Presdir Budeg Vs Sekretaris Matre

Presdir Budeg Vs Sekretaris Matre
Bab 24. Khayalan


__ADS_3

Bab 24


"Naresh! Hei, Naresh!" Malaika menepuk bahu pemuda itu karena terlihat seperti sedang melamun.


Naresh mengedipkan kedua netranya beberapa kali. Teriakan dari Malaika menyadarkan dirinya dari lamunan yang selama ini dia impikan, yaitu melamar sang pujaan hati.


"Kenapa malah melamun? Sebaiknya kamu pulang saja, lagian ini sudah malam," kata Malaika yang hendak berdiri ditarik kembali oleh Naresh.


"Tadi kita bicara sampai mana, ya?" tanya Naresh, kemudian matanya melihat ke sekeliling mencari keberadaan Nenek Romlah yang ternyata tidak ada.


"Sampai aku bilang kalau Azizah itu calon istri kamu," jawab Malaika dengan ketus.


"Aaaa, iya. Aku lupa." Naresh tertawa garing.


'Ternyata hanya khayalan aku saja. Apa ini gara-gara Malaika dekat dengan Abimana?' (Naresh)


"Asal kamu tahu, Malaika. Aku dan Azizah tidak punya hubungan apa-apa kecuali rekan bisnis saja. Dia menggantikan papanya untuk mengawasi proyek kerja sama dengan perusahaan kita. Aku ini tipe setia, perasaan cinta ini hanya untukmu," aku Naresh dengan sungguh-sungguh.


Malaika menelisik pada wajah, pancaran mata, dan alis pemuda itu. Tidak ada kebohongan yang tersirat di sana, menandakan kalau laki-laki ini sudah berkata jujur. Hati perempuan itu terasa hangat dan berbunga-bunga saat mendengar pengakuan cinta Naresh masih untuk dirinya.


"Tapi, wanita itu—"


"Jangan dengarkan ucapan orang lain. Siapapun itu! Cukup hanya aku yang kamu dengarkan, karena aku tidak akan pernah membohongi dan menyakiti kamu, Malaika," kata Naresh yang kini duduk bersisian sambil berhadap-hadapan.

__ADS_1


'Apakah kita akan berciuman seperti dalam khayalan aku tadi, ya?' Naresh bertanya-tanya dalam hati dan sangat penuh harap.


Dalam hati Malaika, dia percaya kepada Naresh kalau tidak akan membohongi dirinya. Akan tetapi, gadis itu menjadi ragu kalau hubungan keduanya akan tetap baik-baik saja ditengah-tengah banyak orang yang menginginkan mereka untuk menjadi pasangan. Azizah menginginkan Naresh, sementara Maheswara dan Abimana menginginkan dirinya.


"Malaika … mau menjadi—"


"Loh, Naresh! Ke mana saja kamu, sudah lama sekali nenek tidak bertemu denganmu." Tiba-tiba saja Nenek Romlah muncul dari kamarnya.


Naresh pun berdiri dan mencium tangan milik wanita tua itu. Laki-laki itu mengatakan kalau dirinya terlalu sibuk belakang ini, karena Malaika tidak mau lembur. Jadinya dia sibuk sendiri.


"Maafkan Mala, ya. Dia itu sering pulang tepat waktu karena takut terjadi apa-apa kepada nenek. Padahal nenek baik-baik saja," ucap Nenek Romlah. Wanita ini tidak tahu kalau sang cucu itu sedang menjauhkan diri dari atasannya karena cemburu.


Naresh pun tidak jadi mengatakan keinginannya untuk melamar Malaika. Hal ini karena sang gadis malah pergi ketika laki-laki itu sedang berbincang-bincang dengan Nenek Romlah.


"Maaf, Nek. Aku malah mengajak Nenek bicara, padahal ini waktunya Nenek istirahat," ucap Naresh.


"Besok datang lagi ke sini dan katakan keinginan kamu itu. Nenek dukung kamu jika kamu benar-benar serius. Jika kamu menunda-nunda maka Maheswara atau Abimana akan melamar Mala," ucap Nenek Romlah sebelum sang tamu pamit pulang.


Mendengar ucapan wanita tua itu malah membuat Naresh mengurungkan niatnya untuk pulang. Lalu, pemuda itu meminta izin untuk menemui Malaika.


Naresh dan Nenek Romlah masuk ke kamar Malaika yang berukuran 2,5 x 3 meter. Terlihat kalau Malaika sudah tidur bahkan jilbabnya juga sudah dibuka. Nenek Romlah pun buru-buru memakaikan jilbab instan kepada gadis itu.


"Mala, bangun! Ini Naresh mau pulang," kata wanita tua itu sambil mengguncangkan tubuh Malaika.

__ADS_1


"Iya, hati-hati di jalan. Jangan ngebut, jangan simpang sana sini nggak jelas. Langsung pulang dan tidur agar besok tidak bangun kesiangan," cerocos Malaika dengan mata yang masih terpejam.


Naresh dan Nenek Romlah malah tertawa melihat tingkah Malaika. Lalu, wanita tua itu menarik kedua tangan sang cucu agar bangun dan sadar dari tidurnya.


"Ada apa, sih, Nek? Aku ngantuk," kata Malaika dengan wajah bantal yang matanya membuka dan menutup karena sangat ngantuk.


"Aku mau melamar kamu," balas Naresh sambil menahan tawanya. Laki-laki ini sangat senang dan ingin menjahili sang sekretaris kesayangannya.


"Kalau mau melamar lakukan dengan benar dan romantis Pak Presdir," tutur Malaika yang masih nyawanya seperempat yang baru terkumpul.


"Baiklah. Aku, Naresh ingin melamar dirimu, Malaika. Apakah kamu mau menjadi istriku yang akan selalu menemani aku? Aku harap kamu menerima lamaran ini," pungkas Naresh dengan penuh harap.


"Bagaimana, Mala. Kami mau menjadi istrinya Naresh?" tanya Nenek Romlah kepada gadis yang masih membuka dan menutup matanya.


"Iya, Nek. Aku mau," balas Malaika yang masih terkantuk-kantuk.


"Alhamdulillah," ucap Naresh dan Nenek Romlah bersamaan.


Terjadilah lamaran yang tidak romantis dan tidak akan diingat oleh Malaika karena dia masih dalam keadaan tidak sadar akibat ngantuk berat.


***


Bagaimana reaksi Malaika saat bangun tidur besok dengan status sudah menjadi tunangan Naresh? Akankah dia mau menerima status barunya itu atau menolak? Tunggu kelanjutannya, ya!

__ADS_1


__ADS_2