
Bab 20
Malaika mengantarkan bekal makan siang untuk Abimana ke ruang kerjanya. Sesuai keinginan laki-laki itu kemarin, sebagai ganti sertifikat tanah.
"Terima kasih, Mala," ucap Abimana dengan senang.
Abimana memanggil Malaika dengan sebutan Mala seperti Nenek Romlah. Kemarin dia izin untuk memanggilnya dengan sebutan itu dan Malaika memberi izin.
Bekal yang dibuat oleh Malaika hanya makanan sederhana. Beberapa potong nugget, orang orak-arik, dan kerupuk. Wanita itu tidak punya banyak uang untuk membeli bahan-bahan masakan yang mahal.
"Semoga masakan aku ini cocok di lidah Bapak," kata Malaika dengan sopan.
"Kita makan siang bersama!" ajak Abimana yang tersenyum manis. Perbuatan yang jarang dia lakukan jika bukan ketika hatinya bahagia. Paling laki-laki itu tersenyum tipis dan hanya formalitas saja.
"Terima kasih, Pak. Saya sudah punya janji dengan beberapa sekretaris mau makan bersama di luar," balas gadis berjilbab turkish itu menolak.
"Yah, sayang sekali! Baiklah, kita bisa makan bersama kapan-kapan," ucap Abimana dengan ekspresi wajah kecewa.
Sementara itu, Naresh mencari keberadaan Malaika. Laki-laki itu ingin mengajak makan siang bersama dengannya. Sudah lama sekali dia tidak berbincang-bincang santai dengan sang pujaan hati.
__ADS_1
"Malaika ke mana, ya? Apa sudah pergi ke kantin? Tumben, biasanya dia akan mengingatkan aku untuk makan siang," gumam Naresh sambil mengeluarkan handphone untuk menelepon sang sekretaris.
Saat panggilan itu tersambung, ternyata handphone milik Malaika ada di laci meja kerja. Lalu, Naresh membuka untuk memastikan. Senyumnya mengembang saat melihat layar wallpaper tidak diganti oleh si pemilik. Foto dirinya dan Malaika yang sedang pergi liburan untuk menghibur perasaan gadis itu di saat patah hati.
"I love you, Malaika." Kata-kata yang hanya dia ucapkan ketika tidak bisa di dengar oleh orangnya.
Naresh pun berencana pergi ke kantin untuk menemui Malaika di sana. Namun, saat sedang menunggu lift gadis itu keluar dari dalam kotak besi begitu pintu terbuka.
"Malaika, aku mau mencari kamu," kata Naresh dengan senyum lebar.
"Ada apa, ya, Pak?" tanya Malaika dengan tatapan heran. Perempuan itu takut ada pekerjaan dia yang tidak benar.
"Ayo, kita makan siang bersama!" ajak Naresh sambil menarik tangan gadis itu dan masuk ke dalam lift.
Malaika lupa akan janji untuk makan bersama-sama dengan teman-teman yang menjabat sebagai sekretaris di kantor itu. Tadi dia kembali ke ruangan lantai atas itu untuk mengambil handphone yang tertinggal, tetapi langsung lupa ketika Naresh membawanya pergi.
Gadis itu awalnya menikmati acara makan siang seperti biasa ketika mereka makan bersama. Obrolan santai, kadang bercanda, dan tertawa bersama. Namun, ketika di tengah acara makan tidak jauh dari meja mereka terlihat ada seorang perempuan datang dan menampar wanita yang sedang makan. Tentu saja Malaika terkejut melihat hal itu.
Terjadi cekcok di antara kedua wanita itu. Mereka saling berteriak dan menjambak sambil mengumpat. Ternyata wanita itu datang dan menampar wanita yang menjadi selingkuhan suaminya.
"Dasar wanita murahan, tidak tahu diri! Kenapa tidak jadi pela_cur saja sekalian. Kamu menggoda suamiku dan menguras uangnya!" teriak wanita bertubuh montok dengan rambut keriting.
__ADS_1
"Jangan salahkan aku! Suami kamu itu yang mengejar-ngejar aku, meski aku sudah menolaknya beberapa kali. Aku terpaksa menerima dia karena dia mengancam akan bunuh diri jika aku tolak terus," balas wanita yang di cap sebagai pelakor.
Jantung Malaika seperti tertusuk ribuan jarum di waktu yang bersamaan. Gadis itu baru sadar kalau kini Naresh sudah punya calon istri dan dia malah bersenang-senang dengannya.
"Wanita kalau sedang marah seperti itu sangat mengerikan sekali, ya?" Naresh yang sejak tadi ikut melihat ke arah keributan itu berkomentar.
"Jika saja laki-laki itu setia kepada pasangannya, tentu saja tidak akan ada wanita yang mengerti seperti itu dan juga tidak akan ada wanita tidak tahu malu seperti itu," balas Malaika dengan perasaan sakit, karena merasa posisi dirinya tidak beda jauh dari si pelakor.
"Untungnya aku ini tipe setia. Tidak peduli sebanyak apa pun wanita yang berusaha menggoda, aku tidak pedulikan mereka," tutur Naresh dengan sungguh-sungguh agar Malaika tahu kalau dirinya dari dulu selalu setia dengan rasa cinta untuknya.
Akan tetapi, Malaika berbeda menanggapi ucapan Naresh. Gadis itu mengartikan kalau dia akan setia kepada Azizah yang merupakan calon istri meski dia dekat dengan dirinya.
"Ya, seharusnya semua laki-laki seperti dirimu, setia akan perasaannya dan tidak akan berpaling kepada yang lain," sahut Malaika dengan tatapan sendu.
'Sadar Malaika! Sadarlah! Sekarang ini Naresh sudah punya pasangan. Dika sudah punya istri. Kini giliran dirimu yang harus mencari pasangan agar mendapatkan kebahagiaan.' (Malaika)
Senyum Naresh terus menghiasi wajahnya. Ada perasaan bahagia bisa bersama gadis galak dan matre kebanggaan dirinya. Saingan berat cintanya sudah menikah dan kini tinggal dia yang gencar berusaha mendekati Malaika untuk meluluhkan hatinya.
'Ya Allah, bukakanlah hati Malaika untukku.' (Naresh)
***
__ADS_1
Apakah Malaika akan segera mencari calon pendamping hidupnya? Akankah Naresh mengungkapkan perasaannya kepada Malaika? Tunggu kelanjutannya, ya!