
Bab 19
"Aku sungguh-sungguh tidak mengharapkan apa pun dari kalian. Aku melakukan ini karena merasa tergugah saja karena mendengar perjuangan kalian untuk mempertahankan harta peninggalan satu-satunya dari orang yang disayangi," balas Abimana dengan sungguh-sungguh.
Malaika dan Nenek Romlah saling melirik. Kedua orang itu menjadi bingung harus melakukan apa untuk membalas budi. Gadis itu juga tidak begitu mengenal baik karakter dari Abimana. Jika Maheswara itu orang yang terang-terangan dengan niat dan keinginannya, tetapi Abimana itu orangnya tidak bisa ditebak. Menurut Naresh sepupunya ini sering membuatnya jengkel sama seperti Maheswara.
"Baiklah, bagaimana jika kamu setiap hari membuatnya bekal makan siang untuk aku selama satu tahun?" Abimana merasa kalau Malaika dan Nenek Romlah tidak enak hati, karena mendapatkan sertifikat tanah itu dengan cuma-cuma.
Mendengar ucapan Abimana tentu saja Malaika menyanggupinya. Gadis itu bilang akan membuatkan bekal setiap hari sebagai ganti bayaran sertifikat.
Hari ini Malaika dan Abimana banyak berbicara dan bertukar pikiran sebagai biasa dia lakukan dengan Naresh. Bedanya kalau mereka kadang diselingi candaan atau bicara sambil makan cemilan.
***
Keesokan hari Malaika sudah masuk kerja kembali, meski dokter memintanya untuk istirahat selama 3 hari. Namun, perempuan itu memilih pergi bekerja agar pikirannya bisa fokus kembali dan dia juga merasa kalau kerja bisa mendapatkan uang tambahan dari lembur.
Naresh terkejut saat melewati meja milik Malaika. Sekretaris kesayangannya sudah masuk kerja, padahal dia mengira akan mulai masuk kerja besok lusa.
"Malaika, kok, kamu sudah masuk kerja? Kamu seharusnya istirahat dengan baik," kata Naresh yang kini berdiri di depan meja kerja Malaika.
"Alhamdulillah, kondisi aku sudah baikan, Pak," balas perempuan berhijab marun sambil tersenyum tipis.
__ADS_1
"Kalau kamu merasa tidak enak badan langsung istirahat saja, ya. Kamu bisa tidur di ruang aku nanti," ucap Naresh sebelum pergi ke ruang kerjanya.
Tidak lama setelah laki-laki itu masuk ke ruangan kantornya, Azizah datang dengan bergaya anggun. Wanita itu berpenampilan menarik dan elegan seperti biasa. Lalu, tanpa permisi atau mengucapkan salam, dia langsung masuk ke ruangan Naresh.
"Maaf, Nona. Apa Anda sudah membuat janji dengan Pak Presdir?" Malaika berlari dan menghadang langkah Azizah.
"Memang perlu buat janji setiap mau bertemu calon suami?" Terlihat jelas tatapan tidak suka dilayangkan oleh wanita itu kepada Malaika.
Bagi si sekretaris hal yang seperti ini bukan sesuatu yang aneh. Entah berapa ratus kali dia menjegal para wanita yang ingin masuk ke ruang Naresh. Apalagi dengan cara yang seperti ini.
"Tentu saja harus ada janji, karena jadwal Pak Presdir itu sudah sangat padat dan saat ini beliau sedang mempersiapkan diri untuk rapat bersama dewan direksi," balas Malaika dengan tenang, tapi mematikan.
"Aku hanya perlu 30 menit untuk berbicara dengannya, karena ada sesuatu yang sangat penting," kata Azizah sambil mendorong tubuh Malaika.
Melihat hal itu dimanfaatkan oleh Azizah. Wanita itu mengerang kesakitan dan memohon ampun kepada Malaika. Tentu saja hal ini membuat sang sekretaris menatap heran.
"Sudah jangan main drama. Kamu duluan yang mendorong aku dan sekarang seolah-olah kamu adalah korban, sangat menjijikan sekali tingkah kamu ini," ucap Malaika.
"Ada apa ini?" tanya Naresh sambil melihat ke arah Malaika dan Azizah secara bergantian.
"Naresh, wanita itu mendorong aku sampai jatuh. Hanya karena aku ingin menemui kamu," jawab Azizah sambil terisak.
__ADS_1
"Aku tadi tanya sama dia apa sudah buat janji. Wanita ini dengan sombong membalas ucapan aku dan mendorong tubuhku. Aku tidak terima," lanjut Malaika yang kini berdiri berhadapan dengan Naresh.
"Lain kali biarkan dia masuk ke ruangan aku, Malaika. Sekarang kamu kembali kerja!" titah Naresh lalu pergi ke ruangan milik Rahandika untuk mengambil laporan selama dia tidak ada di Indonesia.
Azizah tersenyum sinis dan mengejek kepada Malaika. Wanita itu merasa di atas awan karena mendapat pembelaan dari Naresh.
Dada Malaika terasa sakit karena merasa Naresh berubah. Biasanya dia akan lebih percaya kepadanya, tetapi kini merasa diabaikan.
'Kenapa bisa seperti ini. Wajar saja Naresh membela wanita itu, karena dia itu calon istrinya. Sementara aku, hanyalah sekretaris saja.' (Malaika)
Ketika Naresh akan pergi ke ruang rapat dengan para dewan direksi, lagi-lagi Malaika harus menelan rasa kecewa. Biasanya dia selalu mendampingi Naresh ke mana pun laki-laki itu pergi. Namun, kali ini dia menyuruhnya untuk tidak ikut dengannya.
"Kamu tunggu saja di sini. Jangan ke mana-mana!"
Air mata yang menggenang begitu mendengar ucapan sang Presdir barusan langsung luruh setelah pintu lift tertutup. Malaika merasa kini Naresh tidak membutuhkan dirinya lagi.
'Apa ada yang salah dari hasil kerja aku selama kamu pergi? Sehingga kamu tidak mau aku ikut mendampingi dirimu?' (Malaika)
Malaika tidak tahu kalau tujuan Naresh itu demi kebaikan sang gadis. Laki-laki itu ingin sekretaris itu tidak kelelahan dan beradu tegang selama berada di kantor. Bahkan Naresh sendiri secara diam-diam mengulang jadwal miliknya agar Malaika tidak kelelahan. Sang pemimpin itu mengubah pertemuan di luar kantor ke gedung perkantoran miliknya. Agar dia bisa mengawasi Malaika di waktu yang bersamaan. Dirinya tidak mau lagi kalau saat gadis itu kesusahan, malah di tolong oleh orang lain.
***
__ADS_1
Baru bab 19, jadi masih panjang. Biarkan mereka dalam kesalahpahaman. Apakah hubungan Malaika dan Naresh akan merenggang? Atau masih tetap seperti dulu? Tunggu kelanjutannya, ya!