
Bab 16
Naresh dan Nenek Romlah kembali ke ruangan Malaika, di sana terlihat Maheswara sedang duduk di samping brankar dan Azizah duduk di sofa sambil memainkan handphone miliknya. Terlihat jelas tatapan tidak suka dari laki-laki itu terhadap sepupunya.
"Maheswara, sejak kapan datang kemari?" tanya Nenek Romlah begitu berdiri di dekat pemuda itu.
"Beberapa menit yang lalu, Nek. Sebelum Malaika tidur," jawab Maheswara dengan sopan dan tersenyum tipis.
"Mala sudah sadar?" tanya Nenek Romlah senang.
"Iya, Nek. Tadi pas aku masuk ke sini dia sedang berbicara dengan wanita itu," jawab laki-laki itu sambil menunjuk ke arah Azizah.
Naresh melihat ke arah teman perempuan yang baru dikenalnya saat di Malaysia. Pemuda itu berharap tidak mengatakan hal yang aneh-aneh atau mengada-ada kepada Malaika, sebab dia tahu kalau wanita itu selalu mengejar-ngejar dirinya meski sudah dibilang punya tambatan hati.
"Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu. Nenek takut kalau terjadi apa-apa kepadanya," ucap Nenek Romlah sambil menyeka air matanya.
Wanita tua itu takut kalau terjadi sesuatu kepada Malaika. Dokter mengatakan lambung dan usus Malaika mengalami kerusakan meski tidak parah dan masih bisa sembuh dengan pengobatan dan juga pola makan yang sehat. Selain itu psikisnya juga harus dijaga jangan sampai terlalu lelah dalam berpikir dan menjaga perasaannya agar selalu tenang dan senang.
"Sebaiknya kamu pulang, Azizah. Dan kamu juga, Mahesa." Naresh sendiri berjalan ke arah kamar mandi.
"Kamu menyuruh aku pulang, sedangkan kamu mau menunggu di sini!" sindir Maheswara kepada sepupu tirinya.
__ADS_1
Mereka sempat beradu pandang, tetapi Naresh mengabaikan ucapan saudaranya dan memilih melanjutkan masuk ke kamar mandi.
Azizah menekuk wajahnya karena merasa diusir oleh Naresh. Sebenarnya dia juga tidak mau berada di sana. Sebenarnya dia berharap Naresh mau mengantarkan pulang.
Seorang satpam masuk ke ruang rawat Malaika dan menyuruh pembesuk untuk pulang, karena hanya satu orang saja yang boleh menemani pasien. Sehingga meminta Maheswara dan Azizah untuk pulang. Sementara Naresh yang sedang berada di kamar mandi tidak diketahui keberadaannya oleh satpam itu.
***
Tengah malam Malaika terbangun dan melihat ada seseorang yang tidur sambil duduk di sampingnya. Perempuan itu tahu siapa orang itu dari wangi parfum yang tercium dari tubuhnya. Mata dia mengedar di ruangan itu, terlihat ada sang nenek yang sedang tidur di sofa.
Kembali dia melihat ke arah Naresh, ada perasaan rindu dan senang. Namun, seketika perasaan itu berubah ketika mengingat lagi kalau laki-laki ini menyembunyikan kebenaran 8 yang sudah mempunyai calon istri. Padahal selama ini mereka selalu bercerita apa pun dan tidak ada yang dirahasiakan di antara mereka.
'Ada apa denganku? Apa aku terjebak dalam friendzone?' (Malaika)
Tidak ada yang disembunyikan oleh Malaika dari Naresh, begitu juga sebaliknya. Apa pun yang mereka terjadi kepada mereka selalu diberi tahu. Bahkan saat Naresh kuliah di luar negeri komunikasi mereka masih terjalin dengan baik.
Naresh dan Malaika tidak ragu untuk saling membagi beban mereka. Mereka tertawa, bercanda, atau menangis bersama. Orang-orang mengira mereka itu sepasang kekasih yang menjalani jarak jauh.
Mungkin bagi Malaika, karena Naresh selalu ada di sampingnya dan itu menurut dia hal wajar, tidak sadar akan perasaan lain yang terpendam. Perasaan takut kehilangan atau diabaikan olehnya. Kini perasaan itu muncul dan menguasai hati gadis itu.
'Akan terasa lucu jika apa yang aku rasakan saat ini kepadamu adalah cinta. Perasaan yang tidak aku mengerti. Kenapa rasanya berbeda dengan yang aku rasakan kepada Dika? Sebenarnya cinta itu apa? Seperti apa? Apa cinta setiap orang itu berbeda-beda atau sama?' (Malaika)
__ADS_1
Meski kata-kata cinta bukanlah hal yang asing, namun masih banyak orang yang belum mengetahui definisi cinta. Makna cinta memang sulit dipahami baik dari segi batasan ataupun pengertiannya. Ini karena cinta adalah salah satu bentuk emosi dan perasaan yang bisa dimiliki siapa saja. Sifatnya juga lebih subjektif, sehingga makna cinta berbeda-beda bagi setiap individu tergantung pada pengalaman dan penilaiannya.
Malaika mengelus kepala Naresh tanpa sadar. Air mata gadis itu kembali mengalir.
'Kenapa perasaan ini baru aku sadari saat kamu sudah bersama orang lain?'
'Jika kita tidak ditakdirkan untuk menjadi pasangan hidup, semoga kita masih bisa berteman dengan baik.' (Malaika)
***
Adzan subuh membangunkan Naresh dan dia langsung melihat keadaan Malaika yang masih tidur. Lalu, dia beranjak dan membangunkan Nenek Romlah.
Malaika terbangun saat Naresh pergi dari kamar. Lalu, Malaika mencoba bangun meski perutnya terasa sakit.
Nenek Romlah yang baru saja ke luar dari kamar mandi melihat sang cucu yang sudah bangun. Betapa bahagianya wanita tua itu melihat Malaika sudah sadar.
Mereka pun memutuskan sholat subuh berjamaah. Keduanya beribadah dengan perasaan senang dan berharap selamanya bisa seperti ini.
"Mala, sebenarnya ada apa? Kenapa kamu bisa sakit seperti ini?" tanya Nenek Romlah dengan penasaran.
***
__ADS_1
Akankah Malaika jujur kepada Nenek Romlah? Bagaimana reaksi Naresh saat melihat Malaika? Tunggu kelanjutannya, ya!