
Bab 8
"Pak, ini Pak Maheswara tiba-tiba menelepon?" Malaika menunjukan handphone miliknya.
"Mau apa dia menelepon kamu?" tanya Naresh tidak suka.
"Aku tidak tahu, Pak," balas Malaika memberengut.
Hubungan Naresh dan Maheswara kurang harmonis. Mereka sama-sama suka kepada Malaika. Bedanya Naresh menyukai secara diam-diam, karena dia tahu kalau perempuan itu menjalin hubungan dengan sang asisten. Sementara itu, Maheswara memperlihatkan perasaannya secara terang-terangan dan itu membuat sang sekretaris merasa kurang nyaman.
"Kalau begitu biarkan saja," ujar Naresh dengan tampang jutek.
'Ya, sudah tidak perlu marah begitu.' (Malaika)
Melihat wajah cemberut Malaika dengan bibir yang mengerucut membuat laki-laki itu gemas ingin menciumnya. Dia mengingat ciuman pertama mereka saat terjatuh di anak tangga sewaktu kesiangan masuk kelas, dulu.
Nada dering telepon milik Malaika kembali berdering. Lagi-lagi Maheswara yang menghubunginya. Kali ini Malaika menerima panggilan itu.
"Assalamualaikum, halo."
^^^"Halo, Malaika. Bagaimana kabar kamu?"^^^
"Baik."
^^^"Aku kalau rumah kamu disita oleh Tuan Juwanto. Kamu tenang saja, aku akan merebut darinya kembali dan memberikan rumah itu untukmu."^^^
Tentu saja perasaan Malaika sangat senang. Ketika dia tersenyum lebar dan akan memekik girang, terlihat Naresh memelototi dirinya. Dia tahu kalau Naresh tidak suka jika dirinya terlalu menanggapi Maheswara.
"Terima kasih, Pak Maheswara atas perhatiannya."
Kali ini Malaika bicara dengan sopan dan tenang. Dia tidak mau membuat mood atasannya buruk.
__ADS_1
^^^"Apa pun akan aku lakukan demi kamu, Malaika."^^^
Tiba-tiba saja Naresh meminta handphone milik Malaika, sehingga mau tidak mau perempuan itu memberikannya. Terlihat jelas raut wajah laki-laki itu kesal.
"Jangan ganggu Malaika! Dia sedang bekerja."
^^^"Oh, kamu. Aku dengar kamu kecelakaan. Sepertinya bukan sesuatu kejadian yang besar sampai kakek harus turun tangan kembali memegang pekerjaan di kantor. Ternyata kamu ini laki-laki lemah! Tidak pantas memegang jabatan sebagai Presdir."^^^
"Aku tidak butuh penilaian kamu!"
Naresh langsung menutup panggilan itu sambil bersungut-sungut. Hancur sudah mood dia saat ini.
Perawat yang sejak tadi berdiri di sana dan akan membawa laki-laki itu terapi, terlihat pucat wajahnya. Wanita itu sempat terperanjat saat mendengar suara Naresh yang berteriak kepada orang yang bicara lewat telepon dengan dirinya.
Setelah dibujuk dan dirayu oleh Malaika, akhirnya Naresh mau pergi terapi. Sang sekretaris mengatakan kalau kondisi emosi laki-laki itu menjadi labil setelah mengalami kecelakaan, maka dokter pun memeriksa keadaan psikologisnya.
"Tuan Naresh merasa punya kekurangan atau merasa tidak sempurna hidupnya hanya karena dia tidak bisa mendengar dengan baik dan berjalan dengan normal.
"Malaika, apa kamu akan pulang sekarang?" tanya Rahandika begitu selesai memberikan laporan kepada sang atasan.
"I–ya." Malaika melihat ke arah Naresh yang menggelengkan kepala, meminta dirinya agar jangan dulu pulang.
"A-ku." Perempuan itu melihat Naresh mengacungkan jari telunjuk yang menandakan jangan dulu pulang nanti dikasih uang 1 juta.
"Mau pulang," lanjut Malaika yang kini membulatkan matanya saat Naresh mengacungkan tiga jari yang menandakan tiga juta dia akan dibayar jika menunggu sebentar di sana.
"Kalau begitu, ayo, kita pulang bersama!" ajak Rahandika dengan senyum lebarnya.
"Sebentar lagi," lanjut Malaika dengan tertawa garing.
__ADS_1
'Lumayan 3 juta. Tunggu 30 menit setelah Dika pulang duluan.' (Malaika)
Laki-laki berwajah tampan dengan kulit eksotis itu menatap heran kepada mantan kekasihnya. Dia merasa kalau perempuan itu sedang menghindar. Sudah 1 bulan ini hubungan asmara mereka yang sudah terjalin selama 2 tahun itu putus. Perasaan cinta di dalam hatinya masih utuh untuk Malaika, meski dia sudah dijodohkan oleh ibunya dengan perempuan lain.
"Dia akan lembur. Kamu pulang saja duluan," ujar Naresh.
Rahandika ingin sekali berbincang-bincang dan menghabiskan waktu sebentar dengan Malaika seperti kebiasaan mereka selama ini. Dia merasa rindu sudah 2 minggu ini tidak berbicara dengan sang gadis. Laki-laki ini tahu kalau mantan kekasihnya sudah melewati masa-masa keterpurukan perasaannya karena tidak mendapat restu ketika mereka mengatakan ingin melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius.
"Baiklah, kamu hati-hati saat pulang nanti, ya!" pinta Rahandika sambil menepuk bahu Malaika dan gadis itu mengangguk dengan seulas senyum menghiasi wajah cantiknya.
Malaika menatap kesal kepada Naresh karena sudah merusak momen yang sedang dia tunggu-tunggu. Kalau tidak perlu uang banyak maka dia tidak akan menuruti keinginan atasannya ini.
"Kenapa kamu melarang aku pulang bersama Dika?" tanya Malaika dengan sedikit bersungut-sungut.
"Aku beri tahu kamu, ya! Kalau mamanya Dika itu menyewa mata-mata untuk mengawasi dirinya dengan kamu. Aku lakukan ini demi keselamatan dirimu," jawab Naresh sambil memasang alat bantu di telinga.
Mata Malaika terbelalak mendengar penuturan sang atasan. Dia merasa percaya tidak percaya dengan apa yang sudah dibicarakan olehnya barusan.
"Kamu sedang tidak berbohong, 'kan?" tanya Malaika ragu.
"Kalau kamu tidak percaya silakan saja. Coba besok kamu pulang bersama Dika dan pergi makan atau nongkrong dulu seperti yang biasa kalian lakukan. Maka akan mamanya akan menelepon kamu atau menghubungi Dika. Tentunya dia akan marah-marah kepada kalian berdua," jawab Naresh dengan serius.
"Ketika kamu diperlakukan seperti itu di depan mata orang lain. Kira-kira apa yang akan kamu rasakan? Kehancuran hatimu untuk kedua kalinya," lanjut Naresh dan membuat mata gadis itu berkaca-kaca.
"Kamu jahat!" umpat perempuan itu kepada temannya.
"Aku melakukan ini karena peduli terhadap dirimu. Aku tidak mau melihat kamu seperti bulan kemarin. Itu juga membuat aku ikut terluka. Aku berharap kamu bisa menemukan cinta sejati yang suci," ucap laki-laki yang kini menggenggam tangan Malaika dengan jari yang saling bertautan.
Malaika kini tidak bisa lagi menahan air mata yang sudah menggenang sejak tadi si pelupuk netranya. Dia tidak malu menangis di depan Naresh. Sudah tidak asing mereka memperlihatkan kerapuhan perasaan ketika berdua dan saling mencurahkan isi hati.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Malaika.
__ADS_1
***
Apa yang akan dikatakan oleh Naresh kepada Malaika? Apakah Rahandika akan memperjuangkan cintanya dengan Malaika? Tunggu kelanjutannya, ya!