Presdir Budeg Vs Sekretaris Matre

Presdir Budeg Vs Sekretaris Matre
Bab 25. Kapan Aku Tunangan?


__ADS_3

Bab 25


Suara Adzan Subuh membangunkan Malaika, tentu saja gadis itu sangat terkejut karena sudah bangun kesiangan. Lalu, dia pun dengan cepat pergi ke kamar mandi. Meski saat ini dia sedang datang bulan, bukan berati dia bisa berleha-leha karena tidak sholat.


Setelah cuci muka dan gosok gigi, gadis itu segera pergi ke dapur untuk membuat sarapan dan bekal untuk ke kantor nanti. Saat ini Malaika belum sadar ada cincin berlian yang melingkar di jari tangannya.


"Mala, kamu membuat apa?" tanya Nenek Romlah sambil menengok ke wajan.


"Katanya Nenek ingin makan bakwan jagung, jadi aku buatkan ini untuk sarapan. Kalau untuk makan siang aku buat cumi asam pedas dan tumis kangkung. Nenek mau apa lagi? Sekalian aku bikinkan sekarang," tanya Malaika sambil membalikan bakwan jagung yang ada di penggorengan.


Setelah selesai masak Malaika mengajak neneknya untuk sarapan. Ketika dia sedang mencuci tangan, teras ada yang aneh dengan jari tangannya. Cincin peninggalan ibunya kini berubah menjadi cincin berlian indah.


"Ya Allah, kenapa cincin ibu berubah?" pekik Malaika saking terkejutnya dia.


"Ada apa, Mala?" tanya Nenek Romlah yang sedang makan.


"Nek, cincin peninggalan ibu berubah!" seru gadis itu dengan riang.


"Berubah bagaimana?" tanya wanita tua itu sambil membetulkan letak kacamatanya.


"Lihat ini, Nek!" 


Malaika menyerahkan cincin berlian kepada wanita tua itu. Hati dia sedih saat cincin yang selalu tersemat di jari yang biasanya itu batu sederhana, tetapi kini berubah menjadi permata. 

__ADS_1


"Ini 'kan cincin tunangan kamu," ucap Nenek Romlah.


Malaika tidak paham akan ucapan neneknya, karena dia merasa tidak pernah mengikat hubungan dengan laki-laki, apalagi ini tunangan. Gadis itu hanya mengerutkan kening menduga kalau wanita tua itu sedang bercanda.


"Tunangan? Kapan aku tunangan? Nenek ini ada-ada saja," kata Malaika sambil tertawa.


"Semalam Naresh sudah melamar kamu dan rencananya hari ini dia akan datang bersama kakeknya untuk menentukan hari pernikahan kalian," balas Nenek Romlah dengan menghembuskan napas kasar karena sang cucu malah melupakan moment membahagiakan semalam.


Dalam kepala Malaika kini banyak sekali tanda tanya. Gadis itu benar-benar tidak ingat akan kejadian itu. Seingat dia semalam setelah pulang makan malam dengan Abimana, lalu datang Naresh dan terjadi adu mulut di antara mereka berdua. 


'Setelah itu apa, ya?' Malaika mencoba mengingat-ingat kembali kejadian semalam.


'Aaa, iya! Naresh mengatakan kalau Azizah itu bukan siapa-siapa baginya, wanita itu yang mengejar-ngejar dia. Terus setelah itu aku pergi mandi dan Naresh bicara sama Nenek. Aku langsung tidur setelah selesai mandi karena kepala aku ketiban tai cicak. Lalu kapan aku dan Naresh tunangan?' 


"Memangnya kapan Naresh melamar aku, Nek?" tanya Malaika akhirnya menyerah.


"Semalam di kamar kamu ketika tidur," jawab Nenek Romlah.


"Apa? Bagaimana mungkin orang melamar orang yang sedang tidur!" pekik Malaika histeris.


Bagaimanapun juga dia itu ingin merasakan lamaran yang romantis. Menjadikan hal itu sesuatu yang indah untuk dikenang suatu saat nanti. Bukan lamaran seperti ini, dirinya tidak ingat apa pun.


"Nenek, sangat bahagia melihat kamu dan Naresh akhirnya menjalin hubungan yang serius. Selama ini nenek agak was-was melihat kedekatan kalian yang seperti ini, tetapi tidak ada ikatan. Nenek dari dulu berharap kamu dan Naresh itu punya hubungan yang jelas. Kalian bilangnya berteman baik, tapi apa yang nenek lihat kedekatan kalian melebihi seorang teman," ujar Nenek Romlah sambil memasangkan kembali cincin itu.

__ADS_1


Setelah selesai sarapan dan mencuci piring, Malaika menghubungi Naresh untuk menanyakan kejadian semalam. Gadis itu berusaha untuk meyakinkan dirinya. Perempuan ini bukannya tidak mau menjalin hubungan dengan sang atasan, tetapi dia takut hatinya patah kembali.


***


Sementara itu di kediaman Kakek Kamandaka, semua orang yang ada di meja makan terkejut mendengar ucapan Naresh. Laki-laki itu mengatakan sudah melamar Malaika dan akan membicarakan tanggal pernikahan. Makanya dia ingin keluarganya hadir, terutama sang kakek yang sejak dulu ingin menjadikan Maliaka itu sebagai cucu menantu di keluarga Wijaya.


Tentu saja Maheswara dan Abimana menentang keputusan Naresh itu. Mereka menuduh kalau si tuan muda ini sudah berbuat curang dan semaunya sendiri. 


"Kemarin malam aku sudah mengatakan perasaan aku kepadanya dan dia menolak, jangan-jangan kamu mengancam Malaika," tuduh Abimana dengan menatap tajam ke arah ahli waris utama keluarga Wijaya.


"Hah, aku sudah beberapa kali melamar dia. Bahkan kemarin siang pun aku melamarnya, meski lagi-lagi ditolak olehnya," lanjut Maheswara.


"Sudah. Mungkin jodohnya Malaika itu Naresh. Kakek tidak mau kalau kalian sampai bertengkar apalagi saling mencelakakan satu sama lain. Jika  ketahuan hal itu, maka siap-siap saja dicoret dari daftar  waris," ujar Kakek Kamandaka.


Semua orang yang ada di sana langsung terdiam. Harta kekayaan kakek itu sangat banyak. Aset-aset kekayaan itu tidak hanya berada di dalam negeri saja, di luar negeri pun sangat banyak. Meski hanya Naresh yang mempunyai hubungan darah dengannya, tetapi anak tiri dan cucu tirinya juga akan mendapatkan kekayaan hibah darinya nanti.


"Jadi, kapan kita akan mendatangi rumah Malaika?" lanjut Kakek Kamandaka bertanya.


"Hari ini, Kek. Aku dan Malaika ingin secepatnya menikah. Kata Nenek Romlah biar tidak jadi fitnah dan salah paham lagi," jawab pemuda itu dengan semangat.


"Baiklah kalau begitu. Kita semua akan datang ke rumah Malaika untuk menentukan tanggal pernikahan Naresh," titah laki-laki tua itu.


***

__ADS_1


Apakah kedatangan Naresh bersama keluarganya akan berjalan lancar? Tunggu kelanjutannya, ya!


__ADS_2