Presdir Budeg Vs Sekretaris Matre

Presdir Budeg Vs Sekretaris Matre
Bab 17. Kebohongan Malaika


__ADS_3

Bab 17


Nenek Romlah menatap sendu ke arah Malaika yang kini sedang membenarkan posisi duduk. Gadis itu duduk bersandar di kasur pasien dan tersenyum manis kepada orang yang sudah merawatnya sejak kecil.


"Mala, sebenarnya ada apa? Kenapa kamu bisa sakit seperti ini?" tanya Nenek Romlah dengan penasaran.


"Mungkin karena cuaca yang tidak mementu, Nek. Selain itu jadwal makan yang juga tidak teratur. Jadi, aku sakit." 


Malaika tersenyum lemah. Tatapan matanya yang sayu dan wajahnya masih pucat. Hati Nenek Romlah terasa sakit melihat keadaan cucunya yang berusaha tegar dan kuat di hadapannya. 


Wanita tua itu merasa kalau sang cucu terlalu bekerja keras. Selama ini dia menjadi tulang punggung dan membayar hutang untuk pengobatan suaminya yang berakhir meninggal. Baru saja selesai membayar hutang, rumah mereka disita oleh Tuan Juwanto dan lagi-lagi Malaika bekerja keras agar bisa menebus rumah itu, meski gagal karena uang tidak mencukupi ketika jatuh tempo.


"Kamu jangan terlalu keras dalam bekerja. Jika bekerja di perusahaan itu membebani kamu, sebaiknya berhenti saja. Nenek tidak mau kamu terlalu kelelahan dalam bekerja. Kita hanya tinggal berdua dan cukup dengan makan dua kali. Jadi, kamu tidak boleh merasa terbebani harus mencari banyak uang. Asalkan kamu sehat, bahagia, dan selalu bersama nenek, itu sudah cukup," ucap Nenek Romlah dengan mata yang berkaca-kaca.


"Aku baik-baik saja, Nek. Aku masih sanggup bekerja, jika sudah tidak sanggup lagi, nanti aku akan berhenti," balas Malaika sambil memegang tangan neneknya.


Naresh masuk ke ruangan itu sambil membawa makanan untuk sarapan. Betapa senangnya dia ketika melihat Malaika sudah membuka mata dan sedang bercengkrama dengan Nenek Romlah. 


"Malaika, bagaimana keadaan kamu? Mana yang sakit?" tanya Naresh sambil memegang bahu sekretarisnya.


"Aku sudah merasa baikan. Mungkin kemarin karena kehujanan jadi aku demam," jawab Malaika berbohong.


"Syukurlah, kalau kamu sudah merasa baikan. Ini aku belikan bubur ayam untuk kalian sarapan," kata Naresh sambil mengeluarkan tiga cup berisi makanan berstruktur lembek itu.

__ADS_1


"Terima kasih," balas Malaika.


Dokter kembali memeriksa kondisi Malaika dan sudah jauh lebih baik, jadi membolehkan pulang. Ketika Malaika menanyakan kepada seorang suster ingin membayar biaya pengobatan selama di rumah sakit, Naresh bilang sudah membayar semua biaya rumah sakitnya. Tentu saja itu membuat Malaika tidak enak dan berniat menggantinya.


"Itu sudah dibayar oleh uang perusahaan, jadi kamu tidak perlu memikirkan hal itu," kata Naresh dengan senyum menawannya.


Jantung Malaika kini berdetak kencang hanya karena senyuman atasannya. Padahal dia memang selalu seperti itu jika tersenyum kepadanya selama ini. Namun, sekarang terasa terlihat berbeda.


"Terima kasih, Pak. Semoga perusahaan Anda bisa semakin maju dan terus berkembang. Sehingga para karyawan merasa senang meski sedang sakit karena masih mendapat perhatian dari perusahaan," ujar Malaika dengan nada bercanda.


"Bukannya setiap karyawan di perusahaan kita mendapatkan jaminan kesehatan dan keselamatan kerja?" 


Malaika membenarkan akan adanya hal itu. Gadis itu lupa karena selama ini jarang sakit dan tidak pernah menggunakan fasilitas itu dari perusahaan. 


Akan tetapi, tidak dengan Naresh. Laki-laki itu menatap sendu kepada Malaika, perasaan dia sangat kacau dan tidak menentu ketika melihat gadis itu terbaring tidak berdaya. Ada perasaan takut dan sakit yang dia rasakan sejak semalam sampai sekarang.


"Kalau kamu sudah bisa tertawa seperti ini, berarti kamu sudah sembuh. Jadi, nenek tidak perlu sedih lagi," pungkas Naresh dan Nenek Romlah pun tertawa kecil.


***


Ketika Malaika, Nenek Romlah, dan Naresh hendak pulang, di parkiran mereka bertemu dengan Azizah. Perempuan itu terlihat sangat cantik dan bersikap anggun.


Tentu saja Malaika merasa tidak suka dengan kehadirannya. Apalagi cara wanita itu menatap Naresh membuat Malaika kesal. Jika, dulu ada perempuan-perempuan yang berniat menggoda atasannya ini, dia akan memberikan peringatan kepada mereka, karena tahu kalau laki-laki itu tidak menyukainya. Namun, kali ini berbeda bagi Malaika yang tidak bisa memberikan peringatan kepada Azizah karena wanita ini adalah calon istrinya.

__ADS_1


"Mau apa kamu ke sini?" tanya Naresh kepada Azizah.


"Mau menjenguk perempuan itu," jawab Azizah sambil menunjuk ke arah Malaika.


"Dia sudah baik dan mau pulang sekarang," balas Naresh sambil membukakan pintu mobilnya untuk Malaika.


Terlihat raut tidak suka dari wajah Azizah atas perlakuan Naresh kepada Malaika. Perempuan itu merasa kalau keduanya punya hubungan yang sangat dekat. Padahal dirinya jauh lebih baik dari gadis itu dalam segi apa pun.


Azizah juga bahkan meminta kepada papanya untuk mendekatkan dirinya dengan Naresh. Makanya dia yang memegang tanggung jawab mengenai proyek yang bekerja sama dengan perusahaan milik Naresh.


Malaika merasa tidak enak kepada Azizah karena dia naik mobil Naresh. Dirinya sudah merasa sudah menjadi duri dalam hubungan Naresh dengan Azizah.


"Sepertinya dia marah atau kesal," kata Malaika sambil melihat ke arah Naresh.


"Biarkan saja, mungkin dia memang orang yang seperti itu," tukas pemuda itu sambil menyalakan mesin mobil.


"Kamu tidak boleh seperti itu kepada seorang wanita," tutur sang sekretaris.


"Lalu, aku harus apa? Dia sendiri yang datang ke sini. Tidak ada yang memintanya, tuh!" Terlihat perasaan tidak suka dari cara Naresh bicara.


'Kenapa Naresh bersikap seperti itu kepada Azizah? Bukannya mereka itu calon pasangan suami istri?' (Malaika)


***

__ADS_1


Akankah Malaika jujur akan perasaannya kepada Naresh? Atau memendamnya dalam hati? Tunggu kelanjutannya, ya!


__ADS_2