
Bab 22
Mobil yang dikendarai oleh Abimana dan Naresh saling berkejaran. Hal ini membuat Malaika merasa heran.
"Abimana, kenapa kamu melajukan mobil dengan kecepatan tinggi?" tanya Malaika saat melihat kecepatan laju di atas 100km/jam.
"Aku tidak mau Naresh mengganggu kita," jawab Abimana masih fokus dengan kemudinya.
"Lalu, kita mau ke mana? Ini bukan arah menuju rumah aku," tanya gadis itu melihat ke arah jendela luar.
"Kita jalan-jalan keliling kota sampai Naresh kehilangan jejak kita," jawab laki-laki itu dengan nada jahil dan sekilas melihat ke arah Malaika, lalu kembali fokus pada laju kendaraan.
Mobil Naresh terus mengikuti ke mana pun Abimana membawa kendaraan itu. Setiap sang sepupu menambah kecepatan, maka dia pun akan ikut menambahkan kecepatan mobilnya.
"Mau ke mana dia membawa Malaika?" gumam Naresh yang tidak melepaskan arah pandangannya.
Sudah satu jam mobil mereka keliling kota dan itu membuat Malaika gusar dan merasa sudah jatuh ke dalam permainan dua laki-laki ini. Lalu, dia meminta Abimana untuk mengantarkan dia pulang.
__ADS_1
"Sepertinya lain kali aku tidak mau lagi pergi bersama dirimu kalau begini caranya," ancam Malaika dengan wajah galak dan tatapan kesal.
"Iya, maafkan aku. Sungguh aku hanya ingin bersama dengan kamu lebih lama lagi. Tapi, si Naresh malah mengganggu kita. Aku tidak punya kesempatan untuk mengenal dirimu lebih dalam lagi. Begitu juga sebaliknya, aku ingin kamu lebih mengenal diriku. Maaf kalau aku sudah kekanak-kanakan begini," aku Abimana.
Malaika mencerna ucapan laki-laki itu yang seperti memberikan kode kalau dia menyukai dirinya dan berharap mereka lebih mengenal satu sama lain. Bagi gadis itu, tidak mudah untuk mencintai seseorang. Apalagi dia baru saja patah hati di tinggal menikah oleh mantan pacar. Lalu, ketika ada perasaan baru kepada sahabatnya, laki-laki itu sudah punya pasangan. Jadi, bagi dia ada rasa sakit yang membuat dirinya enggan untuk merasakan jatuh cinta kepada laki-laki yang satu tempat kerja. Melihat mereka malah membuat goresan luka baru.
'Aku lebih baik mencari laki-laki yang tidak pernah dikenal sama sekali sebelumnya. Apa aku cari di aplikasi biro jodoh, ya?' (Malaika)
Mobil Naresh berhasil menyusul dan mengikuti tepat di belakang. Malaika merasa sakit kepala, karena sikap dari sang sahabat yang masih saja selalu posesif kepadanya.
"Abimana, aku ingin pulang. Nenek sendirian di rumah saat ini," kata Malaika dengan tegas dan membuat laki-laki itu harus menuruti keinginannya.
"Malaika, sebenarnya ada yang ingin aku katakan kepadamu saat ini. Bisakah kita bicara sebentar?" tanya Abimana begitu mereka masuk ke pekarangan rumah.
Gadis itu melihat ke arah Abimana yang sedang menatapnya. Lalu, dia pun mengangguk dan menyuruh laki-laki itu bicara.
"Aku tahu kita belum lama ini dekat dan belum saling mengenal secara mendalam. Seperti kamu dan Naresh, tetapi perasaan aku kepadamu itu sungguh-sungguh. Aku sebenarnya ingin sekali melamar dirimu dan mengajak menikah saat ini juga. Namun, aku ingin kamu juga punya perasaan yang sama seperti aku. Maksudnya ingin menjalin hubungan yang serius. Untuk cinta, kita bisa perlahan menumbuhkan perasaan itu," kata Abimana dengan tatapan serius.
__ADS_1
Apa yang ditakutkan oleh Malaika akhirnya terjadi juga. Selama ini dia hanya menduga-duga saja atas sikap Abimana kepadanya. Laki-laki pendiam dan tidak mudah bergaul itu tiba-tiba saja mendekati dirinya setelah mantan kekasihnya menikah. Hal ini menunjukan kalau pemuda itu sedang menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaan dirinya.
Selama ini yang secara terang-terangan menyatakan suka sejak awal adalah Maheswara. Laki-laki itu sejak dulu sering memperhatikan dirinya dan bilang suka. Sementara Naresh, orang yang selalu dekat dengannya yang menganggap kalau mereka itu soulmate. Jika, yang satu sakit maka yang satunya lagi juga ikut sakit. Namun, dia mulai memperlihatkan rasa sukanya sejak Malaika putus dengan Rahandika. Meski rasa suka dia sudah ada sejak duduk di zaman sekolah menengah atas, dahulu.
Menghadapi kedua orang itu saja sering membuat sang gadis merasa pusing dan jengkel. Sekarang ditambah lagi oleh sepupu mereka. Membuat Malaika benar-benar pusing tujuh keliling.
"Maaf, Abimana. Untuk saat ini aku belum bisa menjalin hubungan dengan kamu. Sebaiknya kita berteman seperti saat ini," ucap Malaika.
Laki-laki itu pun tersenyum dan mengangguk. Untuk saat ini dia mengikuti keinginan sang gadis agar hubungan mereka tetap bisa terjalin dengan baik. Abimana bukanlah orang bodoh yang selalu memaksakan kehendak dirinya. Pemuda itu selalu bisa mencari peluang yang tepat saat akan melakukan sesuatu.
Sementara itu, mobil yang berada di belakang mereka masih berada di tempatnya. Naresh terus memperhatikan keadaan mobil di depannya. Dia sangat ingin turun dan menggertak sepupunya, tetapi dia tidak mau membuat Malaika marah. Jadi, laki-laki itu tetap mengawasi keadaan di depannya.
"Eh, ini 'kan rumah Nenek Romlah? Apakah Malaika bisa menebus rumah ini? Pantas saja Tuan Juwanto tidak mau menjual rumah ini kepadaku meski sudah aku tawar 500 juta, ternyata sudah dibeli oleh Malaika? Tapi sejak kapan dia pindah ke sini? Kenapa dia tidak bilang-bilang kepadaku?"
Beribu pertanyaan muncul dalam pikiran Naresh. Selama dua bulan dia sibuk ternyata banyak sekali hal yang tidak diketahui olehnya.
***
__ADS_1
Akankah Naresh berhasil mendapatkan cinta Malaika? Akankah hubungan mereka mengalami kemajuan? Tunggu kelanjutannya, ya!