapi dia tidak mau menolong Ambar. Naresh adalah teman satu kelas Bima dan beberapa kali main ke rumahnya. Saat itu 'lah, Ambar kenal dengan Naresh dan jatuh cinta kepadanya.
__ADS_1
"Itu tidak mungkin. Ambar terus saja berteriak memanggil nama Naresh dan minta ditolong olehnya. Saat aku tanya kepada dia kenapa tidak menolong Ambar ketika diperkosa, laki-laki itu menjawab kalau bukan tanggung jawabnya untuk menolong adikku," jawab Bima bersikukuh menyalahkan Naresh.
"Lalu, apa yang kamu bicarakan lagi dengan Pak Shaka di pertemuan itu?" tanya Pandu yang mulai kesal akan ke keras kepalaan Bima.
"Pak Shaka memberikan aku uang dan pekerjaan setelah tahu kondisi keluarga aku yang hancur karena ayah dan ibu mulai sering sakit-sakitan setelah kematian Ambar. Perusahaan mulai goyah dan akhirnya bangkrut. Dia juga sering memberi aku akses agar mudah memantau Naresh," jawab Bima.
"Lalu apa lagi yang kalian bicarakan di pertemuan kedua?" tanya Guntur.
Bima menundukkan kepala sampai-sampai Guntur yang duduk di depannya pun tidak bisa melihat wajah dia. Cukup lama Bima terdiam sampai dia mengangkat wajahnya kembali dan tersenyum manis.
Guntur dan Pandu menatap aneh kepada Bima. Mereka tahu kalau Bima itu bukan orang yang boleh dianggap enteng.
***
Apa yang akan dikatakan oleh Bima? Tunggu kelanjutannya, ya! Maaf slow up date 🥺
__ADS_1