
Teman-teman jangan lupa kasih like, bunga, kopi, atau vote. Lalu, 🌟🌟🌟🌟🌟.
Bab 37
"Malaika ... Sayang. Sini kamu juga ikut tidur bersama aku. Kamu itu jangan sampai kelelahan, harus banyak istirahat," kata Naresh sambil menepuk ranjang yang ditiduri olehnya.
"Nggak mau! Ngapain aku tidur satu ranjang dengan kamu. Belum jadi mahram," balas gadis berjilbab yang duduk di sofa agak jauh dari brankar.
Malaika pun membaringkan tubuhnya sambil memeriksa pesan masuk di handphone miliknya. Begitu banyak pesan dari rekan-rekan kerja di kantor dan beberapa teman semenjak sekolah.
Saat gadis itu membuka berita online yang berada di beranda pencarian, ternyata berita kecelakaan Naresh masih menjadi topik hangat yang masih banyak dibicarakan oleh warga dunia maya. Sejenak Malaika merasa aneh karena tidak ada seorang pun wartawan yang terlihat berkeliaran di sekitar rumah sakit.
"Aneh sekali, biasanya mereka akan berkumpul di sekitar orang yang menjadi topik pembicaraan. Namun, saat tadi aku ke lantai bawah tidak melihat adanya orang-orang pencari berita," gumam Malaika yang masih merasa heran.
__ADS_1
"Apa Kakek Kamandaka ada di balik semua ini?" lanjut Malaika.
"Ngomong-ngomong, kenapa hanya aku dan Naresh saja yang ada di sini?" tanya Malaika bermonolog.
"Keluarga Naresh pada ke mana?"
***
"Cepat kamu bicara, jangan membuang-buang waktu!" titah Guntur kepada Bima.
"Pertemuan kedua aku bersama dengan Pak Shaka adalah saat laki-laki itu pergi keluar negeri untuk menjalankan bisnisnya ke Singapura. Pak Shaka bilang kalau kelemahan Naresh adalah Malaika," jawab Bima yang masih mengingat dengan jelas kejadian waktu itu.
"Maka aku pun mencoba untuk mendekati perempuan itu. Sayangnya dia bukan tipe orang yang mudah didekati. Maka aku memutuskan untuk menyuruh beberapa orang yang ditugaskan mengganggunya. Namun, mereka semua malah berakhir di rumah sakit. Aku tidak menyangka kalau perempuan itu ahli beladiri," lanjut Bima.
__ADS_1
"Segala upaya sudah banyak aku coba, hanya untuk membuat Naresh menderita. Aku mengganggu pertemuan dia dengan rekan bisnisnya agar kerja sama itu gagal. Ternyata kehebatan dia dan Malaika dalam melobi sangat handal sehingga kesalahan mereka masih bisa di maafkan," aku Bima akan kejahatannya.
Guntur dan Pandu masih mendengarkan dan mengawasi apakah laki-laki itu bicara dengan jujur atau sedang berbohong. Meski begitu mereka tidak akan menerima bulat-bulat pengakuan Bima ini. Mereka akan mencari kebenaran dan bukti dari ucapan si pelaku.
Begitu juga dengan Bima, dia tidak menceritakan semua yang sudah dilakukan olehnya. Itu hanya sebagian kecil dari kebenaran yang dia lakukan selama ini. Hanya dengan sekali lihat saja dirinya langsung tahu kalau Guntur dan Pandu bukanlah orang yang mudah bisa dibodohi.
"Seperti kejadian tahun lalu, di mana aku membocorkan ban mobil milik Naresh, sehingga dia datang terlambat ke acara pertemuan penting. Seorang rekan bisnis dari Eropa yang sangat kecewa dan marah kepada dia, bisa dengan mudahnya luruh oleh Malaika dengan keahlian si sekretaris dalam melobi," lanjut Bima.
"Tentu saja Pak Shaka juga merasa kecewa karena Naresh berhasil dalam usahanya itu. Sampai-sampai Tuan Kamandaka memuji-muji cucunya setinggi langit. Maka di pertemuan ketiga kami membahasa bagaimana caranya untuk melenyapkan Naresh," tambah Bima dengan santai seakan mencelakakan orang lain itu bukan suatu kejahatan.
***
Apa isi pembicaraan pertemuan ketiga antara Bima dan Shaka? Tunggu kelanjutannya, ya!
__ADS_1