Presdir Budeg Vs Sekretaris Matre

Presdir Budeg Vs Sekretaris Matre
Bab 34. Aku Mencintaimu


__ADS_3

Teman-teman jangan lupa kasih like, bunga, kopi, atau vote. Lalu, 🌟🌟🌟🌟🌟.


Bab 34


Hati Malaika merasa teriris saat mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Naresh. Gadis itu tidak bisa lagi membendung air mata yang sudah menumpuk di pelupuk netranya.


"Naresh, syaraf pendengaran kamu mengalami gangguan kembali," jawab Malaika dengan lirih.


Naresh kini tahu dengan kondisi dirinya saat ini saat tidak bisa mendengar suara Malaika dengan jelas. Laki-laki itu membuang muka ke arah berlawanan dengan posisi Malaika. Hati dia sakit karena lagi-lagi dirinya mendapatkan kekurangan.


Malaika menarik kembali wajah Naresh agar kembali melihat ke arah dia kembali. Namun, laki-laki itu enggan dan masih tetap memalingkan muka darinya. Maka, Malaika pun meletakan alat pendengaran di telinga sebelah kanan.


"Apa pun yang terjadi kepada dirimu saat ini, rasa cintaku kepadamu tidak akan berkurang," ucap Malaika dengan jujur dan sungguh-sungguh.

__ADS_1


Naresh langsung memalingkan wajahnya kembali ke arah Malaika. Terlihat senyum gadis itu menghiasi muka seperti biasa. Pemuda itu ingin melihat apa calon istri itu berbohong hanya untuk membuatnya senang saja. Sayangnya, tidak ada keraguan dan kebohongan dari pancaran sinar mata si penguasa hati.


"Hanya karena kekurangan kamu ini tidak akan membuat perasaan aku kepadamu berubah. Maka, kamu pun jangan berubah. Tetaplah mencintaiku sepenuh hatimu dan jadikan aku satu-satunya ratu dalam hidupmu, Naresh!" lanjut Malaika masih dengan senyum menghiasi wajahnya.


Ada perasaan senang bercampur sedih saat ini. Bagaimanapun juga Naresh ingin dirinya menjadi orang paling sempurna dan memang pantas untuk mendapatkan Malaika.


"Maafkan aku, seharusnya kamu jangan bilang seperti itu. Kamu layak untuk bahagia dan mendapatkan yang terbaik bagi dirimu," kata Naresh dengan lirih.


Malaika menggelengkan kepala, kini air mata dia pun mengalir seperti anak sungai. Lalu, dia berkata, "Bahagia aku itu bersama dengan dirimu. Jangan paksa aku untuk pergi dari sisimu, Naresh. Kita bersama-sama gapai kebahagiaan sampai menutup mata. Aku akan selalu bersama dengan dirimu bagaimanapun keadaannya."


"Maafkan aku, Malaika. Mungkin saja aku akan menjadi aib dan sebab kesulitan dirimu nanti kedepannya. Aku rela jika ka—" ucapan Naresh terpotong.


"Tidak. Meski kamu sekarang punya kekurangan, itu tidak akan menjadi aib bagi kita. Sifat dan sikap baik kamu yang membuat hadirnya cinta dalam hati ini. Jadi, aku mohon tetaplah jadi dirimu sendiri yang selalu optimis dan perhatian," potong Malaika dengan menahan isak tangisnya.

__ADS_1


Meski sedih, tetapi ada rasa hangat dan bahagia yang Naresh rasakan saat ini. Perempuan yang dia cintai sepenuh hati, masih tetap mengharapkan dirinya. Lalu, dia pun mengangguk dan tersenyum manis.


"Aku mencintaimu, Malaika. Sejak dulu, sekarang, dan nanti sampai akhir hayatku, aku akan selalu mencintaimu. Bahkan aku berharap perasaan ini akan terus tumbuh dan tidak akan pernah mati," aku Naresh dengan tatapan penuh harap.


"Aku pun begitu. Selamanya hanya akan mencintai dirimu dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ada pada dirimu," balas Malaika dengan sungguh-sungguh.


Naresh meraih tangan gadis itu dan menciumnya. Tentu saja ini membuat Malaika terkejut.


"Hei, kita belum menikah! Nggak boleh main cium-ciuman," ucap Malaika dengan memasang wajah sebal ke arah calon suaminya ini.


"Kalau begitu kita menikah saja sekarang. Apa kamu mau?" tanya Naresh dengan ekspresi wajah serius.


***

__ADS_1


Jawaban apa yang akan diberikan oleh Malaika? Tunggu kelanjutannya, ya!


__ADS_2