
Bab 9
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa aku minta di mutasi saja ke luar kota dan akan memulai hidup yang baru?" Malaika merasa frustrasi karena mengingat kembali kenangan indah saat bersama Rahandika. Dia masih mencintai dirinya sampai saat ini. Air matanya kembali mengalir di pipi dia yang mulus.
Naresh menghapus air mata di pipi Malaika dengan lembut. Dia juga ikut sedih melihat teman terbaiknya seperti ini. Laki-laki itu tidak akan bisa berkata dengan mudah kepadanya untuk melupakan atau membuang perasaan cinta kepada Rahandika.
Perasaan Malaika dan Rahandika itu tulus, hanya karena status mereka tidak bersatu. Dirinya juga sudah diam-diam mendatangi Ibu Sekar, mamanya Rahandika. Agar dia mau memberikan restu kepada mereka berdua. Namun, di tolaknya dengan mentah-mentah dan malah mengancam.
"Kamu jangan menangis terus. Kalau dalam satu menit tidak juga bisa berhenti aku akan panggil penghulu ke sini buat menikahkan kita," kata Naresh yang selalu bisa membungkam tangisan Malaika.
Tidak perlu sampai satu menit, gadis itu berusaha agar berhenti menangis. Dia nggak mau menikah dengan laki-laki yang merupakan teman baiknya.
"Kamu selalu saja mengancam akan memanggil penghulu. Memangnya mudah kalau mau menikah?" gerutu Malaika.
Senyum lebar tercipta di wajah Naresh. Laki-laki itu bisa saja melakukan hal itu, tetapi dia tidak akan memaksa Malaika untuk menikah dengannya. Dia tidak mau dibenci oleh perempuan yang sudah menjadi bagian penting dalam hidupnya.
"Aku akan menikah dengan perempuan yang memang benar-benar mau memahami keadaan diriku," kata Naresh dengan pelan.
"Aku juga mau menikah dengan laki-laki yang bisa membawa kebahagiaan bagi diriku di dunia sampai akhirat," balas Malaika.
Bagi Malaika Naresh adalah laki-laki baik dan dia suka sebatas untuk dijadikan teman bukan orang yang bisa dijadikan suami. Baginya sang atasan belum bisa menjadi sosok laki-laki yang diidamkan untuk menjadi pendamping hidup olehnya. Berbeda dengan Rahandika yang merupakan laki-laki idaman yang bisa menjadi imam baginya. Namun, gara-gara status dirinya yang merupakan anak yatim piatu dan hanya punya kerabat tinggal neneknya saja membuat calon mertua tidak setuju, padahal selama ini hubungan mereka baik-baik saja.
***
Keesokan harinya, Malaika sudah ceria kembali karena kemarin Naresh mentraktir makan malam kesukaannya dan sang nenek. Sampai-sampai Nenek Romlah makan tambah beberapa kali.
"Pak, aku ucapkan terima kasih untuk kiriman seafood dan jagung manisnya. Nenek senang sekali dan sebagai gantinya aku buatkan sarapan bubur ayam," ucap Malaika sambil menyerahkan satu rantang kepada laki-laki itu.
__ADS_1
"Terima kasih. Kebetulan aku belum sarapan," balas Naresh lalu memakannya sampai habis.
Ketika kedua orang itu sedang mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing, pintu diketuk oleh seseorang dari luar. Malaika pun membuka pintu itu dan terlihat ada dua orang polisi dan Pak Burhan, pengacara keluarga Wijaya.
"Selamat pagi, Pak Naresh," ucap Pak Burhan.
"Pagi, Pak Burhan. Bagaimana?" tanya Naresh.
"Kita sudah menemukan titik terang dari kecelakaan yang sudah menimpa Anda," jawab Pak Burhan.
"Kedatangan kami ke sini mau memberi tahu kalau kecelakaan yang Anda alami itu memang disengaja oleh oknum tertentu. Ada ditemukan bekas bom rakitan di bangkai mobil milik Anda," lanjut salah satu polisi mulai menjelaskan hasil penyelidikannya.
Malaika sangat terkejut, sedangkan Naresh sudah memperkirakan hal ini sebelumnya. Hanya saja dia tidak tahu siapa dalang yang sudah merencanakan hal ini kepadanya.
"Terima kasih, Pak. Saya minta kerja samanya agar pelaku secepatnya bisa di tangkap," ucap Naresh dan polisi itu pun mengangguk.
"Apa tidak bisa ditemukan sidik jari dari pecahan bom itu? Bukannya dasar penyelidikan itu salah satunya adalah mencari sidik jari si pelaku?" tanya Malaika yang merupakan korban kecanduan nonton detektif Conan semasa remaja.
"Tidak semudah itu. Apalagi kalau memerlukan alat-alat canggih dalam proses penyelidikan. Kita doakan saja semoga pelaku bisa secepatnya ditangkap oleh polisi," jawab Naresh.
Setiap hari Malaika dan Naresh bekerja di rumah sakit. Terapi dan pengobatan untuk memulihkan pendengaran untuk Naresh juga berjalan dengan baik. Sudah satu bulan mereka di rumah sakit, kini laki-laki itu akan pulang ke rumahnya. Namun, Kakek Kamandaka menyuruh Naresh untuk tinggal di rumah utama. Jika, masih bersikukuh ingin tinggal di apartemen, maka dia akan dicoret dari ahli waris. Tentu saja mau tidak mau mengharuskan dia kembali ke rumah yang banyak memberikan kenangan buruk kepadanya.
"Tenang saja, Pak. Anda akan baik-baik saja," kata Malaika mencoba menghibur teman sekaligus atasannya.
"Apa sebaiknya kamu dan Nenek Romlah juga ikut tinggal di rumah Kakek?" Naresh menatap ke arah gadis yang sedang membereskan pakaiannya ke dalam koper kecil.
__ADS_1
"Tidak. Terima kasih. Aku lebih baik tinggal di rumah kontrakan kecil dan hidup tenang dari pada tinggal di rumah mewah dan megah, tetapi banyak uka-uka yang tinggal di sana," kata Malaika menolak keras ajakan temannya ini.
Lalu, keduanya pun pergi dari ruangan yang sudah menjadi tempat mereka menghabiskan waktu bersama selama sebulan ini. Naresh sudah bisa berjalan dengan lancar bahkan berlari. Namun, untuk pendengaran masih kadang error kadang normal. Setidaknya dia sudah tidak perlu lagi menggunakan alat pendengaran jika berbicara dengan volume suara normal. Kalau dulu bisik-bisik saja di masih bisa mendengar.
Kedatangan Naresh dan Malaika ke rumah mewah milik Kakek Kamandaka di sambut dengan gembira, kecuali oleh dua keluarga anaknya yang kini lebih suka menumpang hidup di sana dibandingkan dengan rumahnya sendiri. Tentu saja mereka takut kalau semua harta itu akan jatuh ke tangan Naresh.
"Malaika, senang bisa melihat kamu!" seru Maheswara begitu keluar dari lift.
Malaika hanya menundukkan kepala. Dia paling tidak suka dengan cara menatap laki-laki itu kepadanya, seakan ingin memakannya.
Naresh langsung undur diri pergi ke kamarnya sambil menggandeng tangan sang sekretaris agar terhindar dari bahaya. Dulu Naresh menghajar Maheswara habis-habisan saat dia akan mencium Malaika yang sedang tertidur di sofa.
***
Setelah selesai membereskan barang Malaika melirik ke arah Naresh yang sedang tertidur pulas. Dia melihat ke arah jam digital yang ada di nakas menunjukan sebentar lagi waktunya makan siang.
"Hei, Naresh. Bangun!" Malaika menggoyangkan tubuh temannya.
Naresh yang sering waspada dengan keadaan sekitar, lupa kalau yang bersama dengannya saat ini adalah Malaika. Dia dengan sigap menangkap tangan gadis yang sedang mengguncangkan badannya. Lalu, dia membanting ke samping dan menindihnya.
Perbuatan Naresh ini tentu saja membuat Malaika terkejut dan marah. Dia pukul kepala Naresh dengan sangat kuat sehingga laki-laki itu mengerang kesakitan.
"Rasakan!" Malaika mendorong Naresh dengan menggunakan kedua tangannya sampai terjungkal dan jatuh ke lantai. Lagi-lagi kepala itu terbentur lantai.
***
Apakah gangguan telinga Naresh akan semakin parah atau justru sembuh? Siapa dalang yang sudah memasangkan bom di mobil Naresh? Tunggu kelanjutannya, ya!
__ADS_1