
Bab 12
Sudah lima hari ini Naresh pergi ke Malaysia, hari-hari Malaika terasa hampa. Tidak ada kabar apa pun dari laki-laki itu. Tidak pernah hal ini terjadi kepada dirinya. Dulu saat Naresh kuliah sambil bekerja di London pun masih bisa menghubungi dirinya setiap hari meski hanya 10 menit untuk bertukar kabar. Pertemanan mereka tidak terasa sudah lebih dari 10 tahun, baru kali ini mereka marahan.
Pekerjaan Malaika sekarang suka melirik ke arah handphone miliknya. Siapa tahu Naresh akan menghubungi dirinya. Dia ragu untuk menghubungi terlebih dahulu.
"Malaika, ini sudah waktunya makan siang. Kamu mau ikut gabung bersama kami?" tanya salah seorang teman di kantornya.
"Tidak, terima kasih. Aku sedang puasa," jawab Malaika.
Semenjak pertengkaran di rumah makan dahulu, napsu makan perempuan itu hilang. Sehari dia cukup sarapan saja, karena itu juga sambil menemani neneknya makan. Untuk menjaga kesehatan dirinya, Malaika memilih berpuasa. Jika berpuasa dia bisa makan sehari dua kali, sedangkan bila tidak hanya makan sekali.
Rahandika sering memerhatikan mantan kekasihnya yang terlihat semakin kurus dan muram. Tidak ada keceriaan yang terpancar dari wajah dan sorot matanya. Suara cempreng perempuan itu ketika bersenda gurau pun tidak terdengar.
'Kamu kenapa, Malaika? Apa yang menyebabkan kamu menjadi seperti ini?' (Rahandika)
Sore hari ketika akan pulang dari kantor, Malaika bertemu dengan Abimana di lift. Saudara sepupu Naresh yang tidak banyak bicara dan selalu bersikap sopan. Laki-laki itu tersenyum manis kepada Malaika dan berbasa-basi sebentar. Perempuan itu ingin bertanya tentang Naresh apa sudah pulang atau belum dari Malaysia kepada laki-laki yang menjabat sebagai Direktur Keuangan di kantor perusahaan. Namun, lagi-lagi dia malu dan takutnya malah menjadi masalah baginya nanti.
Jantung Malaika terasa akan copot saat Maheswara masuk ke dalam lift dan tersenyum manis kepadanya. Laki-laki itu mepet terus sampai gadis itu nempel pada dinding lift. Tubuhnya terasa lemas karena sedang berpuasa dan tadi banyak mengerjakan tugas.
"Bagaimana kalau kita ngopi dulu!" ajak Maheswara dengan senyum menggoda miliknya.
"Tidak, terima kasih. Saat ini aku sedang berpuasa," tolak Malaika sambil menahan tubuh laki-laki itu dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Kalau begitu sambil menunggu buka puasa kita jalan-jalan. Lalu, kita makan bersama di sebuah restoran, yuk!" ajak Maheswara bersikukuh, kini dia mengurung Malaika dengan kedua tangan yang berada di sisi kiri dan kanan tubuh gadis itu.
"Aku akan buka puasa bersama nenek. Jadi, maaf aku tidak bisa," balas Malaika dengan tegas.
"Hentikan, Maheswara! Kamu membuatnya takut. Kalau kamu mengganggu Malaika bersiap-siaplah mendapat amukan dari Naresh," kata Abimana mengingatkan dan itu sukses membuat Maheswara menjauh dari tubuh Malaika.
Begitu pintu lift terbuka, Malaika langsung berjalan cepat ke parkiran. Dia melajukan motornya dengan cepat. Untungnya Maheswara belum tahu tempat tinggalnya saat ini. Jika tidak, bisa-bisa pria itu mendatangi rumahnya seperti dulu. Dia sering datang ke rumah Nenek Romlah dan ingin menemui Malaika. Meski sering ditolak keberadaannya, laki-laki itu pantang menyerah saat mendekati dirinya.
Kini sudah 7 hari Naresh pergi ke Malaysia. Rencana dia pergi selama 5 hari itu molor ternyata. Tidak ada kabar apa pun darinya selama ini dan itu membuat dirinya sangat khawatir.
"Apa terjadi sesuatu kepada Naresh? Kenapa dia tidak menghubungi aku?"
"Eh, memangnya aku ini siapa dia sampai harus diberi tahu keadaannya," racau Malaika sambil menelungkupkan wajahnya ke meja.
Akhirnya rasa penasaran gadis itu membuat dia menanyakan keadaan Naresh kepada Kakek Kamandaka. Hanya dia yang bisa membantunya saat ini.
"Kek, sebenarnya apa yang sedang terjadi? Kenapa Naresh belum pulang?" tanya Malaika lewat telepon seluler.
^^^"Dia sedang menemui beberapa pengusaha negeri jiran yang ingin bekerja sama dengannya. ^^^
"Oh, Alhamdulillah. Berarti tidak sia-sia perjalanan dia ke sana," kata Malaika dengan suara yang mulai ceria.
__ADS_1
^^^"Iya. Sepertinya Kakek harus kembali ke perusahaan.^^^
"Kenapa, Kek?" Keceriaan yang baru saja terlihat pada Malaika kini hilang menguap.
^^^"Sepertinya Naresh akan tinggal beberapa waktu di sana. Entah satu bulan atau dua bulan waktu yang akan dia habiskan di sana."^^^
Air mata Malaika tiba-tiba saja mengumpul di pelupuk matanya dan satu detik kemudian jatuh meluncur di pipinya. Ada perasaan asing yang dirasakan oleh gadis itu saat ini. Dia sendiri tidak tahu apa itu.
***
Sudah satu bulan berlalu dan tidak sekalipun Naresh menghubungi Malaika. Gadis itu seperti kehilangan jiwanya. Karyawan di kantor yang mengenal sosoknya sebagai orang yang ceria dan menyenangkan kini berubah menjadi pendiam.
"Malaika, ini undangan untukmu."
Rahandika memberikan surat undangan pernikahan dirinya dengan Hafshah. Malaika menerima dan mengucapakan terima kasih. Tidak ada kesedihan saat tahu sang mantan kekasih yang dulu begitu dia cintai, lusa akan menikah.
"Kamu kenapa? Kalau kamu tidak menerima pernikahan aku ini, bagaimana kalau kita kawin lari?" Rahandika yang masih mencintai Malaika memberikan sebuah ide gila.
"Jangan gila kamu, Dika! Ingat, akan banyak orang yang kecewa jika pernikahan kamu ini gagal. Sebaiknya kamu belajar mencintai Hafshah. Dia wanita yang berhak akan cintamu. Bukan aku," ucap Malaika dengan tegas dan menatap tajam kepada laki-laki yang kini berdiri di depannya.
"Aku tidak suka melihat keadaan kamu yang seperti sekarang ini! Kamu seperti mayat hidup!" pekik Rahandika.
Laki-laki yang selalu bersikap lembut dan ramah kepada Malaika kini membentaknya. Keduanya pun saling menatap mencoba memahami orang di depannya.
__ADS_1
***
Bagaimana reaksi saat Malaika dan Naresh bertemu kembali setelah berpisah? Bagaimana pesta pernikahan Rahandika berlangsung? Tunggu kelanjutannya, ya