
Teman-teman jangan lupa kasih like, bunga, kopi, atau vote. Lalu, 🌟🌟🌟🌟🌟.
Bab 33
Dokter memeriksa keadaan Naresh. Ternyata luka di kepalanya mempengaruhi saraf pendengaran laki-laki itu. Seperti kecelakaan dahulu, Naresh tidak bisa mendengar dengan jelas suara pelan. Jadi, orang harus bicara dengan keras agar bisa terdengar jelas di telinga laki-laki itu.
Malaika, Nenek Romlah, Kakek Kamandaka merasa sangat sedih atas apa yang menimpa Naresh. Mereka hanya bisa mendoakan agar pendengarnya bisa kembali lagi.
"Apa pendengarnya bisa kembali lagi?" tanya Malaika dengan suara sengau karena terlalu banyak menangis tadi.
"Itu bisa dilihat nanti. Masalahnya ini untuk kedua kalinya dan dalam waktu yang dekat. Semoga saja bisa sembuh," jawab Dokter ketika berbicara berdua dengan Malaika di ruangnya.
"Dia dulu menjalani pengobatan di negeri Jiran. Jika kita bawa ke dokter itu akan bisa sembuh kembali?" tanya Malaika dengan tatapan sendu.
Wanita ini teringat bagaimana ekspresi wajah Naresh yang seperti stres saat menyadari kalau pendengarannya kembali bermasalah. Bagaimanapun juga dia tidak suka melihat tunangannya itu bersedih, maka akan segala cara dilakukan agar bisa membuatnya bahagia kembali.
__ADS_1
"Kita akan lihat dulu perkembangan Pak Naresh. Jika ada kemungkinan sembuh, maka akan sebisa mungkin kita upayakan. Sekarang fokus pada kesehatan luka yang dialaminya dulu. Apalagi dia sempat koma," lanjut laki-laki berjas putih sambil melihat hasil CT-scan milik Naresh. Di mana bagian kepala yang banyak mengalami luka.
***
Malaika pun kembali ke ruangan Naresh untuk melihat keadaan laki-laki itu. Padahal kesehatan dirinya juga sedang berada dalam masalah, tetapi dia malah mengkhawatirkan keadaan orang lain.
Terlihat ada Abimana di ruangan itu bersama dengan kedua orang tuanya. Malaika teringat kalau Shaka itu pernah berhubungan dengan Bima. Gadis itu takut kalau terjadi sesuatu kepada Naresh.
"Abimana, sejak kapan datang? Kakek Kamandaka, ke mana?" tanya Malaika karena tidak menemukan keberadaan laki-laki tua itu.
"Papa pulang, dia harus istirahat. Maklum, dia itu sudah tua jadi harus banyak istirahat," jawab Kinara dengan suaranya yang lembut.
"Apa kata dokter?" tanya Shaka yang berdiri di samping kiri brankar tempat Naresh sedang tidur.
"Harus melihat dulu perkembangan kondisi pemulihan pada tubuh Naresh," jawab Malaika jujur.
__ADS_1
"Semoga saja dia baik-baik saja dan lekas sembuh," ucap Kinara sambil mengusap pipi Naresh dengan pelan.
Malaika melihat ke arah Abimana yang sejak tadi diam saja. Perempuan itu merasa kalau laki-laki ini sedang marah atau kesal kepadanya. Kemarin di hari sama sang pemuda mengungkapkan perasaannya, tetapi ditolak oleh dirinya. Sementara itu, saat Naresh melamar, langsung dia terima.
"Ini sudah malam, sebaiknya kalian juga beristirahat." Tiba-tiba saja Naresh membuka matanya dan menatap keluarganya satu persatu.
Malaika sebenarnya juga ingin bilang seperti itu, tetapi mana mungkin dia berani mengusir keluarga Wijaya. Untungnya Naresh terbangun dan membuat ketiga orang itu pergi.
"Ada apa?" tanya Naresh sambil melihat ke arah Malaika.
Gadis itu hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis. Saat ini dia tidak mungkin mengajak komunikasi Naresh dengan berbicara langsung, karena percuma juga dia nggak akan bisa mendengar dengan jelas. Maka diambilnya kertas dan pensil, lalu Malaika pun menulis untuk menyuruhnya tidur kembali.
"Malaika, apa aku budeg lagi?" tanya Naresh dengan mata yang berkaca-kaca.
'Aduh, bagaimana ini. Apa yang harus aku katakan kepada Naresh?' batin Malaika bersedih.
__ADS_1
***
Akankah Malaika jujur kepada Naresh dengan kondisi dia saat ini? Bagaimana Naresh menyikapi kondisi tubuhnya yang tidak sempurna lagi? Tunggu kelanjutannya, ya!