Presdir Budeg Vs Sekretaris Matre

Presdir Budeg Vs Sekretaris Matre
Bab 35. Mas Kawin


__ADS_3

Teman-teman jangan lupa kasih like, bunga, kopi, atau vote. Lalu, 🌟🌟🌟🌟🌟.


Bab 35


Mata Malaika terbelalak saat Naresh mencium tangannya. Suatu perbuatan yang baru pertama kali dia lakukan.


"Hei, kita belum menikah! Nggak boleh main cium-ciuman," ucap Malaika dengan memasang wajah sebal ke arah calon suaminya ini.


"Kalau begitu kita menikah saja sekarang. Apa kamu mau?" tanya Naresh dengan ekspresi wajah serius.


"Jangan gila kamu! Memangnya ada KUA yang buka di tengah malam?" balas Malaika sambil mengerucutkan bibirnya.


"Jadi, beneran kamu mau ke KUA malam ini?" Alat bantu pendengaran Naresh terlepas. Jadi, apa yang diucapkan oleh Malaika dengan dia dengar itu berbeda tafsir.


"Astaghfirullahal'adzim. Ya Allah tolong aku berilah kesembuhan pada calon suamiku ini agar dia bisa mendengar dengan jelas apa yang aku ucapkan," kata Malaika dengan sungguh-sungguh sepenuh hati.


Naresh dengan cepat masang kembali alat pendengarannya yang jatuh karena pergerakannya yang tiba-tiba, tadi. Laki-laki itu hanya penyaringan karena mendengar doa dari calon istrinya.

__ADS_1


"Maaf aku sudah salah dengar . Coba kamu ulangi kembali pernyataan kamu tadi," ucap Naresh meminta.


Malaika hanya bisa menghela napasnya. Perempuan itu tahu kalau dirinya harus banyak bersabar, dalam menghadapi calon suaminya saat ini.


"Tadi aku bilang memangnya ada KUA yang buka di malam hari," ulang Malaika dengan lembut karena sekarang Naresh sudah bisa mendengar suaranya dengan jelas.


"Yang penting itu penghulu, wali nikah, saksi, dan mahar. Eh, ngomong-ngomong tentang mahar kamu ingin aku kasih apa?" tanya Naresh sambil menatap ke dalam netra Malaika yang bening.


Ditanya seperti itu oleh Naresh tentu saja membuat Malaika bingung. Sebagai seorang perempuan muslim, dia tidak boleh memberatkan mahar bagi calon pengantin laki-laki. Meski secara materi calon suaminya itu merupakan orang kaya, tetapi dia juga harus tahu batasan.


"Terserah kamu saja, aku tidak mau memberatkan dirimu dengan mas kawin," jawab Malaika sambil menundukkan kepala.


Laki-laki itu sudah merencanakan hal ini dari jauh-jauh hari, sehingga semuanya sudah siap saat ini. Gara-gara rumah Nenek Romlah dulu disita oleh Tuan Juwanto, membuat Naresh ingin memberikan sebuah rumah untuk gadis yang dicintai olehnya.


"A–pa itu tidak terlalu berlebihan?" tanya Malaika ketika mendongakkan kembali wajahnya ke arah Naresh yang sedang duduk bersandar di brankar.


Naresh menggelengkan kepalanya tanda kalau dia merasa tidak keberatan sama sekali. Laki-laki itu ingin memberikan kenyamanan bagi perempuan yang akan menjadi pendamping hidup dia sampai akhir hayatnya.

__ADS_1


"Semua tidak ada artinya jika dibandingkan dengan keberadaanmu di sisiku," ucap Naresh dengan yakin.


"Aku tersedia menjadi pendamping dirimu sampai akhir menutup mata," aku Malaika dan membuat Naresh meneteskan air mata kebahagiaan.


"Terima kasih, Malaika. Betapa beruntungnya diriku bisa mendapatkan dirimu," lanjut Naresh.


***


Sementara itu, di suatu tempat Guntur dan Pandu sedang mengintrogasi Bima kembali. Kali ini mereka ingin mengetahui hubungan dia dengan Shaka, yang merupakan paman dari Naresh.


"Berapa kali kamu pertama dengan Pak Shaka?" tanya Pandu dengan tatapan tajam.


"Tiga kali," jawab Bima dengan lirih. Pemuda itu sudah merasakan sakit di sekujur tubuhnya karena mereka tadi sempat berkelahi.


"Ayo, ceritakan semua isi pertemuan kalian dari pertemuan pertama sampai ke pertemuan ketiga!" titah Guntur yang duduk di depan Bima.


***

__ADS_1


Kira-kira apa yang dibicarakan oleh Bima dan Shaka di pertemuan mereka? Tunggu kelanjutannya, ya!


__ADS_2