Presdir Budeg Vs Sekretaris Matre

Presdir Budeg Vs Sekretaris Matre
Bab 13. Malaika Sakit


__ADS_3

Bab 13


Malaika termenung di dalam kamarnya, nenek Romlah hanya menatapnya dengan sendu di ujung tempat tidur. Wanita tua itu merasa kalau cucunya saat ini sedang bersedih karena pernikahan Rahandika. Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghiburnya.


"Mala, kita ziarah ke kuburan orang tuamu dan kakek, yuk!" ajak Nenek Romlah. Biasanya sang cucu senang jika mendatangi kuburan mereka. Di sana dia akan banyak bicara mengenai hal-hal yang disukai olehnya dan apa yang membuatnya bahagia.


"Ini sudah malam, Nek," balas Malaika dan membuat wanita tua itu tertawa terkekeh. Dia menertawakan kebodohannya sendiri dan gadis itu pun ikut tertawa.


Sedikit kesedihan Malaika terobati oleh neneknya. Perempuan itu akhirnya menghubungi Naresh untuk pertama kali setelah satu bulan lamanya mereka tidak bertukar kabar.


"Assalamualaikum, halo."


^^^"Wa'alaikumsalam."^^^


Jantung Malaika terasa mendadak berhenti berdetak saat mendengar suara perempuan di seberang sana. Mata gadis itu melihat ke arah jam di dinding yang sudah menunjukan pukul 21:05 di waktu Jakarta berarti di Kuala Lumpur sudah lebih malam lagi.


^^^"Halo."^^^


Ditariknya napas Malaika dalam-dalam lalu hembuskan perlahan. Gadis itu melakukan hal ini sebanyak dua kali. 


^^^"Halo, ini siapa?"^^^


"Saya Malaika, temannya Naresh. Apa dia ada di sana"


^^^"Dia sedang tidur. Apa ada sesuatu yang penting untuk disampaikan kepadanya? Kalau dia bangun nanti akan saya sampaikan kepadanya."^^^


"Tidak perlu. Ini bukan sesuatu yang penting, kok. Maaf sudah mengganggu waktu kalian."


Malaika rasanya ingin membanting handphone miliknya. Rasa sakit yang dia rasakan kali ini terasa sangat menyakitkan sekali. Lebih dari ketika dia putus dengan Rahandika beberapa bulan yang lalu.


"Ada apa denganku? Kenapa aku bisa seperti ini?" gumam Malaika dengan pilu.



Kuala Lumpur, Malaysia.

__ADS_1


Naresh merebahkan tubuhnya di sofa. Hari ini jadwal dia masih padat seperti hari-hari sebelumnya. Sebenarnya dia sudah ingin pulang ke Indonesia, tetapi para rekan bisnis barunya mengharapkan laki-laki itu tetap di sini sampai kerja sama mereka berjalan normal. Uang yang mereka gunakan untuk investasi kerja sama ini sangatlah besar. Jadi, Naresh selaku orang yang bertanggung jawab harus memantau pekerjaan itu.


Tidur Naresh terusik ketika merasa ada seseorang yang membuka pintu ruang kerjanya. Dia melihat jam digital yang terletak di meja kerja, kini waktu sudah menunjukan waktu 22:00 itu tandanya dia tidur sudah lebih dari 3 jam. 


Seorang wanita yang masuk begitu saja ke ruangannya membuat Naresh kesal. Lalu, dia pun pergi ke toilet yang ada di pojok ruangan. Tanpa dia tahu kalau orang yang selalu dia rindukan itu menghubungi dirinya.


Begitu laki-laki itu keluar toilet terlihat sang wanita tersenyum cantik kepadanya seperti biasa. Namun, Naresh seperti biasa juga hanya menanggapi biasa saja, hanya senyum formalitas.


"Azizah, kenapa kamu datang ke kantorku malam-malam?" tanya Naresh sambil mengambil handphone miliknya dan menaruh di meja kerja.


"Tadi aku ke apartemen kamu, tapi sepertinya tidak ada orang. Lalu, aku menghubungi satpam yang ada di sini, katanya kamu masih di kantor. Jadi, aku ke sini untuk memastikan kalau kamu baik-baik saja," jawab Azizah sambil terus memperhatikan Naresh yang sedang memainkan handphone miliknya.


"Tidak baik seorang perempuan keluar rumah malam-malam tanpa didampingi," ucap Naresh sambil memasukan handphone ke saku jas lalu membereskan barang-barang di atas meja. Laki-laki itu sudah ingin pulang untuk beristirahat. Besok adalah hari terakhir dia di Malaysia dan lusa akan pulang.


"Apa kamu jadi pulang besok lusa?" tanya wanita berambut panjang dan memiliki tubuh bak model.


"Semoga saja semua pekerjaan aku beres besok, agar lusa bisa pulang untuk menghadiri hari pernikahan teman aku," jawab Naresh jujur sambil mengambil tas kerjanya. Lalu, dia pun beranjak hendak pulang.


"Aku juga mau ke Indonesia. Mau menghadiri pernikahan Rahandika. Dia asisten kamu, 'kan?" Azizah mengekori Naresh masuk ke dalam lift.


"Ya."


***


Pagi harinya tubuh Malaika demam dan matanya bengkak. Tubuh dia terasa lemas dan tidak bisa bergerak seakan tidak ada tenaga sedikit pun.


"Mala, sudah jam lima, kamu belum sholat subuh," kata Nenek Romlah begitu selesai sholat.


"Nek, tubuh aku tidak bisa digerakkan," ucap Malaika dengan suaranya yang parau dan hampir tidak jelas.


Untuk pendengaran Nenek Romlah tidak seperti Naresh. Meski usia dia sudah lebih dari 70 tahun, pendengarannya masih berfungsi dengan baik.


"Kita ke dokter, ya?"


"Panggil saja dokternya ke sini, Nek. Tolong telepon saja Dokter Sandra, bilang kalau aku sedang sakit dan sulit bergerak! titah Malaika.

__ADS_1


Hari itu Malaika tidak masuk kerja dan pendapatkan perawatan di rumah. Hal ini karena kasihan dengan Nenek Romlah jika harus mengurus gadis itu jika dirawat di rumah sakit. Jadi, dia hanya diinfus dan diberi obat.


Selama dua hari itu Malaika mendapat perawatan dan dipantau oleh dokter kenalannya. Hari ini kondisi dia sudah lebih baik meski belum sembuh sepenuhnya.


"Apa sebaiknya kita jangan datang ke pernikahan Dika?" Nenek Romlah takut kalau kondisi Malaika malah semakin memburuk jika melihat mantan kekasihnya menikah.


"Aku baik-baik saja, Nek. Dika itu teman aku, jadi seharusnya aku datang di hari yang membahagiakan untuk dia. Aku dan Dika sudah menjadi teman baik sejak lama, masa tidak hadir di hari pernikahannya," tukas Malaika dengan tersenyum manis agar neneknya tidak khawatir.


Malaika memoles wajahnya yang pucat agar terlihat segar. Beberapa hari ini pikirannya selalu kepada Naresh. Entah kenapa dia merasa marah kepadanya. Bahkan dirinya berharap kalau laki-laki itu tidak datang ke pernikahan Rahandika.


Acara ijab qobul sudah dilaksanakan pagi hari tadi, kini malamnya diadakan resepsi pernikahan. Malaika datang bersama Nenek Romlah naik taksi online. Gadis itu belum merasa kuat jika harus membawa motor sendiri.


Ada rasa kecewa dan sakit hati saat melihat Rahandika di pelaminan bersama istrinya. Namun, sudah tidak sesakit dulu. Perempuan itu kini bisa tersenyum pada pasangan pengantin baru.


"Baarakallahu laka wa baarakaa alaika wa jamaa bainakumaa fii khoir.” (Artinya: mudah-mudahan Allah memberkahimu, baik dalam suka maupun duka dan selalu mengumpulkan kamu berdua pada kebaikan)


"Aamiin," balas Rahandika dengan getir. Terlihat kesedihan dari pancaran matanya.


Malaika tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dirinya sendiri menjadi bingung ketika berhadapan dengan Hafshah.


"Terima kasih sudah mau datang ke sini dan mendoakan kami," ucap pengantin wanita itu dengan suaranya yang lembut.


"Semoga kalian selalu bahagia," balas Malaika.


Terdengar seseorang memanggil nama Naresh. Hal itu membuat Malaika refleks mengalihkan perhatiannya ke arah sumber suara.


Deg!


Jantung Malaika seakan kembali berhenti berdetak. Perempuan itu melihat atasannya menggandeng seorang wanita cantik dengan penampilan glamor. Tiba-tiba saja dia merasa tenaganya terkuras untuk menarik oksigen ke paru-parunya.


Pemandangan yang membuat matanya panas. Senyum kedua orang itu membuat mulut Malaika kaku tidak bisa digerakkan, walau hanya seulas senyum.


"Ya Allah, kuatkan aku. Jangan jadikan aku termasuk hamba-hamba yang lemah," batin Malaika ketika pandangannya mengarah pada pasangan yang terlihat sangat serasi.


"Malaika."

__ADS_1


***


Apakah hubungan Malaika dan Naresh akan tetap baik-baik saja atau berubah? Siapa Azizah itu? Tunggu kelanjutannya, ya!


__ADS_2