Presdir Budeg Vs Sekretaris Matre

Presdir Budeg Vs Sekretaris Matre
Bab 7. Kedatangan Rahandika


__ADS_3

Bab 7


Keadaan ruang rawat inap itu mendadak hening, meski ada tiga orang di sana. Dalam hati Malika menertawakan Naresh. Sementara laki-laki itu merutuki kebodohannya dan Kakek Kamandaka marah karena merasa sudah dicurangi.


"Apa kamu tadi pura-pura tidur?" tanya laki-laki tua itu menatap tajam ke arah cucunya.


"Aku setu—"


Malaika dengan cepat meletakan jari telunjuk di bibirnya agar Naresh diam, karena jawab tidak sesuai dengan apa yang ditanyakan oleh kakeknya. Mereka akan saling memberi kode jika ada yang salah maka lebih baik diam.


"Kakek, sejak kapan di sini?" tanya Naresh mengganti topik pembicaraan.


"Kenapa kamu tidak memberi tahu kakek kalau sudah mengalami kecelakaan?" Kakek Kamandaka balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Naresh.


Malaika yang berdiri di belakang Kakek Kamandaka memberi kode dengan mengangkat tiga jarinya. Dia memberi tahu kalau laki-laki tua itu menanyakan pertanyaan sesuai apa yang mereka pikirkan.


Naresh paham kode yang diberikan oleh sang sekretaris untuknya. Kalau pertanyaan pertama adalah tentang tidak diberi tahu kecelakaan yang menimpa dirinya.


"Aku tidak mau membuat kakek sedih. Selain itu aku juga tidak mau membuat kekacauan di perusahaan. Nanti kedua Maheswara dan Abimana akan mengambil kesempatan ini untuk menggeser posisi aku di kantor," jawab Naresh dengan tenang. Kakeknya mengangguk pelan dengan senyum tipis.


Pemuda itu melirik ke arah sekretarisnya dan terlihat mengacungkan jempol. Berarti jawaban sudah sesuai.


"Apa ini perbuatan disengaja?" tanya Kakek Kamandaka yang kini terlihat iba melihat keadaan cucunya.


Malaika mengacungkan enam jari tangan. Pertanyaan itu masih sesuai dengan yang sudah mereka prediksi tadi.


"Ada kemungkinan kalau kecelakaan ini disengaja oleh seseorang yang berniat mencelakai aku. Polisi sedang melakukan penyelidikan saat ini," jawab Naresh dengan mata yang melirik sekilas ke arah Malaika yang mengacungkan jempol kepadanya.


"Dokter bilang apa mengenai kondisi kamu saat ini?" 


Naresh melihat Malaika mengacungkan tujuh jarinya. Itu menandakan pertanyaan seperti yang nomor tujuh.


"Dokter mengatakan kalau aku hanya perlu istirahat yang cukup. Karena tubuh aku kuat dan sehat, jadi tidak ada masalah dengan keadaan tubuh ini," jawab sang cucu dengan meyakinkan.


"Selama kamu mendapatkan perawatan di sini, maka kantor akan diambil alih—"

__ADS_1


"Kakek, Naresh masih sanggup mengerjakan tugasnya dengan baik. Selama ini aku mengerjakan pekerjaan juga dengan bantuan dan pengawasan dia," potong Malaika karena itu adalah pertanyaan ke sebelas yang diprediksi oleh dirinya dan Naresh.


"Naresh harus istirahat total, Malaika. Kalau masih mengurusinya masalah perusahaan, kapan dia akan sembuh. Jadi, Kakek akan kembali ke kantor dan kamu yang akan membantu," ucap Kakek Kamandaka sambil melihat ke arah Malaika.


"Tidak. Malaika akan mengurus aku selagi aku sakit," kata Naresh menolak keinginan kakeknya.


Malaika terkejut karena jawaban laki-laki itu nyambung. Dia jadi ragu dengan gangguan telinganya itu.


"Kalau kamu ingin dirawat oleh Malaika, lalu pekerjaan di kantor siapa yang akan pegang? Sudah sewa perawat saja untuk mengurus kamu!" Terlihat jelas dari raut mukanya, kalau laki-laki tua itu sedang kesal.


"Pekerjaan kantor akan dilakukan oleh Dika. Dia itu asisten aku, jadi pasti bisa. Besok dia akan kembali dari Singapura. Kakek bisa dibantu olehnya," tukas Naresh tidak mau kalah. Rahandika yang merupakan teman baiknya juga bisa dipercaya dan handal dalam pekerjaan.


Malaika senang karena Rahandika akan pulang. Sudah 2 minggu ini sang pujaan hatinya pergi dinas ke luar negeri. Meski cinta mereka kandas karena tidak direstui oleh ibunya. Hubungan mereka masih tetap baik.


***


Keesokan harinya, Malika datang ke rumah sakit dengan perasaan senang setelah ada notifikasi dari m-banking uang 5 juta dari Naresh sudah masuk. Padahal kemarin dia di rumah sakit sampai magrib. Perempuan itu mengajak Kakek Kamandaka untuk cepat-cepat pulang dan beristirahat karena atasannya juga harus banyak istirahat jangan sampai kelelahan. 


"Cuma satu jam lebih sedikit dapat 5 juta. Lumayan," gumam Malaika dengan senyum manis menghiasi wajah cantiknya.


"Wa'alaikumsalam," balas seorang laki-laki yang sudah dirindukan oleh Malaika.


Betapa terkejutnya dia saat kedua netra mereka beradu. Laki-laki yang memiliki senyum manis yang selalu menawan hati dia, kini berdiri di dekat ranjang sang atasan.


"Dika? Kapan kamu pulang? Bukannya hari ini? Tapi, kenapa pagi-pagi sudah datang ke sini?" tanya Malika dengan bertubi-tubi.


Laki-laki yang ditanya itu malah tertawa terkekeh. Dia senang bisa melihat mantan kekasihnya.


"Aku pulang kemarin siang. Tapi, aku istirahat dulu sebelum dikasih tugas berat lagi sama si bos," jawab Rahandika masih dengan senyum manis yang membuat jantung Malaika berdebar.


Deheman suara Naresh mengingatkan pada kedua orang itu, kalau masih ada orang lain di sana. Tentu saja membuat Malaika dan Rahandika mengalihkan perhatian mereka kepadanya.


"Kamu akan menjadi asisten kakek. Kerjakan sebagaimana biasanya. Kalau kakek ngomel-ngomel telepon saja Malaika. Ingat! Itu kalau kakek ngomel-ngomel. Kalau tidak jangan menelepon," ucap Naresh memberi peringatan dengan keras.


Rahandika tahu kalau saat bekerja dia tidak boleh main-main, apalagi menelepon yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Bisa-bisa dipecat dengan tidak hormat. Dulu saat dia dan Malaika pacaran, mereka bekerja dengan profesional. Tidak berpacaran saat jam kerja. Mereka mengerjakan tugas masing-masing dengan baik.

__ADS_1


"Apa Anda sudah sarapan, Pak Presdir?" tanya Malaika melihat tidak ada bekas makan di meja.


"Belum tahu. Karena—" 


Malika langsung meletakan jari telunjuk di bibir agar Naresh menutup mulutnya. Tanda kalau laki-laki itu salah menjawab dari pertanyaannya.


'Kenapa alat pendengaran tidak dipakai? Dika 'kan bukan orang yang mencurigakan? Mereka 'kan berteman baik sejak zaman sekolah?' (Malaika)


Setelah kepergian Rahandika ke kantor, maka Malaika pun menanyakan tentang alat bantu pendengaran yang tidak dipakai di depan sang asisten. Namun, Naresh berkata seakan tidak percaya kepadanya.


"Jangan bilang kalau Anda cemburu!" seru Malaika sambil tertawa terkekeh.


"Siapa yang cemburu?" bantah Naresh dengan nada kesal.


"Iya, deh. Anda tidak cemburu," ujar Malaika dengan nada menggodanya.


Keduanya mengerjakan tugas masing-masing dengan diam. Sesekali Naresh melihat ke arah Malaika. 


Dia merasa bosan tinggal di rumah sakit. Saat ini dia belum bisa berjalan dengan normal. Kadang dia masih sempoyongan kadang bisa berjalan biasa. Tadi juga saat mandi hampir terjatuh beberapa kali.


"Tuan, Anda akan melakukan terapi sebentar lagi," kata seorang perawat perempuan yang berpenampilan cantik full make up. Jarang sekali ada perawat yang berdandan seperti itu. Biasanya mereka bermake-up sewajarnya saja.


"Terapi? Terapi apa?" Malaika merasa heran.


"Berjalan," jawab perawat itu dengan senyum menggoda.


Malaika melihat ke arah Naresh. Dia baru tahu kalau laki-laki itu harus melakukan terapi berjalan. Tiba-tiba saja menyusup perasaan iba kepadanya.


"Pak Presdir—" ucapan Malaika terpotong karena suara dering telepon. Dilihatnya nomor Maheswara di layar.


"Pak, ini Pak Maheswara tiba-tiba menelepon?" Malaika menunjukan handphone miliknya.


"Mau apa dia menelepon kamu?" tanya Naresh tidak suka.


***

__ADS_1


Siapakah Maheswara? Kenapa orang itu menghubungi Malaika? Tunggu kelanjutannya, ya!


__ADS_2