Presdir Budeg Vs Sekretaris Matre

Presdir Budeg Vs Sekretaris Matre
Bab 6. Kedatangan Kakek Kamandaka


__ADS_3

Bab 6


Saat ini Malika dan Naresh sedang menyiapkan diri untuk bertemu dengan Kakek Kamandaka. Dokter sudah diberi tahu agar jangan menyebutkan kondisi laki-laki itu yang sebenarnya. Bisa gawat jika orang lain tahu kalau Presdir PT. Wijaya saat ini tidak bisa mendengar dengan baik.


Pintu kamar pun dibuka oleh seseorang dan itu membuat Malika yang sedang merapikan selimut untuk menutupi tubuh Naresh, mengalihkan perhatiannya.


"Pak Kamandaka? Anda—"


"Kenapa kamu tidak bilang kalau Naresh mengalami kecelakaan?" Laki-laki tua itu memotong pembicaraan Malaika.


Malaika mengambil kursi dan mendudukkan kakeknya Naresh di sana. Dipijatnya pelan pundak Kakek Kamandaka, seperti biasanya jika mereka bertemu. Ini adalah salah satu taktik perempuan itu agar tidak di marahi.


"Apa Kakek tidak tahu musibah yang sudah terjadi kepada diriku di waktu yang bersamaan Naresh juga mengalami kecelakaan," kata Malaika dengan santai jika mereka berbicara bukan di jam kerja.

__ADS_1


Malaika dan Kakek Kamandaka sudah saling mengenal sejak dulu. Mereka pertama kali bertemu ketika di bandara saat Naresh pulang dari pertukaran pelajar. 


Waktu itu Malaika yang seorang yatim piatu tidak ada yang menjemput, karena kakeknya masuk rumah sakit dan Nenek Romlah harus menjaga dan merawat. Jadi, Naresh meminta Kakek Kamandaka untuk mengantarkan Malika ke rumahnya. Dalam perjalanan itu mereka banyak bicara dan saling mengenal.


"Memangnya apa yang terjadi kepada dirimu?" tanya Kakek Kamandaka dengan suaranya yang keras padahal dia sedang tidak marah, memang sudah dari sananya diberi kelebihan seperti itu.


"Rumah nenek di sita rentenir dan aku akan dijadikan istri keempatnya," jawab Malaika dengan mimik wajah sesedih mungkin.


"Apa?" Kakek Kamandaka yang sudah menganggap Malaika seperti cucunya sendiri langsung emosi.


Kakek Kamandaka itu selalu bertindak tegas dan keras kepada Naresh. Sementara itu, agak luluh dan selalu mendengarkan kata-kata Malaika. Ini yang sering membuat laki-laki itu meminta untuk menghadapi kakeknya.


"Dari pada kamu menikah untuk dijadikan istri ke empat lebih baik kamu menikah sama salah satu cucu dadi kakek saja. Tinggal pilih mau siapa, Naresh, Maheswara, Abimana, pilih yang kamu suka. Nanti akan kakek nikahkan kalian," ujar Kakek tua yang masih terlihat bugar di penghujung usianya. 

__ADS_1


"Tapi, kamu dan Naresh sangat cocok dan bisa kompak. Kamu nikah saja sama dia," lanjut Kakek Kamandaka yang sedang menikmati pijatan di bahunya. Laki-laki tua ini suka dengan cara Malaika memijat tubuhnya. Tidak terlalu kuat dan tidak juga lemah, terasa sangat pas.


"Setuju, Kek!" Naresh tiba-tiba bangun dari tidurnya.


'Astaghfirullahal'adzim. Kenapa tiba-tiba pendengar dia normal? Biasanya harus berulang kali dan keras saat bicara.' (Malaika)


Malaika menghentikan pijatan pada bahu Kakek Kamandaka. Mata dia melotot ke arah Naresh. Gadis itu ingin menepuk kepala atau badan laki-laki yang merupakan sahabat sekaligus atasannya di kantor. Semua rencana yang mereka susun jadi berantakan.


"Eh, kamu sudah bangun?" tanya Kakek Kamandaka yang kini melihat ke arah sang cucu.


'Mampus sudah, kamu!' (Malaika)


Naresh merutuki kebodohan dia sendiri saat ini. Kalau bisa laki-laki itu ingin memutar kembali waktu ke satu menit yang lalu. Seharusnya tadi diam saja meski setuju dengan apa yang diucapkan oleh Kakeknya.

__ADS_1


***


Apakah Kakek Kamandaka tahu kondisi Naresh saat ini? Tunggu kelanjutannya, ya!


__ADS_2