
Bab 15
"Apa Malaika sakit seperti ini gara-gara Dika menikah dengan perempuan lain?"
Naresh ikut merasa sakit melihat sekretaris sekaligus sahabat baiknya itu terbaring lemah begitu. Bibirnya biasa terlihat pink segar dan sering mengeluarkan kata-kata pedas kepadanya jika dia melakukan kesalahan atau lupa menaruh barang, gadis itu akan terus mengomel sepanjang mencari sampai dapat.
"Sepertinya bukan."
Nenek Romlah berkata karena dia mengingat sesuatu yang dikatakan oleh Malaika sebelum dia sakit. Cucunya itu menggumamkan sesuatu di dalam tangisannya ketika malam hari itu.
"Maksud Nenek?" tanya Naresh penasaran.
Terdengar pintu dibuka dan seorang perawat datang sambil membawa sebotol infus baru. Pembicaraan Naresh dengan Nenek Romlah pun terhenti.
Setelah perawat itu selesai memasang infus yang baru memberi tahu kepada Nenek Romlah kalau ada sesuatu yang perlu dibicarakan mengenai kondisi Malaika.
Takut terjadi sesuatu kepada kondisi kesehatan Malaika, maka Naresh juga memutuskan untuk ikut mendampingi Nenek Romlah menghadap dokter. Kini di kamar itu hanya Malaika sendiri.
__ADS_1
Malaika membuka mata dan hal yang pertama kali dia lihat adalah ruang rawat dan tangannya yang terpasang selang infus. Gadis itu ingat kalau tadi sudah pingsan saat di acara pesta pernikahan Rahandika.
'Tadi kenapa aku bisa pingsan?' (Malaika)
Malaika mencoba merangkai kembali ingatan yang sudah terjadi tadi. Akhirnya dia ingat kalau dirinya merasakan sesak dan gelap ketika melihat Naresh berjalan dengan seorang perempuan.
Pintu ruang rawat inap tempat Malaika menjalani perawatan itu terbuka. Terlihat seorang perempuan yang tadi datang bersama Naresh masuk.
"Eh, kamu sudah sadar. Naresh ke mana, ya?"
Perempuan cantik yang berpenampilan menarik itu bertanya sambil mengedarkan pandangannya. Azizah mencari keberadaan Naresh.
"Aku, Azizah. Calon istrinya Naresh," jawab wanita itu sambil tersenyum manis ke arah Malaika.
Nyut!
Malaika merasa ada kekuatan besar yang mere_mas dadanya sampai terasa sesak dan sakit. Tatapan matanya terlihat memancarkan kesedihan dan rasa sakit.
__ADS_1
'Kenapa rasanya sangat menyakitkan. Lebih menyakitkan dibandingkan saat aku dan Dika putus. Ada apa dengan aku?' (Malaika)
"Apa Naresh sudah pulang, ya? Padahal aku sudah membeli makan karena dia belum makan malam," gerutu Azizah sambil mencari handphone miliknya untuk menghubungi Naresh.
Pintu kembali terbuka, kali ini Maheswara yang masuk ke ruangan itu. Kedatangan laki-laki itu membuat Malaika merasa tidak nyaman. Setiap kali mereka bertemu pria itu selalu membuatnya ketakutan.
"Bagaimana keadaan kamu sekarang?" tanya Maheswara dengan suara selembut mungkin.
Malaika berharap kalau laki-laki itu cepat pergi, karena dia sering merasa tidak nyaman kalau ada Maheswara di dekatnya. Tatapan mata dia yang tajam dengan penuh hasrat saat menatap kepada Malaika, selalu membuat gadis itu waspada dan berusaha menjaga jarak. Namun, saat ini keadaan dia sedang tidak sehat dan tenaga pun tidak ada. Jika, laki-laki itu berbuat nekad kepadanya, Malaika tidak akan bisa melawan.
"Alhamdulillah, sudah lebih baik. Ini sudah malam, kenapa kamu bisa masuk ke sini? Sekarang bukan jam besuk," tanya Malaika.
"Aku sangat mencemaskan keadaan kamu dan hati ini merasa tidak tenang. Tadi aku ingin membawa kamu ke sini, tapi Naresh langsung ambil alih tubuh kamu," jawab Maheswara masih menatap ke arah Malaika.
"Terima kasih atas perhatiannya. Tapi, sekarang aku sudah merasa baikan," aku Malaika.
Gadis itu pun langsung mencari posisi tidur yang nyaman. Malaika berharap kedua manusia yang ada di kamarnya segera pergi. Sungguh dia ingin beristirahat dan menenangkan hatinya.
__ADS_1
***
Apa yang akan terjadi saat Malaika bertemu dengan Naresh? Tunggu kelanjutannya, ya!