Presdir Budeg Vs Sekretaris Matre

Presdir Budeg Vs Sekretaris Matre
Bab 14. Malaika Masuk Rumah Sakit


__ADS_3

Bab 14


Sepulang dari bandara Naresh langsung ke kontrakan Malaika. Saat sampai di sana terlihat sepi seperti tidak ada orang. Pintu sudah diketuk beberapa kali, tetapi tidak ada sahutan dari dalam.


Maka Naresh pun memutuskan untuk pulang ke apartemen. Ada rasa kecewa karena rasa rindunya tidak terobati. Sejak dari Malaysia pemuda itu berharap bisa bertemu dengan sang sekretaris kebanggaan dirinya. Namun, keadaan tidak membuat mereka bertemu.


Setelah satu bulan lebih beberapa hari, Naresh akhirnya kembali ke tempat yang belakangan ini dia tinggali. Perjalanan bisnis dan pengobatan dia berjalan dengan lancar. Pendengaran dia sudah normal kembali dan bisa mendengar suara dengan jelas. Masih ada waktu sekitar 4 jam menuju pesta pernikahan Rahandika, maka laki-laki itu memutuskan untuk istirahat sebentar. 



"Malaika pergi dengan siapa, ya?" gumam Naresh bertanya-tanya.


Laki-laki itu melihat penampilannya di cermin sudah terlihat tampan dan rapi. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Malaika.


"Naresh!" Terdengar suara Azizah memanggil.


Naresh mengerutkan kening saat melihat ada wanita itu di lingkungan apartemen tempat dia tinggal. Perempuan itu adalah putri bungsu dari Engku Baharudin yang bertanggung jawab untuk proyek kerja sama dengan Naresh.


"Kamu mau ke pesta pernikahan Rahandika?" tanya Azizah sambil menampilkan senyum menggoda miliknya.


"Ya," jawab laki-laki itu singkat dan dia melanjutkan lagi perjalanannya menuju mobil yang terparkir di basement.


"Aku ikut dengan kamu, ya? Aku kurang tahu jalanan di Jakarta," pinta wanita yang memakai gaun pesta malam yang terlihat sangat glamor.


Naresh pun membiarkan wanita itu ikut ke dalam mobilnya. Dalam perjalanan itu pun Azizah yang banyak bicara sedangkan Naresh banyak terdiam dan menjawab sekenanya saja.


Begitu turun dari mobil, Naresh langsung berjalan ke ballroom hotel dan mencari keberadaan Malaika. Laki-laki itu sudah merasa gila karena sudah tidak bisa lagi menahan rasa rindunya.


"Tunggu, Naresh! Aku tidak bisa berjalan dengan cepat," kata Azizah sambil menarik lengan laki-laki itu.

__ADS_1


Meski merasa kesal Naresh tidak boleh berbuat kasar kepada perempuan. Itu adalah ajaran yang diajarkan oleh ibunya dahulu.


Mata dia beredar mencari keberadaan Malika. 


Ketika Naresh melihat ke arah panggung pelaminan, terlihat gadis yang dirindukan olehnya. Mata laki-laki itu membulat saat melihat sepupunya memegangi tubuh gadis itu.


"Malaika!" pekik orang-orang saat gadis itu pingsan di atas panggung dekat pelaminan. Bahkan Rahandika juga ikut membantu mengambilkan tas tangan milik gadis itu.


"Pak Abimana, bawa Malaika ke kamar lantai atas! Ada beberapa kamar yang sudah kami sewa," kata Rahandika dengan wajahnya yang mendadak pucat.


Keadaan pesta itu sedikit mengalami kekacauan karena sang mantan kekasih mempelai laki-laki itu tiba-tiba saja pingsan. Orang-orang pun menjadi heboh karenanya.


Naresh yang khawatir akan keadaan Malaika pun mendatangi kamar di mana gadis itu di rawat. Terlihat Nenek Romlah menangis sambil membelai kepala sang cucu.


"Nek," panggil Naresh dengan lembut.


"Naresh," panggil Nenek Romlah dengan lirih dan air mata yang deras membasahi pipinya.


Wanita tua itu takut kalau Malaika kenapa-kenapa karena sudah 3 hari badannya demam. Dalam hatinya dia takut kejadian anaknya terulang kepada sang cucu. Dulu Ramzi juga sempat sakit demam sebelum meninggal.


"Nek, Malaika kenapa?" tanya Naresh sambil duduk di samping ranjang dan melihat lebih dekat kepada Malaika.


"Mala sudah sakit beberapa hari ini. Tubuhnya demam tinggi dan dokter juga sudah mengobatinya. Tapi, sakitnya belum juga sembuh," aku Nenek Romlah dengan terisak.


"Apa Malaika jatuh sakit karena memikirkan pernikahan Rahandika?" batin Naresh.


Laki-laki ini pun melirik ke arah sang asisten. Terlihat jelas wajah Rahandika yang pucat dan tatapan sedih mengarah kepada gadis yang sedang terbaring di atas ranjang.


"Malaika apa segitu sedih dan kecewanya kamu kepadaku akan pernikahan ini? Sampai membuat kamu jatuh sakit seperti ini? Kalau tahu kamu serapuh ini, aku akan menolak permintaan ibu dan akan meminta dukungan keluarga lain agar ibu bisa merestui hubungan kita," batin Rahandika dan terlihat ada rasa penyesalan yang tersirat dari raut wajah dan pancaran matanya.

__ADS_1


***


Malaika akhirnya dibawa ke rumah sakit agar mendapatkan perawatan yang lebih intensif. Gadis itu tipe orang yang memiliki tubuh yang kuat, jarang sakit. Namun, saat ini dia benar-benar tidak berdaya.


Selama berteman dengan Malika, baru kali ini Naresh melihat keadaan gadis itu seperti ini. Mau selelah apa pun atau sepadat apa pun jadwal kerjanya, dia tidak pernah sampai seperti ini.


"Apa gara-gara Rahandika menikah, kamu jadi seperti ini?" tanya Naresh dalam hatinya.


"Begitu besar rasa cintamu untuk laki-laki itu sampai kamu terpuruk seperti ini." 


Naresh merasakan sesak dadanya untuk ke sekian kalinya. Cinta yang bertepuk belah tangan membuat dirinya menjadi laki-laki yang kuat. Namun, saat melihat sang pujaan hati terbaring tidak berdaya seperti ini membuat laki-laki itu ikut menderita.


"Suster, apa sakit cucuku ini sangat parah? Kenapa tidak sembuh-sembuh, padahal sudah diobati oleh dokter kemarin. Kapan Mala akan segera bangun?" tanya Nenek Romlah bertubi-tubi kepada perawat yang sedang mengganti kantong infus.


Wajah Malaika masih terlihat pucat, sekujur tubuhnya berkeringat. Meski begitu suhu tubuhnya masih panas


"Kita berdoa semoga, Nona Malaika segera sadar dan bisa secepatnya sembuh lagi, Nek," kata perempuan berseragam berwarna putih.


Naresh berdiri di samping kanan brankar sedangkan Nenek Romlah duduk di sisi kiri. Saat ini hanya ada mereka berdua di sana. Rahandika disuruh kembali ke hotel, Maheswara yang berbuat kegaduhan diusir oleh satpam, dan Abimana langsung pulang setelah dokter selesai memeriksa, tadi.


"Apa Malaika sakit seperti ini gara-gara Dika menikah dengan perempuan lain?" tanya Naresh sambil memandangi wajah pucat sekretarisnya.


"Sepertinya bukan," jawab Nenek Romlah karena dia mengingat sesuatu.


***


Sakit apakah Malaika? Apa dia akan cepat sadar? Tunggu kelanjutannya, ya!


__ADS_1


__ADS_2