
Bab 18
Saat dalam perjalanan pulang hanya Naresh yang banyak bicara, sedangkan Malaika hanya menjawab satu atau dua kata. Sementara itu, Nenek Romlah diam sambil mendengarkan.
Ketika dipertengahan jalan tepatnya di perempatan, ada kendaraan yang menabrak mobil milik laki-laki itu dari arah belakang. Sontak saja itu membuat kaget ketiga orang penumpangnya.
Mobil yang menabrak itu langsung membelokan arah lajunya ke arah kiri. Naresh maupun Malaika tidak bisa melihat plat nomor kendaraan itu, hanya jenis mobil dan warnanya saja.
"Siapa itu? Apa dia melakukan dengan sengaja atau hanya kecelakaan?" tanya Malaika sambil melihat ke arah Naresh.
Laki-laki itu tidak bisa menjawab, karena dia juga belakang ini sudah menyewa beberapa orang untuk menyelidiki secara diam-diam siapa yang memasang bom di mobilnya dahulu. Ada perasaan yang terlintas kalau kejadian barusan itu adalah teror dari orang yang ingin mencelakai dirinya.
"Aku tidak tahu. Semoga saja tadi itu hanya kecelakaan tidak sengaja karena dia sedang terburu-buru," kata Naresh sambil tersenyum tipis.
Malaika bisa melihat dari sorot mata temannya ini, kalau ada yang sedang disembunyikan. Namun, gadis itu tidak bisa memaksa untuk menceritakan ada apa sebenarnya.
Sesampainya di kontrakan, Malaika langsung disuruh istirahat oleh Naresh agar cepat sembuh. Sebenarnya gadis itu ingin membicarakan sesuatu, tetapi terlihat kalau temannya seperti sedang terburu-buru hendak pergi lagi, maka dia pun mengurungkan niatnya.
***
Naresh menemui Pandu, seseorang yang diminta untuk menyelidiki kecelakaan dahulu. Laki-laki itu mengadakan pertemuan di salah satu apartemen miliknya.
"Bagaimana?" tanya Naresh begitu mereka berdua duduk berhadapan.
"Aku sudah mendapatkan informasi kalau seminggu sebelumnya ada seseorang yang membeli amonium nitrat, bahan peledak komersial yang paling mungkin dan mudah dibuat dan beberapa bahan lainnya yang bisa dibuat unyuk membuat bom, itu di beli dari beberapa tempat. Mungkin untuk menutupi jejaknya," jelas Pandu sambil menyerahkan beberapa chip berisi video pelaku yang membeli bahan-bahan itu.
__ADS_1
"Apa kamu sudah tahu siapa orangnya?" tanya Naresh lagi setelah menerima berkas laporan.
"Untuk itu belum, karena wajah pelaku tidak begitu jelas. Hanya saja bisa dipastikan kalau dia adalah seorang laki-laki yang bertangan kidal," jawab Pandu dan itu membuat Naresh terkejut.
"Kidal?"
"Iya. Aku sudah beberapa kali mengecek videonya dan orang itu selalu menggunakan tangan kiri jika melakukan sesuatu. Seperti membuka dan menutup pintu. Mengambil dompet dan saat membayar. Begitu juga saat membawa barang belanjaan. Namun, ada hal yang aneh menurut aku."
"Apa itu?"
Naresh semakin penasaran dengan sosok yang mencelakai dirinya. Ada masalah apa di antara mereka.
"Orang itu selalu berjalan kaki setiap pergi ke toko bahan kimia itu. Padahal semua toko yang dia datangi itu jaraknya saling berjauhan. Apalagi toko Xixi itu berada di kota sebelah. Namun, dia tidak menggunakan kendaraan saat datang ke toko."
"Mungkin saja dia tidak punya kendaraan?"
Pandu juga awalnya berpikir seperti itu. Lalu, mencari cctv di terminal, stasiun, atau pangkalan ojek. Namun, tidak terlihat kalau laki-laki itu pergi ke tempat naik kendaraan umum. Kecuali jika dia naik taksi online. Namun, dari rekaman cctv di depan toko, laki-laki itu jalan kaki sampai tidak terlihat lagi dari kamera.
"Terima kasih, Pandu. Aku ingin tahu informasi apa yang akan dibawa oleh Guntur, nanti. Semoga saja kasus ini secepatnya bisa terungkap."
Lalu, Naresh menceritakan kejadian yang sudah terjadi tadi. Laki-laki itu pun meminta Pandu untuk menyelidikinya. Hal ini dirasa oleh Naresh masih ada hubungannya dengan kejadian teror untuknya.
***
Malaika terkejut dengan kedatangan Abimana yang datang ke kontrakannya. Sepupu tiri dari Naresh itu datang menjenguk.
__ADS_1
"Mala, dia ini yang sudah menolong kamu kemarin. Nenek baru tahu kalau dia itu adalah sepupunya Naresh, sama seperti Maheswara," ucap Nenek Romlah sambil tersenyum ke arah Abimana.
"Maafkan aku yang tidak begitu peduli kepada keluarga Malaika. Karena kami hanya saling tahu dan tidak dekat seperti Naresh. Jadi, aku baru menyapa nenek malam itu," balas Abimana dengan sopan.
Malaika baru tahu Abimana orangnya bisa bercanda, karena setahu dia selama mengenal dirinya laki-laki ini pendiam dan irit bicara. Kebalikan dari Naresh dan Maheswara. Cara bicara dengan Nenek Romlah juga luwes dan lancar seperti Naresh yang memang sudah mengenal dan dekat dengan wanita tua itu sejak lama.
"Oh, iya. Ada yang mau aku berikan untuk Nenek Romlah," kata Abimana sambil mengeluarkan sebuah amplop dari balik jasnya.
"Apa itu?" tanya Nenek Romlah penasaran.
"Ini adalah sertifikat tanah milik rumah nenek. Aku berhasil menebusnya dari Tuan Juwanto," jawab Abimana sambil menyerahkan amplop berwarna kopi.
Tangan Nenek Romlah bergetar saat membuka isi amplop itu. Air mata langsung meluncur membasahi pipinya yang sudah keriput. Rasa tidak percaya menyelimuti perasaan wanita tua itu. Selama ini dia berdoa kalau bisa mendapatkan kembali rumah peninggalan almarhum suami. Tidak menyangka kalau sekarang keinginan itu terkabul.
"Tapi, nenek tidak punya uang untuk membayar sebagai gantinya," ujar Nenek Romlah.
"Berapa uang yang Bapak keluarkan? Akan aku ganti secepatnya," tanya Malaika menatap sayu ke arah Abimana. Gadis yang masih lemah kondisinya itu sedang mengingat kembali ada berapa uang di dalam saldo tabungannya.
"Kalian tidak perlu membayar atau mengembalikan uang itu. Aku melakukan ini secara ikhlas," balas laki-laki yang berwajah tampan, tetapi jarang tersenyum.
"Aku merasa tidak enak jika hanya menerima begitu saja," tutur Malaika dengan menghela napas.
"Benar, itu Nak Abi. Setidaknya kita bisa membalas kebaikan ini. Apa ada sesuatu yang diinginkan oleh Nak Abi dari kami?" tanya Nenek Romlah.
***
__ADS_1
Apakah Abimana tulus membantu Malaika atau ada udang dibalik batu? Apa ada yang di inginkan oleh Abimana dari keluarga Malaika? Tunggu kelanjutannya, ya!